Satu pesan yang salah kirim mempertemukan Andrian Pratama, seorang mahasiswa tingkat akhir, dengan Elena, wanita dewasa yang ternyata merupakan CEO sebuah perusahaan besar.
Awalnya, mereka hanya berbicara lewat pesan. Tanpa sengaja, percakapan sederhana itu berubah menjadi kebiasaan yang membuat keduanya semakin dekat.
Masalahnya, Andrian kemudian menjalani magang di perusahaan tempat Elena bekerja.
Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin rumit. Di satu sisi, Elena adalah CEO yang harus menjaga profesionalitas. Di sisi lain, bagi Andrian, Elena adalah wanita yang sudah menjadi bagian penting dari kesehariannya.
Dari pesan singkat, pertemuan tak sengaja, hingga akhirnya menjadi pasangan, keduanya mulai membangun hubungan yang mereka kira sederhana.
Namun, semakin dekat mereka satu sama lain, semakin banyak hal yang belum mereka ketahui.
Karena terkadang, orang yang paling dekat dengan kita justru menyimpan rahasia yang paling besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan 17 Juni
Malam telah larut ketika hujan kembali mengguyur Jakarta dengan deras.
Dari balik kaca besar penthouse, lampu gedung-gedung tinggi terlihat seperti garis-garis cahaya yang kabur tertutup tirai air. Suara hujan membentur kaca terdengar samar, namun suasana di ruang tengah jauh lebih sunyi—dan jauh lebih dingin—daripada biasanya.
Elena masih berdiri mematung di dekat meja. Pandangannya terkunci pada foto lama yang tergeletak di hadapannya. Foto yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Di dalam bingkai usang itu, ayahnya, Arman, berdiri bersama seorang pria asing yang wajahnya tidak ia kenali. Namun, yang membuat dadanya terasa sesak seolah kehabisan udara adalah sosok kecil yang berdiri di antara mereka.
Dirinya sendiri, beberapa tahun yang lalu.
"Bu..."
Suara Maya memecah keheningan, membuat Elena tersentak pelan. Maya berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan wajah yang luar biasa serius. Di tangannya terdapat beberapa lembar dokumen yang baru saja mereka salin paksa dari peladen Ruang 03.
"Kenapa?" tanya Elena, suaranya terdengar lebih rapuh dari yang ia harapkan.
"Kalau kita benar-benar ingin mencari tahu soal tanggal 17 Juni, saya rasa kita jangan langsung bertanya kepada Pak Arman." Maya melangkah maju dan meletakkan dokumen itu di atas meja. "Pesan tadi sudah memperingatkan kita untuk tidak bertanya di kantor. Dan setelah apa yang kita lihat di Ruang 03, peringatan itu bukan sesuatu yang bisa kita anggap remeh."
Elena terdiam. Ingatannya kembali ditarik pada layar monitor berkedip di ruangan gelap itu. Namanya. Foto Andrian. Tanggal pengawasan. Dan satu kalimat yang sampai sekarang terus menggema di kepalanya seperti kaset rusak: Dua subjek. Satu jalur.
Yang paling membuat Elena ketakutan saat ini bukanlah kenyataan bahwa ada seseorang di luar sana yang mengawasinya. Rasa dingin perlahan menjalar ke ujung-ujung jarinya. Bagaimana jika semua kejadian yang ia anggap sebagai kebetulan di NSM Company, ternyata sudah dirancang dan diskenariokan jauh sebelumnya?
Tangannya sedikit gemetar saat ia melirik pemuda yang duduk di sofa. Termasuk pertemuannya dengan Andrian Pratama.
Andrian sejak tadi hanya diam memperhatikan. Ia tidak terlihat panik, namun Elena sangat tahu bahwa diamnya pemuda itu berarti otaknya sedang membedah setiap kemungkinan yang ada.
"Menurutmu bagaimana?" tanya Elena, berusaha menstabilkan suaranya.
