NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

Meski terdengar lucu, Vivi sama sekali tidak tertawa. Karena dari cara Bu Mega bercerita, itu bukan kenakalan biasa.

"Itu sebabnya saya tidak mempertemukan kalian sekarang."

"Tapi nanti aku harus hidup bersama mereka."

"Iya."

"Kalau begitu bukankah lebih baik saya tahu dari awal?"

Bu Mega tersenyum tipis. Senyum yang sulit diterjemahkan. "Kadang terlalu banyak tahu di awal justru membuat orang gagal melangkah." Wanita itu kemudian menutup album foto tersebut. "Percayalah. Kalau kamu sudah menjadi ibu mereka, kamu akan bertemu mereka setiap hari." Lalu Bu Mega mencondongkan tubuh sedikit. "Dan kalau kamu cukup kuat untuk menjadi bagian keluarga ini..." Ia menatap Vivi dengan penuh keyakinan. "lima anak itu pada akhirnya akan belajar menerima kamu."

Vivi menunduk melihat kembali foto keluarga yang masih berada di tangannya. Lima pasang mata menatap ke arah kamera. Tidak satu pun dari mereka tahu bahwa seorang wanita asing sedang menatap foto mereka sambil bertanya-tanya Akankah aku menjadi ibu kalian? Atau Akankah aku bernasib sama seperti tiga puluh dua wanita sebelumku? Tapi masalahnya, yang sebelumnya boleh bertemu Sebelum menikah, jadi kalau gagal, setidaknya tak ada perubahan status, tetapi dia, sekalinya gagal maka ia akan menjadi janda!

Vivi masih memandangi foto-foto itu ketika Bu Mega kembali membuka suara. Nada suaranya kali ini jauh lebih lembut dibanding sebelumnya. "Vivi. Kamu pasti bisa."

Entah kenapa, kalimat sederhana itu justru membuat Vivi semakin gugup. "Bu, saya bahkan belum pernah bertemu mereka."

"Dan saya sudah mengenalmu selama delapan tahun." Jawaban itu datang tanpa ragu. Bu Mega menutup album foto lalu mendorongnya perlahan ke sisi meja. "Kalau ada orang yang saya percaya mampu menghadapi anak-anak itu, orangnya adalah kamu."

Vivi tertawa kecil, canggung. "Saya rasa Ibu terlalu melebih-lebihkan."

"Sama sekali tidak." Tatapan Bu Mega berubah serius. "Kamu tahu berapa banyak guru yang pernah bekerja di yayasan saya?"

"Tidak."

"Ratusan. Dan dari semua guru yang pernah saya temui selama hidup saya, kamu termasuk yang terbaik."

Mata Vivi langsung membesar. "Bu..."

"Saya serius." Bu Mega bersandar di kursinya. "Kamu sabar. Kamu tidak mudah marah. Kamu bertanggung jawab. Dan yang paling penting, anak-anak menyukaimu."

Vivi menggeleng pelan. "Itu murid, Bu. Beda dengan anak sendiri."

"Tidak terlalu berbeda." Bu Mega tersenyum. "Anak-anak pada dasarnya hanya ingin merasa aman. Bahkan saat seusiamu dulu, saya belum sebaik kamu."

Kalimat itu membuat Vivi menatapnya tidak percaya. Bu Mega dikenal tegas, cerdas, dan disegani semua orang di yayasan. Sulit membayangkan wanita itu memuji orang lain setinggi itu.

Namun Bu Mega tampak sungguh-sungguh. "Saya tidak sedang mencari menantu sempurna. Saya hanya mencari seseorang yang bisa bertahan." Tatapan mereka bertemu.

Dan untuk pertama kalinya, Vivi melihat sedikit kelelahan di mata wanita yang selama ini terlihat begitu kuat.

"Saya sudah mencoba berkali-kali. Tiga puluh dua kali." Suara Bu Mega menjadi lebih pelan. "Tiga puluh dua wanita datang dan pergi. Mereka semua menyerah sebelum benar-benar mencoba." Bu Mega lalu melanjutkan dengan nada yang kembali tegas. "Anak-anak itu takluk pada saya." Kalimat itu diucapkan tanpa kesombongan. Hanya keyakinan. "Karena mereka tahu saya tidak takut kepada mereka. Dan kamu juga tidak boleh takut."

"Tapi saya bukan Ibu."

"Benar." Bu Mega tersenyum. "Kamu bukan saya." Kemudian ia menunjuk Vivi perlahan. "Tapi kamu punya sesuatu yang bahkan tidak saya miliki."

"Apa?"

