Tanda tangani ini. Ingat, kita menikah hanya di atas kertas. Jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu!"
Demi melunasi biaya pengobatan ibunya yang kritis, Naura Ayu terpaksa menjual kebebasannya. Dia setuju menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO tampan yang terkenal dingin, kejam, dan tidak tersentuh wanita.
Bagi Adrian, Naura hanyalah 'istri pajangan' demi memuaskan tuntutan sang kakek agar posisinya sebagai pewaris tahta perusahaan aman.Awalnya, semua berjalan sesuai kesepakatan. Mereka hidup dalam dinding pembatas yang dingin. Namun, pesona Naura yang mandiri, tegar, dan tidak silau akan hartanya perlahan mulai mengusik pertahanan hati Adrian.
Saat kontrak hampir berakhir dan Naura bersiap untuk pergi, Adrian justru mengunci pintu rapat-rapat. Tatapan dingin pria itu berubah menjadi kilat obsesi yang membara."Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kontrak bisa berakhir, tapi kamu... selamanya milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Singa yang Kembali
Gedung pencakar langit Mahendra Group berdiri kokoh di pusat distrik bisnis Jakarta, memancarkan kemegahan dari sebuah imperium bisnis bernilai triliunan. Pagi ini, atmosfer di lobi utama terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Ratusan karyawan yang berlalu-lalang mendadak menghentikan langkah mereka, berbaris rapi di sepanjang koridor lobi dengan kepala tertunduk hormat.
Pintu kaca otomatis terbuka. Langkah kaki yang tegap bergema di atas lantai marmer.
Adrian Mahendra telah kembali.
Setelah satu minggu absen, sang CEO berdarah dingin melangkah memasuki gedung dengan setelan jas hitam custom-made tiga potong yang tampak sempurna tanpa celah. Dasi sutra hitamnya terikat rapi, dan rambutnya ditata klimis ke belakang. Wajahnya sedingin es di kutub utara, sama sekali tidak menampilkan ekspresi kehangatan yang semalam dia tunjukkan di meja makan mansionnya. Di belakangnya, Dimas berjalan sigap dengan membawa map dokumen hitam tebal, diikuti oleh empat pengawal pribadi.
Saat Adrian menaiki lift privat menuju lantai atas tempat ruang rapat umum direksi berada, Dimas mulai memberikan laporan singkat dengan suara rendah. "Tuan Adrian, Direktur Hermawan dan tiga kepala divisi dari kubu Gavin sudah menggalang suara sejak subuh tadi. Mereka memanfaatkan penurunan saham tiga persen minggu lalu sebagai alasan untuk menuntut pertanggungjawaban Anda di depan dewan komisaris."
Adrian menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengkilat, membetulkan letak jam tangan mewah di pergelangan tangannya dengan tenang. "Biarkan mereka menggonggong, Dimas. Singa tidak akan pernah gemetar hanya karena beberapa ekor anjing mencoba merebut wilayahnya."
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai tiga puluh. Adrian melangkah keluar, langsung menuju ruang rapat utama yang dibatasi oleh dinding kaca buram tebal. Begitu Dimas membukakan pintu ganda berbahan kayu jati tersebut, atmosfer di dalam ruangan seketika turun ke titik beku.
Dua belas direktur senior sudah duduk mengelilingi meja oval besar. Di ujung meja, kursi kebesaran CEO masih kosong, menunggu pemiliknya. Saat Adrian melangkah masuk, keheningan yang mencekam langsung mengunci ruangan. Sebagian direktur tampak menunduk gugup, sementara beberapa orang di sudut kanan, kubu pendukung Gavin, menatap Adrian dengan pandangan dingin dan menantang.
Adrian menduduki kursi kebesarannya dengan santai, menyilangkan kaki panjangnya, lalu menatap seluruh ruangan dengan pandangan elangnya yang tajam dan mengintimidasi. "Selamat pagi. Mari kita mulai rapatnya tanpa membuang waktu."
Direktur Hermawan, seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang merupakan paman jauh Gavin, langsung berdeham keras dan berdiri dari duduknya, membuka konfrontasi pertama.
"Tuan CEO, sebelum kita membahas laporan kuartal, ada hal yang jauh lebih mendesak yang perlu kami pertanyakan," ucap Hermawan dengan nada suara yang sengaja dibuat berwibawa, mencoba memprovokasi. "Satu minggu lalu, skandal pernikahan mendadak Anda dengan seorang gadis dari latar belakang yang... katakanlah, bermasalah, telah membuat saham Mahendra Group anjlok. Tindakan pribadi Anda telah merugikan nilai investasi kami.
Kami, sebagai dewan direksi, berhak meminta kejelasan apakah pernikahan ini sah atau hanya manipulasi hukum untuk mengamankan posisi Anda!"
Beberapa direktur di samping Hermawan mengangguk setuju, memicu bisik-bisik yang mulai memanaskan ruangan.
