NovelToon NovelToon
HABISNYA CINTA SUAMIKU

HABISNYA CINTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Duda
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.

​Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.

​Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HABISNYA CINTA SUAMIKU

​Suasana ruang makan kediaman besar keluarga Gema masih riuh rendah setelah sesi doa bersama usai. Meja makan kayu mahoni yang panjang dipenuhi berbagai hidangan prasmanan, mulai dari makanan berat hingga deretan kue-kue cantik kiriman dari Lumiere Bakehouse. Tamu-tamu sibuk mengambil hidangan dan saling bertukar sapa, menciptakan keriuhan hangat khas acara keluarga besar.

​Di sudut meja prasmanan hidangan penutup, Alana berdiri tenang seraya merapikan posisi piring-piring kecil dan garpu garpu kue. Wajahnya dipoles riasan tipis yang sangat anggun. Tidak ada guratan dendam atau emosi berlebih di raut mukanya ia hanya bertindak sebagai tuan rumah yang bertanggung jawab memastikan semua katering dari tokonya tersaji dengan sempurna.

​"Wah, sibuk banget ya, Mbak," sebuah suara bernada miring tiba-tiba memecah fokus Alana dari samping.

​Alana menoleh pelan. Risa adik perempuan Gema berdiri di sana dengan melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap Alana dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang sarat akan rasa tidak suka.

​"Ada yang bisa saya bantu, Risa?" tanya Alana sangat santai dan formal.

​Risa terkekeh sinis, menggeser posisinya hingga berdiri agak membelakangi kerumunan tamu. "Masih aja dipanggil Risa, ya? Padahal sudah bertahun-tahun jadi ipar. Tapi ya mau bagaimana lagi, posisi Mbak di rumah ini kan memang agak serba salah dari awal."

​Alana tidak membalas. Ia hanya mengambil selembar tisu dapur, mengelap tepi meja yang sedikit terkena tetesan krim kue tanpa mengalihkan perhatian pada provokasi Risa.

​Melihat respons dingin Alana, Risa makin tersulut. Ia mendekat satu langkah dan berbisik ketus. "MbakAlana sadar tidak sih, seberapa pun kerasnya Mbak mencoba sok karier atau pegang acara keluarga seperti ini, Mbak itu cuma pengganti? Rumah ini, Mas Gema, bahkan posisi Mbak sekarang... semuanya itu milik almarhumah Mbak Kirana. Mbak itu cuma numpang di atas bayang-bayang kakak kandung Mbak sendiri."

​Alana menghentikan gerakan tangannya. Ia merapikan tisunya, lalu perlahan menatap Risa lurus-lurus. Tidak ada mata memerah, tidak ada helaan napas emosional. Pandangan mata Alana begitu jernih, tajam, dan amat dingin.

​"Risa," panggil Alana dengan nada suara yang sangat teratur dan jernih. "Kamu tahu persis, saya tidak pernah mengemis atau meminta pada siapa pun untuk berada di posisi ini. Saya tidak pernah meminta almarhumah Mbak Kirana menulis surat wasiat atau memohon agar saya menikahi Mas Gema."

​Risa tertegun sejenak, terkejut mendengar ucapan Alana yang begitu lurus menohok tanpa keraguan sedikit pun.

​"Pernikahan ini terjadi karena keinginan keluarga dan kepatuhan saya di masa lalu," lanjut Alana tenang, suaranya pelan namun penuh penekanan. "Bukan karena saya mengincar harta, posisi, atau pria yang kamu agung-agungkan itu. Jadi stop berbicara seolah-olah saya adalah wanita menyedihkan yang mengambil hak milik orang lain."

​"M-Mbak kok bicaranya gitu?!" gagap Risa, wajahnya memerah karena malu dan kesal. "Mbak itu harusnya sadar diri"

​"Sadar diri tentang apa?" potong Alana cepat. "Tentang fakta bahwa kalian selalu membandingkan saya dengan orang yang sudah meninggal? Risa, dengarkan baik-baik. Kalau memang menurut kamu dan keluarga ini saya tidak sejajar atau tidak pantas berada di lingkungan kalian, itu sama sekali bukan masalah buat saya."

​Alana memiringkan kepalanya sedikit, menyunggingkan senyum amat tipis yang memancarkan ketegasan mutlak.

