NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Raven Ayu

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, Laras dicampakkan dalam semalam setelah putri kandung mereka, Tiara, ditemukan lewat tes DNA. Ketika Tiara menolak menikahi “duda tua beranak tiga dari kampung”, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi menjaga nama baik.
Di desa asing itu, Laras menghadapi seorang lelaki dingin bernama Arya dan tiga anak yatim yang kurus serta waspada. Semua orang mengira ia telah menikah turun derajat dan hanya bisa pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu bahwa Arya sebenarnya adalah mantan perwira Kopassus yang disegani para jenderal sekaligus konglomerat yang menyamar sebagai peternak sapi. Pria yang katanya dingin itu justru memanjakan Laras setiap hari lewat tindakannya, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik hidupnya. Ia membesarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius, membuat orang-orang yang pernah meremehkannya menelan hinaan mereka sendiri, dan bangkit dari “ibu tiri kampungan” menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Namun Tiara belum menyerah merebut apa yang dianggap seharusnya menjadi miliknya. Di saat yang sama, rahasia asal-usul ketiga anak itu mulai terungkap: mereka membawa darah keluarga konglomerat Adiwangsa.
"Kamu menikahiku karena terpaksa," kata Arya. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27: Karma untuk Bik Inah

Seminggu setelah Bayu memanggilku Bunda, kami menerima panggilan dari polsek.

Laporan terhadap Bik Inah sudah dilengkapi. Aku dan Arya diminta datang bersama Pak Kades untuk mengonfirmasi daftar barang, rekam medis lukaku, serta keterangan saksi.

Raka dan Bayu tidak dibawa ke ruang pemeriksaan utama. Polisi anak berbicara kepada mereka sebentar di ruangan terpisah dengan pendamping orang dewasa, lalu mencocokkan cerita mereka dengan kesaksian Bu Sumi, Pak RT, dan tetangga yang melihat emas berhamburan di halaman.

Tak ada satu pun versi yang bertentangan.

Duplikat kunci cocok dengan pintu rumah. Foto jejak tanah menunjukkan jalur dari tangga ke kamar. Kotak emas masih mencantumkan namaku, sedangkan satu gelang ditemukan di dekat buku Raka sesuai penjelasanku tentang percobaan menjebaknya. Tas robek dan rekaman foto warga melengkapi semuanya.

Bik Inah tetap menyangkal.

“Saya hanya mengambil upah yang tidak dibayar,” katanya di hadapan petugas.

Arya menyerahkan catatan transfer gaji. Semua bulan tercatat lunas sampai hari pemecatan.

“Lalu luka di kepala istri Pak Arya?” tanya polisi.

“Dia jatuh sendiri.”

“Enam saksi melihat Ibu lari membawa tas. Dua anak melihat dorongan. Rekam medis mencatat benturan di kusen sesuai lokasi.”

Bik Inah mengganti cerita. Kali ini dia mengaku hanya hendak meminjam emas untuk kebutuhan mendesak, tetapi panik karena aku memfitnahnya.

“Kalau meminjam, kenapa masuk dengan kunci rahasia dan menyembunyikan gelang di buku anak?” tanyaku.

Dia menunjukku. “Perempuan ini sengaja menjebak saya supaya terlihat sebagai ibu yang baik. Dia cuma ibu tiri!”

Pak Kades menghela napas. “Seluruh desa melihat kamu membawa barang itu. Jangan salahkan status orang lain atas perbuatanmu.”

Petugas menjelaskan bahwa perkara akan dilanjutkan berdasarkan dugaan masuk tanpa izin, pencurian, kekerasan, dan upaya memberikan keterangan palsu. Penahanan serta langkah berikutnya ditentukan penyidik sesuai bukti dan prosedur, bukan oleh teriakan warga.

“Apakah Ibu ingin mediasi?” tanya petugas kepadaku.

Aku melihat Arya sebelum menjawab. Pada kasus pertama, dia memilih tidak melapor karena mengenang bantuan Bik Inah kepada Almira. Kesempatan itu justru dipakai perempuan tersebut untuk kembali membawa kunci palsu dan menyerang kami.

“Saya tidak menuntut lebih dari yang ditentukan hukum,” kataku. “Tapi saya juga tidak menarik laporan. Ada anak-anak yang hampir dijadikan tersangka.”

Arya mengangguk. “Kami mengikuti proses.”

Bik Inah mulai menangis dan menyebut tahun-tahun pengabdiannya. Kali ini Pak Kades tidak membujuk kami berdamai. Dia mengingatkan bahwa desa sudah memberinya jalan keluar tanpa pengembalian uang saat pemecatan pertama.

“Kamu diberi kesempatan pergi baik-baik,” katanya. “Kamu sendiri yang kembali membawa kunci dan kebencian.”

