Tiga tahun menikah, Arini hidup seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Setiap hari ia diejek mertua karena belum juga hamil. Padahal, suaminya Bara Mahendra tidak pernah benar-benar menyentuhnya. Pernikahan mereka hanya formalitas bisnis.
Sampai di malam anniversary ke-3, Bara pulang.
Bukan dengan bunga. Tapi dengan seorang wanita hamil dan selembar surat cerai.
"Maaf, Arini. Kamu mandul. Aku butuh anak. Luna sudah mengandung anakku 2 bulan. Tanda tangani ini, aku beri kamu 500 juta."
Di malam hujan itu, Arini diusir dengan satu koper butut. Tidak ada yang membelanya.
Tapi Tuhan tidak tidur.
Di pinggir jalan, dalam keadaan hampir pingsan, Arini ditolong oleh Revan Aditya — CEO muda paling berkuasa di Jakarta yang terkenal dingin dan tak tersentuh wanita.
Dan Sebuah rahasia terungkap, Yang mandul bukan arini tapi bara.
arini kembali bukan lagi sebagai wanita terbuang yang menangis di meja makan tapi sebagai wanita elegan pemilik saham terbesar di perusahaan bara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Revan Aditya Sebenarnya?
Mobil Maybach hitam itu terus melaju menembus hujan. Di dalam mobil begitu hening, hanya terdengar suara hujan yang menampar kaca dan suara nafasku yang masih sesak.
Aku meringkuk di kursi belakang, masih memakai jas hitam milik Revan yang kebesaran. Jas itu menutupi gaun champagne ku yang basah dan kotor. Wanginya menenangkan, tapi aku masih gemetar. Bukan hanya karena dingin, tapi karena kenyataan yang baru saja kuh dengar. Aku tidak mandul. Bara yang mandul. Dan dia mengetahuinya selama dua tahun.
Dua tahun dia membiarkan aku disalahkan. Dua tahun dia membiarkan ibunya menghinaku di setiap acara keluarga. "Perempuan tidak berguna", "hanya bisa numpang hidup", "pembawa sial karena tidak bisa memberi cucu". Dan Bara hanya diam. Dia diam sambil memeluk Luna di belakangku.
Air mataku yang tadi sempat berhenti, kembali mengalir tanpa bisa ku tahan.
Dari kaca spion, aku melihat Revan menatapku. Tatapannya tidak lagi dingin seperti saat pertama kali melihatnya. Ada sesuatu yang lembut di sana.
"Kita hampir sampai," ucapnya pelan, seolah takut mengagetkanku. "Kamu butuh baju hangat dan obat. Jangan menangis lagi, nanti kamu sakit."
Aku hanya mengangguk lemah. Aku terlalu lelah untuk bertanya kita akan kemana. Aku bahkan tidak peduli. Dimanapun lebih baik daripada kembali ke rumah neraka itu.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil itu memasuki sebuah gerbang besar yang menjulang tinggi. Dua petugas keamanan berseragam hitam membukakan gerbang dengan hormat saat melihat plat nomor mobil ini.
Mataku membelalak. Di balik gerbang itu, ada sebuah mansion. Bukan rumah, tapi mansion yang sangat besar, dengan taman yang luas dan lampu-lampu taman yang menyala temaram di tengah hujan. Jauh lebih besar dan jauh lebih mewah daripada rumah Bara yang selama ini sudah kubanggakan.
Mobil berhenti di depan pintu utama. Seorang wanita paruh baya dengan seragam pembantu yang rapi sudah menunggu di sana dengan payung, bersama beberapa pelayan lain.
"Tuan Revan," sapa wanita itu dengan hormat, lalu tatapannya beralih padaku dengan kaget dan iba.
Revan tidak mempedulikan hujan. Dia keluar lebih dulu dan membukakan pintu untukku, kembali memayungiku. Dia merangkulku dengan hati-hati, menuntunku masuk.
Begitu masuk ke dalam mansion itu, kehangatan langsung menyelimutiku. Lantai marmernya bersih mengkilap, lampu kristal raksasa tergantung di langit-langit yang tinggi. Aroma kayu dan kopi menyambutku.
"Bi Ijah, siapkan kamar tamu yang di lantai bawah, yang ada pemanasnya. Dan siapkan air hangat, baju ganti yang bersih, dan teh jahe yang panas," perintah Revan dengan suara tegas, tapi tidak membentak. Semua pelayan langsung bergerak cepat.
Aku berdiri kaku di tengah lobi yang megah itu, air dari gaun dan rambutku menetes ke lantai marmer yang mahal. Aku merasa sangat kotor dan tidak pantas berada di sini.
"Maaf... lantainya jadi kotor..." bisikku pelan, merasa bersalah.
Revan menatap tetesan air itu, lalu menatapku lagi. "Lantai bisa dibersihkan. Kamu tidak."
Kalimat sederhana itu membuat dadaku sesak lagi.
Bi Ijah, wanita paruh baya tadi, mendekatiku dengan senyum keibuan. "Sini, Neng. Ikut Bi Ijah ya. Sudah disiapkan air hangatnya. Kasihan, menggigil begitu."
Aku menatap Revan, ragu. Revan mengangguk pelan, memberi isyarat agar aku ikut.
