FOLLOW IG : @LALA_SYALALA13
Demi membiayai pengobatan adiknya yang sakit-sakitan dan melunasi hutang peninggalan orang tuanya, Raina Angela rela melupakan masa lalunya sebagai anak orang kaya dan pergi jauh dari ibu kota.
Lima tahun kemudian dia mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu di sebuah rumah mewah ibu kota. Tanpa disadari, mansion tempatnya bekerja adalah milik keluarga Noah Raja Rajendra yaitu mantan kekasih yang terpaksa Raina tinggalkan secara kejam lima tahun lalu dengan alasan orang ketiga, demi menyelamatkan masa depan pria itu.
Pertemuan tak terhindarkan membenturkan kembali rasa bersalah Raina dengan kebencian serta luka mendalam Noah yang telah berubah menjadi manusia es.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukkkk baca yaaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kakak Bakal Bertahan
"Ah, maaf, Mbok Sri. Kaki saya agak pegal sedikit," kilah Raina seraya memaksa dirinya tersenyum.
"Oalah, iya, perjalanan jauh memang bikin pegal," ujar Mbok Sri maklum. "Nah, itu dia tempat tinggal kalian selama kerja di sini!"
Mbok Sri menunjuk ke arah sebuah bangunan kecil berdinding putih di ujung taman belakang. Bangunan itu terpisah dari mansion utama, namun tampak sangat bersih dan terawat dengan teras kecil di depannya.
"Ini paviliun belakang, Na," jelas Mbok Sri seraya membuka pintu kayu paviliun.
"Dulu ini dipakai buat gudang penyimpanan barang-barang bersih, tapi sudah Mbok bersihkan dari kemarin. Di dalam ada kamar tidur, kamar mandi dalam, sama kipas angin. Cukup kan buat kamu sama Lio?" ujar Mbok Sri.
Raina melangkah masuk dan terpana melihat kerapian di dalam ruangan itu. Ada dua ranjang busa yang sudah dilapisi sprei bersih, satu lemari pakaian kecil, dan meja kayu. Bagi Raina dan Lio yang selama lima tahun ini tinggal di rumah panggung kayu beratap bocor, tempat ini terasa sangat lebih dari cukup.
"Ini... ini bagus banget, Mbok. Mewah sekali buat kami," tutur Raina dengan mata berkaca-kaca.
"Syukur kalau kamu suka, Na," kata Mbok Sri lega.
"Nyonya Eleonora sudah izinkan Lio tinggal di sini, asal Lio jangan main sampai ke area dalam rumah utama, ya. Soal makanan, nanti kalian makan sama dengan makanan pelayan di dapur belakang." ucap Mbok Sri mewanti-wanti.
"Iya, Mbok. Lio bakal nurut di kamar aja," sahut Lio pelan namun mantap.
"Pinter," puji Mbok Sri mengelus dahi Lio. Lalu dia beralih menatap Raina.
"O iya, Na. Nyonya Eleonora lagi keluar rumah sama Tuan besar ada acara kolega. Tapi sebelum pergi tadi, Nyonya titip pesan buat kamu." Mbok Sri memberitahukan bahwa majikannya sedang tidak ada.
"Pesan apa, Mbok?" tanya Raina menyimak.
"Tugas utamamu nanti fokus urus kebersihan area lantai dua, terutama koridor, ruang santai, dan ruang kerja Tuan Muda di rumah ini," papar Mbok Sri.
Dada Raina kembali berdebar halus. "Tuan Muda?" tanya Raina dengan gugup.
"Iya, anak tunggal Tuan dan Nyonya," jawab Mbok Sri dengan nada suara yang sedikit dipelankan.
"Namanya Tuan Muda Noah. Aduh, Na... Tuan Muda itu tampan luar biasa, seperti model majalah. Tapi sifatnya... dinginnya minta ampun! Jarang bicara, jarang senyum, dan paling tidak suka kalau ada orang yang lancang masuk ke ruang kerjanya tanpa izin." ujar Mbok Sri sudah seperti ABG saja.
Deg!
Dunia Raina serasa runtuh seketika saat nama itu terucap dari bibir Mbok Sri.
'Tuan Muda Noah...'
Lutut Raina terasa lemas. Dia harus berpegangan pada pinggiran meja kayu di sampingnya agar tidak jatuh pingsan. Pandangannya mendadak kabur oleh ketakutan yang teramat sangat.
'Noah... Noah Raja Rajendra? Tidak... ini tidak mungkin... Harusnya ini bukan rumah Noah...' batin Raina berteriak panik.
