NovelToon NovelToon
Gulungan Tabib Langit Dan Bumi

Gulungan Tabib Langit Dan Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Di Benua Awan Timur, kekuatan adalah segalanya. Para kultivator jenius membelah gunung dengan lambaian tangan dan menghancurkan kota hanya dengan hembusan napas. Namun, epik ini tidak dimulai dari puncak kejayaan, melainkan dari sudut dunia fana yang terlupakan. Li Yun hanyalah seorang tabib muda biasa di kota perbatasan. Ia tidak memiliki akar spiritual surgawi, garis keturunan dewa, ataupun takdir pahlawan yang terpilih.
Ketika seorang kultivator sakti tewas di depan kliniknya yang sederhana, kehidupan tenang Li Yun hancur. Ia mewarisi sebuah teknik rahasia kuno yang tidak memberinya kekuatan penghancur instan, melainkan menuntut pemahaman mendalam tentang hukum alam, alkimia, dan aliran energi yang sangat lambat. Di dunia yang dipenuhi kejeniusan arogan dan sekte-sekte kuno yang kejam, Li Yun menyadari bahwa bertahan hidup membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan murni. Ia harus menggunakan kecerdasannya, menyembunyikan bakat aslinya di balik identitas seorang tabib sekuler.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Debu Berdarah dan Jarum yang Bergetar

​Perjalanan sejauh tiga ratus mil dengan berjalan kaki memakan waktu lebih dari sebulan. Ketika siluet raksasa dari Lembah Seratus Obat akhirnya menembus kabut pagi, Li Yun tidak melihat sebuah surga abadi, melainkan sebuah pabrik penggilingan daging raksasa.

​Dua tebing hitam menjulang tinggi membentuk gerbang alami yang memancarkan aura formasi pelindung tingkat rendah. Di luar gerbang tersebut, sebuah kota kumuh darurat telah terbentuk dari tenda-tenda kulit binatang dan gubuk kayu. Ribuan manusia fana, kultivator liar (Rogue Cultivators), dan penjahat buronan berkumpul di sini. Udara dipenuhi bau keringat asam, anyir darah, dan aroma herbal busuk. Di tempat ini, nyawa manusia lebih murah daripada seikat Rumput Penempa Tulang.

​Li Yun merapatkan jubah raminya, membiarkan keranjang bambunya berderit pelan di punggungnya. Ia melangkah menuju antrean panjang di depan sebuah paviliun kayu bertuliskan "Pos Perekrutan Luar".

​Di beranda paviliun, duduk seorang pria paruh baya dengan jubah abu-abu sekte. Di dadanya tersulam lambang daun kuali—Diakon Fang. Kultivasinya berada di Lapis Kelima Pengumpulan Qi. Di mata warga kota fana, ia adalah dewa. Namun dari raut wajahnya yang bosan dan kantung matanya yang hitam, Li Yun tahu pria ini hanyalah pelayan rendahan sekte yang terjebak dalam tugas administrasi yang menyebalkan.

​"Selanjutnya!" bentak Diakon Fang, melempar papan kayu ke arah seorang pemuda berbadan besar yang baru saja gagal membedakan Akar Darah dan Akar Racun Merah. "Mata buta sepertimu mau jadi peracik obat?! Masuk ke Pasukan Tambang Mineral Kematian! Bawa dia pergi!"

​Dua penjaga sekte menyeret pemuda yang menangis memohon itu. Antrean bergidik ngeri.

​Giliran Li Yun tiba. Ia melangkah maju dengan postur sedikit bungkuk, menampilkan aura kelelahan yang sangat natural setelah perjalanan jauh. Ia membiarkan fluktuasi Lapis Pertama Pengumpulan Qi-nya merembes keluar—lemah, tidak stabil, dan menyedihkan.

​Diakon Fang melirik Li Yun dari atas ke bawah. Ia mendengus menghina.

​"Usia dua puluhan, Lapis Pertama Pengumpulan Qi, meridian kaku, napas pendek. Bakat sampah," cibir sang Diakon, suaranya tak menyembunyikan rasa muaknya. "Bawa keranjang obat di punggungmu. Tabib fana?"

