Bosan dengan kisah cinta biasa? Siap-siap dibuat gemas, terharu, dan ketagihan lewat kisah Hazelia!
Gadis muda yang super ceria, tengil, dan penyayang ini terpaksa menunda mimpinya demi menjadi office girl di perusahaan raksasa demi membiayai pengobatan sang ibu dan sekolah adiknya. Siapa sangka, ketidaksengajaannya menabrak sang CEO dingin, Tuan Mahrup, justru memercikkan benih cinta tak terduga!
Dari ruang pantry penuh gosip hingga diangkat menjadi asisten pribadi, Hazel harus menghadapi cemburu rekan kerja, tuduhan miring, hingga kembalinya masa lalu Sang Tuan yang penuh rahasia. Bisakah ketulusan gadis sederhana ini meluluhkan hati pria sekaku es dan melewati badai ujian cinta mereka?
Penasaran bagaimana kelanjutan hubungan beda kasta yang penuh drama dan kejutan ini? Yuk, baca selengkapnya dan ikuti liku-liku cinta Tuan Mahrup dan Hazel sekarang juga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OGMTM-5
...Tubuhnya hilang keseimbangan secara mendadak. Botol pembersih di tangannya terlepas, memantul di atas karpet tebal, dan Hazel meluncur jatuh tepat ke arah sosok yang baru saja keluar dari lift tersebut!
"Awww keblinger!" jerit Hazel refleks dengan gaya khasnya saat matanya membelalak panik melihat lantai marmer yang siap menyambut wajahnya.
Namun, rasa sakit yang ia bayangkan tak pernah datang.
Sebelum tubuh Hazel menyentuh dinginnya lantai, sebuah lengan kekar berbalut jas Navy bespoke merengkuh pinggangnya dengan sigap dan bertenaga.
Tarikan yang kuat itu menahan bobot tubuh Hazel secara instan, menariknya kembali ke atas hingga dada Hazel menempel erat pada kemeja putih kaku milik pria itu.
Greb!
Botol pembersih dan sisa lembar jadwal yang dipegang Hazel terlepas, berhamburan mengalasi karpet di sekitar sepatu pantofel berkilat milik pria asing itu. Keheningan yang pekat langsung melingkupi seluruh lorong lantai dua belas. Suara dengung AC seolah lenyap, digantikan oleh detak jantung yang beradu cepat.
Hazel terengah, jemari lentiknya refleks meremas kain jas mahal di dada pria itu demi mencari pegangan. Perlahan, ia mendongak.
Pandangannya langsung terkunci pada sepasang mata tajam bernuansa legam yang menatapnya lurus tanpa kedip. Wajah pria itu sangat simetris rahang tegas yang terukir sempurna, hidung mancung, dan bibir tipis yang terkatup rapat. Ada aroma wangi premium yang maskulin menyeruak kuat dari tubuh pria itu, menyapu indra penciuman Hazel hingga membuat pikirannya mendadak kosong seketika.
Ini... monster kulkas dua pintu yang dibilang Mas Akbar itu? jerit batin Hazel. Kenapa gantengnya enggak masuk akal begini?!
Di sisi lain, Mahrup Devano Mahardika terpaku. Selama dua puluh delapan tahun hidupnya, belum pernah ada seorang pun yang berani menyentuh apalagi menabrak tubuhnya dengan cara yang begitu serampangan.
Namun, saat tatapannya bersibobok dengan mata jernih Hazel yang berbinar polos penuh kepanikan, ada dentuman asing yang terasa menjalar cepat di rongga dadanya.
Napas hangat Hazel yang berhembus samar di lehernya membuat benteng pertahanan dingin yang dibangun Mahrup bertahun-tahun seolah bergetar hebat.
Waktu seakan berhenti berputar selama beberapa detik di depan pintu lift eksekutif itu. Hazel bisa merasakan detak jantung pria di hadapannya yang semula tenang mendadak berdegup kencang sama cepatnya dengan detak jantungnya sendiri.
"Kamu..." suara berat dan bas milik Mahrup akhirnya memecah keheningan, menggema dingin namun getarannya tak bisa sepenuhnya disembunyikan.
Hazel tersentak kaget, menyadari betapa intimnya posisi mereka saat ini.
"Eh! M-maaf, Tuan! Maaf seribu maaf!" pekik Hazel panik. Ia buru-buru melepaskan cengkeramannya pada jas Mahrup dan mencoba berdiri tegap, membuat rengkuhan tangan Mahrup di pinggangnya terlepas secara perlahan.
Begitu terbebas, Hazel langsung menunduk dalam-dalam hingga kepalanya hampir menyentuh dada, lalu sibuk memunguti botol pembersih dan kertas yang berserakan dengan jemari yang gemetar.
"Aduh, Hazel bodoh banget... maaf ya Tuan Kulkas eh, Tuan CEO! Hazel tadi kepeleset roda troli, enggak maksud mau meluk Tuan!" celoteh Hazel spontan dengan ketengilan yang muncul akibat rasa gugup yang luar biasa.
Mahrup memiringkan kepalanya sedikit, merapikan lengan jasnya yang agak lecek bekas remasan jemari Hazel.
Matanya menatap gadis kecil berseragam OG itu dengan pendar rasa ingin tahu yang tak pernah muncul sebelumnya.
Hazelia... batin Mahrup membaca nama yang tertera pada nametag plastik di dada kiri gadis itu.
"Lantai ini bukan arena balap," tegur Mahrup dengan nada datar dan dingin, berusaha menguasai kembali gejolak aneh di dadanya. "Lain kali pakai matamu, bukan cuma kakimu."
Hazel mendongak sedikit, menyeringai polos tanpa rasa takut meski baru saja ditegur sang penguasa perusahaan. "Siap, Tuan CEO! Mata Hazel janji bakal terus siaga 24/7!"
Mahrup hanya meliriknya sekilas tanpa membalas selorohan itu, lalu melangkah lebar melewati Hazel yang masih berjongkok di karpet. Namun, saat langkah tegapnya menjauh menuju ruang kerja utama, jemari tangan kanan Mahrup tanpa sadar mengepal pelan masih merekam dengan jelas sensasi hangat dari pinggang tipis gadis OG tersebut.