"Raina? Kamu beneran nggak apa-apa? Wajahmu pucat sekali seperti orang lihat hantu!" Mbok Sri memegang bahu Raina dengan cemas.
Raina menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. "M-Mbok Sri... nama lengkap... nama lengkap anak muda itu siapa?" tanya Raina dengan suara bergetar hebat, berharap dengan sangat bahwa jawabannya adalah nama orang lain.
Mbok Sri mengerutkan dahi ragu. "Nama lengkapnya ya... Tuan Muda Noah Raja Rajendra. Kenapa, Na? Kamu pernah dengar nama itu di TV atau berita bisnis?" tanya Mbok Sri.
Bumi serasa berhenti berputar.
Raina Angela terpaku kaku. Darahnya serasa berhenti mengalir. Ibu kota yang begitu luas, jutaan rumah di dalamnya, tetapi takdir yang kejam justru menyeret langkah kakinya tepat ke dalam sangkar emas milik pria yang pernah dia lukai secara sengaja lima tahun lalu. Pria yang pasti sangat membencinya setengah mati.
"Kak Raina?" Lio mendekati kakaknya, memegang tangan Raina yang dingin bak es. "Kakak kenapa? Ada yang sakit?" tanya sang adik melihat wajah sang kakak yang begitu pucat.
Raina memandang adiknya yang polos, lalu memandang Mbok Sri yang menatapnya penuh kebingungan. Raina menyadari satu hal yaitu dia tidak bisa lari lagi. Dia tidak punya uang untuk kembali ke desa, obat Lio harus segera dibeli, dan biaya hidup mereka bergantung pada pekerjaan ini.
Raina memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menguasai badai ketakutan yang mengamuk di dalam dadanya. Dia menarik napas panjang, lalu membukanya perlahan.
"Nggak apa-apa, Mbok... Saya cuma agak kaget, belum pernah dengar nama sebagus itu," kilah Raina dengan suara lirih yang dipaksakan tegar.
"Saya... saya siap bekerja kapan saja Mbok Sri minta." tuturnya dengan menyembunyikan rasa gugupnya.
Mbok Sri tersenyum lega. "Oalah, Mbok kira kamu kenapa. Ya sudah, sekarang kamu sama Lio istirahat dulu, merapikan barang-barang. Nanti jam empat sore, kamu ikut Mbok ke dapur utama buat diajari tugas-tugas awal. Tuan Muda biasanya baru pulang kantor jam delapan malam, jadi kamu nggak usah takut ketemu dia hari ini." sahut Mbok Sri.
"Baik, Mbok Sri. Terima kasih banyak," ujar Raina membungkuk hormat.
Setelah Mbok Sri melangkah keluar dan menutup pintu paviliun, Raina terduduk lemas di tepi ranjang busa. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, meratapi suratan takdir yang begitu rumit dan menyiksa.
Dia berada di rumah Noah. Rumah dari pria yang pernah dia tinggalkan dengan alasan keji demi melindunginya. Dan kini, takdir menempatkannya di sini bukan sebagai kekasih, melainkan sebagai seorang pembantu rumah tangga.
"Kak..." bisik Lio pelan, duduk di samping Raina dan merangkul pundak kakaknya.
"Kalau Kak Raina takut atau nggak suka di sini, kita bisa pulang ke desa lagi..." ucap Lio terpotong.
Raina menghapus air mata yang menetes di pipinya, lalu menatap Lio dengan tatapan paling kuat yang dia miliki.
"Nggak, Lio. Kita nggak akan pulang," bisik Raina mantap.
"Kakak bakal bertahan di sini. Demi kamu." seru Raina dengan kuat, dia tidak boleh lemah hanya karena hal ini, yang paling utama sekarang adalah uang, agar Lio bisa berobat dengan tenang.
Raina tahu, mulai detik ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Dia harus bersembunyi di balik bayang-bayang, memastikan sosoknya tidak pernah terlihat oleh mata tajam Noah Raja Rajendra.
Entah bagaimana kehidupannya di rumah megah ini, namun satu yang Raina harap yaitu tidak bertemu dengan Noah, membayangkan Noah melihatnya seperti sekarang ini membuat Raina merasa malu, namun malu demi obat sang adik maka itu sebanding, biarlah Noah membencinya namun tuhan tidak akan tidur, pengorbanannya hanya demi sang adiknya.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
makanya jadi orang jangan digedein s gengsinya...
makan tu gengsi
semangat author yah