Setelah 8 tahun, Dara bertemu lagi dengan Luth, mantan pacarnya saat SMA yang dulu koma karenanya. Bukan hanya fisik sang mantan yang berubah jadi tampan, tapi ternyata, Luth juga tak mengenalinya.
"Kamu benar-benar tidak mengenaliku?" Dara menatap tak percaya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Luth terlihat bingung.
Dara semakin merasa bersalah, karena kemungkinan Luth hilang ingatan karena benturan keras yang sampai membuat dia koma 8 tahun lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KOLAM IKAN
Dara berlari ke pinggiran kolam. Matanya menatap nanar puluhan ikan koi yang memenuhi kolam dangkal tersebut. Dari atas seperti ini, tak terlihat sedikit pun keberadaan gelangnya. Ia tak bisa diam seperti ini terus, tanpa fikir panjang, Dara turun ke kolam tersebut. Beberapa orang yang ada disana, tampak syok melihat kenekatannya.
Ikan koi di dalam kolam langsung menjauh setiap kali Dara bergerak. Sambil menangis, gadis itu menyisir setiap sisi kolam. Melangkah, lalu membungkuk untuk menyingkirkan bebatuan kolam, berharap gelangnya ada diantara batu-batu itu. Ia terus melakukannya, tak peduli dengan tatapan orang disana, bahkan ada yang memvideokannya, tapi sekali lagi, ia tak peduli.
Dara yak menyerah meski bagian bawah roknya basah. Selain itu, bagian depan kemejanya juga basah karena ia berkali-kali membungkuk. Belum lagi beberapa kali ia hampir terpeleset karena dasar kolam yang licin. Ia memang sengaja tak melepas stilettonya karena takut ada benda tajam di dasar kolam yang akan melukai kakinya.
"Dara, ngapain kamu?"
Dara menoleh mendengar teriakan Luth, bosnya itu tahu-tahu sudah berdiri di pinggir kolam.
"Gelang saya hilang, Pak." Sahut Dara sambil menangis. "Gelang saja ada di kolam ini."
"Astaga! Cuma gelang." Luth berdecak pelan sambil geleng-geleng.
"Gelang itu berarti banget buat saya." Dara kembali melanjutkan usahanya untuk mencari gelang.
"Naik!" teriak Luth.
"Saya gak akan naik sebelum mendapatkan gelang itu." Dara masih terus mencari.
Luth sampai garuk-garuk kepala melihat tekat Dara untuk menemukan gelang tersebut.
"Saya bilang naik, Dara."
Dara tak menggubris, ia terus saja mencari sambil sesekali menyeka air mata dan mengabaikan bau amis dari kolam.
"Naik Dara!" Luth sampai teriak karena Dara tak memedulikannya. "Ini perintah!"
Dara akhirnya menoleh, menatap laki-laki itu.
"Naik, gak usah dicari lagi. Lagian hanya gelang."
"Hanya gelang," ulang Dara dengan ekspresi kesal karena sudah dua kali Luth berkata demikian. "Itu bukan hanya gelang. Itu gelang jadian kita," teriaknya.
Orang-orang disana sontak kaget, beberapa bahkan terlihat sampai menutupi mulutnya yang menganga.
"Ja.. dian?" Luth mengernyit.
Dara salah tingkah saat menyadari telah keceplosan. "Ge, gelang jadian saya dan mantan saya," ralatnya.
"Udah, gak usah dicari lagi. Ikan-ikan itu bisa mati gara-gara kamu nanti."
Dara memperhatikan ikan di sekitarnya, gelagatnya tampak stress. Sepertinya, ia memang tak bisa melanjutkan lagi mencari gelangnya. Selain itu, ia juga sudah lelah.
"Buruan naik!" Luth mengulurkan tangan untuk membantu Dara keluar dari kolam ikan.
Begitu Dara berada di atas, Luth melepas jasnya, menyampirkan ke bahu gadis itu untuk digunakan menutupi bagian depan kemejanya yang basah.
Dara menyatukan kedua sisi jas untuk menutupi pakaian dalamnya yang menjiplak akibat kemeja yang basah. Ia lalu mengikuti Luth kembali ke ruangannya.
Di dalam lift yang hanya berdua, Luth geleng-geleng menatap penampilan Dara yang super berantakan. Tak hanya karena abu amis dan baju yang basah, rambutnya acak-acakan, lebih buruk dari orang bangun tidur. Di pipi dan lehernya terdapat bekas cakaran. Dan satu lagi, matanya sembab.
Di tatap sedemikian rupa oleh Luth, membuat Dara salah tingkah. Ia makin merapatkan kedua sisi jas yang ia pakai sambil menunduk.
