“Ketika aku masih menjadi Tuan Muda, kalian semua menghormatiku. Namun, setelah dantianku hancur, bahkan keluargaku sendiri menganggapku sampah.”
“Aku telah mengorbankan segalanya untuk kalian. Apakah penghinaan dan pengkhianatan ini balasan yang pantas kuterima?”
Dikhianati sekte, dihina keluarga, dan ditinggalkan orang-orang yang dicintainya, Qin Xuan kehilangan segalanya.
Namun, ketika semua orang menganggapnya tidak berguna, sebuah pagoda misterius justru memilihnya sebagai penguasa.
Mereka telah menghancurkan hidupnya. Kini, Qin Xuan akan membuktikan bahwa mereka telah meremehkan orang yang salah.
🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Harga Sebuah Pengkhianatan
“Qin Xuan, kau terbukti membunuh sesama murid. Mengingat jasa-jasamu selama ini, sekte memutuskan untuk mengampuni nyawamu. Namun, mulai hari ini, kau diusir dari Sekte Bintang Langit!”
Suara Tetua Agung menggema di lapangan utama. Di hadapannya, Qin Xuan berdiri dengan pakaian berlumuran darah. Tubuhnya belum pulih dari luka parah, sementara di punggungnya tergolek seorang gadis yang nyaris tak sadarkan diri.
“Pengkhianat! Pergi dari sini!”
“Orang yang membunuh sesama murid tidak pantas tinggal bersama kita!”
Qin Xuan memandang wajah-wajah yang dahulu menyambutnya dengan hormat. Tujuh hari lalu, ia masih menjadi murid paling berbakat sekaligus Tuan Muda Sekte Bintang Langit. Kini, orang-orang yang pernah meminta petunjuk darinya bahkan enggan berdiri di dekatnya.
Semuanya bermula dari sebuah tugas. Qin Xuan memimpin rombongan murid untuk membunuh sasaran yang ditetapkan sekte. Namun, seseorang di antara mereka berkhianat. Demi melindungi rekan-rekannya, Qin Xuan menghadapi seorang ahli Alam Bintang Langit seorang diri selama sehari semalam. Ia berhasil kembali hidup-hidup, tetapi Dantiannya hancur dan seluruh kekuatannya lenyap.
Sekte segera mencopot kedudukannya, lalu membuangnya ke lingkungan murid luar. Qin Xuan sempat berpikir bahwa ia masih bisa hidup tenang bersama Qin Ling'er, adik seperguruannya yang telah dianggap sebagai adik kandung sendiri.
Harapan itu pun direnggut.
Seorang murid luar bernama Zhang Hua mendatangi tempat tinggalnya. Ketika tidak menemukan Qin Xuan, lelaki itu justru menyerang Ling'er. Gadis yang baru mulai berlatih bela diri tersebut melawan sekuat tenaga hingga tubuhnya dipenuhi luka. Saat Qin Xuan pulang, Zhang Hua sudah mulai menanggalkan pakaian Ling'er yang tidak berdaya. Untungnya Qin Xuan tiba dan cepat bertindak.
Ia masih mengingat bagaimana Ling'er selalu menyambutnya setiap kali kembali dari latihan. Gadis itu kerap menanyakan apakah ia sudah makan, lalu mendengarkan cerita tentang kehidupan di sekte dengan mata berbinar. Qin Xuan pernah berjanji akan membimbingnya sampai mampu melindungi diri sendiri. Kini, janji sederhana itu terasa jauh lebih berat daripada semua kehormatan yang pernah ia peroleh.
Ketika pertama kali melihat luka-luka Ling'er, ia sempat menyalahkan dirinya sendiri karena meninggalkannya tanpa perlindungan. Namun, ia tidak pernah membayangkan bahwa orang-orang yang seharusnya menegakkan keadilan justru akan menghukumnya karena menghentikan pelaku. Sejak hari itu, gelar Tuan Muda Sekte yang dulu begitu dibanggakannya terasa tidak lebih dari sebuah nama kosong.
Qin Xuan menggunakan jimat terakhir miliknya untuk membunuh lelaki itu. Sebelum sempat mengobati Ling'er, ia ditangkap dan diseret ke lapangan untuk diadili.
“Aku mempertaruhkan nyawa demi sekte ini,” ucap Qin Xuan dengan suara serak. “Ketika kekuatanku hilang, kalian membuangku. Ketika aku menyelamatkan Ling'er, kalian menyebutku penjahat.”
Tak seorang pun bersuara.
“Kalau begitu, aku juga tidak sudi tinggal di sini.”
Ia membetulkan posisi Ling'er di punggungnya dan berjalan menuju gerbang. Setiap langkah membuat luka di dadanya berdenyut, tetapi ia tidak berhenti.
Seseorang menghadang di depan gerbang. Pemuda berpakaian hitam itu tersenyum mengejek.
“Bukankah ini Qin Xuan, genius kebanggaan sekte? Mengapa sekarang terlihat menyedihkan?”
