SINOPSIS
.
.
.
.
.
Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.
Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.
Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.
Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.
Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.
Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?
Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: KRISAN DI TAMAN YANG TUA
Lima hari menunggu terasa lebih panjang dari lima hari mana pun yang pernah Ruyin lewati di rumah ini.
Pagi jamuan, pelayan membawa dua pilihan jubah ke kamarnya: satu berwarna kelabu perak dengan sulaman awan tipis, satu lagi cokelat susu dengan tepi hijau lumut. Ruyin memilih yang kedua. Warnanya terasa seperti seseorang yang datang berkunjung untuk mendengarkan, bukan untuk dilihat.
Nyonya Lin sudah menunggu di serambi dengan kepala yang tak lagi berat. Ia merapikan kerah jubah Ruyin sebentar, lalu menurunkan tangannya seakan baru ingat sesuatu.
"Nyonya Cen itu banyak bicara," katanya. "Kau tidak perlu menjawab semuanya. Cukup tersenyum pada bagian yang pantas."
"Ibu tidak ikut?"
"Aku masih harus menerima tabib. Yucheng akan mengantarmu, dan Bibi Qin menemani." Ia berhenti sebentar. "Ibuku dan Nyonya Cen dulu seperti dua ranting dari satu dahan. Setelah ibuku wafat, kabar kami hanya sampai lewat surat tahun baru. Aku sendiri sudah lama tidak melihatnya."
Itu pertama kalinya Nyonya Lin menyebut ibunya sendiri. Ruyin menyimpannya tanpa bertanya.
Di kereta, Yucheng bersandar sambil mengupas kacang rebus dari kantong kertas. "Suami Nyonya Cen dulu pejabat pengawas pajak garam. Mereka ditugaskan ke Chengdu, lalu entah ke mana lagi. Katanya baru kembali ke Chang'an dua tahun lalu." Ia menyodorkan segenggam kacang. "Aku hanya pernah bertemu sekali. Ia memberiku sebuah kuas dan menyuruhku berhenti memanjat atap."
"Kakak memanjat atap?"
"Aku memanjat banyak hal. Kau yang selalu menunggu di bawah dan menghitung berapa lama aku bertahan."
Ruyin tertawa kecil dan menerima kacangnya. Ia tidak menanyakan kapan itu terjadi.
———
Kediaman Cen terletak di Distrik Utara, di ujung jalan berpohon sophora yang daunnya sudah separuh gugur. Gerbangnya sederhana, dengan papan nama kayu yang catnya mengelupas. Tidak ada singa batu, tidak ada tiga lapis gerbang. Rumah ini tampak seperti milik orang yang pernah hidup lama di tempat jauh, dan kembali dengan lebih sedikit barang.
Taman belakangnya justru luas. Krisan ditanam bertingkat di lereng buatan, putih, kuning pucat, ungu tua, dan satu petak merah bata yang tampak seperti api kecil. Di tengahnya berdiri paviliun kayu tanpa ukiran, dan di dalamnya duduk belasan tamu di atas tikar rendah. Mereka bukan perempuan-perempuan bersulam emas seperti di Kediaman Lu. Ada seorang tabib perempuan tua, seorang istri penyalin naskah, dua nyonya berambut putih yang sedang berdebat tentang resep manisan buah plum. Tidak ada yang menatap Ruyin lebih dari sewajarnya.
"Itu dia."
Seorang perempuan bertubuh gempal bangkit dari tikar dengan lutut yang berderak, rambut putihnya disanggul longgar dan dihiasi satu tusuk konde kayu. Ia menyibak tamu-tamu lain dan menangkap kedua tangan Ruyin sebelum sempat memberi hormat.
"Astaga. Astaga, lihat dirimu. Hidungmu masih hidung ibumu." Matanya berkaca-kaca, tetapi ia tertawa. "Aku Cen. Kau pasti tidak ingat aku. Kau baru sebesar guci kecil ketika terakhir kali kugendong."
"Maafkan aku, Nyonya."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Duduk, duduk. Yucheng, jangan berdiri seperti pengawal, bawakan adikmu teh yang sudah dingin. Ia tidak bisa minum yang panas."
Ruyin duduk di sisi Nyonya Cen. Kali ini ia tidak terkejut bahwa orang mengingat tehnya. Ia hanya mencatat bahwa daftar orang yang tahu hal itu bertambah satu.