"Hati." Bu Mega tertawa kecil. "Saya bisa membuat mereka patuh. Tapi saya tidak selalu bisa membuat mereka merasa dipahami." Ruangan mendadak sunyi. "Kamu bisa." Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara. Lalu Bu Mega berdiri dan berjalan mendekati jendela. "Aku melihat cara kamu memperlakukan murid-muridmu. Cara kamu mendengarkan mereka. Cara kamu menghadapi anak-anak yang sulit." Wanita itu menoleh. Dan kali ini senyumnya terlihat sangat tulus. "Kalau anak-anak itu akhirnya menerima seseorang, saya yakin orang itu adalah kamu."

Dada Vivi terasa hangat sekaligus berat. Karena pujian sebesar itu juga terasa seperti beban. Seolah harapan seluruh keluarga Baskara perlahan diletakkan di pundaknya.

Bu Mega kembali ke meja dan menepuk punggung tangan Vivi. Pelan. Hampir seperti seorang ibu kepada anaknya sendiri. "Kamu pasti bisa, Vi." Suara itu penuh keyakinan. Lebih yakin daripada Vivi kepada dirinya sendiri. Dan justru itulah yang membuat Vivi semakin takut. Karena jika Bu Mega ternyata salah Maka ia tidak hanya mengecewakan dirinya sendiri. Ia akan menjadi calon istri nomor tiga puluh tiga yang gagal.

Bu Mega masih berdiri di dekat meja kerjanya ketika suasana mendadak berubah. Setelah semua pujian, semua keyakinan, dan semua harapan yang dibebankan kepadanya, wanita itu akhirnya mengatakan sesuatu yang selama ini belum pernah ia ungkapkan secara terang-terangan. "Dan tentu saja, perjuanganmu tidak akan sia-sia."

Vivi mengernyit. "Maksud Ibu?"

Bu Mega duduk kembali. Tatapannya tenang. "Tidak selamanya saya akan memimpin yayasan ini. Saya sudah tidak muda lagi. Saya sudah tujuh puluh tahun lebih."

"Ibu masih sehat."

"Untuk sekarang." Bu Mega tersenyum tipis. "Lalu suatu hari nanti, semua ini harus diserahkan kepada seseorang."

Vivi tidak menyukai arah pembicaraan itu. Sama sekali tidak.

Bu Mega melanjutkan. "Baskara tidak tertarik mengurus yayasan." Vivi terdiam. "Itu sebabnya selama ini saya selalu berharap mendapatkan menantu yang tepat." Jantung Vivi berdetak lebih cepat. Dan beberapa detik kemudian, kalimat yang ditakutinya akhirnya keluar. "Kalau kamu berhasil menjadi bagian keluarga ini... suatu hari yayasan ini akan menjadi tanggung jawabmu." Bu Mega berbicara seolah itu hal biasa. Padahal bagi Vivi, itu terdengar seperti sesuatu yang mustahil.

"Bu..."

"Kamu akan menjadi penerus saya."

Vivi menatap wanita itu tidak percaya.

"Menjadi pemilik sekaligus ketua yayasan ini." Bu Mega mungkin mengira itu kabar baik. Hadiah. Penghargaan. Masa depan yang menjanjikan.

Tetapi yang dirasakan Vivi justru sebaliknya. Sesak. Sangat sesak. Ia perlahan menundukkan kepala. Lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Bu..." Suaranya terdengar lelah. Lebih lelah daripada yang pernah Bu Mega dengar sebelumnya. Vivi mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca. Bukan karena bahagia. Justru karena kewalahan. Tolong, aku tidak butuh ini semua.

***

Hari-hari berikutnya berjalan begitu cepat. Seolah hidup Vivi sedang didorong oleh tangan-tangan yang tidak terlihat. Bu Mega yakin. Ibunya yakin. Ayahnya tidak terang-terangan mendesak, tetapi juga tidak menolak. Rini, sahabatnya mengatakan keputusan itu layak dicoba, kedua abangnya yang berada di luar pulau juga mengatakan hal yang sama.

Bahkan setelah bertemu Baskara, tidak ada sesuatu yang benar-benar bisa dijadikan alasan kuat untuk menolak.

1
sryharty
aneh si bas ini
demi keluarga mantan mertua dia malah mengkhianati amanah ibu sendiri,,
bloon banget
Ulfa Iin
kasian vivi Thor
baskara sebagai suami tidak menjalankan amanah dgn baik
Cheer Pramudya
kereeeen kak... semangat Teruus ya
Ulfa Iin
bagus 👍
Anonim
Makasih y thor cerita nya menguras air mata sekali cerita nya 😍
Trie Broto
ceritanya enak dibaca...lanjut dan ttp semangat.
Rian Moontero
lanjuuutt👍👍😍
Pahtrool
bagus ceritanya semangat buat autornya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!