Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.
Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.
Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.
Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Patek Philippe 5326G-001
“Tidak ada batasan khusus. Selama modelnya cocok dan saya suka.”
Jawaban tersebut membuat wanita itu terdiam sesaat.
Kemudian staf wanita itu mengangguk sedikit. "Baik pak, mohon duduk dulu di ruang tunggu sebentar, saya akan mengambil jam tangannya."
Setelah mengatakan itu, dia berjalan pergi mengambil jam tangan.
Sementara itu, Yuda duduk tenang dikursi empuk di ruang tunggu.
Beberapa menit kemudian.
Staf wanita itu kembali dengan membawa 3 kotak berisi jam tangan.
“Kalau berdasarkan kriteria yang kamu sebutkan tadi, saya punya tiga pilihan yang mungkin cocok.”
Ia membuka kotak pertama. “Yang ini sekitar lima ratus juta rupiah. Desainnya cukup sederhana dan cocok untuk pemakaian sehari-hari.”
Yuda memperhatikannya sebentar, lalu mengangguk.
Kemudian kotak kedua dibuka.
“Kalau yang ini sekitar delapan ratus juta. Materialnya lebih mewah dan tampilannya sedikit lebih formal.”
Yuda kembali mengamati jam tersebut.
“Lumayan.”
Wanita itu tersenyum kecil.
Dalam hati, ia sudah bisa menebak pilihan Yuda.
'Sepertinya yang delapan ratus juta ini paling masuk akal.'
Dengan tas Armani dan Huawei yang dibawanya, jelas Yuda bukan pelanggan biasa.
Namun ia merasa Yuda kemungkinan masih akan mempertimbangkan harga.
Baginya, delapan ratus juta saja sudah sangat tinggi.
Terakhir, ia membuka kotak ketiga.
“Dan yang ini...” Ia berhenti sejenak. “Ini adalah Patek Philippe 5326G-001 Harganya sekitar satu koma empat miliar.”
Sebenarnya ia hanya memperkenalkannya sebagai pilihan tambahan.
Tidak ada salahnya menunjukkan model yang lebih tinggi, terutama karena Yuda sejak awal mengatakan tidak memiliki batasan anggaran tertentu.
Jam itu memiliki casing white gold dengan dial abu-abu gelap yang tenang, dipadukan dengan strap kulit hitam.
Yuda langsung memberikan perhatian lebih.
Ia mengangkat jam tersebut dan memandanginya dari beberapa sisi.
“Yang ini.”
Wanita itu sempat mengira Yuda hanya ingin melihatnya lebih dekat.
Namun Yuda justru menyerahkan jam tersebut kepadanya.
“Yang ini saya ambil.”
Senyumnya membeku selama beberapa detik. “...Yang ini?”
Yuda mengangguk santai. “Iya.”
Wanita itu menatap jam di tangannya, kemudian menatap Yuda lagi.
Ia benar-benar tidak menyangka.
Dalam pikirannya, pilihan paling mahal tadi hanya sekadar formalitas.
Ia bahkan sudah memperkirakan Yuda akan mengambil yang delapan ratus juta.
Ternyata justru jam seharga Rp1,4 miliar yang dipilihnya tanpa banyak pertimbangan.
Namun ia tidak terlalu banyak berpikir, bukankah akan bagus jika berhasil menjual jam harga 1,4 Miliar.
Bagaimanapun, ia akan mendapatkan banyak komisi dari penjualan jam tangan ini.
Jadi dia langsung tersadar lalu tersenyum tulus, "Baik pak, saya akan menyiapkan dokumen pembelian dan garansi terlebih dahulu."
"Kalau berkenan, bapak bisa ikut saya ke ruangan VIP dan menunggunya disana agar transaksinya lebih nyaman."
Kemudian, staf wanita itu menuntun Yuda ke ruangan VIP.
Di dalam sana ia langsung ditawarin minum.
Yuda memilih teh hangat.
Selang 15 menit, Staf wanita itu kembali masuk keruang VIP.
