NovelToon NovelToon
Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.

Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 - Nyala Api di Pelataran Tempa

Bau arang membakar dan serbuk besi panas menyengat hidung Ma Huang saat kakinya menjejak tanah berkerikil di pintu gerbang Kediaman Pengrajin Barat. Asap hitam tebal membumbung tinggi dari arah bengkel tempa utama, mengotori langit malam yang dipenuhi gemerlap bintang di atas Kota Yunjiang.

Dua pengawal tua bertubuh kekar tergeletak menelungkup di samping palu tempa yang patah. Bekas tebasan melintang yang sangat bersih di dada mereka memperlihatkan kecepatan dan kepresisian tingkat tinggi dari teknik pedang khas Sekte Pedang Suci.

"Tuan Muda, mereka sudah membakar gudang penyimpanan bahan di sisi timur," bisik Lu Gang dengan napas memburu dari balik dinding batu yang penuh jelaga hitam.

Ma Huang mengangguk kaku tanpa memalingkan wajahnya. Sepasang matanya melirik tiga murid Sekte Pedang Suci bertopeng kain biru yang sedang menyeret seorang kakek tua berdada telanjang keluar dari dalam ruang tempa. Kakek tua itu adalah Master Han, pengrajin kepercayaan almarhum ayahnya yang menempa Pedang Tulang Hitam sepuluh tahun lalu.

"Katakan di mana peti tembaga itu disimpan, Tua Bangkai!" bentak salah seorang murid seraya menghantamkan gagang pedangnya kencang ke pelipis kakek tua itu.

Darah kental meleleh membasahi jenggot putih Master Han. Kakek tua itu meludah ke tanah bercampur debu arang, menatap murid sekte itu dengan sepasang mata berapi-api. "Bahkan jika lidahku dipotong, aku tidak akan menyerahkannya pada anjing-anjing Sekte Pedang Suci!"

Ma Huang tidak membiarkan murid itu mengayunkan pedangnya untuk kedua kali. Ia melesat menembus kepulan asap hitam dengan kecepatan tinggi tanpa menimbulkan suara sedikit pun di atas tanah. Ujung Pedang Tulang Hitam meluncur lurus dari bawah, menembus dagu murid terdepan hingga ujungnya mencuat dari bagian atas tempurung kepala. Darah hitam beracun menyembur keluar, menyiram wajah dua murid di sebelahnya.

Sebelum dua murid lainnya sempat mencabut senjata dari pinggang, Ma Huang memutar badannya sembilan puluh derajat. Siku kirinya menghantam rahang murid kedua hingga retak kaku, sementara bilah pedang hitamnya menyabet melintang memotong dua urat leher murid ketiga secara bersamaan.

Dua tubuh itu ambruk kaku ke dalam tumpukan bara api tempa yang menyala merah. Bau daging terbakar bercampur racun amis langsung memenuhi udara di dalam pelataran tempa.

Ma Huang merangkul bahu Master Han yang gemetar, mendudukkannya perlahan di samping landasan besi penyepuh. "Master Han, ini saya."

Kakek tua itu mendongak kaku, jarinya yang penuh gumpalan luka bakar menggenggam erat lengan baju Ma Huang. "Tuan Muda Ma Huang... Anda masih hidup... Tuan Besar Ma Ren tidak salah menaruh harapannya..."

"Di mana cairan racun itu disimpan?" tanya Ma Huang singkat, matanya tetap waspada mengawasi setiap sudut ruang tempa yang gelap.

Master Han mengarahkan pandangannya yang kabur ke arah sumur tempa di tengah ruangan. "Di dasar sumur penyepuh, dalam botol giok hitam... Tapi Song Chen sudah menyusup ke bawah bersama dua pengawal pribadinya..."