​"Menjawab Yang Mulia," ucap Li Yun dengan suara serak, sedikit menundukkan kepala. "Hamba adalah tabib keliling. Hamba mengerti sedikit tentang jarum perak dan meracik herbal fana penawar racun."

​"Kami tidak butuh tabib fana untuk mengobati flu babi di sini," Diakon Fang menguap. Ia melambaikan tangannya. Dua penjaga membawa tandu berdarah dan meletakkannya dengan kasar di depan Li Yun.

​Di atas tandu itu, terbaring seorang pria kultivator liar yang kejang-kejang hebat. Pembuluh darah di wajahnya menonjol hitam legam, dan busa bercampur darah keluar dari mulutnya. Lengan kanannya memiliki bekas gigitan binatang buas yang membusuk, memancarkan bau amis yang menyengat.

​"Pencari herbal ini digigit oleh Kadal Rawa Ekor Besi kemarin sore," ucap Diakon Fang, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Racunnya telah mencemari Qi-nya. Dua pelamar sebelummu mencoba menggunakan energi spiritual mereka untuk menekan racunnya, tapi malah membuat racun itu menyebar ke jantung. Mereka berdua sudah kubuang ke rawa. Kau punya waktu setengah batang dupa. Hentikan kejangnya, atau kau akan menyusul mereka."

​Sebuah ujian praktis yang kejam. Bagi seorang kultivator rendah, mengintervensi racun yang telah bercampur dengan Qi orang lain adalah tindakan bunuh diri karena bisa memicu pantulan energi (backlash).

​Di balik ekspresinya yang pura-pura panik, otak Li Yun bekerja sekilat kilat.

​Ia langsung mengenali gejalanya. Racun Kadal Rawa Ekor Besi bersifat Yin-Dingin, yang membekukan aliran Qi dan membuat otot berkontraksi hebat hingga kejang. Cara paling elegan untuk menyembuhkannya adalah dengan menggunakan Pil Pembakar Yang tingkat satu, atau menyalurkan Qi murni bertipe Api untuk melelehkan racun tersebut.

​Namun, jika Li Yun melakukan hal itu, ia akan dicap sebagai jenius medis tersembunyi. Ia akan langsung diseret ke Balai Pengobatan Dalam, menjadi aset berharga sekte, diawasi dua puluh empat jam oleh para Tetua, dan kebebasannya akan tamat. Ia harus berhasil menyelamatkan nyawa pria ini, tetapi dengan cara yang paling bodoh, menjijikkan, dan kasar. Sebuah metode yang membuat Diakon Fang menganggapnya berguna, namun tidak pantas diangkat derajatnya.

​Li Yun menjatuhkan keranjangnya dengan tangan gemetar yang ia buat-buat. "B-Baik, Yang Mulia! Hamba akan mencoba cara fana!"

​Ia tidak mengeluarkan aura spiritual sedikit pun. Sebaliknya, ia mencabut sebilah belati berkarat dari keranjangnya. Tanpa ragu, namun dengan gerakan yang sengaja dibuat canggung, ia menyayat tebal luka gigitan di lengan pria itu. Darah hitam pekat menyembur, mengotori lantai paviliun.

​"Bodoh! Apa yang kau lakukan? Kau mau membunuhnya karena kehabisan darah?!" salah satu penjaga membentak, bersiap menendang Li Yun.

​"Tunggu," Diakon Fang mengangkat tangan, matanya sedikit menyipit.

​Mengabaikan bentakan penjaga, Li Yun mengambil segenggam Bubuk Akar Jahe Api—herbal fana yang sangat murah dan biasanya digunakan warga desa untuk bumbu dapur atau menghangatkan kaki di musim salju. Ia menaburkan bubuk itu dalam jumlah brutal tepat di atas luka terbuka yang menganga.

​Pria yang kejang itu tiba-tiba membelalakkan matanya dan menjerit parau. Sensasi bubuk jahe mentah di atas luka terbuka sungguh menyiksa, tetapi efek panas alaminya secara paksa memanaskan darah yang membeku di sekitarnya.

