Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.
Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.
Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.
Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.
Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Berita di TV
Keesokan paginya, suasana SMA Nusantara terasa makin panas bagi Valeska. Begitu berjalan melewati koridor kelas XI, tatapan sinis dan tawa menyindir dari para siswa langsung menyambutnya.
Jena, Giselle, dan Clarissa berkumpul di depan pintu kelas XI-1 sambil memegang gelas kopi mahal. Melihat Valeska mendekat, Jena sengaja mengeras-keraskan suaranya.
"Denger-denger ada yang kemarin ketahuan ke kafe sore-sore, tapi bukan buat nongkrong, melainkan buat jadi babu cuci piring," cetus Jena disambut tawa geli dari Giselle.
"Seriusan, Jen?!" timpal Giselle heboh. "Duh, ratu sekolah kita beneran udah ganti profesi jadi mbak-mbak pembantu? Pantesan tangannya kemarin kelihatan agak merah gitu!"
Clarissa melipat tangan di dada, menyunggingkan senyum dingin. "Namanya juga butuh uang buat bayar SPP. Kalau enggak gitu, minggu depan kan udah diusir sama Pak Bambang."
Valeska mengepalkan tangannya di balik saku rok seragam. Dadanya bergemuruh hebat, matanya panas menahan tangis. Kata-kata kasar itu rasanya ingin dia balas dengan makian, tapi ingatan akan pesan Mamanya dan tatapan Nek Izah semalam menahannya. Dia tidak boleh bikin ulah yang bisa bikin dirinya dipanggil ke ruang BK lagi.
Valeska menunduk dalam-dalam, menerobos kerumunan mereka tanpa bersuara sedikit pun, lalu duduk diam di mejanya yang berdebu di sudut belakang.
Dari pintu belakang kelas, Elang memperhatikan interaksi itu sekilas.
***
Sore harinya, begitu bel pulang berbunyi, Valeska langsung berjalan menuju parkiran motor. Dia tidak lagi memedulikan rasa gengsinya saat naik ke boncengan motor Elang. Fokusnya cuma satu: sampai di kafe Kopi Senja tepat waktu.
Di dapur kafe, tumpukan piring kotor dan gelas bekas racikan kopi sudah menumpuk tinggi di tempat cuci piring.
"Kerja cepat," instruksi Elang sambil memakai apronnya. "Hari ini pengunjung lebih ramai dari kemarin. Jangan sampai piring bersih di depan kehabisan."
Valeska mengangguk cepat. Tanpa banyak mengeluh seperti hari pertama, cewek itu langsung memasang sarung tangan karet, menyalakan kran air hangat, dan mulai menggosok piring demi piring dengan cekatan. Walaupun punggungnya terasa pegal luar biasa dan telapak tangannya memerah, Valeska terus bertahan sampai shift-nya berakhir jam delapan malam.
Mas Bayu yang melintas di dapur belakang menatap Valeska dengan raut puas. "Kerja kamu rapi dan cepet, Val. Pertahankan ya."
"Makasih banyak, Mas," bisik Valeska tulus.
Saat memegang amplop gaji harian lima puluh ribu rupiah keduanya, ada sedikit rasa lega yang menyelusup di dadanya. Perjalanan menuju kemandiriannya masih sangat jauh, tapi setidaknya, dia membuktikan bahwa cewek yang dulu dianggap manja dan tidak berguna ini sanggup bertahan hidup di tengah kerasnya kenyataan.
Malam itu, sepulang dari kafe, Valeska beristirahat di rumah kayu Nek Izah sambil menunggu baju sekolahnya yang sedang dikeringkan di jemuran belakang. Nek Izah sedang menyeduh teh hangat di dapur, sementara televisi tua berukuran 14 inci di sudut ruang tamu menyala menyiarkan berita malam.
Valeska duduk melamun di atas tikar pandan, memijat lembut betis dan jemari tangannya yang masih terasa pegal usai mencuci ratusan piring. Tiba-tiba, suara pembawa berita di TV memecah kesunyian ruangan dengan nada serius.
"Berita utama malam ini. Perkembangan kasus korupsi dan penggelapan dana proyek pembangunan infrastruktur yang melibatkan mantan direktur utama PT Nusantara Mandiri, Pratama Aurelius..."
Deg!
Nama itu. Nama Papanya.
Jantung Valeska serasa berhenti berdetak seketika. Tangannya yang sedang memijat kaki mendadak membeku. Mata Valeska membelalak menatap lurus ke arah layar kaca televisi yang buram.
Di layar memperlihatkan kilatan kamera para wartawan yang saling berebut mengambil foto. Di tengah kerumunan petugas kejaksaan, tampak sosok pria paruh baya mengenakan rompi oranye dengan tangan terikat garisan borgol. Wajah pria itu kusam, rambutnya yang biasa tersisir rapi kini tampak beruban dan berantakan, serta sorot matanya terlihat begitu lelah dan hancur.
Itu Pratama. Papanya. Pria yang selama ini selalu memanjakannya, mencium keningnya sebelum berangkat kantor, dan membelikannya apa saja yang dia minta.
"Tersangka Pratama resmi dipindahkan ke Rumah Tahanan Negara setelah berkas perkara dinyatakan lengkap. Pihak kejaksaan juga menyita seluruh aset pribadi milik Pratama, termasuk rumah mewah, kendaraan, dan pembekuan rekening keluarga demi memulihkan kerugian negara..."
"Pa... Papa..." bisik Valeska, suaranya tercekat di tenggorokan.
Air matanya menetes kencang melintasi pipinya tanpa bisa ditahan. Melihat sosok Papanya yang dulu begitu gagah dan berwibawa kini berjalan menunduk penuh kebingungan di bawah serbuan kamera wartawan, hati Valeska rasanya diremas kencang sampai hancur berkeping-keping.
