NovelToon NovelToon
SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA


Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.

Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.

Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Bruk.

Gadis itu menoleh dengan tubuh bergetar hebat.

Di bawah bayangan pohon mangga dekat gerbang, Rahman berdiri dengan melipat kedua tangan di dada.

Skill Aura Tuan Tanah milik Rahman langsung aktif secara otomatis, memancarkan tekanan yang sangat mengintimidasi.

"P-Pak Rahman?!"

"Bapak kok belum tidur?" tanya Maya dengan suara terbata-bata.

"Menunggu maling yang mau kabur membawa lari uang sewaku, tentu saja."

"Kamu pikir kamu bisa membodohi orang tua ini, hah?" Rahman melangkah maju perlahan mendekati gadis itu.

Maya langsung mundur hingga punggungnya menabrak pintu gerbang besi.

Kakinya terasa sangat lemas menghadapi tatapan tajam bapak kosnya itu.

"Maafkan saya, Pak, saya benar-benar minta maaf."

"Saya tidak bermaksud menipu bapak, saya sungguh tidak punya uang bulan ini," Maya mulai menangis ketakutan.

"Tidak punya uang lalu solusinya lari dari tanggung jawab?"

"Itu tindakan para pengecut dan pencuri!" bentak Rahman sengaja meninggikan suaranya.

"Bapak saya di kampung gagal panen, Pak."

"Mereka tidak bisa kirim uang sepeser pun bulan ini, bahkan untuk makan saja mereka kesusahan."

Maya menundukkan kepalanya dalam-dalam, air matanya jatuh membasahi sandal jepitnya.

Rahman terdiam sejenak mendengar penjelasan itu.

Di dalam hatinya, ia merasa sedikit kasihan pada nasib gadis muda ini.

Namun, ia harus menjalankan misinya tanpa terlihat seperti pahlawan kesiangan.

"Lalu kenapa kamu tidak bilang padaku dari kemarin?"

"Kenapa malah main kucing-kucingan begini?" tanya Rahman sedikit menurunkan nada suaranya.

"Saya takut, Pak."

"Bapak kan bilang kalau hari kedelapan belum bayar, barang-barang saya akan dilempar ke jalan."

"Saya malu kalau sampai diusir dan dilihat tetangga lain," jawab Maya sambil terisak pelan.

"Hanya karena malu, kamu memilih tidur di jalanan malam ini?"

"Dasar anak muda bodoh yang mengutamakan gengsi," cibir Rahman.

Maya langsung berlutut di tanah dan menatap Rahman dengan pandangan memohon.

Ia membuka resleting ranselnya dan mengeluarkan laptop miliknya.

"Pak Rahman, tolong tahan laptop saya ini sebagai jaminannya."

"Laptop ini harganya jauh lebih mahal dari uang sewa kamar saya."

"Bapak boleh jual ini kalau bapak mau, asal bapak maafkan saya yang mau kabur ini," mohon Maya sambil menyodorkan laptopnya.

Mata Rahman menatap laptop itu, lalu menatap wajah Maya yang penuh air mata.

Sistem sudah melarangnya untuk merendahkan gadis ini, dan menyita laptop kuliahnya jelas akan menghancurkan masa depannya.

Rahman mendengus kasar dan menepis tangan Maya pelan.

"Simpan rongsokanmu itu, aku tidak butuh laptop bekas yang banyak virusnya."

Maya melongo kebingungan.

"T-tapi Pak, lalu saya harus bayar pakai apa?"

Rahman memutar otaknya mencari alasan yang tepat dan masuk akal.

Sebuah ide brilian tiba-tiba melintas di kepalanya.

Ide yang bisa menyelamatkan Maya, menyelesaikan misi, dan tentu saja, menguntungkan dirinya.

"Berdiri kamu, jangan menangis di tanah begitu, kotor!" perintah Rahman ketus.

Maya buru-buru berdiri dan mengusap wajahnya yang basah.

Ia menatap bapak kosnya dengan perasaan campur aduk antara takut dan penasaran.