Ting
Begitu lift terbuka, Luth keluar lebih dulu lalu disusul Dara. Mereka melangkah melewati koridor yang sepi, hingga tiba di depan ruangan Luth.
"Masuk ke ruangan saya!"
Baru saja Dara hendak ke mejanya, langsung urung dan mengikuti Luth masuk ke ruangannya.
Luth menutup pintu setelah Dara masuk, lalu berdiri di depannya. Menatapnya dengan kedua lengan dilipat di dada.
"Saya dengar, kamu ribut dengan Valerie di lobi. Apa itu benar?"
"Iya."
"Kamu menamparnya. Apa itu juga benar?"
"Iya, itu juga benar." Dara menatap Luth tanpa rasa takut. Ia tak peduli jika Valerie adalah kekasih bosnya, ia marah sekali dengan wanita itu.
"Kenapa harus pakai kekerasan fisik? Apa kamu tidak bisa bicara baik-baik hah?"
Dara tersenyum miring. "Harusnya pertanyaan ini anda ajukan ke pacar anda. Apa gak bisa dia bicara baik-baik? Dia langsung menjambak rambut saya saat kami bertemu, dia yang mulai duluan."
"Dia gak akan seperti itu kalau gak ada penyebabnya."
"Saya juga gak akan tiba-tiba menampar kalau gak ada sebabnya!" balas Dara dengan nada tak kalah garang. "Dia memfitnah saya, apa saya harus diam saja? Dia juga membuang gelang saya ke kolam ikan." Matanya kembali berkaca-kaca saat ingat soal gelang.
"Halah, cuma gelang!" Luth mendengus.
"Itu bukan hanya gelang buat saya. Gelang itu berarti banget." Suara Dara bergetar karena menahan tangis.
"Kalian sudah putus, ngapain kamu masih begitu peduli dengan gelangnya."
"Karena saya masih mencintainya."
Luth seketika membeku. Beberapa saat kemudian, ekspresinya berubah. Rahang yang tadi mengeras karena marah-marah, perlahan melunak. Dan satu lagi, ia harus mati-matian menahan bibir yang ingin membentuk garis senyum.
Baru-buru Luth menyadarkan diri sendiri sebelum benar-benar baper. Dara tak pernah mencintai sejak dulu. Jadi kata-kata masih mencintai, jelas bohong. Buktinya, sejak mereka jadian dulu, sekali pun Dara tak pernah memakai gelang tersebut. Dara pasti bicara seperti tadi karena sekarang ia tampan.
Tapi...ia melihat sendiri bagaimana tadi Dara berusaha menemukan gelang tersebut, mana sambil menangis pula. Kalau bukan karena cinta, lalu karena apa?
"Saya mau pulang."
Ucapan Dara menyadarkan Luth dari lamunannya.
"Pulang?"
Dara mengangguk. Ia sudah sangat lelah sekali hari ini, rasanya sudah tak ada tenaga untuk melanjutkan pekerjaan.
"Saya izin kerja setengah hari." Tanpa menunggu perseteruan Luth, Dara balik badan lalu berjalan menuju pintu.
"Gak bisa!"
Ucapan Luth membuat langkah Dara seketika terhenti. Luth menghampirinya, berhenti tepat di depannya.
"Satu jam lagi kita ada meeting, kamu gak bisa pulang."
"Hahaha...." Dara tak tahan untuk tidak tertawa. "Konyol." Ia masih saja tertawa saking kesalnya. "Apa menurut anda, saya akan pergi meeting dengan kondisi seperti ini?" Ia menatap dirinya sendiri. "Yang ada klien muntah mencium bau saya."
"Mandi!" Luth menunjuk kamar mandi di ruangannya.
"Maksudnya?"
"Saya bilang mandi sekarang!"
"Tapi_"
"Gak ada tapi-tapian, masuk kamar mandi, bersihkan diri kamu."
"Tapi saya gak ada pakaian ganti."
"Saya carikan. Buruan mandi!"
Dara membuang nafas berat. Kedua telapak tangannya mengepal kuat, kesal sekali pada Luth yang terlalu maksa. Posisinya sebagai sekretaris, tak memungkinkannya untuk membantah perintah Luth.
Ia menghentakkan kakinya kesal kesal lalu balik badan.
"Menyebalkan!" Umpatnya pelan setelah cukup jauh dari Luth dan yakin suaranya tak akan terdengar.
Di depan kamar mandi, Dara melepaskan kedua sepatunya yang basah, ia lalu menoleh.
"Jangan lupa carikan sepatu juga. Ingat, saya kaya sejak lahir, jadi alergi pakai barang murah!" Ia masuk ke dalam kamar mandi lalu membanting pintu keras-keras.
"Astaga gadis itu!" Luth melotot menatap pintu kamar mandi yang tertutup.