Aku mengikuti Bi Ijah ke sebuah kamar yang sangat luas dan indah. Kamar tamu, katanya. Tapi kamar ini jauh lebih besar dari kamar tidurku dan Bara. Ada kamar mandi dengan bathtub besar, dan di atas tempat tidur sudah tergeletak sebuah piyama sutra berwarna putih yang bersih dan handuk tebal.
"Berendam dulu yang lama ya, Neng. Biar hangat. Nanti Bi Ijah tunggu di luar," kata Bi Ijah sambil mengelus punggungku lembut.
Saat pintu kamar tertutup dan aku sendirian, aku akhirnya runtuh. Aku masuk ke kamar mandi, menyalakan shower air panas, dan duduk di lantai di bawah guyuran air panas itu sambil menangis sejadi-jadinya. Aku membiarkan air panas itu membersihkan semua kotoran, semua air hujan, dan semua sisa sentuhan Bara dari tubuhku.
Aku tidak tahu berapa lama aku di kamar mandi. Sampai akhirnya tangisku berhenti dan tubuhku sudah hangat kembali. Aku memakai piyama sutra itu. Kebesaran, tapi sangat lembut dan nyaman. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku merasa bersih.
Saat aku keluar, Bi Ijah sudah menungguku dengan nampan berisi teh jahe panas dan bubur hangat. "Minum dulu, Neng. Tuan Revan menunggu di ruang kerja. Katanya kalau Neng sudah enakan, Neng bisa menemuinya. Tidak dipaksa."
Aku menghabiskan teh jahe itu. Rasa jahe yang pedas dan hangat menjalar ke seluruh tubuhku, membuatku sedikit lebih tenang.
Dengan langkah ragu, aku mengikuti Bi Ijah menuju ruang kerja. Pintu kayu jati yang besar itu sedikit terbuka.
Revan ada di dalam. Dia sudah berganti baju dengan kemeja putih bersih dan celana hitam. Rambutnya yang tadi basah sudah kering dan tertata rapi. Dia sedang berdiri membelakangiku, menatap hujan di luar jendela besar, dengan segelas kopi di tangannya. Dari belakang, punggungnya terlihat sangat kokoh dan berwibawa.
Aku mengetuk pintu pelan. "Pak Revan..."
Dia berbalik. Saat melihatku dengan piyama putih itu, tatapannya sedikit melembut.
"Duduklah," katanya sambil menunjuk sofa kulit di dekat perapian yang menyala.
Aku duduk dengan canggung.
Revan duduk di depanku. Dia menatapku lekat-lekat, seolah ingin memastikan aku baik-baik saja.
"Kamu pasti bertanya-tanya, siapa aku dan kenapa aku tahu tentangmu," dia memulai, suaranya tenang.
Aku mengangguk pelan.
"Nama lengkapku Revan Aditya Pratama. Aku pemilik Aditya Group," ucapnya datar.
Aditya Group. Nama itu... aku pernah mendengarnya. Bara sering menyebutnya dengan nada kesal dan penuh persaingan. Aditya Group adalah perusahaan properti dan teknologi terbesar di Indonesia, saingan terbesar perusahaan Bara, Mahendra Corp.
"Dan..." Revan melanjutkan, tatapannya mengeras lagi. "Aku adalah kakak kandung Luna. Kakak tirinya."
Darahku kembali berdesir.
Luna? Sekretaris Bara? Pelakor yang merebut suamiku dan mengaku hamil itu adalah adik tiri Revan?
"Apa?" Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku.
Revan menghela napas berat. "Ayahku menikah lagi setelah ibuku meninggal. Luna adalah anak dari istri keduanya. Dia sudah lama kuingatkan untuk menjauhi Bara Mahendra. Aku tahu Bara itu bajingan yang licik. Tapi dia tidak pernah mendengarkanku. Dia terobsesi menjadi Nyonya Mahendra karena harta."
Revan meletakkan gelas kopinya dengan sedikit keras di atas meja. "Dan Dokter Rina adalah dokter keluarga kami. Tadi sore, Luna memeriksakan kandungannya di tempat Dokter Rina. Dokter Rina curiga karena usia kehamilan Luna tidak cocok dengan pengakuannya pada Bara. Dan saat mengecek data lama, dia menemukan data mu yang tertukar."
Jadi... Luna berbohong soal kehamilannya juga?
Revan menatapku dengan tatapan yang penuh arti. "Arini, aku menolongmu bukan hanya karena kasihan. Aku butuh bantuanmu."
"Bantuan?" tanyaku bingung.
"Ya," Revan mendekat, menatap mataku dalam-dalam. "Bara Mahendra sudah lama ingin menghancurkan perusahaanku dengan cara kotor. Dia mendekati adikku untuk mencuri data perusahaan. Sekarang, dia sudah membuangmu. Maukah kamu bekerja sama denganku untuk memberinya pelajaran? Aku akan membuatmu menjadi wanita yang tidak akan pernah bisa dia jangkau lagi."
Tawarannya begitu mengejutkan. Balas dendam? Bersama pria yang ternyata adalah kakak dari pelakor itu sendiri?
Aku menatap perapian yang menyala di depanku. Api itu memantulkan cahaya di mataku.
Selama tiga tahun aku sabar. Selama tiga tahun aku mengalah.
Apakah sudah waktunya aku berhenti menjadi korban?