NovelToon NovelToon
Jatuhkan Talakmu, Gus

Jatuhkan Talakmu, Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:144.1k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Denting halus ujung sendok yang beradu dengan pinggiran piring porselen menjadi satu-satunya alunan suara di dalam dapur ndalem barat. Di luar, rimba pinus yang mengitari lereng Pacet menyalurkan hawa dingin yang kian menggigit.

Reyhan duduk bergeming di kursi kayu berukir. Sebuah kitab tafsir tebal membentang di hadapannya di atas meja makan kecil. Jemari tangannya sesekali membalik halaman kertas yang menguning itu dengan ketelitian yang dipaksakan. Matanya bergulir menyusuri jajaran huruf Arab gundul, namun tak satu pun baris kalimat berhasil ditangkap oleh otak dan jiwanya.

Pikirannya melayang jauh, tersangkut pada selasar pintu ndalem utama sore tadi.

Suara ibunya, Bu Nyai Khadijah, yang pilu masih terdengar membentur dinding dadanya. Naya pergi ke luar negeri. Kalimat singkat itu bagai pisau bermata dua—satu sisinya meremukkan harga diri Reyhan, sementara sisi lainnya menyingkap lubang kehampaan besar yang kini mengepung hidupnya. Ke mana Naya akan pergi? Mengapa perempuan anggun itu memilih melangkah sejauh itu? Apakah tidak ada lagi sedikit pun sisa bayangan Al-Anwar di hatinya?

"Mas..." Panggilan lembut dengan intonasi memelas memecah lamunan Reyhan.

Rani melangkah mendekat dari arah kompor. Perempuan dua puluh tahun itu membawa mangkuk keramik berisi sup ayam hangat yang uapnya membumbung halus, menyebarkan aroma rempah pala dan seledri di udara dapur yang lembab.

Malam ini, Rani mengenakan gamis katun warna cokelat muda dengan jilbab instan yang sengaja ditata agak longgar di sekitar lehernya. Ia berusaha menyunggingkan senyum terbaik, menampilkan sosok istri penurut yang selama ini selalu ia citrakan.

Rani menata mangkuk sup, piring nasi, dan dua cangkir teh hangat di atas meja dengan ketelitian yang hati-hati.

"Makan malamnya sudah siap, Mas. Ayo kita makan bersama," bisik Rani seraya mendudukkan diri di kursi tepat di samping Reyhan, bukan di seberangnya.

Reyhan menarik napas pelan. Udara dingin yang dihirupnya terasa berat. Ia menutup kitab tafsir itu perlahan, menggesernya sedikit ke tepi meja agar tidak terkena kuah makanan.

"Iya," sahut Reyhan pendek. Pria itu menyendok nasi dan sedikit kuah sup ke dalam piringnya, mencoba menjaga sikapnya agar tetap tenang.

Keheningan kembali merayap di antara mereka selama beberapa menit. Hanya ada irama kunyahan yang kaku. Rani menyangga dagunya dengan satu tangan, memperhatikan garis wajah Reyhan dari samping dengan binar mata yang sarat akan harapan dan tuntutan tersembunyi.

"Bagaimana masakannya, Mas? Enak?" tanya Rani, memutus sunyi dengan nada suara yang sengaja diceriakan.

Reyhan menelan makanannya dengan susah payah. Rasa masakan itu sejujurnya hambar di lidahnya—sangat berbeda dengan racikan bumbu Naya yang selalu pas dan menenangkan. Namun, ia menyapu bibirnya dengan serbet kain lalu mengangguk singkat.

"Enak. Terima kasih, Rani."

Senyum Rani mengembang sumringah, memancarkan binar kebanggaan yang teramat lugu. Ia menggeser duduknya makin rapat ke arah Reyhan hingga lengan baju mereka bersentuhan.

"Mas... bagaimana dengan peresmian pernikahan kita di KUA?" tanya Rani kemudian, menyusupkan topik yang sejak sebulan lalu menggantung di kepalanya. "Kyai Ahmad kan minta supaya urusan berkasnya cepat diselesaikan."

Reyhan menghentikan gerakan tangannya yang memegang sendok. Ia tidak langsung menatap Rani, melainkan memandangi uap teh hangat di depannya.

