Dianggap sampah tanpa bakat. Dikhianati oleh seniornya sendiri. Dan dipaksa menyaksikan kematian sang guru di depan mata.
Hiraisin hanyalah murid terbuang di Sekte Awan Putih yang dianggap tak punya masa depan karena meridian tubuhnya terluka. Namun, di tengah gempuran brutal pasukan Raja Kegelapan, darah Hiraisin menetes di atas hulu pedang patah berkarat—membangunkan rahasia purba yang lama tertidur.
Segel di tubuhnya hancur. Petir dari langit menyambar, membakar meridiannya dan membangkitkan legenda yang telah lama punah: Pedang Kilat.
Kini, dengan luka pengkhianatan di dada dan percikan listrik yang sanggup merobek malam, Hiraisin memulai perjalanan darah. Di hadapannya berdiri jutaan pengikut iblis, para jenderal mengerikan, dan Raja Kegelapan yang menguasai takhta dunia.
Satu tebasan telah lahir. Dan kegelapan tak akan pernah sama lagi.
"Saat dunia dikuasai bayang-bayang, kilat adalah satu-satunya keadilan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astrius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Hati Samudera & Sinergi Petir-Air
Gerbang Kristal Laut yang berdiri di pangkal lorong utama Istana Bawah Air memancarkan pendar kebiruan yang dingin. Di belakang mereka, dentuman keras tak henti-hentinya bergema. Komandan Morvath bersama ribuan prajurit pasang surut Abyss sedang menggempur benteng luar dengan hantaman tentakel beracun dan sihir kegelapan. Dinding-dinding batu karang purba berguncang hebat, menjatuhkan debu-debu kristal yang membiaskan cahaya redup.
"Cepat! Gerbang luar tidak akan bertahan lebih dari lima belas menit!" seru Putri Nerida seraya menancapkan trisulanya ke pusat Altar Runa di hadapan mereka.
Tetesan darah biru emas dari jemari sang putri membasahi ukiran karang purba. Krrrkkk! Lempengan batu kristal seberat puluhan ton meluncur turun, menyegel lorong utama dan mengisolasi mereka secara penuh dari amukan air asam serta tentakel Morvath di luar. Suara kegaduhan mendadak terendam menjadi gumaman samar di balik tebalnya benteng purba.
Namun, kedamaian di balik gerbang itu tidak membawa kelegaan.
Di hadapan Hiraisin, Liora, Putri Nerida, dan Kapten Roderick, membentang sebuah ruang pelataran melingkar yang teramat luas. Dinding-dindingnya terbuat dari Lapis Lazuli Purba berukirkan sejarah penciptaan samudera. Di tengah pelataran, melayang sebuah altar berbentuk bunga teratai air raksasa terbuat dari kristal transparan. Di atas altar tersebut, melayang sebuah belati kristal berukir kilat—pecahan pertama dari Artefak Pedang Kilat Kedua.
Akan tetapi, untuk melangkah mendekati altar tersebut, seseorang harus melintasi sebuah kolam cairan bening berkedalaman tak terhingga yang memancarkan pendar perak meletup-letup.
"Itu adalah Air Hati Samudera," ujar Putri Nerida dengan suara bergetar pelan. Wajahnya yang pucat menyiratkan kecemasan yang mendalam. "Altar ini diciptakan oleh Penguasa Laut Purba untuk menguji siapa pun yang ingin menyentuh warisan kilat. Aeromansi dan Elektromansi adalah dua elemen yang saling menolak jika dipaksakan menyatu tanpa keselarasan batin. Siapa pun yang melangkahkan kaki ke dalamnya tanpa keheningan jiwa akan dihancurkan oleh tekanan batin jutaan atmosfer lautan."
Kapten Roderick melangkah mendekat, namun baru tiga langkah berjalan, aura perak dari kolam itu menyengatnya hingga ia terdorong mundur dengan wajah meringis kesakitan. "Tekanan batinnya... teramat sangat pekat! Seperti ada gunung batu yang mendadak ditumpuk di atas dada!"
"Biar aku yang maju," pangkas Hiraisin tegas.