"Maaf menunggu lama pak, sebelum lanjut, pembayarannya lewat bank atau cash pak?"
"Bank." Yuda menjawab santai sambil mengeluarkan kartu Black Gold dari dompetnya lalu menyerahkannya ke wanita itu.
Melihat kartu Black Gold ditangannya, ia sedikit terkejut, tapi kemudian tidak terlalu banyak berpikir.
Karena sudah hal biasa banyak orang transaksi di toko ini pakai kartu Black Gold.
Namun dia tidak menyadari keunikan kartu Black Gold itu, fokusnya hanya menyelesaikan pembayaran.
Selesai membayar, notif Sistem terdengar dibenaknya.
[Ding! Membeli jam tangan seharga Rp1,4 miliar. Cashback 100× aktif.]
[Ding! Terdeteksi limit cashback tersisa sebesar Rp41,4 miliar.]
[Cashback yang seharusnya diterima: Rp140 miliar.]
[Karena melebihi sisa limit cashback, cashback yang diberikan dibatasi hingga Rp41,4 miliar.]
[Cashback diterima: Rp41,4 miliar.]
Yuda melirik notif bank di hpnya, suasana hatinya langsung baik.
Saldo banknya bertambah menjadi Rp98.236.800.000 hampir 100 miliar.
Wanita itu menaruh berkas penerimaan garansi, berkas pembelian untuk di tanda tangani dll.
Setelah semuanya tertanda tangan, staf itu menyerahkan surat sertifikat logo Patek Philippe.
"Ini Certificate of Origin untuk jam Anda, Pak. Mohon disimpan dengan baik karena dokumen ini merupakan bagian penting dari identitas dan garansi jam tersebut."
Suara wanita itu terdengar hormat.
Kemudian dia menyerahkan kotak jam kepada Yuda dengan kedua tangannya.
“Ini jamnya, Pak.”
Yuda menerimanya dengan tenang, kemudian membuka kotak tersebut sekali lagi untuk memastikan semuanya lengkap.
Setelah itu, ia mengambil jam Patek Philippe 5326G-001 dan memasangkannya di pergelangan tangan.
Casing white gold memantulkan cahaya lembut dari lampu ruangan, sementara dial abu-abu gelap dan strap kulit hitam membuat jam tersebut terlihat elegan tanpa terlalu mencolok.
Yuda memutar sedikit pergelangan tangannya.
“Cocok.”
Wanita itu tersenyum. “Menurut saya juga begitu.”
Ia kemudian berdiri di hadapan Yuda sambil memperhatikan jam tersebut.
Namun entah kenapa, kali ini tatapannya berhenti lebih lama pada wajah pria di depannya.
Ada sesuatu yang mengganggunya sejak tadi.
Bukan tentang jamnya.
Bukan juga tentang uang yang baru saja dibayarkan.
Tapi Wajah Yuda.
Semakin lama ia memperhatikannya, semakin kuat perasaan familiar itu.
Wanita itu mengerutkan kening.
'Kenapa aku merasa pernah melihat wajah ini sebelumnya?'
Ia mencoba mengingat-ingat.
Seketika sebuah kenangan lama muncul di kepalanya.
Seorang anak laki-laki yang dulu sering main disebelah rumahnya.
Mengingat kembali ketika masih SMA, dia sering kali melihat Yuda main bersama temannya.
Dan karena teman Yuda rumahnya bersebelahan dengannya, jadi ia selalu melihatnya.
Dari awal masih SD sampai SMA, Yuda dan temannya seperti sahabat, keduanya selalu bersama meski beda desa.
Yuda tinggal di Desa Sari, sedangkan ia sendiri dan temannya tinggal di Desa Randu.
Hal itulah yang membuat dia tersentuh dengan pertemanan mereka berdua.
Ngomong-ngomong, sepertinya ia pernah satu sekolah dengannya.
saat itu Yuda masih duduk dikelas 1 SMA, sedangkan dia ada dikelas 3 SMA.
Jadi Wanita itu masih mengingatnya dengan jelas tampang Yuda, bagaimanapun selalu melihatnya meski jarang berinteraksi.
