Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.
Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.
Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.
Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Ciuman Diujung Lorong
Raina sendiri hanya bermaksud menghentikan perdebatan. Namun ketika bibir mereka bertemu, seluruh kemarahan yang sejak tadi memenuhi udara seakan lenyap sesaat. Sion menatapnya dengan mata melebar. Raina segera melepaskan ciuman itu.
Napasnya sedikit memburu. “Sekarang,” bisiknya, “Apa kau sudah mengerti perbedaannya. Kau sudah bisa menerima penjelasanku, bukan?”
Sion masih diam, sementara Raina menatapnya dengan wajah memerah. “Aku tidak melakukan semua ini untuk memanfaatkanmu. Aku kembali hanya untukmu dan anak-anak kita.”
Sion akhirnya bergerak. Tangannya terangkat, bukan untuk mendorong Raina pergi, melainkan menahan pinggang perempuan itu agar tidak langsung menjauh. Tatapannya berubah total. Dingin yang tadi memenuhi matanya menghilang digantikan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
“Raina.” Suaranya rendah.
“Apa?”
“Kau baru saja membuat kesalahan besar.”
Raina menatapnya bingung. “Kesalahan apa?”
Sion mendekat, kali ini justru Raina yang tanpa sadar mundur hingga punggungnya menyentuh dinding.
“Karena sekarang,” bisik Sion, “aku kali ini aku tidak akan membiarkanmu menghilang begitu saja seperti sebelumnya.”
Jantung Raina berdegup kencang. Dan untuk pertama kalinya malam itu, bukan hanya Raina yang kehilangan kendali tapi Sion juga. Sion kembali meraup bibir Raina, menikmati betapa lembut dan manisnya ciuman itu. Keduanya seolah tidak sadar sedang berada di lorong. Dimana orang-orang bisa lewat dan melihat kegiatan mereka.
Lorong utama mansion malam itu begitu sunyi. Lampu-lampu dinding memancarkan cahaya keemasan yang lembut, sementara para pelayan yang baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka berjalan menuju area belakang mansion.
Sampai salah satu dari mereka berhenti mendadak. “Eh...”
Dua pelayan di belakangnya hampir menabrak punggungnya. “Ada apa?”
Ia hanya menunjuk ke ujung lorong dengan wajah pucat. Di sana, berdiri sosok yang sangat mereka kenal. Sion… Tuan mereka sang ketua mafia yang terkenal dingin, sulit didekati, dan konon bahkan tidak pernah membiarkan emosinya terlihat di depan bawahannya.
Namun malam itu, pria yang biasanya membuat seluruh mansion bungkam hanya dengan satu tatapan tersebut sedang mencium seorang wanita. Dan wanita itu adalah Raina, mantan istrinya yang baru saja kembali.
Ketiganya membeku. Raina berdiri dengan punggung bersandar pada dinding, sementara Sion menundukkan wajahnya, mencium bibir wanita itu dengan begitu mesra seolah lorong mansion tersebut adalah satu-satunya tempat yang tersisa di dunia.
Salah satu pelayan langsung menutup mulutnya sendiri. “Ya Tuhan...”
“Diam!” bisik pelayan di sebelahnya panik.
“Aku cuma—”
“Jangan bicara!”
Mereka bertiga mencoba mundur perlahan. Namun suara langkah sepatu mereka justru terdengar semakin jelas di lorong yang sunyi. Sion tiba-tiba berhenti dalam ciumannya. Kepalanya terangkat dan tatapan dinginnya langsung mengarah kepada mereka. Sementara Raina hanya diam menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik dada bidang Sion.
Tiga pelayan itu membeku. Suasana sekitar hening, bahkan sangat hening walau hanya sekadar untuk bernapas saja para pelayan itu seolah kesulitan. Salah seorang bahkan merasa nyawanya sudah meninggalkan tubuh. Sion menatap mereka selama beberapa detik.
Kemudian, tanpa mengatakan apa pun, ia kembali menatap Raina. Dan kembali menciumnya. Ketiga pelayan itu saling berpandangan.
Mata mereka membesar. “Dia tidak peduli kita melihat?!”
Mereka langsung berbalik dan berjalan cepat. Begitu sampai di belokan pertama, “AKU BILANG APA?!”
“Sst! Jangan berteriak!”
“ITU TUAN SION!”
“Aku tahu!”
“DENGAN Nyonya Raina!”
“Mantan Nyonya Raina,” koreksi yang lain refleks.
“ITU LEBIH PARAH!”