"Tunggu, Hiraisin," panggil Liora cepat. Tangannya terulur menahan lengan baju Hiraisin. "Sifat petirmu sangat liar dan destruktif. Di dalam Air Hati Samudera, petir yang mengamuk justru akan berbalik menghancurkan meridian tubuhmu sendiri. Sifat konduktif air purba ini seribu kali lebih pekat daripada air biasa."
Hiraisin menatap Liora, lalu menatap Pedang Kilat Purba di punggungnya yang terus bergetar hebat merespons keberadaan Artefak Kedua. "Morvath akan menembus gerbang itu dalam hitungan menit, Liora. Kita tidak punya pilihan lain. Jika kita gagal mengambil pecahan ini, seluruh Suku Duyung Kelam dan wilayah perairan ini akan runtuh."
"Kalau begitu, aku ikut bertarung bersamamu di dalam ujian itu," balas Liora tanpa ragu sedikit pun. Matanya menatap lurus ke dalam sepasang mata Hiraisin dengan keteguhan yang mutlak. "Air butuh Petir untuk memberi kehidupan, dan Petir butuh Air agar tidak membakar dirinya sendiri. Kita hadapi ujian ini bersama."
Putri Nerida terpana menatap kedua manusia daratan tersebut. Tanpa mengulur waktu lebih lama, Hiraisin dan Liora melangkah berdampingan, melompati tepi pelataran dan menjejakkan kaki mereka tepat di atas permukaan Air Hati Samudera.
BYUURRRRRR!
Seketika itu juga, alam realitas di sekitar mereka sirna.
Sensasi jatuh meluncur ke dalam kegelapan abadi menghantam kesadaran Hiraisin dan Liora. Mereka kini berdiri di dalam sebuah dimensi ilusi spiritual—sebuah lautan tanpa dasar di mana langit dan samuderanya menyatu dalam warna hitam keemasan.
CRACKLEEE!
Secara refleks, Qi Petir Purba di dalam tubuh Hiraisin bergejolak hebat untuk melindungi dirinya dari tekanan batin dimensi tersebut. Petir ungu keemasan menyembur keluar dari pores-pores kulitnya. Namun, alih-alih melindunginya, petir itu langsung menyebar liar di permukaan air spiritual, menghantar balik arus listrik raksasa yang merusak meridian vital Hiraisin sendiri!
"Arghhh!" Hiraisin mengerang kesakitan, berlutut di atas air ilusi seraya memegang dadanya. Mulutnya memercikkan darah segar. Petirnya sendiri memakan tuannya dari dalam!
"Hiraisin! Tenangkan pikiranmu!" jerit Liora.
Gadis tabib itu berlutut di samping Hiraisin. Namun, Liora tidak menggunakan sihir ofensif. Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, dan mengalirkan Qi Seroja Air yang teramat sangat tenang dari Inti Kehidupannya.
Cahaya hijau seroja memancar dari telapak tangan Liora, menyelimuti tubuh Hiraisin. Alih-alih membendung petir Hiraisin yang liar, energi Liora bertindak bagaikan jaring sutra yang lembut, menyerap setiap rambatan kilat yang mengamuk dan mengalirkannya secara perlahan mengitari aliran darah mereka.
"Jangan dilawan, Hiraisin," bisik Liora lembut di dekat telinga Hiraisin, suaranya menjadi penuntun di tengah amukan badai batin. "Petirmu selama ini hanya tahu cara menghancurkan dan menembus. Tetapi air tidak bisa dihancurkan dengan tebasan. Air hanya bisa dialiri. Biarkan petirmu menjadi arus yang mengalir mengikuti bentuk airku."
Hiraisin memejamkan matanya rapat-rapat. Di dalam kegelapan batinnya, ia mencoba menghentikan dorongan untuk mengendalikan petirnya dengan kekerasan tenaga batin. Ia melepaskan kepalan tangannya, membiarkan Qi Petirnya mengalir bebas berpadu dengan Qi Seroja milik Liora.
Di dalam dimensi spiritual itu, sebuah pemahaman baru (enlightenment) merekah melintasi benak Hiraisin.
Petir bukanlah pemisah air, melainkan energi yang memberi kehangatan pada dinginnya samudera. Ketika petir menyatu dengan air secara selaras, air tidak lagi menjadi penghambat, melainkan menjadi media penghantar berdaya jangkau tanpa batas!
HUMMMMMM!
