Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUARA DI UJUNG TELEPON
Radio di tangan Inspektur Wina berderak.
“Tim satu, posisi pelaku terlihat bergerak ke sisi utara gudang. Korban kedua masih di dalam. Kami menunggu arahan untuk masuk.”
Nayla berdiri di samping mobil komando, kedua tangannya saling menggenggam. Ia berusaha tetap diam seperti yang dijanjikan, tetapi setiap detik tanpa kabar terasa seperti satu tarikan panjang di dadanya.
Bayu meminta berbicara dengannya.
Kalau polisi mengizinkan, ia bisa membuat Bayu tetap di telepon cukup lama agar mereka menemukan posisi Arga. Namun satu kata yang salah bisa membuat Bayu bertindak nekat.
Inspektur Wina mendekat.
“Kami akan menghubungkan panggilan melalui perangkat petugas. Ibu tidak perlu menjanjikan apa pun. Jangan setuju datang dan jangan memancingnya dengan ancaman.”
Nayla mengangguk. “Saya mengerti.”
“Kalau saya memberi tanda untuk mengakhiri panggilan, Ibu langsung berhenti bicara.”
Nayla mengangguk lagi. Tenggorokannya kering. Ia tahu semua instruksi itu, tetapi tetap saja tangannya bergetar ketika petugas menyerahkan ponsel.
Panggilan masuk beberapa detik kemudian.
Nayla menerima.
“Bayu?”
“Kamu akhirnya berani menjawab.”
“Apa yang kamu mau?”
“Sudah kukatakan. Aku mau kamu datang.”
“Polisi sedang mencari Arga. Kalau kamu benar-benar ingin bicara denganku, biarkan dia keluar dulu.”
Bayu tertawa singkat. “Kamu pikir kamu bisa mengatur keadaan?”
“Tidak. Tapi Arga tidak terlibat dalam urusanmu dengan Raka.”
“Dia membantu Siska mengambil dokumen.”
“Kalau begitu, biarkan dia menjelaskan itu kepada polisi.”
“Polisi hanya akan mengurung semua orang yang bisa mereka salahkan.”
Nayla menarik napas perlahan. Ia teringat pesan yang dikirim Bayu dan suara Arga yang lemah dalam panggilan tadi. Ia harus menjaga suaranya tetap tenang.
“Kalau kamu tidak bersalah, kamu bisa menjelaskan semuanya.”
“Jangan bicara seolah kamu tahu apa yang terjadi.”
“Aku tahu kamu menyuruhku memilih antara Raka dan Arga. Aku tahu kamu memakai ancaman untuk memaksaku datang. Itu bukan cara orang yang yakin dirinya tidak bersalah.”
Hening sejenak.
Lalu Bayu berkata, lebih pelan, “Raka selalu bisa membuat orang percaya kepadanya.”
Nayla menatap Inspektur Wina. Petugas itu memberi tanda agar ia terus berbicara.
“Raka memang punya kesalahan?” tanya Nayla. “Katakan apa yang terjadi. Jangan jadikan Arga atau aku sebagai sasaran.”
“Kamu pikir ceritanya sesederhana itu?”
“Jelaskan.”
Bayu menarik napas berat. Di seberang terdengar suara logam beradu, lalu langkah kaki tergesa.
“Dulu, Raka memutus kerja sama denganku setelah dia tahu soal Alena,” katanya. “Padahal perusahaan kami sedang berada di ujung tanduk. Dia bisa memilih menyelesaikan masalah itu tanpa menghancurkan bisnis yang sudah kubangun.”
“Dia memutus kerja sama karena menemukan penyalahgunaan dokumen.”
“Itu versi dia.”
“Kalau versimu berbeda, tunjukkan buktinya.”
“Kamu masih membelanya.”
“Aku belum membela siapa pun. Aku hanya tidak mau kamu menggunakan cerita lama untuk membenarkan apa yang kamu lakukan sekarang.”
Bayu terdiam. Untuk beberapa detik, Nayla hanya mendengar napasnya.
Kemudian suara Arga terdengar samar.
“Bayu, lepaskan aku. Ini tidak akan memperbaiki apa pun.”
