NovelToon NovelToon
Kebangkitan Prajurit Nomer Satu!

Kebangkitan Prajurit Nomer Satu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:832
Nilai: 5
Nama Author: kabutmalam

Renzo, mantan prajurit elite nomer satu indonesia dengan julukan beruang baja, dipenjara di Nusakambangan setelah membantai geng yang membunuh tunangannya. Ia berniat hidup tenang, sampai kabar adiknya dianiaya anak pejabat tertinggi dan keluarganya di sembunyikan membangkitkan amarahnya. Diliputi amarah, Renzo mengumpulkan para tahanan paling berbahaya—algojo kartel, yakuza, psikopat, ahli kungfu, hingga perancang bom—membentuk geng kriminal paling berbahaya dalam sejarah untuk kabur dari penjara, membalas dendam, dan menumbangkan penjahat manipulatif yang bahkan dilindungi pasukan militer!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kabutmalam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTARUNGAN SENGIT PARA MONSTER

Dengan cepat Kaneo mengangkat satu kakinya dan menginjak keras tepi meja makan di sampingnya. Bunyi benturan telapak kaki pada kayu keras itu terdengar nyaring. Meja makan besar yang kokohnya mampu menampung enam orang dewasa langsung terangkat melesat tinggi bagaikan proyektil yang lepas dari ketapel raksasa, meluncur dengan kecepatan mematikan menuju Gavien dan Riko. Di detik yang sama, Kaneo melompat mengikuti meja itu, mengepalkan kedua tangannya dan menghantam permukaan kayu itu sekuat tenaga seakan ingin menghancurkan segalanya dalam satu serangan!

Begitu pula Gavien dan Riko, mereka langsung menghantamkan serangan ke arah meja besar yang melesat ke arah mereka. .

BOOMM!!

Tubuh Kaneo, Gavien, dan Riko bertemu dengan meja besar itu dalam satu benturan dahsyat yang menggetarkan lantai. Kayu yang biasanya tak goyah diterjang hantaman apa pun seketika hancur berkeping-keping, serpihannya tajam dan panas beterbangan ke segala arah. Beberapa tahanan yang berdiri terlalu dekat tak sempat menutup diri.

"Aaargghh..!!" Jeritan kesakitan memecah keheningan kafetaria. Mereka buru-buru mundur serentak, menekan tangan ke luka di wajah dan lengan, menjauhkan diri dari jangkauan kayu yang masih berjatuhan.

Gavien dan Riko terdorong mundur beberapa langkah, tubuh mereka terguncang hebat menerima dampak benturan itu, napas mereka tertahan sejenak. Sementara Kaneo memanfaatkan momentum tumbukan untuk melesat dengan cepat ke sisi kanan belakang, berniat memisahkan mereka agar bisa dihabisi satu per satu tanpa gangguan. Hampir tak ada yang menyangka langkah licik Kaneo yang memecah kekuatan lawan sebelum benar-benar bertarung. Sorak kagum samar mulai terdengar di antara kerumunan.

Namun di sana, di balik punggung keramaian, Kayden muncul kembali. Ia berdiri tegak, menatap Kaneo dengan tatapan tajam dan senyum tipis penuh keyakinan yang tak berubah sedikit pun. Kaki kanan Kaneo melengkung sempurna di udara, lalu terayun dengan kekuatan yang menggetarkan udara, mengarah lurus ke arah Kayden yang tampak sendirian dan terisolasi.

Kayden menggeram rendah, menahan perih di bahunya, lalu mengayunkan kepalan tangannya sekuat tenaga menyambut serangan yang jauh lebih besar itu. Saat semua orang menahan napas, membayangkan tangan kecil Kayden akan hancur menghantam paha kekar Kaneo, tiba-tiba tubuh Kayden berputar ke kanan — begitu cepat sehingga hanya menyisakan bayangan kabur yang nyaris tak tertangkap mata. Dalam sekejap, cengkraman tangannya melesat ke arah belakang bahu Kaneo sebelum lawan menyadari apa yang terjadi.

Kerumunan berseru kaget serentak, napas tertahan di kerongkongan.

Kaneo terkejut melihat kecepatan yang tak masuk akal itu. Ia berusaha memutar tubuhnya menghindar, namun terlambat. Jari-jari Kayden menyayat tajam menembus pakaian dan daging, merobek kulit di tulang belikatnya hingga darah menyembur panas membasahi bahu.

Namun Kaneo seakan tak merasakan sakit itu. Ia mengerahkan seluruh kekuatan yang tersisa, mengabaikan luka yang menganga di punggungnya. Tubuhnya berputar cepat dengan keterampilan yang tak disangka-sangka, dan dengan teknik gulat yang presisi, ia mencengkram lengan Kayden yang masih terulur ke belakang. Kaki kirinya melontarkan tendangan keras tepat ke ketiak Kayden, titik yang paling rentan.

Kreeekk...!!!

"Aaarghh..." Kayden menjerit kesakitan. Rasa sakit yang menyiksa menjalar ke seluruh lengan, membuat lengannya mati rasa seketika, seakan tak lagi menjadi bagian tubuhnya.