“Jiang Yi. Minggir.”
Jiang Yi pernah bersaing dengannya untuk memperebutkan kedudukan Tuan Muda Sekte, tetapi kalah telak. Sejak itu, kebenciannya semakin besar, terlebih karena gadis yang disukainya justru dekat dengan Qin Xuan.
“Masih berani memerintahku?” Jiang Yi melirik Ling'er. “Bagaimana keadaan adikmu? Zhang Hua pasti sudah bersenang-senang dengannya, bukan?”
Qin Xuan mendadak membeku. Saat ia membunuh Zhang Hua, tak ada orang lain di tempat kejadian. Dari mana Jiang Yi mengetahui peristiwa itu dengan jelas?
“Ternyata, kau yang menyuruhnya?”
Jiang Yi tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu menghantam dada Qin Xuan dengan telapak tangannya.
Tubuh Qin Xuan terhuyung. Tulang rusuknya terasa patah dan darah mengalir dari sudut bibirnya. Ia berusaha tetap berdiri agar Ling'er tidak terjatuh.
“Hebat. Kau masih hidup setelah menerima serangan itu,” bisik Jiang Yi sambil mendekat.
“Pantas ahli Alam Bintang Langit yang menyerangmu waktu itu juga gagal membunuhmu. Tapi sayangnya murid-murid yang dekat denganmu dalam tugas tersebut tidak seberuntung itu. Mereka mati perlahan.”
Qin Xuan menatapnya dengan mata melebar. Jiang Yi mengetahui rincian tugas yang seharusnya dirahasiakan. Kecurigaannya terhadap pengkhianatan itu semakin kuat, tetapi sebelum ia sempat bertanya, Jiang Yi kembali mengangkat tangan.
“Cukup, Jiang Yi!”
Suara seorang perempuan menghentikan serangan tersebut. Seorang gadis berjubah merah turun dari lereng gunung dan berdiri di antara mereka.
“Liu Yun,” gumam Qin Xuan.
Dahulu, keduanya begitu dekat hingga banyak murid menganggap mereka pasangan yang serasi. Liu Yun baru berusia enam belas tahun, tetapi sudah mencapai puncak Alam Bela Diri Sejati. Kini, setelah Qin Xuan kehilangan kekuatannya, masa depan gadis itu tetap terbentang luas, sedangkan dirinya bahkan tidak memiliki tempat tinggal.
Liu Yun mengusap darah di wajah Qin Xuan menggunakan ujung lengan bajunya. Gerakan itu begitu akrab hingga Qin Xuan sempat berharap hubungan mereka belum sepenuhnya berubah.
“Sekarang banyak orang memusuhimu,” kata Liu Yun pelan. “Jangan kembali ke keluargamu. Carilah tempat terpencil dan hiduplah di sana.”
Qin Xuan memandang Ling'er yang napasnya semakin lemah. Ia menahan semua pertanyaan tentang hubungan mereka dan memilih meminta satu hal yang paling penting.
“Kalau kau masih peduli, tolong berikan Pil Pemulih Roh. Hanya obat itu yang bisa menyembuhkan Ling'er.”
Liu Yun menarik tangannya. “Maaf. Ketua Sekte sudah memutuskan bahwa kau bukan lagi murid kami. Aku tidak berani memberikan pil kepadamu.”
Qin Xuan terdiam. Ia tidak meminta kedudukannya dikembalikan. Ia bahkan tidak meminta luka-lukanya diobati. Namun, permintaan untuk menyelamatkan Ling'er pun ditolak.
“Begitu rupanya.”
Ia melewati Liu Yun tanpa menoleh. Di luar gerbang, Qin Xuan berhenti sesaat.
“Dengarkan baik-baik. Jika Ling'er sampai kehilangan nyawanya, suatu hari aku akan kembali dan menuntut pertanggungjawaban seluruh Sekte Bintang Langit!”
Tak ada yang mengejarnya. Bagi mereka, ancaman seorang pemuda dengan Dantian hancur tidak berarti apa-apa.
Menjelang sore, Qin Xuan tiba di Kota Qingquan. Pakaian robek dan darah kering di tubuhnya membuat orang-orang menatap jijik. Setelah mengenalinya, bisik-bisik segera berubah menjadi ejekan.
“Itu Qin Xuan? Bukankah dia sudah kehilangan kekuatannya?”
“Katanya dia diusir dari sekte. Mengapa masih berani pulang?”
Qin Xuan terus berjalan. Dahulu, ia berharap bisa kembali ke kota kelahirannya dengan membawa kebanggaan. Sekarang, satu-satunya hal yang ia pikirkan hanyalah napas Ling'er yang semakin pendek.
Ia sebenarnya memiliki Pil Pemulih Roh, hadiah dari sekte ketika masih menjadi Tuan Muda. Karena merasa tidak membutuhkannya, ia menitipkan pil berharga itu kepada Keluarga Qin agar bisa membantu anggota keluarga yang membutuhkan. Tak pernah terpikir olehnya bahwa suatu hari ia harus memohon untuk mengambil kembali miliknya sendiri.
