Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.
Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.
Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16.
"Soal Vero..." lanjut Clarisa dengan suara bergetar ragu, menggigit bibirnya erat-erat. "Tadi pagi waktu aku nanya-nanya ke temen satu kelasnya, aku baru tahu... Vero sebenarnya sudah pindah sekolah sejak seminggu yang lalu. Dia bahkan udah pindah ke luar kota."
Jantung Bella seolah berhenti berdetak seketika. Dunia di sekelilingnya mendadak berputar hebat, menyisakan denging nyaring di telinganya.
"Nggak... nggak mungkin," bisik Bella tak percaya, napasnya tercekat di tenggorokan, menolak mentah-mentah kenyataan yang baru saja didengarnya. "Dia... dia baru aja nelepon aku semalam..."
"Bella, sadar, Bell... dia itu tidak pernah tulus sama kamu," ucap Clarisa lirih, menggenggam erat tangan Bella yang terasa sangat dingin. "Temen-temennya bilang... Vero sengaja manfaatin kamu buat nutupin utang-utang keluarganya yang bangkrut, dan sekarang dia udah kabur ninggalin kamu setelah ngambil semua uang kamu."
Bella tertegun bisu. Matanya menatap kosong ke hadapan dinding kamar yang bernuansa kelabu. Kebenaran yang telak dan kejam itu menghantamnya tanpa sisa, meremukkan sisa-sisa harapan terakhir di hatinya, dan meninggalkan kehampaan yang teramat dalam di dadanya.
Namun, di saat Bella berpikir hidupnya tidak mungkin menjadi lebih buruk lagi, tiba-tiba derap langkah sepatu pantofel yang berat dan terukur terdengar mendekat di luar pintu kamar. Ketukan pelan namun tegas berbunyi satu kali, sebelum gagang pintu perlahan ditekan dari luar.
Bella dan Clarisa serentak menoleh tegang ke arah pintu.
Sosok tinggi berbalut kemeja hitam legam dengan lengan digulung hingga siku muncul di ambang pintu. Christian Gerald berdiri di sana dengan postur tegap dan wibawa yang mendominasi ruangan. Sorot mata cokelat gelap pria itu menatap tajam lurus ke arah Bella, menilai setiap detail kondisi keponakannya yang tampak hancur lebur di atas tempat tidur.
Pria itu melangkah masuk tanpa diundang, aroma woody yang khas seketika menguar di udara kamar. Clarisa yang duduk di sebelah Bella langsung menegang ketakutan; secara refleks ia merapatkan posisinya dan menunduk dalam-dalam, tidak berani membalas tatapan mengintimidasi dari sang tuan rumah.
Christian berhenti tepat di dekat nakas. Tatapannya beralih menatap mangkuk bubur yang masih utuh dan mengepulkan sedikit uap hangat di atas nampan—yang sebelumnya ditinggalkan oleh Bibi Hani dan sama sekali belum tersentuh.
"Bubur itu tidak akan berkurang isinya kalau hanya kamu tatapi seperti itu, Arabella," suara bariton Christian mengalun dingin, memecah kesunyian kamar dengan penekanan datar yang sarat akan otoritas mutlak.
Bella mendongak pelan, matanya yang bengkak dan memerah menatap pamannya dengan rasa takut dan lelah yang teramat sangat. Ia tidak membuka mulut untuk menjawab; tenggorokannya terasa terlalu sesak untuk sekadar mengeluarkan suara.
Christian menoleh ke arah Clarisa yang duduk bersitegang di samping Bella. Alis tajam pria itu sedikit berkerut, memberikan perintah tanpa perlu banyak kata.
"Kamu temannya, bukan?" tanya Christian dengan nada dingin yang membuat Clarisa menelan ludah susah payah. "Bantu dia menghabiskan makanannya. Saya tidak mau ada alasan sakit di dalam rumah ini hanya karena dia bertindak bodoh dan menolak makan."
Clarisa mengangguk cepat penuh kepatuhan, jemarinya meremas selimut Bella dengan gugup. "B-baik, Om... saya akan bantu Bella."
Christian kembali melirik sekilas ke arah Bella, memastikan tidak ada lagi sisa amukan atau benda pecah belah yang membahayakan di sekitar ranjang.
"Habiskan," ujar Christian singkat dan mutlak. Pria itu terdiam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya dengan nada yang membuat suhu di dalam kamar terasa semakin menurun. "Simpan air matamu untuk malam ini. Orang tua mu akan pulang malam ini dari luar negeri."
Mendengar nama kedua orang tuanya disebut, napas Bella mendadak tercekat. Sekujur tubuhnya kembali gemetar hebat.
"Mereka sudah mendengar kabar tentang apa yang kamu perbuat," pungkas Christian dingin, tatapannya menghujam tajam ke dalam manik mata Bella. "Persiapkan dirimu."
*
Sepeninggal Christian, keheningan yang menyesakkan kembali menyelimuti kamar tidur utama. Aroma woody yang tertinggal seolah menjadi pengingat akan mutlaknya kekuasaan pria itu di dalam rumah ini.
Clarisa menghela napas panjang, mencoba meredakan debar di dadanya akibat tatapan mengintimidasi Christian barusan. Ia lantas meraih nampan di atas nakas, mengambil mangkuk bubur yang masih mengepulkan uap tipis, lalu mengarahkannya ke hadapan sahabatnya.