Kaneo tak memberi jeda sedetik pun. Sebelum Riko dan Gavien bisa melangkah mendekat, ia memutar lengan Kayden dengan kasar tanpa peduli tulang dan otot yang tertekan, mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi di udara, lalu membantingnya ke meja di sampingnya bagaikan karung gandum yang dibuang begitu saja.

Suasana hening seketika. Tak ada yang bersorak, tak ada yang bergerak. Semua orang lupa bernapas, lupa apa yang sedang mereka lakukan. Mereka hanya menatap keempat sosok di tengah ruangan dengan napas tertahan, seakan menunggu siapa yang akan bangkit terakhir.

Sementara itu Rengoku dan Gaban tetap berdiri di tempat, tak melangkah maju satu inci pun. Bukan karena tak mau — mereka menerima perintah langsung dari Ivan: menjaga agar tak ada sipir maupun tahanan lain yang ikut campur atau mengganggu pertarungan ini, bukan ikut bertarung di dalamnya. Kewajiban mereka hanya memastikan pertarungan berlangsung, tanpa campur tangan dari luar.

Kaneo mengabaikan Kayden yang kini terkapar tak berdaya di samping meja yang patah. Dengan raungan ganas yang menggetarkan dinding kafetaria, ia mengepalkan kedua tangannya yang sebesar mangkuk besar dan menerjang ke arah Gavien dan Riko yang kini berdiri berhadapan dengannya. .

Tanpa ragu sedikit pun, Gavien dan Riko melesat maju menyambut serangan itu.

Tinju bertemu tinju, tendangan beradu dengan tendangan... serangan demi serangan dilontarkan dengan kecepatan dan kekuatan yang mengerikan. Pertarungan itu begitu sengit, begitu cepat dan brutal, membuat kepala pening hanya dengan melihatnya, nyali ciut, dan darah mendidih seakan ikut merasakan amarah yang meluap. Semua narapidana, semua sipir, semua pekerja yang kebetulan ada di kafetaria mengepalkan tangan serentak, menatap tanpa berkedip, tak ingin melewatkan satu detik pun. .

Gavien dan Riko perlahan namun pasti mulai mendesak Kaneo mundur. Mereka bertarung dengan strategi yang matang dan saling melengkapi: Gavien menghadapi Kaneo secara langsung di depan, menahan serangan demi serangan dengan tubuhnya yang tegap, sementara Riko bergerak lincah di sela-sela celah, memanfaatkan potongan kaki meja yang runcing sebagai senjata. Tujuh luka memar dan robekan muncul di tubuh Kaneo satu demi satu, semakin dalam, semakin menyakitkan.

Tiba-tiba Gavien dan Kaneo saling bertukar pandang sekilas — seakan ada isyarat yang terbangun di antara mereka — lalu berteriak serentak. Gavien sengaja tak menghindar dari pukulan Kaneo yang melesat ke arahnya, membiarkan dirinya terkena demi membuka celah.

BRUAAAK!

Bahu kanannya terkena pukulan keras dan terkilir seketika, rasa sakit menusuk hingga ke tulang. Namun pengorbanan itu tak sia-sia — dampak benturan itu membuat tubuh Kaneo terhuyung mundur, keseimbangannya goyah sesaat. Dan itulah celah yang ditunggu.

Riko yang sudah bersiap di sisi kanan melesat maju bagai anak panah. Potongan kaki bangku yang tajam di tangannya melengkung di udara, lalu menghantam keras tepat di bekas luka yang di buat Kayden sebelum ini yaitu tulang belikat.

Kraaak.. kraaak...

Suara tulang yang patah terdengar begitu jelas hingga membuat bulu kuduk berdiri di seluruh ruangan. Paku dan serpihan kayu menembus bahu kanan Kaneo, melanjutkan tajamnya menembus ketiak, lalu masuk ke tulang rusuk di bawahnya.

"Aaaarghhh...!!!" Teriak Kaneo mengguncang seluruh ruangan. Tubuh besarnya jatuh berat ke lantai, darah merembes cepat membasahi pakaiannya yang sudah koyak. Rasa sakit yang luar biasa hampir merenggut kesadarannya, wajahnya semakin memerah seolah sangat kesakitan. Ia meringis, tubuhnya berguling di lantai yang mulai licin oleh darah, semakin lemah, semakin pelan, hingga akhirnya berhenti tak jauh dari tempat Kayden terkapar.

Dan di saat itulah, sosok Kayden bangkit berdiri perlahan, seolah mayat hidup yang kembali dari kubur. Tangan kanannya memegang garpu plastik yang tadi ia ambil, berkilat samar diterangi lampu di atas. Dengan gerakan cepat dan tenang, tanpa amarah yang meledak-ledak, ia menusukkan garpu itu tepat ke kerongkongan Kaneo.

Engghh...!!

Jeritan Kaneo terhenti seketika, tercekik di tenggorokannya sendiri. Suasana berubah begitu sunyi sehingga suara benda jatuh di sudut ruangan terdengar nyata dan mengerikan. Semua mata terpaku pada sosok Kaneo yang tumbang, matanya terbelalak lebar, tak percaya bahwa ini akhirnya.

Renzo bangkit berdiri perlahan, diikuti oleh Ivan di sampingnya. Tatapan seluruh ruangan beralih serentak kepada mereka — dua sosok yang kini berdiri tegak di puncak kekuasaan Gedung Naga Neraka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!