Satu malam yang tak pernah ia inginkan mengubah seluruh hidupnya.
Saras Danuarta—putri sebuah dinasti perhiasan ternama, calon dokter yang hanya bermimpi menyelamatkan nyawa orang lain—dikhianati oleh keluarganya sendiri. Demi menyelamatkan sang adik, ia terpaksa menyerahkan diri semalam kepada pria paling ditakuti di Paris: Nael Hendarto, raja bawah tanah berjuluk "Bayangan Maut". Pria yang kejam, dingin, dan tak mengenal kata cinta.
Pagi itu Saras pergi tanpa menoleh, membawa satu rahasia yang akan ia jaga dengan nyawanya.
Tujuh tahun kemudian, ia telah menjelma menjadi dokter yang dipuja seantero rumah sakit—seorang ibu tunggal yang membesarkan si kembar dengan tangannya sendiri di sudut kota yang keras. Sampai takdir kembali mempertemukannya dengan pria itu. Dan kali ini, Nael menemukan sesuatu yang tak pernah ia tahu ia miliki: sepasang mata cokelat keemasan yang sama persis dengan matanya.
Pria yang selama ini hanya mengenal darah dan kuasa kini bertekad merebut kembali segalanya—istrinya, anak-anaknya, keluarga yang tak pernah ia impikan. Tapi cinta tak bisa dibeli, tak bisa dipaksa, dan tak bisa direbut dengan ancaman. Untuk memiliki hati Saras, sang mafia harus belajar menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit daripada seorang penguasa: seorang pria yang layak dicintai.
Di antara dendam masa lalu, musuh yang mengintai, dan rahasia keluarga yang mematikan, mampukah luka yang dulu berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karina Garcia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22. KAU TAK BERHAK BERADA DI SINI
Nael merasa sakit sekaligus marah oleh apa yang dikatakan si kembar. Ia sama sekali tak suka mendengar semua yang harus mereka lalui. Saat itu ia berpikir, Sialan, bagaimana mungkin ini terjadi, anak-anakku harus menghadapi masalah-masalah ini, penderitaan ini? Aku tak bisa membiarkannya lagi. Mereka punya ayah, dan itu aku. Tak seorang pun berhak merendahkan mereka, memperlakukan mereka seperti ini. Andai aku dulu tak begitu tak bertanggung jawab, mereka tak akan pernah mengalami semua ini; mereka akan punya hidup yang sempurna di sisiku. Dan terutama kau, Saras, betapa banyak yang harus kau derita, semua karena aku tak menjagamu. Aku benci ini. Ia berusaha tersenyum, meski hatinya sakit mengetahui semua itu, lalu berkata kepada mereka.
"Lian, jangan khawatir, aku tak akan mengatakan apa pun pada mamamu. Kalian bisa cerita apa saja padaku. Bagaimana kalau aku bantu? Aku bisa membuat anak-anak itu, gadis itu, berhenti mengganggu kalian. Kalau kalian izinkan, aku bisa membantu, jadi mama kalian bisa lebih tenang. Boleh aku bertanya soal ayah kalian? Apa yang mama kalian ceritakan? Di mana dia?"
Si kecil Lia menjadi riang dan tanpa bisa dikendalikan mulai bicara.
"Terima kasih, Om. Kalau Om bisa membuat mereka diam, kami sangat berterima kasih. Soal ayah kami, Mama bilang dia belum bisa bersama kami saat ini, ada beberapa hal yang terjadi, hal-hal yang belum bisa kami mengerti di usia kami. Mama bilang, kalau kami sudah dewasa nanti, dia akan memberi tahu di mana Papa berada, dan terserah kami apakah kami mau menemuinya atau tidak. Tapi Mama bilang, kami tak boleh membenci Papa, kami hanya harus menunggu sampai tahu kebenaran tentang Papa."
Lian berkata agak ragu.
"Terima kasih, Om, karena tak mengatakan apa pun pada Mama. Aku tak suka melihat Mama sedih. Setiap kali kami punya masalah, dia masuk ke kamar mandi saat mengira kami sudah tidur, dan aku mendengarnya menangis. Tapi kami tak akan memberinya masalah lagi yang membuatnya sedih. Mama baik pada kami dan sangat menyayangi kami. Kalau dia bilang kami harus menunggu untuk tahu soal Papa, ya begitulah nanti, karena dia sangat menyayangi kami dan kami cukup menunggu saja."
Nael merasa lega. Mengetahui bahwa Saras tak pernah bicara buruk tentang dirinya di depan mereka adalah sesuatu yang mulia. Dan melihat kedua anaknya begitu penuh perhatian pada ibu mereka, mencemaskan kebahagiaannya, membuatnya senang. Itu artinya mereka anak-anak yang baik, bahwa Saras berhasil mendidik mereka dengan baik, terlepas dari segala yang harus ia lalui.
Nael tak bertanya lebih jauh. Selepas sarapan, ia mengajak mereka berbelanja. Mereka mengunjungi beberapa toko mainan, tempat ia membelikan mainan sebanyak yang mereka mau. Tetapi yang paling membuat mereka bersemangat adalah sepeda. Akhirnya ia membelikannya, lalu membawa mereka ke sebuah taman untuk mengajari mereka bersepeda. Nael sudah menyiapkan hal-hal lain untuk mereka, tetapi sepeda itu menyita perhatian mereka sepenuhnya. Mereka berada di taman sampai bisa naik sepeda tanpa roda kecil bantu di bagian belakang. Mereka baru berhenti untuk makan. Ia membawa mereka ke salah satu restoran terbaik di kota, yang paling mewah dan mahal, memesan meja terbaik. Ia ingin memberi mereka yang terbaik.