​"Jujur saja... saya jauh lebih nyaman kalau kita menyikapi hubungan ini seperti orang asing saja," tegas Alana. "Menjadi orang asing yang saling menghormati batas jauh lebih menenangkan daripada pura-pura kenal dan akrab tapi ujung-ujungnya saling menanam racun. Mulai sekarang, anggap saja saya orang luar yang kebetulan hanya mengurus Tania. Itu akan jauh lebih memudahkan hidup kamu dan hidup saya."

​Risa membeku di tempatnya. Bibirnya terkunci rapat. Ia biasanya selalu berhasil membuat Alana menunduk merasa bersalah atau diam seribu bahasa, tetapi Alana yang berdiri di depannya hari ini bagaikan sosok asing berarmor baja yang tak bisa disentuh oleh kata-katanya.

​Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut dari Risa yang masih melongo menahan kekesalan di dadanya, Alana memutar tubuhnya dan melangkah pergi dengan gerakan anggun dan tenang. Ia membiarkan Risa berdiri sendirian di sudut meja prasmanan dengan rasa tengsin yang membakar.

​Alana berjalan menuju koridor belakang yang lebih sepi, menjauh dari riuk-piuk ruang makan. Ia menyandarkan punggungnya sejenak pada dinding marmer yang dingin, menarik napas panjang untuk menyegarkan paru-parunya dari hawa sesak acara keluarga tersebut.

​"Bu Alana..."

​Sebuah panggilan lembut menyapa pendengarannya. Maya asisten sekaligus kepala kokinya di Lumiere Bakehouse berjalan mendekat seraya celingukan memastikan situasi di sekitar mereka aman.

​Alana menegakkan tubuhnya dan mengulas senyum tulus. "Eh, Maya. Kenapa? Ada kendala di meja katering depan?"

​"Enggak ada kok, Bu. Semuanya aman banget, tamu-tamu malah pada memuji kue sus dan puding mangga buatan kita," jawab Maya penuh semangat. Namun, raut wajahnya kemudian berubah menjadi sedikit ragu dan penuh kehati-hatian.

​Maya merogoh saku blazernya dan mengeluarkan selembar brosur tebal berdesain elegan.

​"Anu, Bu... saya sebenarnya dari tadi mau kasih ini ke Bu Alana," cicit Maya seraya menyodorkan selebaran tersebut.

​Alana menerima selebaran itu dan memperhatikannya. Brosur itu dicetak di atas kertas matte berkualitas tinggi dengan tulisan kaligrafi simpel yang sangat indah. Di sana tertera judul sebuah acara: Seminar & Kajian Privat.

Menyembuhkan Jiwa dan Menemukan Kedamaian dalam Ketetapan-Nya.

​"Ini... kajian Islam?" tanya Alana pelan, membaca detail acara yang hanya diperuntukkan bagi peserta terbatas di sebuah ruang serbaguna hotel berbintang besok pagi.

​"Iya, Bu," terang Maya dengan pendar mata hangat. "Ini kajian privat, Bu. Pembicaranya ustadzah senior dari Madinah dan pesertanya dibatasi cuma lima puluh orang supaya suasananya benar-benar tenang dan mendalam. Pengisi acara fokus membahas soal ikhlas, melepaskan beban hidup, dan bagaimana merawat jiwa yang lelah."

​Maya menatap Alana dengan penuh rasa simpati yang jujur sebuah simpati yang disampaikan tanpa terkesan mengasihani.

​"Kebetulan besok pagi saya mau ikut, Bu," tambah Maya seraya merogoh sakunya lagi dan menunjukkan dua buah tiket fisik berdesain eksklusif. "Saya punya dua tiket. Satu lagi tadinya mau saya kasih ke sepupu saya, tapi tiba-tiba dia ada acara mendadak besok. Kalau Bu Alana mau dan ada waktu... besok kita bisa datang bareng."

​Alana menatap lembaran brosur di tangannya, lalu beralih menatap tiket yang dipegang Maya. Ada desir halus yang hangat mengalir di dalam dadanya. Di tengah kepungan kerabat yang selalu menuntut dan menilai fisiknya, kebaikan sederhana dari asistennya ini terasa bagaikan oase di tengah gurun pasir.

​"Besok hari Minggu, kan?" gumam Alana lirih.

​"Iya, Bu. Jam sembilan pagi," sahut Maya cepat. "Tenang saja, untuk toko kue besok pagi sudah saya atur jadwal shift anak-anak. Bu Alana tidak perlu kepikiran pekerjaan dulu. Sesekali Bu Alana butuh ruang untuk bernapas dan isi energi buat diri sendiri."

