NovelToon NovelToon
System Tycoon: Mulai Dari Mendapatkan 1 Juta Perhari

System Tycoon: Mulai Dari Mendapatkan 1 Juta Perhari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: Gen-1

Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.

Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.

Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.

Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Patek Philippe 5326G-001

“Tidak ada batasan khusus. Selama modelnya cocok dan saya suka.”

Jawaban tersebut membuat wanita itu terdiam sesaat, sebelum akhirnya mengangguk sopan.

"Baik pak, mohon duduk dulu di ruang tunggu sebentar, sementara saya menyiapkan beberapa Koleksi kami."

Setelah mengatakan itu, dia berjalan pergi.

Sementara itu, Yuda duduk tenang dikursi empuk di ruang tunggu.

Tak berapa lama, staf itu kembali membawa tiga kotak beludru.

​"Berdasarkan kriteria Anda, saya membawakan tiga pilihan."

Ia membuka kotak pertama. "Ini berada di kisaran 500 juta rupiah. Desainnya sederhana, sangat cocok untuk keseharian."

Yuda meliriknya sekilas, lalu mengangguk kecil.

Kemudian kotak kedua dibuka.

Staf itu beralih ke kotak kedua. "Yang ini sekitar 800 juta. Materialnya lebih mewah dengan sentuhan yang agak formal."

Yuda kembali mengamati jam tersebut.

“Lumayan.”

Wanita itu tersenyum kecil.

Dalam hati, ia menduga Yuda akan memilih opsi kedua.

Dengan tas Armani dan Huawei yang dibawanya, jelas Yuda bukan pelanggan biasa.

Namun ia merasa Yuda kemungkinan masih akan mempertimbangkan harga.

Terakhir, ia membuka kotak ketiga.

"Dan yang ini, Patek Philippe 5326G-001. Harganya 1.5 miliar rupiah."

Sebenarnya ia hanya memperkenalkannya sebagai pilihan tambahan.

Tidak ada salahnya menunjukkan model yang lebih tinggi, terutama karena Yuda sejak awal mengatakan tidak memiliki batasan anggaran tertentu.

Jam itu memiliki casing white gold dengan dial abu-abu gelap yang tenang, dipadukan dengan strap kulit hitam.

Yuda langsung memberikan perhatian lebih.

Ia mengangkat jam tersebut dan memandanginya dari beberapa sisi.

“Yang ini.”

Wanita itu sempat mengira Yuda hanya ingin melihatnya lebih dekat.

Namun Yuda justru menyerahkan jam tersebut kepadanya.

“Yang ini saya ambil.”

Senyum profesional wanita itu membeku selama beberapa detik. “...Yang ini?”

Yuda mengangguk santai. “Iya.”

Wanita itu menatap jam di tangannya, kemudian menatap Yuda lagi.

Ia benar-benar tidak menyangka.

Dalam pikirannya, pilihan paling mahal tadi hanya sekadar formalitas.

Ia bahkan sudah memperkirakan Yuda akan mengambil yang 800 juta.

Ternyata justru jam seharga Rp1,4 miliar yang dipilihnya tanpa banyak pertimbangan.

Namun ia tidak terlalu banyak berpikir, bukankah akan bagus jika berhasil menjual jam harga 1,4 Miliar.

Bagaimanapun, ia akan mendapatkan banyak komisi dari penjualan jam tangan ini.

Jadi dia langsung tersadar lalu tersenyum tulus, "Baik, Pak. Silakan ikut saya ke ruang VIP agar Anda bisa menunggu dengan nyaman sementara saya memproses dokumen dan pembayarannya."

Kemudian, staf wanita itu menuntun Yuda ke ruangan VIP.

Di dalam sana ia langsung ditawarin minum.

Yuda memilih teh hangat.

Selang 15 menit, Staf wanita itu kembali masuk keruang VIP.

"Maaf membuat anda menunggu, sebelum lanjut, pembayarannya lewat bank atau cash pak?"

