Diusir ke jalanan di tengah badai hujan bersama sepasang anak kembarnya yang menangis kelaparan, hidup Jiang Muchen hancur berkeping-keping saat istrinya memilih pergi demi gemerlap harta seorang tuan muda kaya.
Namun, tepat ketika keputusasaan nyaris menelan kewarasannya, "Sistem Ayah Super Tajir" tiba-tiba aktif, mengubah takdirnya dalam semalam dengan menjanjikan kekayaan tak terhingga hanya lewat satu syarat mutlak: membahagiakan anak-anaknya.
Kini, dengan kekuatan finansial yang perlahan mampu menggenggam ekonomi seluruh Kota Jiangcheng, Jiang Muchen bersumpah untuk membangun surga dunia bagi putra-putrinya, Zihan dan Ziyue, sembari memastikan siapa pun yang pernah menginjak-injak harga diri keluarganya... terutama sang mantan istri akan berlutut dalam penyesalan yang terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Brak.
Sebelum Wei Zixuan bisa melanjutkan ocehannya, sebuah telapak tangan besar tiba-tiba mencengkeram bahunya dari belakang. Cengkeraman itu begitu kuat hingga Wei Zixuan merasa tulang selangkanya mau patah.
Dia menoleh dengan marah, hanya untuk menemukan Jiang Muchen menatapnya dengan pandangan absolut yang kosong.
"Kau bilang ingin membeli sekolah ini?" tanya Jiang Muchen datar, suaranya sangat pelan namun terdengar jelas di telinga Wei Zixuan seperti bisikan iblis.
"Lepaskan tanganmu, gembel! Pengawal! Patahkan tangan pria ini!" teriak Wei Zixuan kesakitan.
Empat pengawal Keluarga Wei langsung mencabut tongkat baton mereka dan bersiap menerjang.
Ding.
[Peringatan Sistem: Mendeteksi provokasi dari faksi luar tingkat provinsi. Martabat Ayah Super Tajir sedang diuji.]
[Misi Sampingan: Beri pelajaran telak pada pewaris konglomerat provinsi tanpa menyentuhnya, tunjukkan skala kekuasaan absolut Host.]
[Reward Misi: Keterampilan Peretasan Tingkat Dewa dan Akses ke Jaringan Intelijen Global.]
Jiang Muchen melepaskan bahu Wei Zixuan dengan kasar hingga pemuda itu terhuyung mundur ke pelukan pengawalnya.
Aura Ketenangan Mutlak yang dipancarkan Jiang Muchen tiba-tiba meledak tanpa wujud fisik. Tekanan udara di ruangan itu seolah bertambah puluhan kali lipat. Empat pengawal terlatih itu mendadak kesulitan bernapas, lutut mereka gemetar, dan insting bertahan hidup mereka berteriak untuk mundur dari pria berpakaian putih ini.
"Kau beruntung hari ini adalah hari bahagia untuk putriku. Aku tidak ingin darah mengotori lantai tempat lukisannya dipajang," ucap Jiang Muchen dengan nada yang mendengung di kepala semua orang.
Jiang Muchen mengeluarkan ponselnya, lalu menekan sebuah nomor panggilan cepat ke markas Grup Naga Hitam. Panggilan itu langsung diangkat pada dering pertama oleh Direktur Wang.
"Direktur Wang. Grup Wei dari ibukota provinsi, apakah mereka memiliki proyek gabungan atau suplai yang bergantung pada jaringan kita?" tanya Jiang Muchen.
Di seberang sana, Direktur Wang segera merespons. "Bos Besar, Grup Wei baru saja memenangkan tender pembangunan pelabuhan provinsi. Mereka sangat bergantung pada suplai baja khusus dari pabrik manufaktur kita."
"Bekukan suplainya. Beli semua material baja khusus di pasar provinsi dengan harga dua kali lipat. Pastikan Grup Wei tidak mendapatkan satu batang besi pun mulai siang ini. Buat proyek pelabuhan mereka terhenti total."
"Dilaksanakan, Bos Besar! Skala ini akan memakan biaya puluhan miliar Yuan, tapi dengan dana Anda, Grup Wei akan berdarah-darah sore ini!"
Jiang Muchen menutup teleponnya dan memasukkannya kembali ke saku. Dia menatap Wei Zixuan yang sedang tertawa sinis.
"Kau menelepon siapa? Sutradara film? Kau pikir kau bisa menghentikan proyek pelabuhan raksasa keluargaku hanya dengan satu telepon? Dasar orang gila, pengawal, habisi dia!"
Namun, sebelum para pengawal itu bisa bergerak, ponsel di saku jas Wei Zixuan berdering dengan nada darurat yang sangat keras.
Pemuda itu mengambil ponselnya dengan kesal. Saat melihat nama ayahnya di layar, dia segera mengangkatnya.
"Ayah? Ada apa? Aku sedang mengurus beberapa orang bodoh di Jiangcheng."
"Zixuan! Anak durhaka! Apa yang kau lakukan di Jiangcheng?! Siapa yang baru saja kau singgung?!" Suara raungan dari ujung telepon itu begitu keras hingga terdengar ke luar.
Wei Zixuan tertegun. "A-apa maksud Ayah? Aku tidak melakukan apa-apa."
"Tidak melakukan apa-apa?! Seluruh suplai baja untuk mega proyek pelabuhan kita baru saja diblokir! Ada seseorang dengan kekuatan finansial yang tidak terbatas memborong seluruh pasar material di provinsi untuk memutus rantai pasokan kita! Jika proyek ini terhenti satu minggu saja, Grup Wei akan hancur lebur! Lawan kita meninggalkan pesan bahwa ini adalah hukuman karena kau menyinggung lukisan putrinya di sebuah sekolah!"
Krak.
Ponsel di tangan Wei Zixuan jatuh membentur lantai marmer. Wajah pemuda yang tadinya merah padam karena kesombongan itu kini sepucat kertas putih. Dia menatap kanvas lukisan anak-anak di depannya, lalu menatap perlahan ke arah Jiang Muchen.
Pria berpakaian kemeja putih sederhana ini... dia baru saja mencekik urat nadi konglomerat tingkat provinsi hanya karena sebuah lukisan TK?!
Lutut Wei Zixuan kehilangan tenaga. Dia jatuh terduduk dengan bunyi debuk yang keras, persis di depan lukisan Ziyue.
"T-Tuan... m-maafkan saya... saya memiliki mata tapi tidak bisa melihat Gunung Tai. Tolong ampuni Keluarga Wei... saya bersujud pada putri Anda..." Wei Zixuan tergagap, air mata ketakutan mulai mengalir saat dia benar-benar menempelkan dahinya ke lantai pameran yang dingin itu.
Para orang tua murid dan guru-guru yang menonton menahan napas dalam keheningan yang mencekam. Su Qingxue tersenyum dingin, sementara Shen Yueru menatap Jiang Muchen dengan pandangan takjub yang nyaris seperti memuja dewa.
Jiang Muchen tidak mempedulikan pemuda yang sedang bersujud itu. Dia berjongkok kembali dan memeluk Ziyue yang kebingungan melihat paman berbaju merah itu tiba-tiba menangis di lantai.
"Ziyue, lukisanmu adalah yang terbaik. Ayah akan membingkainya dengan emas dan memasangnya di ruang tamu Vila Raja," bisik Jiang Muchen lembut.
Di dalam benaknya, suara sistem kembali berbunyi, menandakan bahwa sang raja Jiangcheng baru saja melebarkan sayap kekuasaannya ke tingkat yang jauh lebih menakutkan.