"Besok pagi saya sudah jadwalkan untuk mengurus seluruh berkasnya ke KUA kecamatan," jawab Reyhan, intonasinya terdengar teratur dan lugas. "Semua persyaratan administrasi dari desa sudah lengkap. Kamu tidak perlu cemas."

Rani menghembuskan napas lega, seolah beban besar yang menekan bahunya baru saja terangkat.

"Dan satu hal lagi, Rani," lanjut Reyhan, kini memalingkan wajahnya dan menatap lurus pada iris mata perempuan di sampingnya. "Setelah urusan KUA ini selesai, saya minta kamu kembali berkuliah. Selesaikan studi S1-mu. Jangan pernah melepas ilmu yang selama ini sudah kamu dapatkan di pondok. Kamu harus punya pegangan hidup yang jelas."

Rani tertegun sejenak. Sorot matanya menunjukkan sedikit keterkejutan atas permintaan itu, namun ia dengan cepat menguasai diri dan mengangguk patuh.

"Inggih, Mas. Rani menuruti apa kata Mas Reyhan. Rani janji akan belajar yang rajin," sahut Rani dengan nada manja yang kentara.

Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Rani memajukan tubuhnya. Dengan gerakan spontan yang teramat dekat, ia mendaratkan sebuah kecupan hangat di pipi kanan Reyhan.

CUP.

Reyhan tersentak hebat. Tubuhnya mendadak membeku kaku di atas kursi. Kedua tangannya di atas meja terkepal secara refleks. Sentuhan bibir Rani di kulit wajahnya tidak menghadirkan desir kehangatan atau getaran asmara yang dulu sempat memabukkannya saat mereka masih bertemu secara sembunyi-sembunyi di belakang pesantren. Sentuhan itu justru terasa asing, janggal, dan mendatangkan sensasi dingin yang menggelitik tengkuknya.

Rani melepaskan kecupannya, lalu menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Reyhan dengan jemari yang melingkari lengan atas suaminya.

"Rani kangen sama Mas Reyhan..." bisik Rani penuh kepasrahan, suaranya bergetar manja di samping telinga Reyhan. "Rani kangen Mas Reyhan yang dulu... yang selalu hangat, yang selalu memberi kecupan mesra buat Rani waktu kita masih awal menikah."

Reyhan diam seribu bahasa. Pandangannya terpaku lurus pada dinding kayu di depannya. Ada rasa sesak yang perlahan menumpuk di dalam dadanya, menyumbat jalan napasnya.

Rani mendongak, menatap rahang tegas Reyhan yang tampak mengeras. Perempuan itu mempererat pelukannya di lengan Reyhan, seolah takut pria itu akan menguap menghilang dari sisinya.

"Mas kan tadi pagi waktu jemput Rani di Kediri sudah janji... Mas bilang kita mau memulai semuanya dari awal lagi, kan?" tuntut Rani, matanya menatap tajam penuh permohonan. "Rani mau kita kembali mesra seperti waktu kita baru menikah dulu. Rani rindu pelukan Mas. Rani rindu kecupan Mas. Rani rindu perhatian dan kehangatan yang cuma Mas Reyhan yang bisa kasih ke Rani..."

Pernyataan Rani bagaikan rantai tebal yang dililitkan ke leher Reyhan, menarik egonya hingga batas terbawah. Pria itu menyadari kenyataan pahit yang kini mengepungnya: ia sendiri yang mengetuk pintu rumah Rani di Kediri, ia sendiri yang memohon perempuan ini untuk kembali, dan ia sendiri yang mengumbar janji untuk menata ulang rumah tangga ini.

Namun, mengapa hatinya menolak? Mengapa jiwa dan fisiknya mendadak meronta saat dihadapkan pada konsekuensi atas pilihannya sendiri?

Reyhan menghembuskan napas panjang yang sangat berat. Pria itu perlahan mengangkat tangan kanannya, menepuk-nepuk punggung tangan Rani yang melingkar di lengannya dengan gerakan kaku—sebuah gestur penenang yang lebih menyerupai rasa kasihan daripada cinta.

"Iya, Rani..." jawab Reyhan dengan suara serak yang dipaksakan datar. "Saya... saya akan mengusahakan hal itu."

