Aurelia baru saja akan menikmati masa mudanya sebagai gadis single yang bebas, sampai sebuah kecelakaan menyeret jiwanya ke tubuh Nadia Atmaja. Saat terbangun di ranjang rumah sakit, hal pertama yang ia rasakan bukanlah sakit kepala, melainkan beban berat di bagian perutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10
***
Nadia berdiri kaku di depan cermin besar kamar mandi. Napasnya memburu, sementara tangannya yang gemetar mencengkeram pinggiran wastafel marmer yang dingin. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Bayangan ucapan Raditya di dalam mobil tadi terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
"Pertanggungjawabanmu baru saja dimulai..."
"Aduh, Aurel! Mulut lo benar-benar minta diselepet ya!" gerutu Nadia pada pantulan dirinya sendiri. Wajahnya merah padam, perpaduan antara malu dan panik yang luar biasa.
"Kenapa juga tadi pakai acara bilang dia 'perkasa' dan 'tidak kenal ampun' segala sih? Oke, dia emang ganteng, dia emang kaya, tapi kan gue di kehidupan dulu perawan ting ting! Jangankan ditidurin CEO modelan singa kelaparan begitu, pegangan tangan sama cowok aja gue bisa gemeteran seminggu!"
Nadia mondar-mandir di dalam kamar mandi yang luasnya hampir seluas kosan lamanya itu. Ia menjambak rambutnya frustrasi.
"Ya elah, kenapa ini mulut nggak ada remnya sih? Sekarang gimana? Masa gue mau di-unboxing dalam keadaan bunting begini? Apa kabar si dedek di dalem? Dia nggak bakal kegencet kan?" tangisnya dalam hati.
Ia mengelus perut buncitnya yang tertutup dress sutra mewah. Ada gejolak aneh di perutnya, bukan mual, melainkan rasa gugup yang mematikan.
"Tapi ayolah, Aurel... lo sekarang adalah Nadia. Nyonya Hadiwinata yang sah. Lo punya hak menikmati kekayaan, kemewahan, dan... ya, kenikmatan yang belum pernah lo rasain sebelumnya. Anggap saja ini bonus transmigrasi. Tapi tetep aja! Kenapa harus ada adegan begini di saat gue lagi hamil empat bulan?! Dasar Raditya Kulkas mesum!"
Nadia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia mengganti pakaian pestanya dengan sebuah lingerie satin tipis berwarna maroon pilihan dari lemari Nadia yang entah sejak kapan ada di sana. Pakaian itu melekat sempurna, menonjolkan kurva tubuhnya yang semakin berisi dan perut buncitnya yang membuatnya terlihat seperti sexy mommy yang sesungguhnya.
**
Dengan langkah yang terasa seberat timah, Nadia membuka pintu kamar mandi. Kamar utama itu remang-remang, hanya diterangi lampu tidur berwarna kekuningan yang memberikan kesan intim dan panas.
Raditya sudah berada di sana. Ia tidak lagi memakai jas. Kemeja putihnya sudah tidak terkancing dua di bagian atas, memperlihatkan sedikit dada bidangnya yang berotot. Ia duduk di tepi ranjang sambil menyesap segelas air putih, namun matanya langsung terkunci pada sosok Nadia yang baru keluar.
Tatapan Raditya... berbeda. Tidak ada lagi kedinginan yang biasa. Yang ada hanyalah tatapan lapar seorang predator yang sudah lama menahan diri.
"Kemari," suara Raditya rendah, bergetar di udara malam yang sunyi.
Nadia mendekat dengan gemetar. Begitu ia sampai di depan Raditya, pria itu tidak memberinya celah. Raditya menarik pinggang Nadia dengan satu sentuhan kuat, membuat Nadia terduduk di pangkuannya.
"Ah!" Nadia memekik kecil, tangannya secara refleks memegangi pundak kokoh Raditya.
"Kamu sudah memberikan janji yang sangat besar malam ini, Nadia," bisik Raditya tepat di ceruk leher istrinya. Napas hangatnya membuat bulu kuduk Nadia berdiri. "Dan saya bukan tipe pria yang suka membiarkan janji tidak ditepati."
"Ma-mas... tapi kan aku lagi hamil..." cicit Nadia, mencoba mencari alasan terakhir.
Raditya terkekeh pelan, sebuah suara bariton yang sangat seksi. "Saya sudah bertanya pada dokter. Usia empat bulan adalah waktu yang aman, asal saya melakukannya dengan... benar."
Raditya tidak lagi memberikan celah. Begitu Nadia berada di bawah kuasanya, pria itu mulai memberikan "hukuman" yang sejak tadi ia tahan. Ia mencium leher Nadia dengan intens, meninggalkan jejak panas yang membuat bulu kuduk Nadia meremang.
Gigitan-gigitan kecil yang Raditya berikan di area sensitif itu membuat Nadia kewalahan.
"Nngh... Mas... pelan..." rintih Nadia. Suaranya mulai melemah, tenggelam dalam dominasi suaminya.
Kedua tangan mungil Nadia mencoba memukuli pundak lebar Raditya dengan lemah, namun setiap pukulan itu justru dibalas dengan cengkeraman tangan Raditya yang semakin mengunci tubuhnya ke kasur.