———
Nyonya Cen berbicara tanpa jeda, tetapi tidak seperti Nyonya Fang. Ia lebih suka bercerita tentang orang-orang yang sudah tiada, tentang ibu Nyonya Lin yang pandai memotong kertas dan selalu membawa gunting kecil di lengan bajunya, tentang rumah lama di Jingzhou yang halamannya selalu berbau jeruk. Ruyin mendengarkan tanpa menyela. Beberapa kali ia mengangguk pada bagian-bagian yang tak ia pahami, dan Nyonya Cen tidak keberatan.
"Waktu kau bayi, kau tidak mau tidur kalau tidak mendengar bunyi."
"Bunyi apa?"
"Tutup kotak. Kotak kayu kecil, yang tutupnya berbunyi tok kalau dibuka dan ditutup." Nyonya Cen menirukan gerakan dengan kedua telapak tangannya. "Ibumu sampai mengumpulkan kotak-kotak bekas dari pasar. Satu malam bisa sepuluh kali, tok, tok, tok. Kau baru tenang setelah yang ketujuh."
Yucheng, yang duduk di seberang, menunduk memandang cawannya.
Ruyin tersenyum. Tidak ada apa pun di dalam dirinya yang mengenali bunyi itu. Bukan hujan, bukan bangau, bukan tinta. Hanya sepotong cerita tentang bayi yang tidak ia ingat pernah menjadi, dan ibu yang rela mengumpulkan kotak bekas demi tidurnya.
"Aku tidak tahu," katanya jujur, "Ibu tidak pernah menceritakan itu."
"Tentu saja tidak. Ia pasti malu." Nyonya Cen mengusap matanya dengan ujung lengan. "Tapi itu bagus. Itu tanda ibu yang baik."
———
Menjelang siang, para tamu berpencar menikmati krisan. Ruyin berjalan pelan di lereng taman, Bibi Qin setengah langkah di belakangnya. Dari balik petak krisan putih, ia mendengar dua suara perempuan yang sedang memotong tangkai.
"...jadi pelayan Istana Timur datang lagi kemarin ke rumah Marquis Lu, menanyakan sesuatu soal jadwal perjamuan."
"Putra Mahkota itu memang jarang makan di luar, tapi kali ini katanya menyusun sendiri daftar tamunya."
"Sendiri? Biasanya Menteri Ritus yang..."
Suara mereka bergeser menjauh. Ruyin berhenti sejenak, kemudian melanjutkan langkah. Nama itu lagi, lewat begitu saja, seperti daun di atas air. Ia tidak menoleh pada Bibi Qin, tetapi menyadari pelayan itu juga berhenti sepersekian napas.
Sebelum pulang, Nyonya Cen menarik Ruyin ke sisi paviliun, ke tempat yang agak sepi. Ia menyelipkan sepotong kue bunga krisan ke tangannya, lalu menatapnya lama.
"Dulu aku sempat bertanya pada ibumu," katanya pelan, "kenapa kau tidak ikut ke Chengdu bersama kami, waktu kami pamit. Aku sudah menyiapkan kamar untukmu. Ibumu bilang kau masih terlalu kecil untuk pergi jauh." Ia tersenyum, sedikit pahit. "Waktu itu aku mengira ia hanya berat melepasmu. Sekarang aku malah bertanya-tanya."
"Bertanya apa, Nyonya?"
"Entahlah. Aku hanya merasa, tahun itu, ibumu sudah tahu sesuatu tentang kepergian." Nyonya Cen menggeleng cepat. "Orang tua suka mengira-ngira. Lupakan saja. Datanglah lagi, ya."
Ruyin mengangguk dan membungkuk dalam-dalam.
———
Dalam kereta pulang, Yucheng tertidur lagi dengan kepala di dinding, tetapi kali ini Ruyin tidak mengamatinya. Ia memandang kue krisan di telapak tangannya, kuning pucat, berbau madu.
'Kotak kayu yang berbunyi tok.' Itu bagian dari masa bayi yang tak mungkin ia ingat. Mungkin tak berarti apa pun.
Namun satu kalimat Nyonya Cen terus berputar: "tahun itu, ibumu sudah tahu sesuatu tentang kepergian." Kepergian siapa? Kepergian Nyonya Cen ke Chengdu, kepergian keluarga itu, atau kepergian lain yang tak disebut?
Ruyin menggigit kuenya perlahan. Di seberangnya, Bibi Qin memandang lurus ke depan, jemarinya terlipat di lutut, dan untuk pertama kalinya Ruyin melihat bahwa pelayan itu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Ia sedang menahan diri untuk tidak bertanya.