Si gadis kecil bersemangat, menikmati segalanya, tetapi ia ingin ke toilet. Bagi Nael itu masalah. Ia tak bisa masuk ke toilet bersamanya; ia merasa situasi itu tak pantas. Meski itu putrinya sendiri, ada hal yang tak berani ia lakukan. Saat itu ia memanggil salah satu pramusaji dan memerintahkannya menemani Lia—ia harus berada di sisi anak itu sampai kembali bersamanya.
Pramusaji itu gugup. Tatapan dan suara Nael mengandung nada mengancam. Di tempat itu semua orang tahu siapa dirinya, karena setiap kali berada di kota ia selalu makan di sana. Perempuan itu menyadari bahwa si gadis kecil pastilah seseorang yang penting, sampai Nael bersikap seperti itu. Ia membantu Lia turun, menemaninya ke toilet. Namun ada saat ketika perhatian pramusaji itu teralih karena harus menjawab ponselnya.
Si kecil Lia masuk ke toilet, menuntaskan keperluannya, dan saat keluar ia sial bertemu dengan Dalia dan ibunya. Ia merasa tak nyaman, berusaha mencuci tangan lalu cepat-cepat pergi dari situ. Saat itu Dalia melihatnya, berdiri menghadangnya agar tak bisa maju.
Lia merasa jengkel, tetapi melihat Dalia bersama ibunya, ia merasa terintimidasi. Perempuan itu mengenakan gaun elegan yang ketat membalut tubuh dengan belahan dada cukup berani, gaun pendek, sepatu hak jarum yang sangat tinggi, rambut keritingnya tergerai sampai di bawah bahu, riasan yang cukup menggoda. Terlihat jelas betapa anggun dan menggoda perempuan itu. Si gadis kecil tak ingin cari masalah, jadi ia meminta izin untuk lewat, tetapi Dalia tak membiarkannya. Dengan suara angkuh Dalia berkata.
"Apa yang kau lakukan di sini? Ini bukan tempat untukmu, gadis kampungan. Lihat baju yang kau pakai, kau kotor semua. Lihat celanamu yang sobek, rambutmu bahkan tak disisir. Kau harusnya pergi. Aku tak suka berada di tempat yang ada kau. Kapan kau akan mengerti?"
Lia menatapnya. Dalia mengenakan gaun merah muda yang indah, sepatu baru, rambut keritingnya diikat dengan pita elegan, kalung bertuliskan namanya, gelang, sebuah cincin di jari tengahnya—semua tampak sempurna. Setelah memandanginya, Lia membandingkan dirinya dengan Dalia, dan semuanya berkebalikan. Celananya sobek di bagian lutut akibat bermain sepeda, blusnya lusuh dengan beberapa lubang kecil yang mulai terlihat di berbagai bagian, sepatu ketsnya sudah usang dan menipis saking tuanya, rambutnya diikat asal-asalan dalam kuncir longgar yang sudah berantakan.
Lia merasa sedih. Ia hanya ingin pergi dari situ. Ia ingin menangis, ingin membalas, tetapi tak mampu bersuara, dan ia juga tak mau menangis di depan Dalia. Lia menundukkan kepala dan, dengan putus asa ingin keluar dari situ, ia mendorong Dalia hingga terjatuh ke lantai. Saat si gadis kecil hendak berlari, ibu Dalia mencengkeram lengannya dan dengan geram berkata.
"Berani-beraninya kau memperlakukan anakku seperti itu. Bagaimana kau bisa masuk ke sini? Lihat dirimu, aku tak yakin orang tuamu mampu membayar tempat seperti ini. Kau anak kampungan. Minta maaf pada anakku."
Lia tak mau minta maaf. Itu tidak adil; Dalia yang lebih dulu mengganggunya. Dengan suara bergetar ia berkata.
"Aku tak berbuat salah. Dia yang lebih dulu mengganggu aku."
Ibu Dalia yang murka menampar Lia dan dengan suara berang berkata.
"Kau anak tak tahu adab. Berani-beraninya kau membantahku. Ibumu tak mengajarimu menghormati orang yang lebih tua. Tapi sekarang aku yang akan mendidikmu, aku yang akan mengajarimu bersikap."
Perempuan itu memukul pantat Lia beberapa kali dan menamparnya dua kali lagi. Lia mulai menangis, karena tamparan dan pukulan itu menyakitkan, tetapi yang lebih menyakitkan adalah cengkeramannya, yang menahan lengannya begitu kuat. Si gadis kecil menangis, memohon agar dilepaskan. Saat itu pramusaji tadi masuk ke toilet dan melihat apa yang terjadi. Ia pucat menyaksikan bagaimana perempuan itu memukuli si gadis kecil, membayangkan betapa murkanya Nael nanti. Ia bergegas mendekat, melindungi Lia dengan tubuhnya, dan dengan panik memohon agar perempuan itu melepaskan si anak. Melihat pramusaji itu, perempuan tersebut malah menamparnya dan dengan berang berkata.
"Kau harusnya mengajari anakmu sopan santun. Dia baru saja menyakiti putriku. Aku tak mengerti bagaimana kau berani membawanya ke tempat seperti ini. Kau harusnya tahu tempat semacam ini bukan untuk orang seperti kau dan anakmu yang liar itu. Tapi sekarang juga aku akan membuat kalian diusir. Kekurangajaran ini tak akan kubiarkan begitu saja."
Perempuan itu tak melepaskan Lia, yang terus menangis karena kesakitan, sementara pramusaji itu dengan panik memohon agar ia dilepaskan, dan Dalia menertawakan Lia, bangga akan keributan yang telah ia timbulkan.