Ma Huang memindahkan Master Han ke balik perlindungan Lu Gang. Tanpa ragu sedikit pun, ia melompat masuk ke dalam celah sumur penyepuh yang gelap dan berbau tembaga karat. Tangga batu melingkar membawanya turun sepuluh meter ke ruang tempa bawah tanah yang diterangi oleh gelombang panas dari saluran lahar buatan di sepanjang dinding batu.

Di ujung lorong batu, berdiri seorang pria muda bertubuh tegap dengan jubah sutra biru bersulam benang emas. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah botol giok kehitaman yang memancarkan hawa dingin menyengat.

Song Chen. Murid Utama Sekte Pedang Suci yang dijodohkan dengan Jian Yue.

Dua pengawal pribadi Song Chen berdiri kaku di sampingnya dengan pedang keemasan terhunus, jasad dua pengrajin muda tergeletak berdarah di depan kaki mereka.

"Luar biasa," kata Song Chen seraya memutar botol giok hitam di jemarinya tanpa sedikit pun berpaling. "Bau amis racun dari tebing tengkorak ini begitu pekat hingga aku bisa menciumnya sebelum kau menjejakkan kaki di lorong batu ini, Ma Huang."

Song Chen membalikkan badannya perlahan. Wajahnya yang tampan tampak tenang tanpa noda darah, sepasang matanya memancarkan keangkuhan tajam seorang jenius muda dari sekte terbesar.

"Satu-satunya cairan racun pemulih Dantian ini ada di tanganku," lanjut Song Chen seraya mengangkat botol giok itu setinggi dada. "Kau melangkah keluar dari neraka hanya untuk menyerahkan nyawamu secara cuma-cuma."

Ma Huang mengangkat Pedang Tulang Hitam. Udara di sekeliling bilah pedangnya mendadak mendingin, bergesekan keras dengan hawa panas yang membubung dari saluran lahar.

"Kembalikan harta keluargaku, Song Chen," kata Ma Huang dengan nada dingin yang menusuk tulang.

Song Chen tersenyum sinis, mencabut pedang panjangnya dari sarung berlapis emas. Bilah pedang berbahan baja meteorit itu memancarkan hawa murni berwarna putih keemasan yang berkilau menyilaukan mata. Dua pengawal pribadinya melesat maju terlebih dahulu, mengayunkan pedang mereka dalam formasi silang yang terkunci rapat.

Ma Huang meluncur di antara dua tebasan pedang emas, membenamkan telapak tangan kirinya ke dada pengawal pertama hingga Qi beracun meremukkan ulu hatinya. Pada saat bersamaan, Pedang Tulang Hitam di tangan kanannya memotong pergelangan tangan pengawal kedua hingga putus. Dua pengawal itu ambruk memuntahkan darah hitam ke lantai batu.

Song Chen bergerak saat jasad pengawal kedua belum menyentuh tanah. Langkah kakinya sangat cepat, meluncurkan sembilan bayangan pedang emas yang mengincar titik meridian di dada Ma Huang. Ma Huang memutar Pedang Tulang Hitam untuk membentuk perisai angin beracun di depan dadanya.

Denting keras logam beradu bergema dahsyat di dalam lorong batu. Bunga api kebiruan memercik deras ke segala arah, menyambar saluran lahar dan memicu cipratan api merah. Rasa sakit membakar menjalar di Dantian Ma Huang saat menahan benturan Qi murni milik Song Chen.

Ma Huang sengaja menyemburkan kabut darah beracun dari mulutnya langsung ke arah wajah Song Chen. Song Chen terkejut, refleks menggeser kepalanya ke kiri untuk menghindari cairan amis tersebut. Celah sepersekian detik itu dimanfaatkan Ma Huang secara brutal. Ia menyapu kaki kiri Song Chen dengan tendangan rendah, lalu melayangkan sabetan Pedang Tulang Hitam mengincar leher musuhnya.