"Bella..." panggil Clarisa lembut, menatap manik mata sahabatnya yang kosong. "Ayo makan sedikit. Demi aku, ya? Kamu harus punya tenaga buat ngadepin semua ini."
Bella menggeleng lemah, membuang muka. Suaranya terdengar begitu parau dan rapuh. "Aku nggak selera, Clarr... Perutku mual. Rasanya aku pengen mati aja..."
"Jangan ngomong sembarangan!" potong Clarisa tegas, meski matanya sendiri kembali berkaca-kaca. Ia merangkul bahu Bella penuh kasih sayang. "Aku tahu kamu hancur banget, tapi kalau kamu sakit atau nyerah sekarang, orang-orang yang udah nyakitin kamu bakal menang. Tolong... hargai aku yang peduli sama kamu, ya?"
Mendengar ketulusan di suara Clarisa, pertahanan Bella akhirnya goyah. Ia menatap sahabat setianya itu dengan air mata yang kembali meleleh. Merasa tidak enak jika terus menolak kebaikan Clarisa, Bella akhirnya membuka mulut secara perlahan.
"Makasih, Clarr..." cicit Bella lirih.
"Sama-sama, sahabatku," balas Clarisa tersenyum tipis, berusaha tegar di hadapan Bella.
Meskipun awalnya menolak dan merasa mual, Bella berusaha keras menelan makanan tersebut demi menghargai Clarisa. Namun, baru beberapa suap ia habiskan, Bella menggeleng pelan tanda menyerah. Tenggorokannya terasa terlalu sempit untuk menelan lebih banyak makanan.
"Udah, Clarr... beneran udah nggak sanggup," lirih Bella, membiarkan Clarisa meletakkan kembali mangkuk tersebut ke atas nampan.
Clarisa mengangguk paham lalu mengusap punggung tangan Bella dengan penuh kelembutan. Tak lama kemudian, ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya dan mendapati hari mulai beranjak petang.
"Bella, aku harus pamit pulang sekarang," ujar Clarisa dengan nada cemas, merapikan tas kecilnya. "Hari udah makin gelap, nanti mamaku nyariin di rumah."
Bella menatap sahabatnya dengan tatapan cemas, cengkeraman tangannya pada selimut mengerat. "Kamu mau pulang sekarang...? Nanti aku sendirian..."
"Aku harus pergi, Bell. Tapi kamu janji sama aku ya," ucap Clarisa bersungguh-sungguh, menggenggam erat jemari Bella. "Kalau terjadi apa-apa sama kamu malam ini, atau kalau kamu butuh temen ngobrol, langsung hubungi aku, ya? Jangan sungkan."
Bella mengangguk lemah, menyeka sisa air matanya. "Iya, Clarr... makasih banyak ya udah mau nemenin aku di saat kayak gini."
Setelah berpamitan sekali lagi, Clarisa melangkah keluar dari kamar Bella dengan langkah tergesa, berniat segera meninggalkan mansion mewah yang terasa begitu angker dan mencekam itu.
*
Namun, saat Clarisa baru saja menuruni anak tangga marmer menuju lantai dasar, langkah kakinya mendadak terhenti kaku.
Di ujung tangga, sosok Nathan berdiri dengan kedua tangan melipat di dada. Pemuda itu mengenakan kemeja kasual yang sedikit berantakan, dengan tatapan mata tajam menghujam penuh permusuhan ke arah Clarisa.
Clarisa menelan ludah susah payah, jantungnya berdegup kencang karena ketakutan. Ia mencoba melangkah melewatinya dengan sopan. "Permisi, Kak Nathan..."
"Mau ke mana kamu?" tanya Nathan dengan suara dingin dan berat, sengaja menghalangi jalur tangga yang akan dilewati Clarisa.
"A-aku... aku mau pulang, Kak," jawab Clarisa terbata-bata, menunduk ketakutan dan tidak berani menatap mata pemuda itu.
Nathan mendengus sinis, senyuman miring terbit di bibirnya yang menyiratkan kebencian mendalam. "Kalian berdua sama saja. Kamu, sahabatnya yang sok suci itu, pasti ikut-ikutan menutupi kelakuan liarnya di kelab malam kan? Ikut menikmati pergaulan bebas dan mempermalukan keluarga kami?"
"Nggak, Kak! Sumpah demi tuhan aku nggak tahu apa-apa soal itu!" sangkal Clarisa panik, air matanya hampir tumpah karena merasa difitnah. "Aku cuma dateng buat nengokin Bella karena dia hancur!"
"Bohong!" bentak Nathan tajam, membuat Clarisa tersentak kaget di tempatnya. "Teman macam apa yang membiarkan anak kurang ajar itu keluyuran kalau bukan kelompok yang sefrekuensi? Jangan pernah injakkan kaki lagi di rumah ini, atau aku pastikan hidup kalian berdua hancur!"
Karena rasa takut yang teramat sangat dan tekanan mental yang luar biasa dari tatapan Nathan, Clarisa tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Dengan air mata yang tumpah membasahi pipinya, ia berlari terbirit-birit menuruni sisa anak tangga, menyambar tasnya, dan langsung meninggalkan mansion mewah tersebut, meninggalkan Nathan yang berdiri dengan dada naik-turun menahan sisa amarah yang belum mereda.
*
*
*
lanjut thor😁😁😁