Bayu membentak seseorang di dekatnya, lalu suara Arga menghilang.
Nayla menegang.
“Jangan sakiti dia,” katanya.
“Kalau kamu terus membuatku menunggu, aku tidak bisa menjamin apa pun.”
Inspektur Wina mengangkat tangannya: cukup. Ia memberi isyarat kepada petugas di sampingnya untuk menyampaikan informasi melalui radio. Nayla tidak tahu apakah tim sudah menemukan posisi Bayu atau belum.
Ia memutuskan meminta satu hal lagi.
“Aku tidak akan datang ke sana,” katanya. “Tapi aku bersedia mendengar apa yang sebenarnya terjadi. Kalau kamu ingin orang percaya bahwa Raka menjatuhkanmu secara tidak adil, bicaralah. Jangan menyakiti Arga untuk membuatnya mendengarkan.”
Bayu tertawa hambar.
“Kamu bicara seperti dia.”
“Tidak. Aku bicara sebagai orang yang tahu rasanya dipaksa menanggung pilihan orang lain.”
Untuk pertama kalinya, Bayu tidak langsung membalas.
Nayla menangkap jeda itu. Bukan karena Bayu berubah pikiran, tetapi mungkin karena kalimat itu menyentuh bagian dirinya yang masih dapat berpikir.
“Aku punya salinan dokumen lama,” kata Bayu akhirnya. “Raka tahu apa yang dia lakukan. Dia mengambil proyek itu dariku, lalu membuat semua orang percaya aku yang mencuri.”
Nayla menatap Inspektur Wina. Perhatian petugas itu mengeras. Ia memberi tanda agar Nayla tidak menyela.
“Dokumen apa?” tanya Nayla.
“Laporan audit lama. Ada tanda tangan Raka.”
“Kalau dokumen itu nyata, serahkan kepada polisi.”
“Aku tidak percaya polisi.”
“Kalau begitu, kirimkan kepada pengacara atau jurnalis. Tapi lepaskan Arga dulu.”
“Tidak ada yang akan terjadi sampai kamu datang.”
“Aku tidak akan datang.”
Suasana di sekitar Nayla terasa membeku. Inspektur Wina memberi isyarat tegas untuk mengakhiri panggilan. Namun sebelum Nayla sempat menutup telepon, Bayu berkata:
“Kalau begitu, dengarkan baik-baik. Arga bukan satu-satunya orang yang punya alasan untuk menyembunyikan kebenaran.”
Panggilan terputus.
Nayla menurunkan ponsel.
“Apa maksudnya?” tanyanya kepada Inspektur Wina.
“Kita belum tahu. Tapi panggilan tadi membantu tim mengidentifikasi posisi mereka.” Inspektur Wina berbicara ke radio, meminta pembaruan. “Kita tidak akan mengambil kesimpulan berdasarkan ucapan Bayu. Jika dia punya dokumen, kami akan mengamankannya dan memeriksa keasliannya.”
Nayla tahu itu jawaban yang benar. Meski begitu, kata-kata Bayu membuat pikirannya kembali berputar.
*Arga bukan satu-satunya orang yang punya alasan untuk menyembunyikan kebenaran.*
Apakah itu cuma umpan untuk membuatnya meragukan Raka? Ataukah ada bagian dari masa lalu yang belum diketahui?
Sebelum ia sempat bertanya lagi, radio berbunyi.
“Tim satu sudah masuk dari sisi utara. Korban ditemukan. Pelaku diamankan.”
Semua orang bergerak sekaligus. Inspektur Wina berbalik ke arah kendaraan polisi.
“Korban siapa?” tanya Nayla.
Petugas yang menerima laporan mendengarkan lagi. “Pak Arga. Sadar, tetapi mengalami luka.”
Nayla menutup mata sejenak. Rasa lega datang bersama sesak yang belum hilang. Arga masih hidup. Itu saja yang ia tahu.
“Apakah Raka ada di sana?” tanyanya.
“Belum ada konfirmasi. Tim kedua sedang memeriksa bangunan di sekitarnya.”