Nek Izah yang baru keluar dari dapur membawa dua cangkir teh hangat tertegun melihat Valeska yang membeku di depan TV dengan air mata meleleh deras. Nek Izah buru-buru menaruh cangkir di meja, lalu menghampiri dan mematikan televisi tua itu dengan remote.
"Nduk... Valeska..." panggil Nek Izah lembut, merangkul bahu Valeska yang mulai berguncang hebat.
"Papa, Nek... itu Papa..." jerit Valeska histeris, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan yang gemetaran. "Papa kasihan banget, Nek... Papa pakai baju oranye itu... Papa dituntun kayak penjahat..."
Tangisan Valeska pecah malam itu di rumah sederhana Nek Izah. Rasa malu, hancur, dan kerinduan mendalam pada sosok Papanya menyatu menjadi satu hantaman besar yang membuat mentalnya kembali ambruk di titik terendah.
Nek Izah memeluk tubuh Valeska yang berguncang hebat. Ditepuknya punggung cewek itu penuh kasih sayang, membiarkan Valeska menumpahkan seluruh rasa sakit dan kebingungan yang tertahan di dadanya.
"Sabar, Nduk... Istighfar..." bisik Nek Izah lembut, matanya ikut berkaca-kaca melihat betapa hancurnya cewek di pelukannya itu. "Papamu memang lagi diuji, kamu juga lagi diuji. Yang penting Papamu sehat di dalam sana. Kamu harus tetap kuat biar Papamu ndak makin sedih kalau tahu anak tunggalnya patah semangat."
Valeska memeluk Nek Izah erat-erat, meremas kain sarung nenek tua itu sampai buku-buku jarinya memutih. "Tapi Valeska kangen Papa, Nek... Valeska mau ketemu Papa... Valeska mau bilang kalau Valeska udah bisa cuci piring sendiri, Valeska udah enggak manja lagi..."
Isak tangisnya terngiang pilu di rumah kayu yang sepi itu. Malam makin larut, dan Valeska tertidur di pangkuan Nek Izah dalam kondisi mata bengkak dan napas tersengal-sengal karena kelelahan menangis.
Keesokan paginya, berita penahanan Pratama Aurelius sudah menyebar luas di SMA Nusantara. Foto Papa Valeska yang mengenakan rompi oranye terpampang di halaman depan koran lokal yang tertempel di mading sekolah.
Begitu Valeska melangkah masuk melewati gerbang, atmosfer dingin dan penuh kebencian langsung menyergapnya. Kali ini bukan cuma bisik-bisik, beberapa siswa bahkan sengaja melempar remasan kertas koran yang memuat berita Papanya ke arah kaki Valeska.
"Udah fix anak koruptor! Lihat tuh muka bapaknya di TV semalam, bengep begitu!"
"Hahaha, pantesan anaknya belagu, duit hasil nyuri duit rakyat ternyata!"
"Mending keluar aja lo dari sekolah ini! Bikin kotor nama SMA Nusantara!"
Valeska berjalan menunduk rapat, menggigit bibirnya sampai hampir berdarah demi menahan air mata yang mendesak keluar. Tangannya mengepal kencang di balik saku rok seragamnya.
Di depan pintu kelas XI-1, Jena, Giselle, dan Clarissa sudah menghadangnya dengan muka penuh kemenangan. Jena memegang koran pagi itu, menyodorkannya tepat di depan muka Valeska.
"Lihat nih, Val! Papa lo yang agung itu sekarang resmi jadi narapidana!" cibir Jena sambil tertawa kencang. "Gimana rasanya punya Papa penjahat? Masih berani lo angkat kepala di depan kita?!"
Clarissa ikut tersenyum sinis dari belakang Jena. "Aduh, kasihan banget. Dulu bangga-banggain Papa pengusaha kaya, ternyata koruptor. Dasar serangga peninggalan koruptor!"
Valeska menghentikan langkahnya. Dia mendongak, menatap mata Jena dan Clarissa lurus-lurus dengan tatapan mata yang sembap namun menyimpan kilatan keberanian yang beda dari biasanya. Rasa sakit yang bertubi-tubi justru menempa mentalnya perlahan-lahan.
"Papa gue memang lagi kena masalah hukum," kata Valeska dengan suara yang ditekan, bergetar tapi terdengar tegas. "Tapi minimal Papa gue enggak pernah ngajarin gue jadi manusia licik yang sukanya nindas orang pas lagi di bawah kayak kalian bertiga!"
Jena tersentak kaget, mukanya memerah padam karena tidak menyangka Valeska masih punya keberanian untuk membalas. "Apa lo bilang?! Kurang ajar lo ya—"
Jena mengangkat tangannya hendak mendorong bahu Valeska kencang-kencang, tapi sebuah tangan kekar bergerak cepat dari belakang dan mencengkeram pergelangan tangan Jena di udara.
Elang berdiri di sana, menatap Jena dengan sorot mata dingin yang sangat menusuk.
"Jangan main tangan," pangkas Elang datar, langsung menghempaskan tangan Jena hingga cewek itu melangkah mundur kaget. "Mading dan koridor ini ada CCTV-nya. Kalau lo mau bikin keributan lagi, sekalian aja gue aduin ke ruang BK biar poin kedisiplinan lo yang diproses."
Jena memegang pergelangan tangannya yang agak sakit, menatap Elang dengan pandangan sengit. "Lo ngapain sih selalu belain cewek miskin ini, Lang?! Lo mau ikut-ikutan dihujat?!"
"Gue kagak belain siapa-siapa," balas Elang santai, lalu melirik Valeska sekilas. "Gue cuma males lihat koridor berisik gara-gara drama sampah pagi-pagi. Masuk kelas lo pada."