NovelToon NovelToon
Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.

Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.

Rania menolak.

Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.

Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.

Sistem ingin Rania mengikuti takdir.

Rania justru memilih menolaknya.

Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8— Dapur yang Terlalu Rapi

Bab 8 — Dapur yang Terlalu Rapi

Dapur istana Wanunggalih jauh lebih besar dari yang Rania bayangkan.

Uap mengepul dari beberapa tungku besar, aroma rempah bercampur ikan bakar memenuhi udara, dan belasan pelayan bergerak cepat dengan tugas masing-masing memotong sayur, mengaduk kuah, menata nampan. Semua orang tampak sibuk, sampai-sampai kedatangan Rania nyaris tidak disadari selama beberapa detik.

Kemudian seseorang menyadarinya, dan seperti gelombang, semua gerakan di dapur itu berhenti serentak.

"Putri Wening!"

Seluruh pelayan langsung membungkuk, beberapa bahkan menjatuhkan alat masaknya karena kaget.

Rania mengangkat tangan cepat. "Santai, santai. Lanjutkan aja kerjaannya, saya cuma mau lihat-lihat."

Tidak ada yang benar-benar percaya kalimat itu, tapi mereka kembali bekerja dengan gerakan yang jauh lebih kaku dari sebelumnya, sesekali melirik curi-curi ke arah Rania.

Sari mendekat, berbisik. "Putri mau cari siapa?"

"Orang yang biasa nganterin makanan ke kamarku. Terutama malam hari sebelum aku pingsan."

Sari mengangguk, lalu mendekati seorang wanita paruh baya yang tampak paling senior di antara para juru masak rambutnya diikat rapi, tangannya cekatan mengiris bawang tanpa perlu melihat.

Setelah bisik-bisik singkat, wanita itu menghampiri Rania dengan sikap hormat namun waspada.

"Putri memanggil saya?"

"Nama Bibi siapa?"

"Yu Ijah, Putri. Sudah dua puluh tahun mengabdi di dapur ini."

Rania mengangguk, mencoba terdengar santai. "Bibi Ijah, saya mau tanya. Malam sebelum saya pingsan, siapa yang antar makanan atau minuman ke kamar saya?"

Yu Ijah terdiam sejenak, matanya bergerak seolah mengingat-ingat dengan hati-hati.

"Malam itu... Putri meminta teh melati seperti biasa. Saya sendiri yang menyiapkan, lalu diantar oleh Windi, salah satu dayang muda."

"Windi masih kerja di sini?"

Yu Ijah menggeleng pelan, wajahnya berubah agak canggung. "Windi berhenti sehari setelah Putri pingsan. Katanya ingin pulang kampung, mengurus orang tuanya yang sakit."

Rania dan Sari saling pandang.

"Sehari setelah?" ulang Rania, memastikan tidak salah dengar.

"Benar, Putri."

Rania merasakan sesuatu yang dingin merayap di tengkuknya. Seseorang yang mengantar minuman malam itu, lalu menghilang begitu cepat setelah kejadian—itu bukan kebetulan yang bisa diabaikan begitu saja.

"Bibi tahu Windi pulang ke mana?"

Yu Ijah menggeleng. "Tidak ada yang tahu persis, Putri. Dia memang anak baru, baru tiga bulan bekerja di sini. Rekomendasinya dibawa langsung oleh—"

Yu Ijah tiba-tiba berhenti bicara, seperti baru sadar sesuatu yang seharusnya tidak diucapkan sembarangan.

Rania mendekat sedikit. "Dibawa langsung oleh siapa, Bi?"

Yu Ijah menunduk, suaranya nyaris berbisik. "Oleh Nyonya Ratih, Putri. Beliau yang merekomendasikan Windi bekerja di dapur istana."

Rania membeku.

Nyonya Ratih. Nama yang baru semalam disebut Sari sebagai salah satu orang dengan akses bebas ke istana dan kini namanya muncul lagi, terhubung langsung dengan dayang yang menghilang tepat sehari setelah insiden peracunan.

"Sistem," bisik Rania pelan, nyaris tak terdengar oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri.

[Ya, Host.]

"Catat ini. Windi dayang yang mengantar minuman malam itu direkomendasikan oleh Nyonya Ratih, dan menghilang sehari setelah aku pingsan."

[Dicatat. Tingkat kecurigaan terhadap Nyonya Ratih meningkat.]

"Tapi jangan langsung nge-judge dia pelakunya. Bisa aja ini emang kebetulan."

[Sistem setuju. Data masih belum cukup untuk kesimpulan pasti.]

Rania mengucapkan terima kasih kepada Yu Ijah, lalu berjalan keluar dapur bersama Sari, pikirannya dipenuhi potongan informasi yang belum sepenuhnya tersambung.

Namun baru beberapa langkah menyusuri koridor menuju taman belakang, langkah Rania terhenti.

Sesosok wanita berdiri di ujung lorong, mengenakan gaun sutra berwarna hijau tua dengan bros permata di dada. Wajahnya anggun, senyumnya ramah—terlalu ramah, menurut insting Rania yang baru saja mendengar namanya disebut beberapa menit lalu.