Mereka bertiga berlari kecil menuju ruang staf. Lima menit kemudian, dua pelayan lain sudah mengetahui kabar tersebut. Sepuluh menit kemudian, hampir seluruh pelayan di lantai satu sudah tahu. Lima belas menit kemudian, bahkan kepala pelayan yang sedang memeriksa persediaan dapur ikut mendengar.
“Jadi,” katanya pelan, “kalian melihat sendiri?”
“Tentu saja!”
“Sedang berciuman?”
“Bukan sekadar ciuman biasa.”
Semua kepala langsung mendekat. “Apa maksudmu?”
Pelayan itu menelan ludah. “Mereka... sangat mesra.”
Ruangan langsung dipenuhi suara terkejut.
“Tidak mungkin.”
“Bukankah mereka sudah bercerai?”
“Itulah masalahnya!”
“Bukankah Tuan Sion bahkan tidak pernah tersenyum?”
“Kalau begitu mungkin selama ini masalahnya adalah istrinya.”
“Mantan istrinya!”
“Ya, ya, mantan istrinya!”
Gosip itu terus berpindah dari satu orang ke orang lain. Versinya pun semakin lama semakin dramatis. Ada yang mengatakan Sion menarik Raina ke dalam pelukannya. Ada yang mengatakan Raina-lah yang lebih dulu mencium. Ada yang bersumpah Sion tersenyum.
Padahal tidak ada seorang pun yang benar-benar melihatnya. Menjelang tengah malam, seluruh mansion sudah mengetahui satu kesimpulan yang sama, yaitu Sion dan Raina akan kembali bersama dan bahkan sepertinya tidak lama lagi mereka akan kembali mendapatkan bayi kecil sebagai adik Sean dan Shia.
...****************...
Sedangkan disisi lain, begitu langkah kaki para pelayan itu benar-benar menghilang di balik tikungan lorong, Raina langsung mendorong dada Sion. “Lepaskan!”
Sion menurut, namun wajah pria itu sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Raina menatapnya dengan pipi yang sudah memerah. Bagaimana mungkin Raina tidak merasa malu setelah adegan ciumannya yang sangat intens ditonton secara live oleh orang lain.
“Kau gila ‘yah?”
Sion hanya mengangkat sebelah alis. “Apa?”
“Apa?” ulang Raina tak percaya. “Kau masih berani bertanya apa?”
Ia menunjuk ke arah lorong tempat para pelayan tadi pergi. “Mereka melihat kita!”
“Mereka memang melihatnya. Lalu?”
Jawaban tenang itu justru membuat Raina semakin kesal. “Dan kau tidak merasa malu?”
“Tidak.”
“Tidak?!” Sion menggeleng ringan.
Raina menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Ya Tuhan...”
Ia bisa membayangkan bagaimana kabar itu akan menyebar di seluruh mansion. Besok pagi, mungkin seluruh pelayan sudah tahu. Lusa, mungkin para pengawal juga ikut tahu. Dan jika nasibnya cukup buruk, mungkin seluruh orang yang bekerja di bawah Sion akan membicarakannya. Sementara penyebab semua kekacauan itu berdiri di hadapannya dengan wajah sedingin biasanya.
“Kau benar-benar tidak tahu malu.”
Sion menatap wajahnya yang memerah. “Aku hanya menciummu. Apa salahnya?”
“Di lorong!”
“Lalu?”
“Di depan orang!”
“Bukankah mereka sudah pergi?”
Raina hampir kehabisan kesabaran. “Bukan itu intinya!”
Sion diam membuat Raina hanya bisa menghela napas panjang sebelum berbalik. “Aku tidak mau bicara denganmu lagi.”
“Sudah menuduhku punya pria lain. Mempertanyakan motifku kembali dan bahkan mempertanyakan identitas Sean dan Shia. Benar-benar ‘deh… sepertinya tidak ada orang lain yang bermuka tebal sepertinya,” gerutu Raina.
Ia melangkah cepat menuju kamar kedua anak mereka. Sean dan Shia sudah lebih dulu berada di sana dan mungkin sudah terlelap di alam mimpi masing-masing. Raina masuk dan menutup pintu, berharap setidaknya bisa bersembunyi dari pria menyebalkan itu untuk beberapa saat.
Namun baru beberapa detik kemudian, pintu terbuka kembali. Pria itu masuk tanpa suara. Raina menoleh. “Sion.”
“Aku bilang aku tidak mau bicara denganmu.”
“Aku tidak datang untuk bicara.”
“Lalu untuk apa?”
Bersambung….