NovelToon NovelToon
Bayangan Sang Ratu Mafia

Bayangan Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Roman-Angst Mafia
Popularitas:535
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 - MENJAHIT LUKA TANGAN KANAN

Range Rover hitam itu mengerem mendadak dengan suara decitan ban yang nyaring, berhenti sembarangan melintang di area parkir VIP *basement* gedung utama. Valeria bahkan nggak peduli posisi mobilnya miring makan dua tempat parkir. Wanita itu langsung mematikan mesin, membuka pintu, dan berlari memutari kap mobil menuju pintu penumpang.

"Kael, bangun. Kita udah sampai," panggil Valeria panik.

Kael membuka matanya perlahan. Wajah pria itu sepucat mayat, bibirnya nyaris nggak ada warna. Darah di bahunya memang udah sedikit mampat berkat tekanan kain sutra, tapi darah yang telanjur keluar udah terlalu banyak.

"Saya masih sadar, Val," gumam Kael pelan.

Pria itu mencoba mengangkat tubuhnya sendiri, tapi baru setengah jalan, badannya sedikit limbung. Valeria dengan sigap menyelinapkan lengannya ke pinggang Kael, menopang beban pria tegap itu yang rasanya dua kali lipat lebih berat dari dirinya sendiri.

"Jangan sok jagoan, sandar aja ke aku," omel Valeria tegas.

Mereka berdua berjalan tertatih-tatih menuju lift khusus. Sesekali Kael terbatuk pelan, dan setiap kali bahunya bergerak, raut wajahnya menegang menahan perih. Di dalam lift, Valeria menempelkan kartu aksesnya dengan tangan gemetar. Angka di layar lift bergerak naik perlahan menuju lantai 50.

Di ruang sempit itu, cuma terdengar suara napas Kael yang berat dan nggak beraturan. Valeria mendongak, menatap lekat-lekat rahang Kael yang mengeras. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi dahi dan pelipis pria itu.

*Ting.*

Pintu lift terbuka. Valeria setengah menyeret Kael melewati ruang kerjanya yang luas, langsung menuju pintu rahasia yang terhubung ke kamar tidur pribadinya. Kamar itu beraroma *vanilla* dan *Baccarat*, sangat kontras dengan bau amis darah yang kini menempel di tubuh mereka berdua.

"Duduk di sini," perintah Valeria pelan.

Wanita itu mendudukkan Kael di atas kursi sofa *single* berbahan beludru di sudut kamar, nggak peduli darah Kael bakal merusak sofa mahal itu. Setelah memastikan posisi Kael aman, Valeria langsung berlari menuju lemari dinding, membongkar laci bawah, dan mengeluarkan sebuah kotak medis darurat berukuran besar.

Valeria kembali ke depan Kael, meletakkan kotak itu di meja kecil, lalu membukanya dengan tergesa-gesa. Isinya cukup lengkap: perban, kasa steril, gunting bedah, alkohol, sampai jarum dan benang jahit medis. Dulu, sebelum punya banyak anak buah, Valeria sering mengobati lukanya sendiri. Tapi ini pertama kalinya dia harus mengobati luka Kael separah ini.

"Buka jasmu, Kael," suruh Valeria sambil memakai sarung tangan medis berbahan lateks.

Kael mengangguk pelan. Dengan sisa tenaga, tangan kirinya bergerak melepas jas abu-abunya yang udah sobek dan basah kuyup oleh darah. Jas mahal itu jatuh berdebum ke lantai. Kini tersisa kemeja putihnya yang juga udah berubah warna jadi merah mengerikan di bagian punggung kanan.

"Kemejanya... susah dilepas, Val. Lengket kena darah yang mengering," ucap Kael meringis tertahan saat mencoba menarik kerah kemejanya.

"Biar aku aja. Diam, jangan banyak gerak," potong Valeria cepat.

Wanita itu mengambil gunting medis. Dengan sangat hati-hati, Valeria menggunting kemeja putih Kael dari bagian kerah depan, terus ke bawah sampai kancing terakhir. Setelah itu, dia membantu Kael mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu menarik kemeja itu dari bahu Kael secara perlahan.

Saat kemeja itu terlepas sepenuhnya dan jatuh ke lantai, napas Valeria tiba-tiba tercekat.