Nayla tidak bergerak dari pos komando. Ia ingin berlari ke gudang, tetapi ia tahu akan membuat petugas kehilangan fokus. Ia tetap tinggal bersama Bu Ratih dan Pak Hendra, menunggu laporan berikutnya.
***
Beberapa menit kemudian, ambulans keluar dari area proyek dengan pengawalan.
Nayla melihat Arga di dalamnya hanya sekilas ketika kendaraan melewati jalan. Wajahnya pucat, satu lengan dibalut kain, tetapi ia masih sadar. Ia menoleh ke arah mobil komando seolah mencari seseorang.
Nayla tidak melambaikan tangan.
Bukan karena ia tidak peduli. Ia hanya belum tahu apa yang bisa ia berikan kepada Arga selain kekhawatiran yang selama ini terus menguras dirinya.
“Pak Raka sudah ditemukan?” tanyanya kepada petugas.
“Belum,” jawab Inspektur Wina. “Kemungkinan beliau keluar dari bangunan sebelum tim tiba. Kami sedang mencari jejaknya.”
Nayla menahan napas.
Raka mungkin terluka, mungkin sedang bersembunyi, atau mungkin mencoba mencari Bayu sendiri. Ia tidak tahu. Namun ia tidak akan membiarkan ketakutan mengubah dirinya menjadi orang yang bertindak tanpa berpikir.
Ponsel petugas berdering. Inspektur Wina menjawabnya dan mendengarkan cukup lama.
“Dimengerti. Jangan bergerak sendiri. Kirim lokasi tepatnya.”
Ia menutup panggilan, lalu memandang Nayla.
“Tim menemukan Raka di bangunan sebelah gudang utama. Beliau sadar dan sedang diperiksa.”
Nayla menunduk, kali ini membiarkan air matanya jatuh. Bu Ratih merangkul bahunya.
“Dia selamat,” bisik ibunya.
Nayla mengangguk. Ia tidak menangis keras. Hanya mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan.
“Apakah Bayu sudah ditangkap?” tanyanya setelah beberapa saat.
“Sudah diamankan. Dia tidak terluka parah.” Inspektur Wina berhenti sejenak. “Namun prosesnya belum selesai. Kami menemukan tas berisi sejumlah dokumen dan dua ponsel. Semuanya akan diperiksa.”
“Termasuk dokumen lama yang dia sebut?”
“Kalau memang ada di sana, tim akan menemukannya.”
Nayla menatap proyek yang tampak dari kejauhan. Matahari tertutup awan, membuat bangunan setengah jadi itu terlihat kusam. Pagi yang dimulai dengan ketakutan akhirnya membawa mereka ke sini, tetapi tidak semua pertanyaan mendapat jawaban.
Dan mungkin, beberapa jawaban memang tidak bisa dipercaya begitu saja—terutama ketika keluar dari mulut orang yang sedang mencoba menyelamatkan dirinya.
***
Menjelang siang, polisi mengantar Nayla dan keluarganya ke rumah sakit. Mereka tidak membawanya ke ruang perawatan Arga lebih dulu, melainkan ke ruang tunggu tempat Raka sedang diperiksa.
Raka duduk di ranjang dengan perban di lengan dan pelipis. Ia terlihat kelelahan, tetapi sadar penuh. Ketika Nayla masuk bersama Bu Ratih dan Pak Hendra, ia berusaha bangkit.
“Jangan bergerak,” kata dokter yang berdiri di dekatnya.
Raka kembali bersandar. “Saya baik-baik saja.”
Nayla berdiri di sisi ranjang, menjaga jarak beberapa langkah.
“Bapak berjanji tidak akan mencari Bayu sendiri,” katanya.
Raka menunduk. “Saya tahu.”
“Itu bukan jawaban.”
“Saya minta maaf.”
Nayla mengembuskan napas. Ia masih marah—bukan karena Raka berusaha menolong, tetapi karena ia mengabaikan janjinya dan membuat orang-orang yang peduli kepadanya kembali takut.
“Lain kali, jangan memutuskan sendiri bahwa keselamatan Bapak tidak penting,” ucapnya.
Raka menatapnya. “Saya akan berusaha tidak melakukannya lagi.”