Kilatan petir ungu keemasan di tubuh Hiraisin perlahan berubah warna. Warna ungunya memudar, berganti menjadi warna emas murni yang bersinar sangat jernih bercampur pusaran hijau seroja milik Liora. Arus listrik liar yang tadinya merusak meridian Hiraisin kini mengalir sangat halus, menari-nari di atas kulit mereka berdua tanpa melukai selembar benang pun!
Inilah puncak dari Sinergi Petir-Air!
Di luar dimensi ilusi, Putri Nerida dan Kapten Roderick menyaksikan pemandangan yang amat menakjubkan. Tubuh Hiraisin dan Liora yang terbaring melayang di atas kolam kristal mendadak diselimuti oleh aura pusaran teratai air keemasan.
BOOOOOOM!
Tekanan batin yang dahsyat dari Air Hati Samudera mendadak jinak. Permukaan kolam bergolak pelan, membentuk pijakan tangga-tangga kristal air yang membimbing langkah Hiraisin dan Liora naik menuju Altar Teratai Purba.
Kedua mata Hiraisin terbuka perlahan. Cahaya emas meletup-letup jernih di dalam pupil matanya. Tanpa ragu sedikit pun, Hiraisin mengulurkan tangannya dan menggenggam belati pecahan Artefak Pedang Kilat Kedua.
SZSSSH-FLASH!
Pecahan belati itu meleleh menjadi cairan emas murni, meluncur cepat menyerap ke dalam bilah Pedang Kilat Purba di punggung Hiraisin! Pola ukiran Runa di sarung pedangnya bertambah rumit, dan aura kekuatannya meledak melipatgandakan tenaga batin Hiraisin hingga mencapai puncaknya!
Namun, tepat saat kejayaan itu tercapai—
KRRRRRRRAK-BOOOOM!
Gerbang Kristal Laut di belakang mereka hancur berkeping-keping menjadi abu!
Semburan air asam hitam bercampur api raksasa meluas membakar pelataran. Dari balik asap tebal, Komandan Morvath melangkah masuk dengan delapan tentakelnya yang memegang senjata hitam, diikuti oleh Tetua Vaelen yang tersenyum licik.
"Hahaha! Terima kasih telah membukakan jalan menuju Artefak Purba ini, Bocah!" raung Morvath seraya menghempaskan dua tentakel raksasanya menerjang ke arah pelataran. "Sekarang, serahkan pedang itu dan matilah bersama suku duyung ini!"
Tentakel beracun seberat puluhan ton meluncur membelah udara dengan kecepatan luar biasa.
Namun, Hiraisin bahkan tidak berpaling secara penuh. Ia hanya menoleh sedikit, memegang gagang Pedang Kilat Purba-nya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menggenggam jemari Liora.
"Liora," bisik Hiraisin pelan.
"Lakukan," jawab Liora seraya mengalirkan Qi Seroja Air ke dalam lengan Hiraisin.
Hiraisin menarik pedangnya setengah inci dari sarungnya.
"Jurus Sinergi Kilat Samudera: Seroja Petir Emas!"
FLASH-BYUURRRRRR!
Bukan sekadar tebasan petir lurus yang tercipta, melainkan sebuah pusaran ombak air purba berbalut triliunan benang kilat emas yang meledak memenuhi seluruh pelataran! Ombak petir emas itu merambat secara ajaib mengikuti molekul udara dan air di dalam ruangan, membungkus kedelapan tentakel Morvath seketika!
"APA-APAAN ENERGI INI?!" jerit Morvath histeris saat merasakan tenaga batin Abyss di dalam tubuhnya mendadak lumpuh total tersengat arus penyucian yang mengalir melalui air!
CRACK-CRACK-BOOM!
Delapan tentakel Morvath hancur meledak menjadi abu hitam sekaligus! Raungan kesakitan Komandan Pasukan Abyss itu bergema memenuhi seluruh aula Istana Bawah Air.
Hiraisin berdiri tegap di atas Altar Teratai, mengarahkan bilah pedangnya yang kini berbinar emas murni tepat ke dada Morvath yang bersimbah darah kegelapan.
"Ujian kami sudah selesai, Morvath," ucap Hiraisin dengan nada dingin yang menggetarkan jiwa. "Sekarang, giliranmu menghadapi pembalasan samudera."