"Bank." Yuda menjawab santai sambil mengeluarkan kartu Black Gold dari dompetnya lalu menyerahkannya ke wanita itu.

Melihat kartu Black Gold ditangannya, ia sedikit terkejut, tapi kemudian tidak terlalu banyak berpikir.

Karena sudah hal biasa banyak orang transaksi di toko ini pakai kartu Black Gold.

Namun dia tidak menyadari keunikan kartu Black Gold itu, fokusnya hanya menyelesaikan pembayaran.

Selesai membayar, notif Sistem terdengar dibenaknya.

[Ding! Membeli jam tangan seharga Rp1,4 miliar. Cashback 100× aktif.]

[Ding! Terdeteksi limit cashback tersisa sebesar Rp41,4 miliar.]

[Cashback yang seharusnya diterima: Rp140 miliar.]

[Karena melebihi sisa limit cashback, cashback yang diberikan dibatasi hingga Rp41,4 miliar.]

[Cashback diterima: Rp41,4 miliar.]

Yuda melirik layar ponselnya sekilas.

Saldo rekeningnya kini melonjak menjadi Rp98.236.800.000—hampir 100 miliar.

Sudut bibirnya terangkat samar.

Wanita itu menaruh berkas penerimaan garansi, berkas pembelian untuk di tanda tangani dll.

Setelah semuanya tertanda tangan, staf itu menyerahkan surat sertifikat logo Patek Philippe.

"Ini Certificate of Origin jam Anda, Pak. Mohon disimpan dengan baik sebagai bukti identitas dan garansi otentik."

Suara wanita itu terdengar hormat.

Kemudian dia menyerahkan kotak jam kepada Yuda dengan kedua tangannya.

“Ini jamnya, Pak.”

Yuda menerimanya dengan tenang, kemudian membuka kotak tersebut sekali lagi untuk memastikan semuanya lengkap.

Setelah itu, ia mengambil jam Patek Philippe 5326G-001 dan memasangkannya di pergelangan tangan.

Yuda memutar sedikit pergelangan tangannya. "Sempurna."

Wanita itu tersenyum. “Menurut saya juga begitu.”

Ia berdiri di hadapan Yuda, matanya beralih dari jam tangan mewah itu ke wajah pemiliknya.

Namun kali ini, tatapannya tertahan lebih lama.

Sejak awal, ada sesuatu yang mengganjal di benaknya.

Bukan tentang jamnya.

Tapi Wajah Yuda.

Semakin lama ia memperhatikannya, semakin kuat perasaan familiar itu.

Wanita itu mengerutkan kening.

'Kenapa aku merasa pernah melihat wajah ini sebelumnya?'

Ia mencoba mengingat-ingat.

Seketika sebuah kenangan lama muncul di kepalanya.

Seorang anak laki-laki yang dulu sering main disebelah rumahnya.

Mengingat kembali ketika masih SMA, dia sering kali melihat Yuda main bersama temannya.

Dan karena teman Yuda rumahnya bersebelahan dengannya, jadi ia selalu melihatnya.

Dari awal masih SD sampai SMA, Yuda dan temannya seperti sahabat, keduanya selalu bersama meski beda desa.

Yuda tinggal di Desa Sari, sedangkan ia sendiri dan temannya tinggal di Desa Randu.

Hal itulah yang membuat dia tersentuh dengan pertemanan mereka berdua.

Ngomong-ngomong, sepertinya ia pernah satu sekolah dengannya.

saat itu Yuda masih duduk dikelas 1 SMA, sedangkan dia ada dikelas 3 SMA.

Jadi ia masih mengingatnya dengan jelas tampang Yuda, bagaimanapun selalu melihatnya meski jarang berinteraksi.

Hubungan keduanya juga tergolong kenalan biasa, Yuda dulu sering menyapa, bukan dirinya saja, bahkan semua yang dilihatnya.