"Wening," sapa wanita itu lembut. "Ibu dengar kau baru saja dari dapur. Ada apa?"

Sari langsung tegang di samping Rania, berbisik cepat. "Putri, itu Nyonya Ratih."

Rania nyaris tersedak ludahnya sendiri.

Dari semua waktu di dunia ini, kenapa harus sekarang, tepat setelah namanya disebut sebagai tersangka?

Rania memaksakan senyum paling wajar yang bisa ia buat. "Bibi Ratih. Kebetulan sekali."

"Kebetulan?" Nyonya Ratih melangkah mendekat, gerakannya anggun namun entah kenapa terasa seperti seekor kucing yang sedang mengintai mangsa. "Ibu dengar kau sempat pingsan beberapa hari lalu. Bagaimana keadaanmu sekarang?"

"Sudah lebih baik, Bi."

"Syukurlah." Nyonya Ratih tersenyum lebih lebar, matanya menyipit sedikit. "Kudengar juga kau belakangan suka pergi ke pasar. Berjualan, katanya?"

Berita itu menyebar cepat, batin Rania. Atau memang sengaja diawasi?

"Iya, Bi. Cuma iseng."

"Menarik sekali," gumam Nyonya Ratih, matanya menelusuri wajah Rania dengan cara yang membuat bulu kuduknya meremang. "Kau benar-benar berubah banyak sejak pingsan itu, ya."

Kalimat itu lagi-lagi kalimat yang sama, yang sudah dua kali diucapkan Aryasatya dan Mukti sebelumnya kini keluar juga dari mulut wanita ini.

Rania mempertahankan senyumnya, meski jantungnya berdegup kencang. "Mungkin pingsan bikin saya jadi lebih... segar, Bi."

Nyonya Ratih tertawa kecil, suaranya lembut namun entah kenapa terdengar berongga, seperti tawa yang tidak benar-benar mencapai matanya.

"Wening yang dulu tidak pernah bicara seceria ini denganku." Ia mendekat selangkah lagi, suaranya melembut hingga hampir seperti bisikan. "Kau tahu, dulu kau bahkan takut menatap mataku langsung."

Rania merasakan udara di sekitarnya seolah menipis.

Kenapa semua orang di dunia ini seperti punya arsip detail tentang kebiasaan Wening yang dulu dan kenapa semuanya seakan sengaja mengingatkannya, seolah menguji seberapa jauh ia bisa mempertahankan topeng ini?

"Mungkin," jawab Rania pelan, berusaha menahan suaranya agar tidak gemetar, "karena sekarang saya sadar, hidup terlalu singkat untuk terus takut."

Untuk sepersekian detik, sesuatu berkelebat di mata Nyonya Ratih bukan terkejut, bukan pula marah. Lebih mirip... perhitungan. Seperti sedang menyusun ulang sesuatu di kepalanya.

Kemudian senyum ramah itu kembali seperti semula, seolah tidak terjadi apa-apa.

"Kalau begitu, Ibu senang mendengarnya," katanya lembut. "Jaga dirimu baik-baik, Wening. Dunia ini... tidak seaman yang kau kira."

Ia berlalu begitu saja, meninggalkan aroma bunga melati yang menyengat di udara aroma yang tiba-tiba terasa jauh lebih mengganggu daripada yang seharusnya.

Rania berdiri mematung sampai sosok Nyonya Ratih benar-benar menghilang di ujung koridor.

Sari menghela napas panjang di sampingnya, wajahnya pucat. "Putri... tangan Putri gemetar."

Rania melihat tangannya sendiri, baru sadar betapa eratnya ia mengepalkan jari-jarinya tanpa disadari.

"Sistem," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.

[Ya, Host.]

"Dia juga bilang kata yang sama kayak Aryasatya dan Mukti. Soal aku berubah."

[Terdeteksi. Kemungkinan mereka semua benar-benar mengenal Wening yang asli dengan cukup dekat.]

"Atau," Rania menatap ke arah koridor kosong, tempat Nyonya Ratih tadi menghilang, "salah satu dari mereka udah curiga dari awal, dan sekarang lagi nguji aku satu-satu."

[Hipotesis valid.]

Rania menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu cepat.

Ia baru saja menyadari sesuatu yang jauh lebih menakutkan dari sekadar racun di balik lemari.

Kalau benar Nyonya Ratih, Mukti, atau bahkan Aryasatya sudah mulai menaruh curiga tentang siapa dirinya yang sebenarnya maka penyelidikannya bukan lagi soal mencari siapa yang meracuni Wening.

Tapi soal berapa lama lagi ia bisa bertahan sebelum seseorang benar-benar tahu bahwa Putri Wening yang mereka kenal sekarang sudah tidak ada lagi.

Dan di ujung koridor lain, tersembunyi di balik pilar besar, sosok yang sejak pagi mengawasi langkah Rania kembali muncul kali ini lebih dekat, cukup dekat untuk mendengar seluruh percakapan antara Rania dan Nyonya Ratih barusan.

Sosok itu tersenyum tipis dalam bayangan, lalu menghilang tanpa suara begitu Sari sempat menoleh curiga ke belakang.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!