NovelToon NovelToon
TAWANAN SANG RAJA MAFIA

TAWANAN SANG RAJA MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Nikahmuda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Demi menyelamatkan sang ayah dari siksaan maut seorang mafia kejam, Aisyah gadis bercadar, Hafizah bermata biru blasteran menyerahkan diri sebagai tawanan abadi. Syaratnya gila: pria berdarah dingin itu harus masuk Islam dan menikahinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dimulai. Alih-alih menjadi ratu, hidup Aisyah berubah menjadi neraka ketika suaminya sengaja membawa wanita malam ke hadapannya setiap hari untuk menghancurkan mentalnya.
Di tengah ketakutan yang mencekam dan air mata yang tak pernah kering, Aisyah hanya bersandar pada sujud malamnya.
Mampukah kelembutan ayat-ayat suci meluluhkan hati seorang psikopat tanpa Tuhan, atau justru Aisyah yang akan hancur lebur di sarang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jerat di Pusat Kota dan Titik Balik Sang Penguasa

Langkah kaki Kenzie Al-Ghazali menggema tegas di lantai marmer dingin gedung pencakar langit berlogo Al-Ghazali Group di pusat kota. Di belakangnya, Vito dan empat orang pengawal berpakaian jas hitam berjalan rapat, mengawal setiap gerak-gerik sang bos yang aura kepemimpinannya kini berpadu dengan ketegasan seorang pria yang sedang melindungi kehormatan keluarganya.

Begitu pintu lift pribadi terbuka di lantai penutup markas cabang, Kenzie langsung melangkah masuk ke ruang kendali operasional. Di dalam ruangan luas yang dikelilingi layar monitor besar tersebut, beberapa teknisi dan agen intelijen bayaran langsung berdiri membungkuk hormat.

"Lapor, Boss," ucap kepala teknisi dengan napas tertahan, menyodorkan sebuah tablet digital kepada Kenzie. "Kami telah melacak asal-asal sinyal dan jalur pengiriman surat ancaman pagi tadi. Pengirimnya menggunakan kurir lokal bayaran, namun jejak digital pembayarannya mengarah langsung ke sebuah apartemen privat di distrik barat kota wilayah kekuasaan lama yang kini dikuasai oleh kaki tangan Valeria."

Kenzie menatap layar tablet itu lekat-lekat. Titik merah berpendar di peta digital, menandakan posisi persis persembunyian musuh yang mencoba mengusik ketenangannya.

"Berapa banyak anak buah yang ia bawa ke kota ini?" tanya Kenzie dengan suara baritonnya yang dingin, menusuk hingga ke tulang.

"Dari pantauan satelit dan laporan penyusup kita di lapangan, kelompok Valeria bergerak senyap, Boss," jawab Vito menimpali. "Mereka tidak membawa pasukan besar seperti sindikat biasa. Valeria menggunakan metode pembunuh bayaran profesional. Target utama mereka bukan mengambil alih aset, melainkan menciptakan kekacauan psikologis... dan mengincar Nyonya Aisyah."

Mendengar nama istrinya disebut dalam ancaman langsung, rahang Kenzie mengeras seketika. Buku-buku jarinya mencengkeram tepi meja kaca hingga berderit. Bayangan wajah damai Aisyah di kamar utama istana pagi tadi melintas di benaknya, memicu gelombang amarah yang luar biasa besar. Pria yang baru saja memilih jalan hijrah itu sadar, iblis masa lalu tidak akan pernah melepaskannya begitu saja kecuali ia memotong kepala ularnya sampai tuntas.

"Kirimkan pesan ke seluruh unit pengamanan istana," perintah Kenzie mutlak, tanpa keraguan sedikit pun di suaranya. "Perketat ring pertahanan lapis pertama hingga lapis ketiga. Jangan biarkan seekor lalat pun mendekati area kamar Aisyah tanpa izin dariku."

"Siap, Boss!" seru Vito tegas.

"Dan untuk Valeria..." Kenzie menyipitkan mata hitamnya tajam, menatap titik merah di layar monitor. "Kita tidak perlu menunggu mereka datang menyerang istana. Kita datangi sarangnya sekarang."

Sementara itu, di dalam istana perbukitan yang megah namun terasa sunyi, Aisyah Humaira sedang duduk di atas sajadah beludru di dalam kamar utamanya. Usai menunaikan salat sunnah dhuha, ia melipat mukena putihnya dengan rapi, lalu mengenakan kembali khimar dan cadar hitamnya.

Meskipun Kenzie berusaha menyembunyikan kepanikan tadi pagi, wanita berhati lembut itu bukanlah orang yang bodoh. Ia bisa merasakan ada badai besar yang sedang disembunyikan oleh suaminya. Hatinya merasa gelisah, namun ia tahu bentuk pengabdian terbaik seorang istri di saat suaminya menghadapi masalah di luar adalah dengan memperbanyak doa di hadapan Sang Pencipta.

Aisyah mengambil Al-Qur'an berukuran sedang dari atas nakas, membukanya perlahan, dan mulai melantunkan ayat-ayat suci dengan suara lirih yang merdu. Lantunan kalam ilahi itu mengalir menenangkan, seolah menjadi perisai gaib yang menyelimuti seluruh sudut ruangan istana.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Drrrtt... Drrrtt...

Ponsel pribadi Kenzie yang tertinggal di atas meja rias mendadak bergetar hebat. Layarnya menyala terang, menampilkan panggilan masuk dari sebuah nomor asing tanpa nama.