Rani tersenyum puas. Ia menyandarkan kembali kepalanya di dada Reyhan, memejamkan mata dengan perasaan menang. Di dalam benak santriwati muda itu, ia telah berhasil mengunci posisi dan menguasai kembali sosok Gus yang dipujanya.

***

1
Shinta Syawal
mana bab selanjutnya
enungdedy
heleh...gak jelas nih si reyhan
klo gk cinta knp gk dilepas aja sekalian rani
malah dijemput sruh kembali..kesenengan kan tuh sih rani jadinya..
enungdedy
trus hub rani sm reyhan gmn tuh?msih sah suami istti belum?krn rani pergi tnpa ada kata talak dri reyhan
enungdedy
knp gk dilepasin aja sih rani klo emg gak cinta gus
Anonim
Baper aku
enungdedy
kpn gak ditalak aja si rani klo emg reyhan mau mempertahannkan naya
enungdedy
dri kmrin maju mundur mau baca novel.ini..gk taunya bagus bgt🤭
Mundri Astuti
klo ibarat kata...si Rayhan jiwa" playboy, nah klo zeyad laki" sejati
Agnezz
btw knapa judul2 bab dihilangkan? padahal memudahkan untuk ingin membaca bagian tertentu.
bibuk Hannan & Afnan
pantesan mau mau aja dijadikan kedua secara siri, agresif

emang bener ya pelakor itu tdk harus cantik semok yg penting menggatal
Agnezz
Zeyad bener2 memperlakukan Naya dengan gentle ya, tidak memaksakan Naya untuk menerima dirinya, selalu memberikan ruang untuk Naya bisa menata hatinya. Zeyad menanti Naya dengan sabar. Beda sekali dengan Rayhan. Karena Rayhan merasa perjodohan masa kecilnya adalah bentuk pasungan atas kebebasannya ( bab 11) maka dia menyambut wanita pilihan orang tuanya dengan dingin. Padahal wanita pilihan orang tua adalah yg terbaik yg sepadan dengan Rayhan.
bibuk Hannan & Afnan
gak sopan si Rani gak mau sowan dulu, minimal baik sikapmu lah setelah apa yg kalian perbuat perbaiki akhlak kalian muhasabah diri
bibuk Hannan & Afnan
serendah-rendahnya seorang pelac*r lebih rendah lg wanita yg merusak rumah tangga orang lain, itulah wanita macam jin Dasim, sebelum menerima ikrar ijab qobul dr Gus Reyhan seharusnya kamu menolak Rani kan kamu sudah tau klo Gus Reyhan baru sebulan melangsungkan akad serta pesta pernikahan dgn Naya tp kamu tetap menerima mau mau saja dijadikan yg kedua siri pula, TDK punya harga diri sekali jd wanita, mencintai karena Allah konon pret lah 😄😄

jd inget artis penyanyi religi yg itu jd istri siri selama dua tahun baru terungkap, giliran terungkap jawaban klise khilaf pret lah khilaf apa doyan masa khilaf smpe dua tahun😄😄😄
dyah EkaPratiwi
zeyad😍
Sri Murtini
calon suami ist the best yg bisa memahmi 😍😍😍😍
Mamah'e Andhika Rizky
👍👍👍👍👍💝💝💝💝💝💝
Uyen Uyen
hati hati kau Rani walaupun Raihan seorang anak kyai dia cuma manusia biasa Naya saja bisa diselingkuhinya jelas jelas seorang yang terpelajar apa lg kamu yang hanya mantan santriwati, sekali laki laki berselingkuh tidak menutup kemungkinan dia akan mengulangnya lagi
bibuk Hannan & Afnan
Naya wanita yg elegan berkelas bermartabat tinggi,👍
Arin
Ternyata dunia selebar daun kelor😁😁😁 Naya pergi ke Dubai untuk melanjutkan studynya bertemu dengan Zeyad. Gak taunya malah teman Reyhan
Ikah Haryati
ga bisa terang "an nolak perjodohan kaya yg patuh pada ke dua orang tua
tapi nusuk dari belakang
dengan penghianatan sama dengan nginjek"harga diri Bu nyai dan pa kiai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!