Song Chen mengangkat botol giok hitam di tangan kirinya untuk menangkis sabetan pedang Ma Huang secara terdesak. Bilah pedang hitam merobek telapak tangan Song Chen hingga darah segar menyembur kencang. Botol giok hitam terlepas dari genggamannya, melayang jatuh di atas saluran lahar membara.

Song Chen menjerit parau dengan tangan kiri yang menghitam tersengat racun Ular Hijau. "Iblis gila!"

Ma Huang meluncur mendatar di atas lantai batu, menangkap botol giok hitam beberapa senti sebelum menyentuh lelehan lahar. Tanpa ragu sedikit pun, Ma Huang mencabut sumbat kayu botol itu dan menumpahkan seluruh cairan racun pekat lurus ke dalam tenggorokannya sendiri.

Hawa membakar yang luar biasa dahsyat meledak di dalam rongga dadanya. Jalur Darah Pemakan Bencana menyerap setiap tetes racun pekat itu secara ganas. Retakan di Dantiannya diselimuti lapisan kristal kehitaman yang membeku kaku, membentuk Inti Bencana Racun Hitam yang sangat kokoh.

Ma Huang meraung parau hingga dinding batu bawah tanah retak memanjang. Urat-urat di leher dan lengannya menegang menonjol hitam pekat.

Song Chen gemetar mundur saat merasakan gejolak Qi beracun Ma Huang melonjak dua kali lipat lebih dahsyat dari sebelumnya. "Kau meminum racun mentah itu?!" jerit Song Chen dengan wajah pucat pasi. "Tubuhmu akan hancur menjadi bubur darah!"

Ma Huang menjejakkan kakinya ke tanah, melesat maju membelah udara panas. Song Chen memutar lengan kanannya melancarkan teknik pedang emas secara panik.

Ma Huang menerobos jaring cahaya pedang emas secara langsung. Tebasan pedang Song Chen menggores dadanya, namun cairan hitam kental yang membeku seketika menutup luka tersebut sebelum sempat melebar. Tangan kiri Ma Huang meluncur mencengkeram leher Song Chen dengan cengkeraman mati, menghantamkan tubuhnya keras ke dinding batu hingga permukaan batu itu ambles dua jengkal.

Pedang meteorit Song Chen terlepas, jatuh berdenting menghantam saluran lahar. Song Chen terbatuk-batuk kencang memuntahkan darah segar dari mulutnya.

Ma Huang menyipitkan matanya yang kelam, menekan dada kiri Song Chen dengan ujung Pedang Tulang Hitam. "Di mana kunci makam yang direbut Jian Yue?"

Song Chen tertawa parau bercampur darah, sepasang matanya menatap Ma Huang penuh kebencian. "Jian Yue sudah menyerahkan kepingan kunci itu kepada Guru Agung... Pesta pertunangan malam ini hanyalah jebakan..."

Ma Huang membenamkan Pedang Tulang Hitam lurus menembus ulu hati Song Chen hingga merobek jantungnya. Racun Ular Hijau menghancurkan sisa meridian Song Chen dalam sekejap mata. Song Chen kejang-kejang sebentar sebelum akhirnya tubuhnya kaku tak bernyawa.

Ma Huang mencabut pedangnya, merogoh saku jubah dalam milik Song Chen. Tangannya menemukan gulungan kertas kulit tipis berstempel merah darah. Peta rahasia gerbang pembuangan Balai Kota Yunjiang.

Tiba-tiba, gema dentuman terompet tembaga bersahut-sahutan bergema dari permukaan tanah, diikuti derap puluhan langkah kaki berlapis zirah besi yang mengepung sumur penyepuh dari atas.

Suara Lu Gang berteriak nyaring dari arah tangga batu memecah keheningan. "Tuan Muda! Pasukan Sekte Pedang Suci menyiram seluruh Kediaman Pengrajin dengan minyak tanah!"

Lidah api raksasa meluncur deras menyusuri tangga batu dari atas, membakar lorong bawah tanah dalam sekejap mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!