Bukan, bukan cuma karena melihat luka tembak menganga berukuran sebesar koin di bahu belakang Kael. Yang bikin Valeria terpaku adalah pemandangan seluruh punggung dan dada pria itu. Kulit Kael yang sawo matang dipenuhi oleh bekas luka memanjang, sayatan pisau, hingga luka bakar yang udah memudar. Beberapa luka itu jelas berasal dari perkelahian bertahun-tahun yang lalu, dan Valeria tahu persis, sebagian besar dari luka itu Kael dapatkan demi melindungi dirinya.

"Luka lama yang jelek, ya?" kekeh Kael pelan, menyadari keterdiaman bosnya. Pria itu sedikit menunduk karena malu.

"Kamu... nganggap nyawamu sendiri selembar tisu atau gimana sih?" bisik Valeria dengan mata berkaca-kaca.

Valeria menggelengkan kepalanya pelan, mengusir perasaan emosional yang mendadak menyerang dadanya. Sekarang bukan waktunya menangis. Kael butuh penanganan.

Wanita itu mengambil botol alkohol dan menuangkannya ke atas kapas steril tebal.

"Tahan ya, ini bakal perih banget," peringat Valeria cemas.

"Lakukan saja, Nyonya," jawab Kael memejamkan mata.

Valeria menempelkan kapas beralkohol itu ke luka tembak di bahu Kael. Pria itu langsung mendesis keras, otot-otot di seluruh punggungnya menegang kaku seperti batu. Kael meremas sandaran kursi kuat-kuat untuk menyalurkan rasa sakitnya, tapi sedikit pun dia nggak berteriak atau menghindar dari sentuhan Valeria.

"Bagus, pelurunya benar-benar tembus bersih. Nggak ada serpihan tulang yang hancur," gumam Valeria sedikit lega setelah membersihkan darah di sekitar luka. "Tapi ini harus dijahit sekarang biar dagingnya nutup."

Valeria mengobrak-abrik kotak medisnya, mencari cairan anestesi lokal. Detik berikutnya, wanita itu mengumpat pelan.

"Sialan, ampul obat biusnya habis. Terakhir dipakai buat ngobatin anak buah Marco bulan lalu dan aku lupa nyuruh orang restok," rutuk Valeria panik. Dia menatap Kael dengan wajah bersalah. "Gimana ini, Kael? Mau aku panggil dokter klan aja?"

"Jangan, Val. Dokter butuh waktu setengah jam untuk ke sini. Darah saya keburu habis. Jahit langsung saja. Saya bisa tahan," putus Kael mantap.

"Gila! Tanpa bius? Ini bukan luka kegores *cutter*, Kael!" tolak Valeria ngeri.

"Saya percaya sama tangan Anda, Val. Lakukan," pinta Kael menoleh sedikit, menatap lurus ke dalam mata Valeria. Tatapannya begitu dalam, penuh keyakinan dan kepasrahan mutlak yang cuma dia berikan untuk sang ratu.

Melihat keras kepalanya pria itu, Valeria akhirnya mengalah. Dia mengambil jarum bedah melengkung dan memasukkan benang khusus ke dalamnya. Tangan Valeria entah kenapa sedikit gemetar. Selama ini dia bisa mengeksekusi orang tanpa berkedip, dia bisa menembak kepala orang sambil tersenyum, tapi kenapa sekarang tangannya bergetar hebat cuma karena harus menjahit luka Kael?

Melihat tangan bosnya bergetar, Kael mengangkat tangan kirinya yang bebas, lalu menggenggam lembut pergelangan tangan Valeria.

Valeria tersentak kaget. Matanya bertemu dengan mata elang Kael. Jarak mereka saat ini sangat dekat, hanya terpisah beberapa jengkal. Valeria bisa merasakan embusan napas Kael yang panas menerpa dagunya.

"Tenang, Val. Anggap saja Anda sedang menjahit kancing jas saya yang lepas," bisik Kael lembut, berusaha menenangkan wanita yang justru terlihat lebih panik darinya.

Genggaman Kael yang hangat dan kokoh itu entah bagaimana berhasil meredakan tremor di tangan Valeria. Jantung Valeria berdebar kencang, tapi bukan karena panik lagi, melainkan karena getaran aneh yang menjalar dari titik sentuhan Kael di kulitnya.

"Kalau kamu sampai menjerit, aku bakal jahit bibirmu sekalian," ancam Valeria galak, berusaha keras menyembunyikan wajahnya yang mulai terasa panas alias *salting*.