“Berusaha saja tidak cukup.”
“Apa yang kamu ingin saya janjikan?”
“Kalau ada bahaya, beri tahu orang yang bisa membantu. Jangan pergi sendirian.”
Raka diam, lalu mengangguk. “Baik.”
Nayla duduk di kursi di samping ranjang. Ia tidak menyentuh Raka, tetapi tidak menjauh.
“Bayu bilang dia punya dokumen lama yang menunjukkan Bapak menyembunyikan sesuatu,” katanya.
Raka tidak tampak terkejut. “Dia memang punya dokumen dari perusahaan lama kami.”
“Dokumen apa?”
“Laporan audit saat kerja sama kami dibubarkan. Bayu mengubah beberapa catatan sebelum menyerahkannya kepada investor. Saya melaporkannya. Ada tanda tangan saya karena saya yang mengesahkan laporan hasil pemeriksaan.”
“Jadi benar nama Bapak ada di sana?”
“Nama saya memang ada. Itu tidak membuktikan saya melakukan hal yang Bayu tuduhkan.” Raka tidak mengalihkan pandangan. “Saya akan memberikan semua berkas yang masih saya simpan kepada penyidik. Mereka boleh memeriksanya secara independen.”
Nayla memperhatikan wajahnya. Kali ini, ia tidak hanya mendengar penjelasan Raka. Ia juga melihat ia bersedia membuka dokumen untuk diperiksa, bukan meminta Nayla percaya begitu saja.
“Baik,” kata Nayla. “Biar proses yang menentukan.”
Raka mengangguk. “Itu yang seharusnya.”
Seorang perawat masuk untuk memeriksa perban Raka. Nayla berdiri agar memberi ruang. Sebelum keluar, ia menoleh kepada pria itu.
“Saya senang Bapak selamat.”
Raka menatapnya lembut. “Saya juga.”
Nayla keluar bersama orang tuanya. Di lorong, Bu Ratih menggenggam tangannya.
“Kamu tidak harus menyelesaikan semua hubungan hari ini,” kata ibunya. “Kamu hanya perlu membiarkan semuanya diperiksa dengan benar.”
Nayla mengangguk.
Dari ruang perawatan di seberang lorong terdengar suara Arga memanggil namanya.
“Nayla.”
Ia berhenti.
Arga terbaring di ranjang lain dengan perban di lengannya. Wajahnya pucat dan tampak letih. Bu Ratih serta Pak Hendra menunggu di lorong, memberi Nayla ruang untuk memutuskan sendiri.
Nayla masuk, tetapi tetap berdiri dekat pintu.
“Aku tidak akan minta kamu pulang,” kata Arga sebelum ia sempat bicara. “Aku cuma ingin bilang… maaf.”
Nayla menatapnya. Ada banyak hal yang ingin ia katakan. Namun bukan sekarang, bukan di rumah sakit, dan bukan saat Arga baru saja diselamatkan dari penculikan.
“Aku dengar,” jawabnya.
“Aku tahu itu tidak cukup.”
“Belum.”
Arga mengangguk pelan. Ia tidak memohon agar Nayla memaafkannya. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan kata-katanya berhenti di sana.
Nayla tidak tahu apakah sikap itu berarti Arga mulai berubah atau hanya terlalu lelah untuk meminta lebih. Ia tidak akan membuat kesimpulan dari satu percakapan.
“Sekarang istirahat,” katanya. “Soal pernikahan kita akan dibicarakan nanti, setelah kamu sehat dan semua proses ini jelas.”
Arga memandangnya dengan mata berkaca-kaca. “Baik.”
Nayla keluar dari kamar tanpa menyentuhnya. Di lorong, ia menarik napas panjang.
Belum ada yang selesai. Bayu dan Siska harus menghadapi proses hukum. Pemeriksaan proyek masih berjalan. Pernikahannya dengan Arga masih menggantung, dan perasaannya kepada Raka pun belum sederhana.
Namun untuk pertama kalinya, Nayla tidak merasa harus memilih satu orang untuk menyelamatkan.
Ia hanya perlu memastikan dirinya sendiri tidak hilang di tengah kekacauan itu.