Alur cerita ringan...
Dan novel ini berisi beberapa cerita dengan karakter yang berbeda-beda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arran Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenzo & Naya [Bab 2]
"Iya, Kak, aku nggak tahu itu tes apa. Kakak tahu?" tanya Naya polos, mendongak menatap Kenzo dengan mata bulatnya yang berbinar penuh rasa ingin tahu.
Kenzo mencoba mencerna. "Ngapain teman kamu tes keρerάωαηαη?" tanyanya, heran.
"Nggak tahu. Kata Gaby, diajak pacarnya tes keρerάωαηαη," jawab Naya lagi, dengan kepolosan yang tak berdosa.
"Bocah gendeng..." batin Kenzo, mengutuk dalam hati atas apa pun yang dilakukan pacar Gaby.
"Kakak..." panggil Naya lagi, suaranya sedikit mendesak. "Tes keρerάωαηαη itu apa? Emang harus ya? Kalau gitu, Naya juga mau tes keρerάωαηαη." Wajah polosnya menatap Kenzo lurus, penuh harapan.
Kenzo menegang di tempat. Tiba-tiba, ia merasakan seluruh kendali yang ia bangun selama setahun ini seperti runtuh. Nayara, si gadis polos yang ia cintai, mengucapkan hal yang begitu menggoda dan menguji iman-nya dalam dekapan eratnya. Situasi ini... jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.
"Kak... Kok diem sih," ucap Naya cemberut.
Kenzo sontak tersadar, "Ahh i-iya, sayang?" ucapnya gelagapan.
"Kakak belum jawab pertanyaan aku," bibir Naya makin maju beberapa senti.
Kenzo terdiam menatap Nayara, pesona polos gadis itu bercampur dengan keputusasaan Kenzo untuk tetap menjaga batasan. Namun, hasrat yang terpendam selama setahun terakhir, ditambah dengan posisi Nayara yang begitu intim di pangkuannya dan pertanyaan lugu itu, terasa seperti memecahkan bendungan. Suaranya terdengar lebih berat, lebih serak, dipenuhi oleh emosi yang tertahan.
"Gak harus sih, sayang," ucap Kenzo, membiarkan panggilan mesra itu lolos begitu saja. Nayara mungkin tidak menyadari implikasinya, tapi Kenzo tahu betapa dalamnya makna kata itu baginya. "Tapi kalau kamu mau, Kakak bisa bantuin..."
Naya mengerjap, matanya yang bulat bersinar penuh harap dan rasa ingin tahu yang tak berdosa. Dia sama sekali tidak menangkap getaran tegang dalam suara Kenzo.
"Kakak bisa tes keρerάωαηαη? Caranya gimana?" tanya Naya dengan antusiasme yang polos, matanya menatap Kenzo lurus, seolah ia sedang bertanya tentang rumus matematika yang sulit.
Pertanyaan itu, diucapkan dalam kepolosan ekstrem, menghancurkan sisa-sisa pertahanan Kenzo. Tuhan, gadis ini akan membuatku gila, pikirnya.
Kenzo tidak bisa lagi berpikir jernih. Semua kekhawatiran tentang Narendra, tentang persahabatan mereka, tentang moralitas, tertekan di bawah gelombang hasrat yang tiba-tiba mendominasi.
"Kamu mau tahu?" Kenzo bertanya balik, suaranya kini terdengar seperti bisikan dalam. Ia perlu mendengar konfirmasi sekali lagi dari gadis itu, meski ia tahu Nayara tidak mengerti apa yang ia minta.
Gadis polos itu mengangguk dengan semangat, senyum lebarnya menunjukkan betapa ia mempercayai Kenzo. "Iya, mau!"
Tatapan Kenzo menjadi semakin dalam. Ia menatap pujaan hatinya itu—seorang gadis yang ia cintai dalam diam, yang kini duduk begitu dekat dan menawarkan diri dalam kebodohan yang indah. Ini adalah momen krusial, titik balik yang ia tahu akan mengubah segalanya.
Kenzo meletakkan tangannya di pinggang ramping Nayara. Perlahan, ia menuntun Nayara agar bergeser dari pangkuannya. Setelah menyingkirkan berkas-berkas penting yang berserakan, Kenzo memposisikan Nayara agar duduk di atas permukaan meja kerjanya yang luas dan dingin. Kaki Nayara kini menjuntai, dan rok pendeknya semakin tersingkap, memperlihatkan pemandangan yang makin menyiksa Kenzo.
Napas Kenzo memburu, matanya tidak bisa lepas dari ekspresi Nayara yang mulai diliputi kebingungan dan sensasi aneh. Tangan Kenzo yang besar kini telah menemukan kulit paha Nayara, bergerak semakin ke atas, melintasi batas rok dan mέηγεηtυh αrέά pribadi gadis itu.
Nayara mengernyit, kepolosan di matanya kini bercampur dengan rasa tidak nyaman. Ia merasakan sentuhan tangan Kenzo di area yang sangat sέήsίtίf.
"Kak, kok celάnα dalάm Naya dilepas sih?" tanyanya, suaranya kecil dan polos, bibirnya mem pout lucu.
Kenzo menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam gejolak di dalam dirinya. Ia harus menjaga nada suaranya tetap meyakinkan.
"Harus lέpάs celana dong, sayang," jawab Kenzo dengan suara yang berat dan tertahan. "Kalau mau tes keρerάωαηαη, kita nggak boleh terhalang apa-apa. Kakak harus periksa semuanya dengan teliti."
Kenzo berhasil melepas celάnά dάlάm Nayara yang tipis dan berwarna merah muda, menjauhkannya dari jangkauan.
Mata Kenzo terbelalak sesaat. Di hadapannya, ναgίηα Nayara—yang baru pertama kali ia lihat—terlihat sangat lembut dan mulus. Tidak ada satu pun rambut halus yang tumbuh, dan seluruh area νάgίηα Nayara tampak berwarna merah muda yang cerah, seperti kuncup bunga yang belum tersentuh. Aroma Nayara, perpaduan wangi bayi dan sedikit lotion manis, langsung menyeruak, membuat Kenzo menahan napas. Miliknya yang sudah tegang kini semakin mengeras.
"Oh, gitu..." jawab Nayara, menerima penjelasan itu dengan kepolosan total, tidak menyadari dampak mengerikan yang ditimbulkannya pada Kenzo.
"Terus, gimana tesnya, Kak?" tanya Naya lagi, mendesak, benar-benar ingin tahu proses yang dimaksud Gaby itu.
"Kayak gini, tahan ya..." ucap Kenzo, memosisikan dirinya dengan lebih nyaman.
Jari telunjuk Kenzo yang panjang dan kokoh perlahan-lahan mεηγεηtύh permukaan αrεα sεηsίtίf Nayara yang basah karena keringat dingin. Naya tersentak, sedikit bergidik. Kenzo memberi waktu beberapa detik, menunggu reaksi Nayara. Ketika Nayara hanya diam, Kenzo memutuskan untuk melanjutkan.
Dengan kehati-hatian luar biasa, Kenzo mulai memάsυκκαη satu jarinya ke dalam νάgίηα Nayara. Ia bisa merasakan betapa sempitnya bagian itu, bukti nyata bahwa gadis di hadapannya memang masih murni dan belum pernah disentuh siapa pun.
"A-awh... sakit, Kak Kenzo!" rintih Naya, tubuhnya menegang hebat. Air mata mulai menggenang di sudut matanya yang indah.