Kael tersenyum tipis dan melepaskan genggamannya. "Siap, Nyonya."

Valeria menarik napas panjang, lalu mulai menusukkan jarum bedah itu ke tepi luka Kael.

Kael mengerang tertahan dari balik gigi-giginya yang terkatup rapat. Keringat dingin makin deras mengalir dari dahi pria itu. Tapi dia tetap diam tak bergerak.

Satu jahitan, dua jahitan, tiga jahitan.

Proses itu terasa seperti berjam-jam bagi mereka berdua. Ruang kamar yang sepi itu cuma diisi oleh suara tarikan napas Kael yang menahan perih, dan suara gesekan pelan benang bedah yang ditarik oleh Valeria.

Kael memejamkan mata, tapi indranya justru makin tajam. Dia bisa mencium wangi parfum *Baccarat* dan keringat ringan dari tubuh Valeria yang berada tepat di sisinya. Dia bisa merasakan kelembutan jari-jari Valeria yang sesekali tanpa sengaja menyentuh kulit punggungnya yang telanjang. Rasanya seperti tersiksa di neraka dan melayang di surga secara bersamaan.

"Sedikit lagi, Kael... tahan, ya," bisik Valeria tepat di dekat telinga Kael.

Suara Valeria yang serak dan khawatir itu bikin kewarasan Kael hampir putus. Kalau saja dia nggak ingat batasannya sebagai bawahan, kalau saja dia nggak menghormati wanita ini lebih dari nyawanya sendiri, Kael pasti udah berbalik dan menarik Valeria ke dalam pelukannya. Kael memendam perasaannya terlalu lama, dan momen seintim ini benar-benar menguji batas kesabarannya.

"Selesai," desah Valeria lega.

Wanita itu menggunting sisa benang, lalu dengan cepat membersihkan area luka sekali lagi pakai kapas beralkohol sebelum menutupnya dengan perban kasa yang tebal.

Kael menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengatur napasnya yang putus-putus. Keringat membasahi seluruh rambut dan lehernya. Pria itu baru saja melewati prosedur medis brutal tanpa bius, tapi ajaibnya, dia masih tetap sadar.

Valeria melepas sarung tangannya yang berlumuran darah dan melemparnya ke tempat sampah. Wanita itu kemudian berjalan ke arah *mini bar* di sudut kamarnya, mengambil sebotol air mineral dingin, lalu kembali ke depan Kael.

Valeria membuka tutup botolnya dan menyodorkannya ke bibir Kael. "Minum."

Kael mendongak, matanya bertemu lagi dengan mata Valeria. Pria itu menurut, meminum air itu perlahan langsung dari tangan Valeria, karena tangannya sendiri masih terasa kebas saking kuatnya menahan sakit.

Setelah botolnya kosong, Valeria meletakkannya di meja. Tiba-tiba rasa lelah yang luar biasa menghantam tubuh Valeria. Ketegangan adrenalin sejak di pelabuhan tadi akhirnya memudar. Kaki Valeria terasa lemas.

Tanpa aba-aba, Valeria menjatuhkan dirinya, duduk lesehan di atas karpet tebal tepat di antara kedua kaki Kael yang sedikit terbuka.

Kael kaget melihat bosnya duduk di lantai, bersandar santai tepat di depan lututnya. "Val... jangan duduk di lantai. Kemeja Anda kotor kena darah."

"Udah telanjur kotor, biarin aja," keluh Valeria menyandarkan kepalanya ke lutut Kael dengan nyaman. Matanya terpejam. "Aku capek banget, Kael."

Kael mematung. Tubuhnya kembali kaku, tapi kali ini bukan karena sakit di bahunya. Posisi mereka sekarang terlalu... intim. Kepala sang ratu mafia yang ditakuti semua orang, kini bersandar manja di lututnya, mencari ketenangan.

Tangan kiri Kael yang tadinya berada di atas paha, perlahan terangkat. Pria itu ragu-ragu sejenak. Ada dorongan kuat untuk membelai rambut *ponytail* Valeria yang mulai berantakan. Tapi pada akhirnya, Kael hanya mengepalkan tangannya di udara dan menurunkannya kembali. Dia nggak berani melangkahi batas itu.