​Li Yun kemudian mencabut jarum peraknya. Ia sengaja membuat tangannya terlihat bergetar saat ia menusuk tiga titik akupunktur fana di sekitar dada pria itu. Alih-alih menyalurkan Qi untuk membersihkan racun, Li Yun hanya menggunakan jarum itu untuk memblokir aliran darah kotor menuju jantung secara fisik, sebuah teknik pengobatan fana yang sangat kuno dan penuh risiko.

​Terakhir, ia meremas empedu katak beracun biasa dan mencekokkannya ke mulut pasien.

​Dalam hitungan detik, pasien itu berguling dari tandu dan muntah dengan sangat hebat. Darah hitam berbuih, bercampur asam lambung dan sisa racun kadal, tumpah ke lantai paviliun, mengeluarkan bau busuk yang membuat para penonton di antrean menutup hidung mereka.

​Namun... kejangnya berhenti. Pasien itu terkapar lemas, terengah-engah, dengan wajah pucat pasi. Ia nyaris mati karena kehilangan darah dan syok, tetapi racun dingin yang menyumbat meridiannya telah dimuntahkan paksa dan diblokir dari jantungnya. Ia hidup.

​Li Yun mundur dua langkah, mengusap keringat di dahinya, dan menunduk dalam-dalam. Seluruh pakaiannya kotor oleh darah dan muntahan. Ia tampak seperti tabib desa yang kelelahan dan ketakutan setengah mati.

​Diakon Fang menutupi hidungnya dengan saputangan sutra, menatap Li Yun dengan pandangan campur aduk antara jijik dan takjub.

​"Metode yang barbar, kasar, dan tidak beradab," cibir Diakon Fang. "Kau nyaris membunuhnya dengan syok rasa sakit. Tidak ada keanggunan kultivator sedikit pun dalam tindakanmu. Kau murni hanya menggunakan akal-akalan tabib fana untuk memaksa tubuhnya menolak racun."

​"H-Hamba hanyalah tabib keliling yang bodoh, Yang Mulia," ucap Li Yun dengan nada bergetar. "Hamba hanya tahu cara menguras racun dengan menguras darah dan isi perutnya."

​Diakon Fang terdiam sejenak. Meski metodenya menjijikkan, pemuda di depannya ini berhasil menstabilkan pasien yang dianggap mati oleh dua pelamar sebelumnya. Lembah Seratus Obat memang tidak butuh keanggunan di wilayah pinggiran; mereka butuh orang-orang yang bisa membuat para budak pencari herbal tetap hidup cukup lama untuk menyetorkan kuota mereka.

​"Kau lulus, Tabib Sampah," Diakon Fang akhirnya memutuskan, melemparkan sebuah token kayu berwarna hitam legam berukir tulisan 'Luar'. Token itu memantul di lantai dan mendarat di dekat kaki sepatu Li Yun.

​"Mulai hari ini, namamu tercatat di Tim Pemetik Herbal Wilayah Luar Sektor Ketiga. Tugasmu adalah menjaga anjing-anjing pencari herbal itu tidak mati konyol sebelum mereka memenuhi kuota sekte. Bayaranmu adalah dua batu roh tingkat rendah sebulan dan kebebasan memungut sisa herbal yang tidak masuk kualifikasi. Ambil barangmu dan enyah dari pandanganku sebelum bau muntahan ini membuatku membunuhmu."

​"Terima kasih, Yang Mulia! Terima kasih atas kebaikan Anda!" Li Yun meraup token itu dengan terburu-buru, membungkuk berulang kali seperti pelayan yang bersyukur, dan berjalan tertatih menyusul penjaga yang mengarahkannya ke gerbang lembah.

​Saat ia melewati gerbang batu besar itu, membelakangi pandangan merendahkan dari Diakon Fang, kepanikan dan ketakutan di wajah Li Yun menghilang seperti kabut yang tertiup angin. Sepasang matanya kembali menjadi setenang sumur tua.

​Rencananya berjalan sempurna. Ia telah berhasil masuk ke dalam sistem sekte. Di Sektor Ketiga Wilayah Luar—tempat yang paling kumuh, paling berbahaya, dan paling diabaikan oleh para petinggi sekte.

1
Armoire
1 vote meluncur lah /Drool//Drool/
ARay
mantap Thor 😎
ARay
bagus ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!