Aisyah yang sedang duduk di dekat jendela menghentikan bacaannya. Ia menoleh ragu ke arah meja rias. Panggilan itu terus berdering berulang-ulang dengan mendesak, menciptakan getaran yang mengusik keheningan kamar.

Dengan langkah ragu, Aisyah mendekati meja rias. Ia melihat nama di layar ponsel suaminya: Private Number / Unknown Caller.

Awalnya ia bernuansa membiarkannya, namun sebuah firasat aneh mencolek hatinya. Dengan bismillah, Aisyah mengangkat panggilan tersebut dan mendekatkannya ke dekat telinganya di balik cadar.

"Halo..." suara Aisyah terdengar lembut namun tegas.

Sejenak, tidak ada suara di seberang sana selain deru angin dan suara napas berat. Lalu, sebuah suara wanita asing yang terdengar dingin, elegan, namun penuh racun menyapa indra pendengarannya.

"Ah... jadi wanita berkedok kain hitam itu yang berhasil menjinakkan singa buas bernama Kenzie Al-Ghazali?" suara wanita di seberang sana terkekeh pelan penuh ejekan. "Kukira seperti apa wanita murahan yang berhasil merebut perhatiannya. Ternyata hanya gadis pesantren udik yang tidak tahu apa-apa tentang dunia gelap suaminya."

Aisyah tertegun sejenak. Jantungnya berdegup kencang, namun ia berusaha menguasai diri. "Siapa Anda?" tanyanya tenang.

"Kamu tidak perlu tahu siapa aku, anak manis," desis suara wanita itu Valeria semakin tajam. "Aku hanya ingin menitipkan pesan untuk suamimu tercinta. Apa yang ia miliki sekarang istana megah ini, kedamaian palsu ini, dan dirimu semuanya akan segera dihancurkan berkeping-keping. Kenzie tidak akan pernah bisa lepas dari masa lalunya. Nikmati sisa napas kalian di istana itu sebelum api melahap semuanya!"

Tut... tut... tut...

Sambungan telepon terputus begitu saja. Ponsel di tangan Aisyah terasa begitu dingin. Tubuhnya sedikit bergetar, bukan karena rasa takut yang mencengkeram, melainkan kesadaran penuh bahwa bahaya nyata kini sedang mengintai nyawa suami tercintanya.

Tanpa membuang waktu, Aisyah segera bangkit. Ia tahu ia harus melaporkan hal ini, atau setidaknya bersiap menghadapi apapun badai yang akan datang menerjang istana mereka.

Kembali di distrik barat kota, konvoi tiga mobil SUV hitam milik Kenzie membelok tajam memasuki halaman parkir sebuah apartemen privat mewah.

Kenzie keluar dari mobil pertama, mengenakan jaket kulit hitam dengan tatapan mata yang memancarkan aura kematian. Di sampingnya, Vito dan para pengawal bersenjata lengkap bergerak cepat menyebar, mengamankan setiap akses keluar masuk gedung.

"Kalian jaga perimeter luar. Jangan biarkan siapapun keluar dari lantai sepuluh," instruksi Kenzie dingin.

"Baik, Boss!"

Kenzie melangkah masuk ke dalam lobi, langsung menuju lift privat menuju lantai penthouse tempat persembunyian Valeria berada. Pintu lift terbuka dengan dentang pelan, memperlihatkan lorong sunyi berkarpet tebal.

Kenzie berjalan tanpa ragu menuju pintu kamar bernomor 1004. Tanpa mengetuk, ia mengangkat kakinya dan—Brak!—menendang pintu kayu jati tebal itu hingga jebol dan terbuka lebar dalam sekali hentakan.

Di dalam ruangan mewah berlampu temaram itu, seorang wanita berambut pirang pendek dengan gaun malam sutra merah darah tampak duduk bersantai di sofa beludru sambil memegang segelas anggur merah. Wanita itu adalah Valeria. Di sekelilingnya, empat orang pengawal bayaran bertubuh kekar langsung mencabut senjata api mereka, mengarahkannya tepat ke dada Kenzie.

Namun, Kenzie sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar. Ia berdiri tegak di ambang pintu yang rusak, menatap tajam kepada wanita di hadapannya dengan senyuman miring yang mengerikan.

"Selamat datang, Kenzie..." ucap Valeria tenang, menyesap anggurnya perlahan tanpa rasa takut. "Aku tahu kamu tidak akan bisa menolak undangan kecilku."

Kenzie melangkah masuk perlahan, mengabaikan moncong senjata yang mengarah padanya. Suaranya terdengar berat, menggema di seluruh ruangan kosong itu. "Kamu membuat kesalahan terbesar dalam hidupmu, Valeria... karena berani menelepon istanaku."

Valeria tertawa kecil, melempar gelas anggurnya ke lantai hingga pecah berkeping-keping. "Permainan baru saja dimulai, Kenzie. Dan kali ini, aku akan memastikan tidak ada jalan kembali untukmu!"

1
Anonim
🤭🤭🤭
Anonim
😍😍😍😍😍
Anonim
❤️❤️❤️❤️
Anonim
😍😍😍
Anonim
Heeeeemmm
Anonim
Ayoooo
Anonim
Trima kasih autir 😍😍😍
Anonim
😍😍😍😍
Anonim
Menarik 🤭🤭🤭
Anonim
😄😄😄
Anonim
Heeemmmm
Anonim
❤️❤️❤️
Anonim
Semakin menarik, terima kasih ufah buat cerita ini 😍😍😍
Anonim
Baper Ku ❤️❤️
Anonim
Ayooo😍😍
Anonim
Mantap2
ika mummy
beneran ceritan nya keren... aku syuuukkka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!