Andrian mengangkat wajah, matanya menatap lurus. "Kita cari tahu dulu apa yang terjadi pada tanggal 17 Juni itu."
"Tanpa bertanya kepada Ayah?"
"Untuk sementara."
Elena mengerutkan kening. "Kenapa?"
Andrian perlahan berdiri, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, dan berjalan mendekati meja. "Karena kalau pesan itu benar, ada orang yang menyadap atau mendengarkan percakapan kita di NSM." Ia menunjuk foto lama tersebut. "Dan kalau orang yang sama masih mengawasi kita sampai detik ini, bertanya langsung kepada Pak Arman hanya akan membuat mereka tahu bahwa kita sudah menemukan sesuatu. Kita akan kehilangan elemen kejutan."
Maya mengangguk tegas. "Saya setuju, Bu."
Elena menarik napas panjang, menekan segala keraguan dan rasa takutnya dalam-dalam. Insting CEO-nya perlahan mengambil alih. "Jadi, dari mana kita mulai mencari?"
Andrian menatap deretan angka yang tertulis di balik foto itu. 17-06-2026.
"Seseorang pasti menyisakan jejak."
Pagi berikutnya, awan mendung masih menggantung di langit Jakarta. Sepanjang perjalanan di dalam mobil, mata Elena tak lepas dari kaca spion, memperhatikan setiap kendaraan di belakang mereka yang terasa mengikutinya terlalu lama. Paranoia mulai merayapi pikirannya.
Perasaan diawasi itu memaksanya memilih sebuah kafe kecil di kawasan Menteng yang letaknya agak tersembunyi. Bukan di sekitar kantor, bukan restoran mewah, dan jelas bukan tempat yang biasa ia datangi.
Maya duduk di meja yang berbeda beberapa meter dari mereka, berpura-pura sibuk membaca dokumen sambil matanya terus mengawasi pintu masuk. Sementara itu, Andrian duduk berhadapan dengan Elena. Keduanya mengenakan pakaian kasual yang sangat sederhana. Elena bahkan sengaja meninggalkan tas kerja mewahnya di penthouse.
"Rasanya aneh," kata Elena sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling kafe yang sepi.
"Apanya?"
"Keluar tanpa pengawal, tanpa sekretaris yang siaga di samping meja, tanpa jadwal rapat."
Andrian terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana. "Berarti sekali-sekali kamu bisa merasakan hidup sebagai manusia normal."
Elena menatapnya tajam. "Kamu sedang mengejek CEO-mu?"
"Sedikit."
Untuk pertama kalinya sejak malam mencekam sebelumnya, ekspresi Elena sedikit melunak. Ujung bibirnya hampir tertarik membentuk senyum. Namun, kelonggaran itu hanya bertahan beberapa detik sebelum Andrian kembali mengeluarkan foto lama tersebut dari dalam map.
"Ini." Andrian meletakkannya di antara dua cangkir kopi mereka.
Elena menunduk menatapnya. "Aku sudah memutar otak sepanjang malam, mencoba mengingat hari itu. Aku ingat tanggal 17 Juni, tapi aku benar-benar tidak tahu kenapa Ayah bisa ada di foto itu bersamaku."
Andrian mengetuk gambar pria di samping Arman. "Kalau kita bisa menemukan identitasnya, mungkin kita bisa membongkar apa sebenarnya kesepakatan mereka."
Elena memicingkan mata, meneliti setiap lekuk wajah pria misterius itu. "Masalahnya, aku sama sekali tidak mengenalnya."
"Kamu yakin? Coba ingat lagi."
"Setidaknya aku tidak punya ingatan apa pun tentang dia."
Andrian menyandarkan punggungnya ke kursi. "Berarti kita harus menggalinya dari orang-orang yang bekerja paling dekat dengan ayahmu di masa lalu."
"Siapa?"
"Orang yang mengatur jadwal dan hidup beliau."