Adrian tidak langsung membalas. Dia bersandar pada kursinya, mengetukkan jemarinya yang panjang ke atas meja kaca secara ritmis. Bunyi ketukan itu terdengar begitu jelas di dalam ruangan yang sunyi, bagai hitung mundur bom waktu yang menegangkan. Senyuman tipis yang sangat sinis dan dingin terukir di sudut bibir tampan sang CEO.
"Kerugian nilai investasi, Direktur Hermawan?" suara bariton Adrian bergaung rendah, namun getaran nya membuat Hermawan mendadak menelan ludah gugup. Adrian melirik ke arah Dimas.
"Dimas, tunjukkan datanya."
Dimas dengan sigap menyalakan layar proyektor besar di dinding belakang. Seketika, sebuah grafik pergerakan saham Mahendra Group terpampang nyata.
"Dengar baik-baik, semuanya," ucap Adrian tegas, ia berdiri dari duduknya dan menumpu kedua tangannya di atas meja, memajukan tubuhnya untuk mengunci pandangan Hermawan. "Saham kita memang sempat turun tiga persen selama tiga jam setelah rumor palsu itu disebarkan oleh keponakan yang tidak berguna, Gavin Mahendra. Namun, setelah konferensi pers resmi yang kulakukan sore harinya, saham Mahendra Group langsung melonjak naik sebanyak tujuh persen, mencetak rekor tertinggi dalam enam bulan terakhir karena publik melihat stabilitas dan komitmen keluarga kita. Di mana letak kerugian yang kau maksud, Hermawan?!"
Hermawan terbata-bata, wajahnya mulai memerah karena malu dan terpojok. "T-tapi... latar belakang istri Anda tetap menjadi polemik—"
"Latar belakang istriku adalah urusan pribadiku!" potong Adrian dengan nada suara yang meninggi, menggelegar penuh amarah yang terkendali yang membuat seluruh direktur di dalam ruangan tersentak kaget. "Siapa pun yang berani mempertanyakan kehormatan Nyonya Naura Mahendra di dalam gedung ini, artinya mereka sedang menantang keputusan saya sebagai pemimpin tertinggi Mahendra Group!"
Adrian melempar sebuah map dokumen hitam ke tengah meja, tepat di depan Hermawan.
"Di dalam map itu, terdapat bukti keterlibatanmu dalam penggelapan dana proyek pembangunan resort di Bali sebesar dua puluh miliar rupiah, yang sengaja kau alihkan ke rekening bayangan milik Gavin selama enam bulan terakhir," desis Adrian, matanya berkilat penuh hawa membunuh yang pekat. "saya sengaja menyimpan kartu ini sampai hari saya kembali. Jadi, Hermawan... apakah kau ingin mengundurkan diri secara terhormat pagi ini, atau kau ingin saya memanggil tim kepolisian untuk menyeretmu keluar dari gedung ini sekarang juga?"
Ruangan rapat seketika berubah menjadi senyap seolah-olah seluruh oksigen di dalamnya telah disedot habis. Hermawan ambruk kembali ke kursinya dengan tubuh yang gemetar hebat dan wajah yang pucat pasi bagai mayat. Rekan-rekan direktur di sampingnya langsung memalingkan wajah, tidak ada satu orang pun yang berani membela pria paruh baya yang kini sudah tamat kariernya itu.
"Rapat selesai. Dimas, urus surat pemecatan Hermawan dan serahkan buktinya ke pihak berwajib," perintah Adrian dingin, merapikan kancing jasnya yang tidak berantakan, lalu berbalik melangkah keluar dari ruang rapat dengan langkah tegap penuh kemenangan.
Kubu penentang dari faksi Gavin telah dihancurkan dalam waktu kurang dari lima belas menit di tangan sang CEO.
Satu jam kemudian, Adrian duduk di kursi kebesarannya di dalam ruang kerja pribadi CEO yang luas. Ketegangan dari medan perang rapat direksi tadi sama sekali tidak menyisakan beban di wajah tampannya. Pria itu menyandarkan tubuhnya, merogoh saku jasnya untuk mengambil gawai pribadinya.
Dia membuka aplikasi pesan singkat dan menatap nama 'Naura' yang disimpannya dengan simbol hati. Sudut bibir Adrian perlahan melunak, memancarkan kehangatan tulus yang tidak akan pernah dipercayai oleh para direktur tadi jika mereka melihatnya.
Dengan jemari panjangnya, Adrian mengetikkan sebuah pesan singkat.
'Medan perang di kantor sudah selesai, Sayang. Aku berhasil membersihkan beberapa tikus pengganggu. Bagaimana kondisi Ibu siang ini? Jangan lupa makan siangmu, aku akan pulang tepat waktu sore nanti untuk menemuimu.'
Setelah menekan tombol kirim, Adrian meletakkan gawainya di atas meja sambil tersenyum tipis. Di luar sana, dia mungkin harus terus menjadi singa yang kejam dan ditakuti demi mempertahankan bisnisnya dari konspirasi yang kotor. Namun, dia tahu, seberat apa pun pertempuran yang harus dia hadapi di dunia luar, dia akan selalu memiliki sebuah rumah yang hangat dan pelukan tulus dari Naura yang menunggunya pulang.