Menikah 15 tahun tanpa anak dan hidup susah dari nol ditemani Agus, Eda akhirnya lulus PPPK setelah 10 tahun jadi honorer. Bukannya bahagia, gajinya justru habis tersedot utang serta beban keluarga besar. Saat lelah mendera, Agus sang suami berubah dingin jika tak diberi uang rokok, bahkan tega mengungkit luka lama di atas ranjang. Di antara rasa kasihan dan putus asa, Eda dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan pria yang tak punya tempat pulang, atau pergi demi menyelamatkan kewarasannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan yang Canggung
Tiga hari berlalu sejak Agus membanting pintu dan melangkah pergi membawa tas kainnya. Selama tiga hari itu pula, rumah kontrakan sempit di sudut Kota Solo itu mengecap ketenangan yang belum pernah ada sebelumnya. Tidak ada kepulan asap rokok kretek yang memenuhi ruang tengah, tidak ada nada perintah ketus yang meminta disiapkan kopi panas, dan tidak ada pameran silent treatment yang sengaja ditiupkan untuk menekan batin Eda.
Namun, ketenangan itu rupanya tidak bertahan lebih lama bagi Agus.
Sore itu, saat mentari mulai condong ke ufuk barat dan membiaskan warna jingga di sepanjang lorong gang, sebuah langkah kaki yang ragu terdengar berhenti di depan teras. Eda yang sedang duduk di kursi kayu ruang tengah sambil memeriksa lembar jawaban murid-murid kelas empat tidak menghentikan coretan pulpen merahnya. Ia hanya melirik sekilas ke arah pintu depan yang terbuka separuh.
Di sana, Agus berdiri kaku. Wajahnya tampak makin kusam, matanya sayu berbayang hitam, dan kemeja lusuh yang dikenakannya tampak kusut belum disetrika. Tas kain yang tiga hari lalu ia banting dengan penuh amarah kini digenggamnya erat-erat di tangan kanan.
Gengsi yang sempat melumbung tinggi saat mengancam akan pulang ke Klaten kini luluh pasak ditelan kenyataan. Di rumah orang tuanya di Klaten, Agus bukannya mendapat pembelaan manis atau disuap kemanjaan, melainkan dihujani pertanyaan sindiran oleh saudara-saudaranya sendiri. Mereka mempertanyakan mengapa seorang suami usia tiga puluh delapan tahun mendadak pulang membawa tas baju hanya gara-gara urusan dapur dan pertengkaran finansial. Merasa mukanya makin tercoreng dan tidak betah menjadi bahan guncangan keluarga besar, Agus tak punya pilihan lain selain menggeret kakinya kembali ke rumah kontrakan ini.
Agus berdehem pelan, mencoba mencuri perhatian Eda. "Ehm..."
Eda menengadah, menatap suaminya yang berdiri canggung di ambang pintu. Tidak ada sorot kemarahan, tidak ada keterkejutan, dan sama sekali tidak ada rasa panik di wajah Eda. Pandangan matanya begitu jernih, dingin, dan datar—seperti menatap seorang tamu asing yang kebetulan lewat.
"Sudah pulang, Agus?" sapa Eda singkat dan tenang, lalu kembali menatap kertas ujian di atas meja.
Agus melangkah masuk ke ruang tengah. Langkah kakinya yang biasanya dihentak-hentak sombong kini terasa pelan dan sangat ragu. Ia meletakkan tas kainnya di sudut meja makan, berharap Eda akan berdiri, menyambutnya, atau setidaknya menanyakan apakah ia sudah makan selama tiga hari di Klaten.
Namun Eda tetap bergeming, jemarinya lincah menggoreskan pulpen merah di atas kertas kerja muridnya.
Ibu Ratna yang mendengar suara menantunya langsung keluar dari kamar. Melihat Agus berdiri kikuk di ruang tengah, mata wanita tua itu berbinar lega. "Lho, Agus! Sudah pulang kamu, Le? Ya Allah, Mama khawatir banget dari kemarin kamu di Klaten..."
"Iya, Ma. Sudah selesai urusan di sana," sahut Agus beralasan, suaranya agak serak dan sengaja dikencangkan untuk menutupi rasa malunya di hadapan Eda.
Agus melirik istrinya dari sudut mata. Ia berjalan mendekati sofa, lalu duduk bersandar dengan membuang napas keras-keras—sebuah gestur lama yang biasa ia gunakan untuk menunjukkan bahwa ia sedang lelah dan butuh dilayani.
"Haus sekali," gumam Agus cukup keras, menatap lurus ke arah dapur. "Di jalan panas banget, kerongkongan sampai kering."
Di masa lalu, kode halus itu akan langsung membuat Eda melompat dari kursinya, bergegas ke dapur, dan menyajikan segelas es teh manis atau air hangat untuk suaminya. Namun sore ini, Eda hanya meraih gelas minumannya sendiri, menyedotnya sedikit, lalu membalikkan halaman kertas ujian muridnya.
"Gelas di rak dapur bersih semua, Agus. Galon air juga baru diisi tadi siang," tutur Eda lancar tanpa mengalihkan pandangannya dari lembar jawaban.
Agus merengut tajam. Wajahnya memerah padam ditimpa rasa malu yang teramat sangat di hadapan ibu mertuanya. Pria itu menyadari bahwa gertakan kepulangannya tidak mengubah apa pun. Eda tidak memohon-mohon maaf, tidak menangis haru melihatnya kembali, dan yang paling menyakitkan: Eda tidak lagi dapat dikendalikan dengan rasa bersalah.
Ibu Ratna yang mengerti situasi canggung itu akhirnya berdehem canggung, lalu melangkah sendiri ke dapur untuk mengambilkan gelas air bagi anak menantunya.
Agus menyambar gelas pemberian mertuanya, meminumnya hingga kandas, namun tatapan matanya terus tertuju pada Eda dengan rasa jengkel dan ketakutan yang mulai bercampur aduk. Pria itu baru menyadari satu kenyataan pahit: ia memang telah kembali ke rumah ini, tetapi posisi dan kekuasaan palsunya sebagai suami yang ditakuti telah runtuh sepenuhnya di balik ketegangan dingin sang istri.