​Alana menyentuh permukaan brosur tersebut dengan ibu jarinya. Kalimat Menyembuhkan Jiwa dan Menemukan Kedamaian seolah sedang berbicara langsung pada relung hatinya yang paling dalam. Setelah bertahun-tahun bertahan di tengah dinginnya rumah tangga dan tekanan keluarga, sebuah ruang tenang khusus untuk mengisi jiwanya memang adalah hal yang paling ia butuhkan saat ini.

​Sebuah senyuman tulus yang sangat hangat terbit di wajah Alana.

​"Terima kasih banyak ya, Maya," ucap Alana penuh rasa syukur, menatap mata asistennya itu. "Saya mau. Besok pagi kita berangkat bareng dari toko ya."

​"Alhamdulillah!" seru Maya gembira dengan suara ditahan. "Siap, Bu Alana. Besok saya jemput atau kita ketemu di toko jam delapan pagi."

​Alana mengangguk pelan, menggenggam brosur itu dengan erat. Di tengah keriuhan rumah mertuanya yang terasa begitu asing dan menekan, Alana akhirnya menemukan satu pijakan kecil untuk melangkah menuju kedamaian hidupnya sendiri.

1
Ma Em
Bagus Alana keputusan Alana sdh benar jgn menyiksa diri sendiri hanya untuk membahagiakan orang lain lbh baik Alana cari kebahagiaan Alana sendiri , semoga Alana dapat pengganti gema lelaki baik yg mencintai dan menyayangi Alana 🤲🤲.
Arieee
mantap alana💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
Sri Widiyarti
nyesek banget Alana 😭 semoga author kasih pasangan hidup yang memuliakan Alana ...
Zhafran Althaf
good job alana
Lee Mba Young
eleh paling nnti juga balikan🤣. soale yg bucin Alana nya nnti dng alasan Tania pasti balikan.
Chintya Ananda
bagus alana pergilah dan raihlah kebahagiaanmu...lanjut thor💪💪
Lee Mba Young: nnti pling juga balikan, biasanya bgitu sih 🤣.
total 1 replies
sutiasih kasih
telatttt gema....
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
sutiasih kasih
bukan tiba" dodol.....
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
sutiasih kasih
keren g tuh......
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
Elina thea
akhirnya Alana membuat keputusan yg benar👍... please Alana setelah ini kamu harus lebih berani kalo di rendahkan ibumu atau orang lain,jangan mudah luluh sampai rujuk lagi kayak cerita kebanyakan yah...
Susi Susanti: ini judul nya mesti di balik🤭
total 1 replies
Elina thea
memang mikirnya harusnya kesana alana...buat apa mempertahankan pernikahan dgn alasan anak kalo diri sendiri udah sakit,sakit secara fisik masih bisa ke dokter untuk bisa sembuh...tapi batin dan jiwa yg sakit,sekalipun bibir berucap sudah ikhlas dan memberikan kesempatan kedua belum tentu bisa sembuh meski dalam waktu yg panjang,karna sakit batin yg tidak terlihat justru akan slalu di ingat dan akan jadi bayangan di dalam pernikahan...
Sri Widiyarti
Ya Allah terbayang diposisi Alana 😭😭😭
Arieee
menguras emosi💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
sutiasih kasih
pdahal alana bukan perempuan biasa lho....
dia perempuan mandiri... sukses & hatinya baik...
tpi memang org" di skitrnya bneran buta mata dan hatinya....
sutiasih kasih: suka heran dgn mereka...
ap lgi ibunya Alana tuh.... g tau malu... minta uang buat selametan kirana... tpi mulutnya paling pintar mncaci dan merendhkn Alana....
kpan sih ibunya Alana kena stroke🙄🙄
total 2 replies
sutiasih kasih
kpan ibu durjananya kena stroke🤔🤔
sutiasih kasih
mau km tebus pke apa.... luks hati istrimu slm ber tahun lamanya....
blcak areng
terima kasih kakak 🙏
Sri Widiyarti
menjadi asing ditengah keramaian Allah nyesek banget Alana semoga kak author kasih pasangan hidup yg memuliakan Alana ..
Sri Widiyarti
dah tinggalin aja Alana kamu berhak bahagia...
Agunk Setyawan
othor love you♥️🥰🥰 novelnya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!