"Dengar baik-baik, anak kuliahan."

"Kabur tidak akan melunasi hutangmu padaku sepeser pun."

"Kalau kamu benar-benar mau bertanggung jawab, kamu harus membayarnya dengan tenaga!" tegas Rahman.

"Membayar dengan tenaga?"

"Maksud bapak bagaimana?" Maya mengerutkan keningnya tidak mengerti.

"Mulai besok pagi, kamu resmi aku angkat menjadi asisten kos ini."

"Tugasmu menyapu halaman depan dan belakang setiap sore."

"Kamu juga yang harus membersihkan mesin cuci itu seminggu sekali dan mencatat pemasukan koinnya."

Rahman menyebutkan rentetan tugas dengan wajah bos yang kejam.

Maya membelalakkan matanya mendengar semua tugas itu.

"Jadi... saya disuruh kerja bakti, Pak?"

"Bukan kerja bakti, ini bisnis!"

"Gajimu sebagai asisten kos adalah pembebasan biaya sewa kamarmu bulan ini."

"Jadi kamu tidak perlu bayar uang kos sama sekali asalkan pekerjaanmu bersih dan rapi."

Rahman tersenyum miring, merasa alasannya sangat logis dan jenius.

Maya terdiam mematung, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut pria tua pelit di depannya ini.

Pembebasan biaya sewa penuh?

Hanya dengan menyapu halaman dan mencatat uang receh?

Itu sama sekali bukan hukuman, itu adalah penyelamatan hidup baginya!

"Bapak... bapak serius?"

"Bapak mau menjadikan saya asisten dan membebaskan uang kos saya?" tanya Maya dengan suara bergetar bahagia.

"Tentu saja aku serius!"

"Pinggangku sudah sering sakit kalau harus menghitung uang receh tiap malam."

"Aku butuh tenaga gratisan untuk membantuku mengurus tempat ini."

"Jangan kepedean mengira aku sedang berbaik hati padamu!" elak Rahman dengan cepat memalingkan wajahnya.

Maya tidak bisa lagi menahan perasaan harunya.

Ia tahu betul bahwa tugas menyapu halaman itu sangat ringan dan tidak sebanding dengan uang kos bulanan.

Pak Rahman sengaja menciptakan pekerjaan fiktif ini semata-mata agar Maya bisa tetap tinggal tanpa merasa seperti pengemis.

"Terima kasih, Pak Rahman!"

"Bapak benar-benar orang yang sangat baik, terima kasih banyak!"

Maya tersenyum sangat lebar sambil membungkuk berkali-kali di hadapan Rahman.

"Sudah kubilang aku bukan orang baik, aku ini tuan tanah yang sedang butuh pembantu!"

"Cepat bawa masuk lagi kopermu itu, bikin malu saja dilihat tetangga kalau sampai ada yang bangun."

Rahman mengomel sambil berjalan meninggalkan Maya.

Maya segera meraih kopernya dengan perasaan yang luar biasa lega.

Malam ini, ia tidak jadi tidur di pelataran masjid.

Malam ini, ia belajar bahwa di balik cangkang pelit dan kata-kata kasar bapak kosnya, terdapat kebaikan hati yang luar biasa besar.

"Siap, Bos Rahman!"

"Besok pagi halaman ini pasti sudah mengkilap saya sapu!" seru Maya riang sambil menyeret kopernya kembali ke kamar nomor dua.

Ting!

[Misi Utama Selesai.]

[Pengguna berhasil menggagalkan rencana kabur penyewa dan memberikannya solusi pekerjaan yang mengangkat harga dirinya.]

[Afeksi penyewa Maya meningkat drastis, ia kini sangat menghormati dan menyayangi pengguna layaknya keluarga sendiri.]

[Hadiah: Tambahan umur 5 hari telah didistribusikan.]

[Hadiah: Paket sembako sebulan penuh akan dikirimkan oleh kurir besok pagi.]

Rahman yang baru saja mengunci pintu kamarnya hanya bisa tersenyum puas membaca rentetan notifikasi itu.

Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang tipis.

"Asisten kos ya?"

"Ide yang tidak buruk, setidaknya besok aku tidak perlu capek-capek mengumpulkan koin mesin cuci lagi."

Rahman menarik selimutnya dan segera terlelap dengan perasaan yang sangat damai.

Keesokan paginya, suara sapu lidi yang bergesekan dengan paving blok terdengar sejak pukul enam pagi.

Srek srek srek.

Maya menyapu halaman dengan penuh semangat sambil bersenandung pelan.

Budi yang baru mau berangkat kerja terheran-heran melihat pemandangan itu.

"Loh, Maya tumben pagi-pagi rajin amat nyapu halaman kosan?" sapa Budi keheranan.

Maya menoleh dan tersenyum lebar pada Budi.

"Eh Mas Budi."

"Mulai hari ini, aku resmi jadi asisten kepercayaannya Bos Rahman!" pamer Maya dengan bangga.

"Asisten bapak kos?"

"Bapak kasih gaji ke kamu buat nyapu ginian?" tanya Budi semakin bingung.

"Rahasia dong, pokoknya Pak Rahman itu bos paling the best sedunia!" jawab Maya ceria.

Di balik jendela kamarnya, Rahman mengintip percakapan dua anak mudanya itu.

Ia menyesap teh hangatnya perlahan.

"Dasar anak-anak berisik, pagi-pagi sudah menggosipkan bosnya sendiri."

Meski mulutnya mengomel, namun matanya memancarkan kehangatan yang tulus.

Ting!

[Sistem memberitahukan: Sisa umur pengguna kini mencapai angka yang aman untuk beraktivitas normal tanpa risiko penyakit mendadak.]

[Sisa Umur: 27 Hari 15 Jam 10 Menit.]

Rahman tersenyum menatap angka itu.

Perjalanan menebus masa lalunya masih panjang, tapi ia sudah tidak lagi merasa sendirian.

Keluarganya mungkin membencinya, tapi di halaman kecil miliknya ini, ia telah menemukan keluarga baru yang tulus.

1
REY ASMODEUS
sistemnya pelit kasih hadiahnya bisa gini thor : 1 . peremajaan kulit
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.

ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...
REY ASMODEUS
lanjutkan........ pilih nomor 2..... 🤣🤣🤣
Nissa Safira: SIAP KAK! Nomor 2 emang paling memuaskan 🤣🤣
Lanjut ya kak, besok Budi bangun lihat gepokan duit di bantal + surat "jangan mabuk lagi atau sewa naik 3x lipat" pasti nangis kejer peluk kaki Rahman.
Makasih kak udah pilih nomor 2! malam ini saya lanjutin lagi misi renovasi kamar mandi gratisnya 🤣🤣😁🙏
total 1 replies
REY ASMODEUS
saya akan lawan,,, hidup rahman💪💪💪💪💪
REY ASMODEUS
siap tuan takur 🤣🤣
Nissa Safira: Siap! Bagus. Karena kamu siap, uang sewa komen naik 100rb ya. Bayar pake love & bintang 5. Jangan lupa setoran! 🤣🤣
total 1 replies
REY ASMODEUS
rasain loe tuan takarrrr🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: Rasain emang kak 😂 50rb aja pelitnya minta ampun, giliran sisa umur 7 hari baru panik. Tungguin kak bakal nangis tuh si rahman 🤣🙏
total 1 replies
Diana Lely
semangat thor
Nissa Safira: Semangat juga buat kakak! 🔥🔥
Makasih banyak kak udah mampir di kos pelitnya Pak Rahman🥰
Doain Rahman biar gak jantungan lagi pas disuruh sedekah🤣🤣
total 1 replies
xebeck D ron
Yoo novel baru
Nissa Safira: Hallo kak 🤣🔥 Iya kak novel baru😂
Selamat datang di kos-kosan dan kontrakan paling pelit se-Indonesia
Kenalin kak, ini Rahman 68 tahun bapak kos paling perhitungan, surga neraka baginya cuma soal uang sewa🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!