Mata Elena seketika melebar. "Pak Surya."
"Siapa dia?" Andrian mengangkat sebelah alisnya.
"Mantan Kepala Sekretariat Ayah." Elena mencondongkan tubuhnya ke depan, menurunkan volume suaranya. "Beliau pernah bekerja langsung untuk Ayah selama bertahun-tahun. Pak Surya yang mengurus seluruh jadwal rapat, perjalanan bisnis, hingga pertemuan pribadi Ayah yang tidak tercatat di kalender resmi perusahaan."
"Tapi dia sudah pensiun, kan?"
"Enam bulan yang lalu."
"Apa masih bisa dihubungi?"
Elena mengangguk yakin. "Nomornya masih ada di kontakku."
Ia bergegas mengeluarkan ponselnya dari saku. Namun, tepat sebelum jarinya menekan tombol panggil, layar ponsel itu bergetar hebat di tangannya.
Satu pesan teks masuk. Dari nomor yang tidak dikenal.
Jangan cari Pak Surya.
Elena membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan.
Andrian yang menyadari perubahan wajah Elena langsung mencondongkan tubuh dan membaca layar ponsel tersebut. Beberapa detik kemudian, pesan kedua menyusul.
Dia sudah memilih pihaknya.
Melihat ketegangan di meja mereka, Maya langsung bangkit dari kursinya dan menghampiri dengan setengah berlari. "Ada apa, Bu?"
Elena memutar layar ponselnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Maya membaca pesan tersebut dan seketika wajahnya memucat.
"Berarti mereka tahu kita mau mencari Pak Surya..." bisik Maya ngeri.
"Ponselmu, atau mungkin pergerakan kita dari semalam sudah disadap," gumam Andrian pelan. Matanya menatap tajam ke luar jendela kafe, menyapu jalanan. "Atau..." Ia menatap Elena kembali. "...mereka sengaja mengirim ini agar kita percaya bahwa Pak Surya berada di pihak musuh."
Elena mengerutkan kening, mencoba mencerna logika Andrian. "Jadi menurutmu pesan ini bisa saja sebuah jebakan?"
"Sangat bisa." Andrian mengambil foto itu dan memasukkannya kembali ke dalam map dengan tenang. "Kalau seseorang benar-benar ingin menghentikan penyelidikan kita, mereka akan langsung membungkam Pak Surya tanpa perlu repot-repot memberi tahu kita bahwa orang itu berbahaya."
"Lalu kenapa mereka mengirim ini?" tanya Maya bingung.
"Supaya kita ragu. Supaya kita justru penasaran dan bergerak sesuai ritme mereka."
Elena terdiam. Penjelasan Andrian masuk akal, dan itu membuatnya merinding. Seseorang di luar sana sedang mempermainkan mereka di atas papan catur raksasa. Memberi remah-remah petunjuk. Menarik mereka menuju satu arah yang gelap. Lalu menghentikan mereka tepat ketika mereka hampir meraih sesuatu.
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Maya, menunggu instruksi.
Andrian menatap lurus ke dalam mata Elena, mencari kepastian di sana. "Kita tetap cari Pak Surya."
"Setuju," angguk Elena mantap. "Tapi kita tidak akan menggunakan jalur yang biasa."
Sore harinya, Jakarta kembali diguyur gerimis. Di ruang tengah penthouse, Maya duduk bersila di karpet dengan sebuah laptop tebal di pangkuannya. Di sekitarnya berserakan beberapa salinan arsip digital lama yang berhasil ia ekstrak melalui akses administratif tingkat tinggi yang tersisa.
Mereka sedang membedah catatan perjalanan Arman pada bulan Juni 2026.
Layar menunjukkan jadwal untuk tanggal 17 Juni: Pukul 09.00 — Rapat internal dewan direksi. Pukul 11.30 — Pertemuan eksternal dengan vendor. Pukul 14.00 — Makan siang bisnis. Pukul 16.30 — Pertemuan pribadi.