Hubungan keduanya juga tergolong kenalan biasa, Yuda dulu sering menyapa, bukan dirinya saja, bahkan semua yang dilihatnya.
Sekarang, ketika melihatnya lagi ia sempat tidak mengenali nya, wajahnya memang sudah jauh lebih dewasa sekarang.
Gaya rambutnya berubah agak panjang jadi samar, cara berpakaian jug berbeda, bahkan sikapnya terlihat jauh lebih percaya diri.
Namun semakin ia melihatnya...
Semakin jelas.
Matanya perlahan membesar.
“...Yuda?”
Yuda yang sedang memperhatikan jam di tangannya berhenti.
Ia mengangkat wajah. “Hm?”
Wanita itu menatapnya beberapa detik. “Yuda... Kamu Yuda Kusuma kan?”
Wanita itu lalu tersenyum lembut, "Ini aku Dewi."
Kening Yuda langsung berkerut.
Nama itu terdengar begitu familiar.
Ia menatap wanita tersebut dengan lebih saksama.
Wajah yang sejak tadi hanya dianggap sebagai seorang staf toko perlahan mulai dikenalnya.
Ia memperhatikan wajah wanita itu beberapa detik, mencoba mencocokkannya dengan ingatan yang sudah bertahun-tahun tersimpan di kepalanya.
Wajah yang sejak tadi hanya dianggap sebagai seorang staf toko perlahan mulai dikenalnya.
“Dewi...?”
Dewi mengangguk sambil tersenyum. “Iya. aku Dewi, tetangga sahabat kecilmu.”
Yuda mengerutkan kening.
“Tetangga sahabatnya? Itu.... Kamu Dewi yang rumahnya di Desa Randu?”
“Benar.”
Barulah ingatan Yuda terasa tersambung.
Ia memang mengenal Dewi, meskipun tidak pernah benar-benar dekat dengannya.
Dulu, ketika masih SMA, Dewi adalah kakak kelasnya.
Yuda sendiri duduk di kelas satu, sementara Dewi sudah kelas tiga.
Ia juga cukup sering melihat Dewi karena rumah wanita itu masih berada di desa sebelah.
Selain itu, sahabat Yuda sejak kecil tinggal bersebelahan dengan rumah Dewi.
Jadi setiap ia pergi main kesana, hampir selalu bertemu dengannya.
“Pantas saja wajahmu terasa familiar,” gumam Yuda.
Dewi tertawa kecil. “Bukannya dulu kamu juga sering menyapa aku?”
Yuda berpikir sejenak. “Sepertinya iya.”
“Bukan sepertinya. Memang iya.” Dewi tersenyum geli.
“Dulu kamu memang begitu. Kalau bertemu orang yang kamu kenal, hampir semuanya kamu sapa.
Bahkan aku yang cuma kakak kelas dan jarang ngobrol denganmu juga pernah kamu sapa. Kamu anak yang menarik dulu.”
Yuda ikut tersenyum. “Aku memang begitu dulu.”
Sejak kecil, dia mempunyai banyak kenalan.
Itu terjadi karena dulu ia suka menyapa orang tua dijalan, atau sedang duduk, bahkan Dewi yang sedang menjemur pakaian juga ia sapa.
Ia dikenal sebagai anak yang aktif, tapi itu dulu sebelum terjun ke dunia masyarakat.
Sekarang sifatnya lebih matang dan tidak gegabah menyapa orang asing.
Dewi kembali memperhatikan wajah Yuda.
Sekarang ia semakin yakin bahwa pria di hadapannya memang Yuda yang dulu sering ia lihat.
Hanya saja, perubahan pria itu cukup besar.
Rambutnya kini sedikit lebih panjang, gaya berpakaian dan pembawaannya juga jauh berbeda.
Yang paling terasa adalah tatapan dan sikapnya.
Aura Yuda tampak lebih dewasa dari dirinya, padahal umurnya lebih muda darinya.
Bab Berakhir.