Petugas memasukkan pernyataan itu sebagai konteks, lalu mengingatkan semua pihak agar tidak menghakimi di luar proses penyidikan.

Kami menandatangani berita acara, menerima salinan daftar barang, lalu pulang tanpa meminta hukuman tambahan.

Di luar polsek, beberapa warga Rejosari sudah menunggu Pak Kades. Kabar menyebar lebih cepat daripada surat resmi.

“Dulu saya kasihan waktu dia dipecat,” kata seorang ibu. “Ternyata masih kembali mencuri.”

“Anak yatim hendak dijadikan kambing hitam,” sahut yang lain. “Keterlaluan.”

Omongan yang dulu dipakai Bik Inah untuk menekan anak-anak kini berbalik menutup semua tempat persembunyiannya.

Saat kami tiba di rumah, sebuah motor matic terparkir di dekat pagar. Seorang perempuan berkerudung rapi duduk di teras sambil berbicara dengan Bayu. Wajahnya memiliki kemiripan dengan Arya di bagian mata.

“Kak Arya,” sapanya begitu melihat kami. “Kenapa baru bilang ada masalah sebesar ini?”

Arya berhenti. “Wati.”

Dia memeluk adiknya singkat. “Dari mana kamu tahu?”

“Grup keluarga. Bibi dari Semarang dapat kabar dari orang Rejosari.”

“Kenapa tidak menelepon dulu?”

“Kalau menelepon, Kakak pasti bilang tidak perlu datang.”

“Memang tidak perlu.”

Wati memukul ringan lengan kakaknya. “Masih saja dingin. Aku datang karena khawatir, bukan mau meminta apa-apa.”

Kalimat terakhir keluar padahal tak seorang pun menuduhnya. Aku menyimpannya dalam ingatan.

Adik kandungnya berdiri dan memeluk kakaknya, lalu berganti memelukku seolah kami sudah lama dekat.

“Mbak Laras, aku dengar kepalamu sampai berdarah. Ya ampun, pasti sakit sekali.”

“Sudah sembuh.”

“Aku ingin datang dari kemarin, tapi Sofyan banyak urusan.”

Dia membawa buah, biskuit untuk anak-anak, dan senyum yang sangat mudah disukai. Namun ketika kami masuk, matanya memeriksa ruang tamu, tangga, serta lemari tempat buku pesanan disimpan.

Bayu membawa biskuit ke meja, lalu memperkenalkanku dengan bangga. “Ini Bunda.”

Wati berkedip. “Sudah panggil Bunda sekarang?”

“Aku duluan. Sasa bilang Un-da. Kak Raka belum.”

Raka yang baru turun tangga menatap adiknya tajam. “Tidak perlu melaporkan semuanya.”

Wati tertawa, tetapi matanya mengamatiku lebih lama. “Hebat juga, baru sebentar sudah membuat anak-anak lengket.”

Pujian itu terdengar manis. Entah kenapa, pilihan kata membuatku merasa sedang dinilai dari seberapa cepat aku menguasai sesuatu.

“Rumah Kak Arya sekarang hidup sekali,” katanya. “Dulu kalau aku datang seperti barak.”

“Karena ada anak-anak,” jawab Arya.

“Dan istri pintar.” Wati menepuk lenganku. “Katanya Mbak juga mulai jualan rendang?”

Berita itu rupanya sudah sampai kepadanya.

Aku menyajikan teh dan sisa rendang untuk makan siang. Wati mencicipi satu potong, lalu langsung meminta tambah.

“Ini benar-benar enak. Pantas ramai. Pesanan sehari berapa?”

“Belum setiap hari. Saya batasi sesuai kemampuan.”

“Untungnya lumayan?”

“Masih tahap uji coba.”

Dia mengangguk, tetapi pandangannya bergerak ke buku yang berisi daftar pembayaran. “Kalau dikerjakan lebih besar, bisa masuk kota. Sofyan kenal banyak pemilik warung.”

“Nanti kalau sudah siap.”

“Modal bukan masalah. Kak Arya punya uang, aku punya jaringan. Mbak tinggal masak.”

“Kalau bisnisnya berkembang, pembagian kerja dan modal harus tertulis.”

Wati tertawa keras. “Dengan adik sendiri juga pakai perjanjian?”

Arya yang duduk di ruang makan mengangkat wajah. “Harus.”

Senyum Wati sempat hilang sebelum kembali. “Aku cuma bercanda.”

“Aku bisa bantu promosi. Keluarga sendiri tidak perlu terlalu resmi.”

Kalimat terakhir membuatku teringat Paman Karto.

Wati lalu berkeliling dapur dengan alasan ingin membantu mencuci wadah. Dia membuka lemari bumbu, menanyakan merek santan, dan mengangkat satu botol rempah yang tidak berlabel.

“Apa ini?”

“Campuran bumbu.”