"Istirahatlah, Val. Anda sudah bekerja terlalu keras hari ini," ucap Kael pelan, suaranya sangat lembut, mengalahkan suara alunan musik klasik yang paling merdu sekalipun.

"Kamu yang kerja keras, bodoh. Kamu barusan nahan peluru *sniper* pakai badanmu," gumam Valeria tanpa membuka mata. "Kael... jangan lakuin hal gila kayak tadi lagi. Jangan pernah nyetor nyawamu buatku seolah nyawamu itu barang murahan."

"Nyawa saya memang tidak ada harganya kalau tidak digunakan untuk melindungi Anda, Val," jawab Kael jujur.

Valeria membuka matanya, lalu mendongak menatap wajah Kael dari posisinya di bawah. Alis wanita itu berkerut, ada kemarahan kecil bercampur rasa frustrasi di matanya.

"Berhenti bersikap kayak robot yang cuma diprogram buat mati demi aku. Kamu manusia, Kael. Kamu punya hak buat hidup, buat egois, buat mikirin dirimu sendiri," cecar Valeria serius.

"Satu-satunya hal egois yang saya inginkan di dunia ini cuma satu, Val," balas Kael menatap tepat ke manik mata Valeria. Kedalaman tatapan pria itu seolah bisa menyedot jiwa Valeria.

"Apa?" tantang Valeria pelan. Jantungnya kembali berdebar.

Kael terdiam lama. Rahangnya mengeras. Dia ingin berteriak bahwa hal egois itu adalah memiliki Valeria seutuhnya. Menjadi satu-satunya pria yang bisa menyentuh, mencium, dan memiliki ratu ini. Tapi dia menelannya kembali dalam-dalam.

"Melihat Anda terus duduk di puncak takhta tanpa goresan sedikit pun," dusta Kael akhirnya, memalingkan wajahnya ke arah jendela besar di kamarnya.

Valeria mendecak sebal, merasa entah kenapa sangat kecewa dengan jawaban itu. Wanita itu memukul paha Kael pelan.

"Dasar bawahan kaku," rutuk Valeria sambil mengerucutkan bibirnya sedikit, hal yang nggak akan pernah dia lakukan di depan siapa pun selain Kael.

Valeria kembali menyandarkan kepalanya ke lutut Kael. "Udahan dramanya. Kamu tidur di kursi itu aja, jangan banyak gerak biar jahitannya nggak robek. Aku mau tidur di karpet."

"Val, Anda tidur di kasur. Saya yang di sofa," protes Kael langsung.

"Diem atau aku jahit mulutmu sekarang juga. Kepalaku pusing dengar kamu ngebantah terus," potong Valeria judes, langsung menutup matanya.

Melihat keras kepalanya wanita itu, Kael akhirnya cuma bisa menghela napas panjang. Senyum sangat tipis, yang penuh dengan rasa sayang, akhirnya merekah di bibir pucat pria itu.

Ruang kamar rahasia itu perlahan menjadi hening. Perlahan-lahan, rasa kantuk dan kelelahan akibat kehilangan banyak darah akhirnya mengalahkan kesadaran Kael. Pria itu memiringkan kepalanya, bersandar pada punggung kursi, dan jatuh tertidur lelap.

Sementara di bawah sana, Valeria membuka matanya perlahan. Dia merasakan napas Kael udah mulai teratur pertanda pria itu sudah tertidur.

Valeria diam-diam memutar posisi duduknya, menatap wajah Kael yang tertidur pulas dengan tubuh telanjang dada yang dipenuhi luka perban baru. Valeria mengangkat tangannya, dan kali ini, dengan sangat pelan dan hati-hati, dia mengusap rahang tegas pria itu.

"Cepat sembuh, bayangan bodoh," bisik Valeria pelan di tengah keheningan kamar.

Tensi di antara mereka baru saja bergeser. Ada garis batas kasat mata yang diam-diam mulai retak hari ini, dan Valeria tahu, cepat atau lambat, dinding itu pasti akan hancur sepenuhnya.

1
Putra kembar
sangat menegangkan, ceritanya bagus 🤙🏻
Putra kembar
ceritanya bagus, bikin greget dan menegangkan 😍👍
Nexora Verion
🔥
Fery Oktavian
🤙🏻
Jajal Anyar
semakin seru dan seniga mnjadi pasangan yg bisa saling mmbantu
Cukstaw: pantengin terus bang, sehari upload 5 bab.. 🤭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!