Sekarang, ​wajah bocah yang dulu kekanak-kanakan kini tumpang tindih dengan sosok pria dewasa yang duduk memancarkan ketenangan absolut di hadapannya.

Gaya rambutnya berubah agak panjang jadi samar, cara berpakaian jug berbeda, bahkan sikapnya terlihat jauh lebih percaya diri.

Matanya perlahan membesar. “...Yuda?”

Yuda yang sedang memperhatikan jam di tangannya berhenti.

Ia mengangkat wajah. “Hm?”

Wanita itu menatapnya beberapa detik. “Yuda... Kamu Yuda Kusuma kan?”

Wanita itu lalu tersenyum lembut, "Ini aku Dewi."

Kening Yuda langsung berkerut.

Nama itu terdengar begitu familiar.

Ia menatap wanita tersebut dengan lebih saksama.

Wajah yang sejak tadi hanya dianggap sebagai seorang staf toko perlahan mulai dikenalnya.

Ia memperhatikan wajah wanita itu beberapa detik, mencoba mencocokkannya dengan ingatan yang sudah bertahun-tahun tersimpan di kepalanya.

“Dewi...?”

Dewi mengangguk sambil tersenyum. “Iya. aku Dewi, tetangga sahabat kecilmu.”

Yuda mengerutkan kening.

“Tetangga sahabatku? Itu.... Kamu Dewi yang rumahnya di Desa Randu?”

“Benar.”

Barulah ingatan Yuda terasa tersambung.

Ia dulu memang sering bolak-balik ke Desa Randu, dan rumah Dewi persis di sebelah rumah sahabatnya.

Ia selalu berpapasan dengan wanita ini setiap kali bermain ke sana.

Dulu juga, ketika masih SMA, Dewi adalah kakak kelasnya.

Yuda sendiri duduk di kelas satu, sementara Dewi sudah kelas tiga.

Ia juga cukup sering melihat Dewi karena rumah wanita itu masih berada di desa sebelah.

“Pantas saja wajahmu terasa familiar,” gumam Yuda.

Dewi tertawa kecil. “Bukannya dulu kamu juga sering menyapa aku?”

Yuda berpikir sejenak. “Sepertinya iya.”

“Bukan sepertinya. Memang iya.” Dewi tersenyum geli.

“Dulu kamu memang begitu. Kalau bertemu orang yang kamu kenal, hampir semuanya kamu sapa.

Bahkan aku yang cuma kakak kelas dan jarang ngobrol denganmu juga pernah kamu sapa. Kamu anak yang menarik dulu.”

Yuda ikut tersenyum. “Aku memang begitu dulu.”

Sejak kecil, dia mempunyai banyak kenalan.

Itu terjadi karena dulu ia suka menyapa orang tua dijalan, atau sedang duduk, bahkan Dewi yang sedang menjemur pakaian juga ia sapa.

Ia dikenal sebagai anak yang aktif, tapi itu dulu sebelum terjun ke dunia masyarakat.

Sekarang sifatnya lebih matang dan tidak gegabah menyapa orang asing.

Dewi kembali memperhatikan wajah Yuda.

Sekarang ia semakin yakin bahwa pria di hadapannya memang Yuda yang dulu sering ia lihat.

Hanya saja, perubahan pria itu cukup besar.

Rambutnya kini sedikit lebih panjang, gaya berpakaian dan pembawaannya juga jauh berbeda.

Yang paling terasa adalah tatapan dan sikapnya.

Aura Yuda tampak lebih dewasa dari dirinya, padahal umurnya lebih muda darinya.

Bab Berakhir.

1
Gege Mas
uwaaasyeekk
Gege Mas
luncurkan 10k katanya thor...gassa...
Gege Mas
yaaah masih kelas bsd...pikir otor beli rumahnya mc di pik 2 yang ada private jetty buat naruh kapal pesiar mini..baruu howrang kayah rayah..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!