Di depan gerbang kediaman keluarga, Qin Xuan mengetuk keras.
“Buka! Aku Qin Xuan!”
Beberapa murid keluarga bergegas keluar. Wajah mereka sempat menunjukkan kegembiraan, tetapi langsung berubah setelah seseorang mengingatkan bahwa Dantian Qin Xuan telah hancur.
“Untuk apa menyambut orang yang sudah tidak berguna?”
“Dia hanya akan membawa masalah bagi keluarga. Jangan biarkan masuk!”
Bahkan ada yang menyebut keluarga Yang akan membatalkan pertunangannya dengan Yang Xuan.
Qin Xuan menggigit bibir. Dahulu, ia menggunakan pengaruhnya di sekte untuk mengangkat kedudukan Keluarga Qin. Kini, orang-orang yang menikmati hasilnya memperlakukannya seperti orang asing.
“Aku tidak perlu masuk,” katanya. “Kembalikan Pil Pemulih Roh milikku. Ling'er harus segera diobati.”
Seorang pemuda bertubuh besar muncul dari kerumunan. Qin Heng, sepupunya sendiri, dahulu selalu mengikutinya untuk meminta bimbingan.
“Pil itu sekarang milik keluarga,” kata Qin Heng. “Tetapi kalau kau berlutut dan bersujud kepadaku, mungkin aku akan memberimu obat biasa.”
“Kita keluarga sedarah, Qin Heng. Apa kau benar-benar tega melakukan ini?”
“Kalau tidak mau, pergi saja.”
Dari balik punggungnya terdengar suara yang nyaris hilang.
“Kakak... jangan memohon kepada mereka.”
Qin Xuan segera menurunkan Ling'er. Mata gadis itu terbuka sedikit, tetapi wajahnya semakin pucat. Ia mencoba tersenyum, seolah ingin menghibur kakaknya, sebelum kembali terkulai.
Qin Xuan tahu obat biasa tidak akan menyembuhkannya. Namun, obat itu mungkin cukup untuk membuat Ling'er bertahan sampai ia mendapatkan Pil Pemulih Roh.
Ia menatap Qin Heng sekali lagi, lalu perlahan menekuk lututnya.
Tawa terdengar dari kerumunan.
“Berlutut saja belum cukup,” ujar Qin Heng. “Bersujud!”
Qin Xuan menutup mata dan menundukkan kepala hingga dahinya membentur batu. Darah hangat mengalir di antara alisnya. Ia tidak memikirkan harga dirinya lagi. Selama Ling'er masih bisa diselamatkan, ia bersedia menanggung penghinaan itu.
“Lihat! Genius kebanggaan keluarga bersujud kepadaku!” Qin Heng tertawa puas.
Qin Xuan mengangkat kepala. “Sekarang berikan obatnya.”
“Obat?” Qin Heng menyeringai. “Aku hanya mempermainkanmu. Mengapa aku harus menolong gadis sekarat itu?”
Untuk sesaat, Qin Xuan tidak mampu berkata-kata. Lalu ia bangkit dan menerjang sepupunya. Namun, tubuhnya yang terluka langsung dihantam tendangan hingga terlempar. Ia memeluk Ling'er erat-erat agar gadis itu tidak terbentur tanah.
Pandangan Qin Xuan mulai gelap. Di tengah tawa orang-orang, darah dari mulutnya menetes ke cincin giok hitam di jari kelingking kiri. Cincin itu merupakan satu-satunya peninggalan ayahnya yang telah meninggal.
Ia teringat ayahnya yang telah tiada. Sejak kecil, Qin Xuan menyimpan cincin itu tanpa mengetahui nilainya. Benda tersebut selalu melekat di jarinya, termasuk ketika ia menjalani latihan paling berat dan ketika nyaris mati dalam tugas terakhir.
Selama ini, cincin itu hanya mengingatkannya pada keluarga yang pernah ia miliki. Ia tidak pernah menyangka peninggalan sederhana tersebut menyimpan sesuatu yang tak mampu dijelaskan akal sehat.
Cahaya samar muncul dari permukaan cincin, tanpa diketahui siapa pun.
Ketika Qin Xuan membuka mata lagi, ia tidak berada di depan gerbang keluarga. Di sekelilingnya terbentang ruang asing yang dipenuhi kabut. Kerangka naga, burung api, dan makhluk raksasa lain menjulang seperti pegunungan.
Jauh di hadapannya berdiri sebuah pagoda kuno yang begitu tinggi hingga puncaknya tak terlihat.
Tiga kata perlahan muncul di permukaannya.
Pagoda Pemakaman Langit.
Qin Xuan menahan napas. Ia belum memahami tempat itu, tetapi untuk pertama kalinya sejak kehilangan kekuatannya, sebuah kemungkinan muncul dalam benaknya.
Mungkinkah di sini, ia akan menemukan cara untuk menyelamatkan Ling'er?
......................
Bersambung...