Jari telunjuk Elena mengetuk udara di depan baris terakhir. "Pertemuan pribadi?"
Maya mengangguk, menggeser kursornya. "Nama tamunya sengaja dikosongkan, Bu. Tidak tercatat di log mana pun."
Andrian yang berdiri di belakang sofa melipat lengannya. "Siapa yang menginput jadwal ini ke sistem?"
"Pak Surya."
Elena bertatapan dengan Maya. "Di mana lokasinya?"
Jari Maya menari cepat di atas keyboard, memperbesar tampilan metadata jadwal tersebut. Sebuah alamat muncul di layar. Itu adalah alamat sebuah hotel lama yang letaknya tidak terlalu jauh dari pusat kota Jakarta—hotel yang kini sudah berganti nama dan kepemilikan.
Andrian memperhatikan deretan alamat tersebut. "Kalau begitu, kita sudah punya tempat pertama untuk diselidiki."
Namun Elena tidak langsung menjawab. Matanya terpaku kuat pada satu detail kecil yang berkedip di layar.
Jam pertemuan. 16.30.
Sebuah memori yang selama ini terkubur tiba-tiba menyentak kepalanya.
"Sebentar," potong Elena cepat.
Andrian menoleh. "Ada apa?"
Elena perlahan berdiri dari sofa. "Aku... aku pernah berada di tempat itu."
Maya ikut berdiri, menatap atasannya dengan bingung. "Maksud Ibu?"
Elena memejamkan mata, membiarkan kepingan masa lalu itu menyatu. "Tanggal 17 Juni sore... Aku waktu itu masih sangat muda, tapi aku ingat Ayah memintaku untuk bersiap menghadiri satu acara keluarga."
Andrian menatapnya intens. "Di hotel itu?"
Elena mengangguk pelan, membuka matanya yang kini memancarkan kebingungan. "Tapi pada akhirnya, aku tidak pernah datang."
"Kenapa?"
Elena menelan ludah. Ingatan lama itu mulai berputar seperti film usang di kepalanya. Panggilan telepon yang tiba-tiba. Pertengkaran kecil di lorong rumah. Nada suara ayahnya yang mendadak dingin. Dan satu kalimat tegasan yang dulu ia anggap sebagai bentuk perlindungan biasa:
Jangan ikut campur urusan ini, Elena.
"Ayah melarangku datang di detik-detik terakhir," ucap Elena pelan.
Andrian tidak berkata apa-apa, membiarkan Elena memproses semuanya.
Maya yang sejak tadi mendengarkan akhirnya angkat bicara. "Bu, apakah saat itu ada orang lain yang bersama Ibu atau Pak Arman?"
"Aku tidak ingat," geleng Elena frustrasi. Ia kembali menunduk menatap layar laptop. Pertemuan pribadi Arman pukul 16.30. Dirinya yang seharusnya hadir di tempat dan jam yang sama. Pelarangan mendadak dari ayahnya. Dan sekarang, bertahun-tahun kemudian, ia melihat foto ayahnya berdiri di sana bersama seorang pria misterius—dengan dirinya berada di antara mereka.
Bulu kuduk Elena meremang.
"Berarti..." Suaranya mengecil, hampir seperti bisikan. "Kesepakatan apa pun yang terjadi hari itu... mungkin berkaitan langsung denganku."
Andrian menatapnya dengan raut wajah keras. "Belum tentu. Jangan mengambil kesimpulan yang malah melemahkanmu."
"Tapi kenapa Ayah sampai melarangku datang? Apa yang sebenarnya dia sembunyikan dariku?"
Sebelum Andrian bisa menjawab, laptop di pangkuan Maya mengeluarkan bunyi 'beep' melengking. Satu notifikasi muncul di pojok kanan bawah.
Maya menunduk melihat layar. "Bu..."
"Ada apa lagi?"