Tangan besar pria itu mulai menjelajahi setiap jengkal punggung halus Nadia di balik kain satin tipis maroon yang kini sudah berantakan.
"Tadi kamu begitu berani di depan semua orang, Nadia," bisik Raditya parau di telinganya. "Sekarang, tunjukkan
keberanianmu itu di depan saya."
Raditya menuntun Nadia untuk rebahan lebih dalam di atas ranjang king size yang empuk. Ia mengukung tubuh istrinya, menatap wajah Nadia yang tampak begitu cantik, berkeringat, dan pasrah di bawah cahaya temaram. Bagi Aurelia, ini adalah pengalaman pertama yang sungguh gila. Ia belum pernah merasakan sentuhan pria sehebat dan sedominan Raditya.
Saat Raditya memulai penyatuan yang menjadi "pertanggungjawaban" itu, Nadia memejamkan matanya erat-erat. Jantungnya berdegup hingga ke pangkal tenggorokan.
"Pelan-pelan Mas... s-sakit..." isak Nadia kecil. Air mata mulai menggenang di sudut matanya saat merasakan sensasi penuh yang menyeruak masuk, merobek pertahanannya yang selama ini terjaga.
Raditya terhenti sejenak. Otot-otot lengannya menegang kuat untuk menahan berat tubuhnya. Dahinya berkerut dalam, napasnya terasa berat, kasar, dan panas di atas wajah Nadia.
"Sial... kenapa kamu bisa sesempit ini, Nadia?" geram Raditya dengan suara parau yang sarat akan hasrat yang meledak-ledak. "Kamu benar-benar ingin membunuh saya..."
"S-sakit, Mas... hiks... pelan," Nadia merintih sambil memegangi perut buncitnya yang terasa kencang. Ia merasa kewalahan menghadapi ukuran dan tenaga Raditya yang tidak main-main.
Raditya mencoba untuk lebih lembut, mencium kening dan bibir Nadia untuk mengalihkan rasa sakitnya. Namun, stamina yang dimiliki sang CEO benar-benar ganas seperti kuda liar. Begitu rasa sakit itu mulai memudar, Raditya bergerak kembali dengan ritme yang dalam, lambat namun pasti, menghancurkan sisa-sisa kewarasan Nadia.
"Ahh... nngh... Mas... pelan... di sana... ahh!" rintih Nadia. Tangannya kini mencengkeram seprai dengan sangat kuat hingga kukunya memutih. Rasa sakit yang tadi ia rasakan perlahan mulai bercampur dengan sensasi luar biasa yang memabukkan sesuatu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Raditya terus melanjutkan aksinya, matanya yang gelap dan tajam tidak pernah lepas dari wajah Nadia yang memerah padam dengan bibir yang terbuka mengeluarkan desahan-desahan pasrah.
"Ohh... Nadia... akhh... kamu... kamu benar-benar membuat saya gila," desah Raditya di sela-sela napasnya yang memburu hebat. "Sangat... nikmat... nngh!"
Malam itu, kamar utama Mansion Hadiwinata menjadi saksi bisu runtuhnya dinding es sang CEO. Raditya mengerang rendah, sebuah erangan kenikmatan yang sangat jantan dan dalam tiap kali ia menghujamkan miliknya. Nadia yang awalnya ketakutan, kini hanya bisa pasrah, merintih, dan mengikuti arus gairah yang dibawa oleh suaminya.
Stamina Raditya yang luar biasa benar-benar membuat Nadia kewalahan. Ia merasa seolah jiwanya akan melayang keluar dari tubuhnya.
"Mas... ahh... cukup... akhh... Nadia capek... Mas, hikss... pelan sedikit," isak Nadia di puncak kenikmatannya, tubuhnya melengkung saat pelepasan itu datang menghantam mereka berdua.
Raditya mengerang panjang, membenamkan wajahnya di ceruk leher Nadia saat ia menumpahkan segalanya di dalam sana. Ia memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat, seolah tak ingin melepaskan satu detik pun dari momen ini. Napasnya masih memburu hebat, membasahi kulit Nadia yang hangat.
Setelah beberapa saat keheningan yang intim menyelimuti mereka, Raditya memberikan kecupan lembut di dahi Nadia yang masih basah oleh keringat.
"Tidurlah. Kamu sudah melakukan tanggung jawabmu dengan sangat baik malam ini, Nyonya Hadiwinata," bisik Raditya dengan suara serak dan senyum misterius yang puas di bibirnya.
Nadia hanya bisa memejamkan mata dengan tubuh yang terasa remuk dan lemas luar biasa. Di dalam hatinya, jiwa Aurelia yang barbar kini hanya bisa meratap pasrah.
"Sial... si Kulkas ternyata beneran singa lapar yang nggak punya rem. Gue nggak bakal bisa jalan, apalagi turun tangga besok pagi! Perut gue... kaki gue... semuanya lemes!" batin Nadia sebelum akhirnya tenggelam dalam tidur karena kelelahan yang luar biasa.
****
Bersambung
aku udh mmpir....slm knal....
Aku syuka crtanya........tipe istri yg ga menye2,trs suami posesif.....mskpn d awl dia acuh,tp akhrnya jd bucin.....
d tnggu up'ny.....smngtt.....😘😘😘
ehhhh
suka semua ceritamu deng🤣
tunggu aksi luar biasa bumil thor