Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.
Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.
Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Tetapi aku mencintaimu
Kesadaran Ayden kembali ke masa kini. Ia masih terduduk di lantai dingin di luar kamar Aisyah. Suara langkah kaki mendekat membuyarkan sisa kenangannya.
"Tuan Ayden? Anda terlihat sangat pucat. Apakah Nyonya sudah tidur?" tanya Baskoro yang baru saja naik ke lantai atas untuk memeriksa keadaan.
Ayden perlahan mendongak, menatap asistennya dengan mata merah yang menyimpan keputusasaan absolut. "Dia sudah mati, Baskoro."
"Mati?! Tuan! Apa yang telah Tuan lakukan padanya?!" seru Baskoro panik, berniat menerobos masuk ke dalam kamar.
"Berhenti!" bentak Ayden, menahan lengan Baskoro. "Bukan fisiknya yang mati. Jiwanya. Aku... aku telah membunuh jiwanya."
Baskoro menghentikan langkahnya, menatap majikannya dengan iba. "Bukankah ini puncak dari rencana panjang Anda, Tuan? Perusahaan Hermawan hancur, ayah dan ibunya tiada karena stres kebangkrutan, dan putrinya kini berada dalam kendali absolut Anda. Dendam yang Anda bangun bertahun-tahun sudah terbayar lunas."
"Kemenangan? Kau menyebut ini kemenangan, Baskoro?!" raung Ayden, bangkit berdiri dan mencengkeram kerah jas asistennya. "Setiap kali aku melihat matanya yang kosong, rasanya seperti ribuan belati menusuk jantungku sendiri! Kenapa?! Kenapa melihatnya tak bernyawa seperti itu membuatku kehabisan napas?!"
"Karena Anda melanggar aturan pertama dari rencana Anda sendiri, Tuan," jawab Baskoro dengan tenang, tidak memberontak dari cengkeraman majikannya. "Anda jatuh cinta pada umpan Anda."
"Tidak! Itu bohong!" sangkal Ayden, melepaskan cengkeramannya dan terhuyung mundur. "Aku hanya membencinya! Aku membenci darah yang mengalir di tubuhnya!"
"Bibir Anda bisa menyangkal dengan keras, Tuan, tapi air mata di pelipis Anda tidak bisa berbohong," ucap Baskoro datar. "Anda menyusun perangkap cinta palsu yang sempurna bertahun-tahun yang lalu, namun ternyata Anda sendiri yang terperangkap di dalamnya."
Ayden menjambak rambutnya sendiri, merosot kembali ke lantai. Tangisannya pecah tanpa suara.
"Apa yang harus kulakukan sekarang, Baskoro? Aku memaksanya mematuhiku, dan dia benar-benar melakukannya. Dia menyerahkan segalanya, tapi matanya... matanya kosong," bisik Ayden parau. "Aku telah mendapatkan semua yang kuinginkan, tapi aku merasa kehilangan satu-satunya hal yang paling berharga."
"Itulah harga dari sebuah dendam yang tuntas, Tuan Ayden," jawab Baskoro pelan, menundukkan pandangannya. "Dendam tidak pernah memilih-milih. Ia akan selalu memakan nyawa korbannya, sekaligus menghancurkan hati algojonya secara bersamaan."
Ayden terisak di dalam sunyinya lorong penthouse tersebut. Kepuasannya atas hancurnya keluarga Hermawan ternyata hanyalah ilusi semata. Di dalam hatinya, benih cinta tumbuh tanpa diundang kini mekar menjadi racun penyesalan yang menyiksa setiap tarikan napasnya.
***
Udara di dalam kamar utama terasa begitu padat, seakan oksigen di ruangan itu telah habis terserap oleh keheningan yang membentang di antara mereka. Ayden berdiri tegak menatap sosok wanita di hadapannya, sementara rahangnya mengeras menahan gelombang frustrasi yang kian mendesak dada.
"Kau tidak bisa terus-terusan mengabaikanku seperti ini, Aisyah," ucap Ayden dengan nada rendah yang bergetar.
Aisyah perlahan mengangkat wajahnya, menatap lurus mata suaminya tanpa sedikit pun kedipan. Pandangan itu begitu datar, kosong, dan hampa. "Lalu apa yang harus kulakukan, Ayden? Bukankah ini versi terbaik dari diriku yang kau inginkan?"
"Bukan ini maksudku!" sergah Ayden, suaranya sedikit meninggi sebelum ia menguasai diri kembali. Pria itu melangkah maju, meraih kedua bahu Aisyah dengan lembut namun tegas. "Aku tidak ingin kau menjadi patung. Aku ingin kau marah!"