“Campurannya apa saja?”

“Banyak.”

Dia tertawa. “Mbak pelit rahasia, ya.”

“Saya bahkan belum selesai membakukan resep.”

Wati mengembalikan botol, tetapi tidak ke tempat semula. Aku memindahkannya kembali setelah dia pergi dari dapur.

Menjelang sore, Wati bersiap pulang. Dia meminta satu kotak kecil rendang untuk dibawa kepada keluarga suaminya. Aku memberikannya dan mencatat sebagai pemberian, bukan pesanan.

Di pintu, dia mengangkat kotak itu sambil tersenyum.

“Mbak, serius. Dagingnya bisa empuk dan harum begini karena pakai apa?”

Aku ikut tersenyum tanpa menjawab.

Wati berjalan ke motornya, tetapi matanya masih sempat melirik rak bumbu melalui jendela dapur.

Perempuan itu tidak hanya menginginkan satu kotak rendang.

1
Mitha Artha Kencana Althea
inah kurang ajar dikasih kepercayaan mlh membuat snk snk kelaparan terus,,
Umi Maryam
lieur aah cwrita nya konplik terus fitnah terus ,masa istri paman nya di sebut ibu tiri gajelas .....
darwin
👍
🌹🪴eiv🪴🌹
permisi.....kok sampe sini saya muak 🤧

author judul yg anda pakai menipu seharusnya judulnya "masalah bertubi-tubi"
Nurul Ghifari
raka umur 13 tahun tapi bahasanya mengalahkan logika orang dewasa. 🙏
🌹🪴eiv🪴🌹
Vera kamu goblok bon tolol

gedek aku,, wes tak tampol kalo debat gitu sana aku
otakmu bocor ta , kasus,kasus dah 👊
mie_moet
pembantu setresss 🤬
Roamer Palsu
satu-satunya novel yang membuat saya membaca 90bab dalam sehari..

saya tidak pernah melakukan hal ini pada novel manapun sebelumnya..

novelnya tidak menjual romansa melankolis penuh air mata. tidak menjual kekejaman mertua, tidak mengeksploitasi kelemahan tokoh protagonis. setiap bab punya konflik yang tidak mungkin saya tinggalkan untuk tidak membaca bab selanjutnya..

authornya kerenn!!!
Ningsih Gedeona
aku bingungnya... si Ras nya uda selesai kuliah ya???? pindah- pindah terus... 🤭😁🤭😁🤭😁
Wulan Azka: saya malah lebih bingung sama si sasa ya yg kecil, pertama si Laras kesitu kan dia umur 2 THN ngga bisa ngomong pula. trus tau2 ada adegan si vera baru pindah dekat rumah Laras, paling si Sasa umur 3 tahun, belum sekolah juga kan. si Sasa di tes sama si Vera apa si farrel ya itu bisa ngomong lancar pakai bahasa inggris pula. dan kalimat yang dipakai baik bahasa inggris dan bahasa Indonesia pun itu kayak orang dewasa bahkan bukan kalimat santai yang biasa dipakai buat ngobrol sehari hari 🤔
total 1 replies
Ibu DelVan95
kak jujur novelmu bagus n rapi bgt bhsa ny kyk baku ya klo gk slah..ttep smngat buat kakak nya👍
H A P
plissss ngakakkkkk😭😭😭
Erna Masliana
emang kamunya yang bermasalah.. jangan nyalahin nasib .
Erna Masliana
lalu kenapa mau ditipu... udah sekali terjerumus.. ditolong..malah ngulang kesalahan
Erna Masliana
Vera Damar masih suami istri apa udah cerai sih ??
Erna Masliana
Damar kan suami Vera kok dia sepertinya membiarkan Vera terus meneror.. menganggu.. mengancam
fatmiatun sahono
cerita nya menarik.... mengajar kan ttg kehidupan keluarga. cuma gaya bahasanya kaku, seperti menggunakan AI baku banget dan formal walau sedang mengobrol dengan anak istri....🙏💪
Irianti
cerita nya bagus Thor, tapi ini seperti membaca cerita si laras aja. bukan seperti baca novel lebih bagus itu pov author aja jadi nyambung, maaf yaa Thor sekedar saran 🙏🙏🙏. tetap semangat💪💪💪
Jessica
jadi inget temenku pulang dari saudi pas goreng tempe anak e nungguin mau ambil satu nungguin ibunya pas gak tau...dia ambil satu adiknya d tarik ngumpet d makan bersama....Dia nangis kejer meluk anak2 nya minta maaf kalau mau makan apapun akan ibu masak kan,karena selama ibu nya merantau mereka serumah dng ibu tirinya makan nan d jatah😭😭😭😭😭😭
Jojo Ge
👍
🌹🪴eiv🪴🌹
Vera , wartawan kok goblok 😛
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!