"Ini... file yang baru saja berhasil saya dekripsi dari sisa data Ruang 03."
Maya membuka file tersebut. Sebuah rekaman kamera keamanan (CCTV) tua yang warnanya sudah memudar. Di sudut kiri atas, timestamp berkedip:
17 Juni 2026 — 16:17.
Video itu menampilkan area drop-off di pintu masuk hotel. Beberapa kendaraan tampak keluar-masuk menembus hujan sore. Lalu, sebuah mobil sedan hitam yang sangat dikenal Elena berhenti tepat di depan lobi. Pintu belakang terbuka. Ayahnya, Arman, turun dengan setelan jas gelap.
Elena menatap layar tanpa berkedip, jantungnya berdebar kencang.
Beberapa detik kemudian, seseorang turun dari sisi pintu yang lain.
Pria itu. Pria misterius yang ada di dalam foto.
Andrian mencondongkan tubuhnya ke depan layar. Namun, tepat sebelum pria itu berbalik dan wajahnya tertangkap jelas oleh kamera, rekaman tiba-tiba lagging dan berhenti total. Layar berubah menjadi hitam pekat.
Maya buru-buru menekan tombol refresh, mencoba menjalankan ulang file tersebut, tetapi kursornya tidak merespons.
"Filenya rusak?" tanya Elena cemas.
Wajah Maya mendadak memucat pasi. Jari-jarinya bergerak liar di atas keyboard, mencoba memblokir sesuatu di dalam sistem, namun usahanya sia-sia.
"Bu..." Suara Maya bergetar, kepanikan kini jelas tergambar di wajahnya.
"Ada apa, Maya?" tanya Elena, merasakan firasat buruk kembali menghantamnya.
"Video ini... bukan cuma kita yang sedang menontonnya." Maya memutar layar laptop itu agar menghadap Elena dan Andrian. "Sistem kita sedang diretas paksa. Seseorang sedang melihat layar ini secara real-time."
Di sudut layar yang hitam, sebuah log akses berkedip dengan warna merah terang.
ACCESS: UNKNOWN DEVICE
Waktu akses: 19:42.
Andrian langsung menoleh, menatap jam dinding besar di ruangan itu. 19:43. Hanya berselisih satu menit yang lalu.
Ruangan penthouse itu mendadak sunyi senyap, diselimuti teror yang tidak kasatmata.
BZZT.
Ponsel Elena bergetar di atas meja kaca.
Satu pesan baru masuk dari nomor yang sama. Kali ini, tanpa peringatan, hanya sebuah tantangan.
Kalau kalian ingin melihat siapa pria di foto itu, datanglah ke hotel besok pukul 16.30.
Dua detik kemudian, gelembung pesan kedua muncul di layar.
Tapi jangan bawa siapa pun.
Elena menatap Andrian. Andrian balas menatapnya dengan sorot mata yang tajam dan sulit diartikan. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara.
Karena di detik itu, mereka berdua menyadari satu kenyataan mutlak. Orang yang mengirim pesan itu sudah tahu bahwa mereka menemukan rekaman tersebut. Orang itu tahu posisi mereka, tahu apa yang mereka cari, dan memegang kendali penuh atas permainan ini.
Dan besok, tepat pada pukul 16.30... seseorang sedang menunggu kedatangan mereka. Bukan di balik bayang-bayang Ruang 03, melainkan di tempat di mana semua kebohongan ini mungkin dimulai.
Hotel pada tanggal 17 Juni.
Bersambung...
Kalau kalian suka dengan ceritanya, bantu Author dengan LIKE & FOLLOW yaa! ❤️🔥
Gratis kok, tapi dukungan kecil dari kalian berarti banget buat author dan bikin semangat lanjut update. 😆
Satu Like 👍 = satu tambahan semangat buat lanjut nulis! 💪🔥
Jangan lupa Subscribe juga biar nggak ketinggalan bab terbaru! 📖✨