"Marah?" Aisyah mengulang kata itu dengan nada hambar. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Kepada siapa aku harus marah? Kepada pria yang telah merenggut segalanya, atau kepada diriku sendiri yang begitu bodoh mempercayai kehangatan palsumu?"
Sentuhan di bahunya terasa begitu nyata, namun bagi Aisyah, tangan itu tidak lebih dari seonggok beban dingin. Ayden menatap lekat-lekat manik mata istrinya, merasa seolah ia sedang berkaca di depan cermin penuh kebencian yang memantulkan segala dosanya.
"Teriaklah padaku," mohon Ayden, suaranya kini melunak, menyisakan keputusasaan yang kentara. "Pukullah dadaku, maki aku, katakan betapa menjijikannya aku di matamu! Asalkan jangan menunjukkan tatapan mati seperti itu, Aisyah. Itu menyiksaku."
"Untuk apa aku meneriakimu?" bisik Aisyah dengan suara serak yang nyaris tak terdengar. "Teriakan tidak akan bisa menghidupkan kembali mimpiku yang telah kau hancurkan berkeping-keping."
Ayden menggelengkan kepalanya perlahan, jemarinya semakin mengeratkan cengkeraman di bahu wanita itu. "Aku melakukan semua ini demi keadilan orang tuaku, Aisyah. Kau harus mengerti itu."
"Keadilan?" Aisyah terkekeh pelan, sebuah tawa getir yang terdengar menyayat hati. "Apakah menghancurkan orang yang tidak tahu apa-apa adalah bentuk keadilan yang kau banggakan? Kau menghancurkan duniaku, Ayden. Kau merusak setiap jengkal jiwaku."
"Tetapi aku mencintaimu!" seru Ayden, sebuah pengakuan yang akhirnya lolos begitu saja dari bibirnya di tengah kepungan keputusasaan.
Aisyah tertegun sejenak, namun ekspresinya tidak berubah. "Cinta? Kata itu sudah kehilangan makna di rumah ini, Ayden. Bagaimana bisa kau berbicara tentang cinta, jika jiwaku saja sudah kau cabut dari akarnya?"
Kalimat itu menghujam jantung Ayden bagaikan belati bermata dua. Rasa sakit yang luar biasa tajam menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya terhuyung mundur selangkah.
"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu..." gumam Ayden, napasnya mulai berantakan.
"Karena itulah kenyataannya," sahut Aisyah datar. Ia menepis perlahan tangan Ayden dari bahunya dengan gerakan yang sangat tenang. "Kau mendapatkan ragaku, tapi jiwaku telah lama mati di pelukanmu."
Ayden menatap tangannya sendiri yang baru saja dilepaskan oleh istrinya. Ada getaran hebat yang tidak mampu ia sembunyikan. Cengkeraman yang selama ini ia gunakan untuk menaklukkan dunia, mendadak terasa tak berdaya menghadapi kebisuan seorang wanita.
"Jangan menatapku dengan cara itu, Aisyah," bisik Ayden, suaranya parau dan sarat akan permohonan. "Aku mohon, kembalilah padaku."
"Aku ada di sini, Ayden. Di hadapanmu," jawab Aisyah tanpa sedikit pun emosi di wajahnya. "Tetapi Aisyah yang dulu mengenal cinta sudah tidak ada lagi. Yang tersisa hanyalah cangkang kosong yang menuruti setiap titahmu."
Pria itu mematung, menyadari bahwa kemenangan atas dendam yang ia raih dengan penuh darah dan air mata ternyata adalah kuburan bagi kebahagiaannya sendiri. Ia berhasil menaklukkan sang musuh, namun kehilangan satu-satunya hal yang paling ia inginkan di dunia ini.
"Apa yang harus kulakukan agar kau bisa memaafkanku, Aisyah?" tanya Ayden dengan suara berbisik, matanya memerah menahan tangis.
"Waktu tidak bisa diputar kembali, Ayden," balas Aisyah lisan pelan. Ia berbalik perlahan, melangkah menuju sisi ranjang tanpa menoleh lagi. "Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan padaku. Aku tidak akan melawan."
Ayden berdiri terpaku di tengah kamar yang temaram, memandangi punggung istrinya yang terbalut kesunyian abadi. Penyesalan yang membakar lambungnya kini menjelma menjadi monster tak kasat mata, mencengkeram lehernya lebih erat daripada rantai besi mana pun di dunia ini.