Satu malam, Syafiya (21) salah masuk ke kamar Zeffan (32)—kakak angkatnya sendiri. Malam terlarang itu mengubah segalanya.
Zeffan yang terbiasa dingin kini terobsesi menjadikan Syafiya wanita simpanannya. Padahal, Zeffan sudah memiliki istri anggun, Valerie (28), dan bayi berusia satu tahun.
Syafiya terjepit di antara utang budi pada Mommy Marlina dan cengkeraman obsesi Zeffan. Bisakah ia kabur, atau justru makin tenggelam dalam dosa terlarang ini?
"Kamu yang masuk ke kamarku malam itu, Syafiya. Jadi jangan mimpi bisa lepas dariku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu yang Tak Diundang
"Maaf, Anda mau cari siapa, ya?" tanya Syafiya saat membuka pintu utama mansion untuk pergi ke butik.
Di ambang pintu, berdiri seorang pria berpenampilan rapi namun raut wajahnya tampak begitu cemas. Pria itu menyapu pandangannya ke dalam rumah megah tersebut sebelum menatap Syafiya.
"Valerie-nya ada?" tanya pria itu tanpa basa-basi.
"Kak Valerie?" panggil Syafiya terkejut, mengernyitkan alisnya bingung melihat pria asing yang mencari kakak iparnya di pagi hari seperti ini.
"Siapa, Syafiya?" tanya Marlina mendekat ke arah pintu, yang juga sudah bersiap-siap ingin pergi ke butik bersama Syafiya.
Marlina melangkah anggun, namun tatapannya langsung menajam saat melihat sosok pria tak dikenal berdiri di depan pintu rumahnya.
"Maaf, Anda siapa, ya?" tegur Marlina dengan suara dingin dan penuh selidik. "Ada urusan apa mencari menantu saya pagi-pagi begini?"
Pria itu tampak tersentak kaget melihat kehadiran Marlina. Ia menelan ludah canggung dan merapikan posisi berdirinya.
"A-selamat pagi, Tante," sapa pria itu gagap. "Saya Aris... teman lamanya Valerie. Saya cuma mau memastikan keadaan Valerie. Ponselnya dari kemarin tidak aktif saat saya hubungi, jadi saya khawatir."
Teman lama Kak Valerie? Siapa dia? Kenapa Kak Valerie tidak pernah cerita? batin Syafiya bingung. Ia benar-benar tidak tahu siapa pria di hadapannya ini, apalagi soal urusan di antara mereka.
"Khawatir?" Marlina terkekeh sinis, matanya memancarkan rasa curiga yang teramat sangat. "Anda ini cuma teman lama, tapi kenapa perhatian sekali sampai mendatangi rumah orang? Valerie itu sudah punya suami! Tidak pantas seorang pria asing datang menanyakan istri orang lain seperti ini!"
"Mom, sudah..." bisik Syafiya pelan, mencoba menenangkan ibu angkatnya karena merasa tidak enak pada tamu asing itu. "Mungkin Mas ini cuma mau menyampaikan hal penting."
"Diam di situ, Syafiya!" tegur Marlina tegas. Ia lalu kembali menatap Aris dengan tatapan mengintimidasi. "Sebaiknya Anda pergi dari sini sebelum saya panggilkan sekuriti! Dan jangan pernah temui menantu saya lagi!"
"Tapi Tante, saya cuma mau memastikan dia baik-baik saja—"
"Ada apa ini ramai-ramai?"
Suara berat dan dingin yang sangat familiar mendadak memotong perdebatan di pintu. Dari arah tangga, Zeffan melangkah turun dengan kemeja kerjanya yang rapi. Tatapan matanya yang tajam tertuju lurus pada Aris, memancarkan aura kegelapan yang seketika membekukan seluruh ruangan.
Bertepatan juga dengan Valerie yang melangkah turun dari tangga sambil menggendong Elvano. Begitu kakinya memijak lantai bawah, matanya langsung membelalak kaget saat melihat sosok pria yang berdiri di ambang pintu.
"Valerie!" teriak Aris refleks saat melihat wanita itu.
Langkah Valerie seketika terhenti kaku. Wajahnya yang semula pucat kini berubah pasi sepenuhnya. Darahnya serasa berhenti mengalir saat menyadari siapa yang berdiri di depan pintunya, di hadapan ibu mertuanya, Syafiya, dan terutama... Zeffan.
"A-Aris?!" pekik Valerie dengan suara tercekat, cengkeramannya pada tubuh Elvano mendadak mengerat karena rasa panik yang membakar seluruh tubuhnya.
"Untuk apa kamu ke sini, Aris?!" seru Valerie histeris, mencoba mengusir pria itu sebelum situasi makin hancur. "Pergi! Pergi dari sini!"
"Valerie, aku cuma khawatir sama kamu!" potong Aris dengan raut wajah panik, tak memedulikan tatapan membunuh dari orang-orang di ruangan itu. "Ponselmu mati seharian kemarin! Kamu bilang rumah tangga kamu bermasalah, aku cuma mau tahu keadaan kamu!"
Degh!
Marlina membelalak kaget, napasnya tertahan mendengar ucapan Aris. Wanita paruh baya itu langsung menoleh ke arah menantunya dengan tatapan penuh kepuasan bercampur kecurigaan yang membara.
"Apa-apaan ini?!" bentak Marlina tajam, menunjuk Aris lalu beralih menunjuk Valerie. "Jadi pria ini tempatmu mengadu, Valerie?! Kamu menceritakan masalah rumah tanggamu pada pria asing di belakang Zeffan?!"
"Nggak, Mom! Demi Allah enggak!" jerit Valerie menangis histeris, menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Dia cuma teman sekolahku dulu, Mom! Aku gak ada hubungan apa-apa sama dia!"
Syafiya berdiri membeku di samping Marlina, memegangi dadanya yang berdebar kencang. Ia menatap Valerie yang tampak begitu terdesak dan ketakutan, lalu melirik ke arah Zeffan.
Zeffan tidak memekik atau berteriak. Pria itu justru melangkah maju dengan sangat tenang—ketenangan yang amat mematikan. Matanya menyipit menatap Aris, lalu berpindah menatap Valerie yang sedang gemetaran hebat.
"Jadi... ini pria yang selama ini mengisi pikiranmu, Valerie?" desis Zeffan dengan suara berat yang begitu dingin, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kehancuran.
"M-Mas Zeffan, aku mohon... Bukan begitu, Mas!" rintih Valerie bersimpuh di lantai sambil memeluk Elvano erat-erat, air matanya mengalir deras membasahi wajahnya. "Suruh dia pergi, Mas! Aku mohon..."
"Pergi?" Zeffan terkekeh sinis, lalu mengalihkan tatapannya kembali ke Aris. "Kenapa suruh dia pergi? Bukankah bagus dia datang ke sini, jadi aku tidak perlu repot-repot mencarinya?"
"Zeffan, kamu tahu masalah ini?!" tanya Marlina dengan suara meninggi, menatap putranya penuh tuntutan dan rasa tidak percaya.
"Aku baru tahu tadi malam, Mom. Saat pria ini mengirimkan pesan kepada Valerie," sahut Zeffan tenang, suaranya terdengar begitu datar namun penuh penekanan. "Tetapi sayangnya, ponsel Valerie sudah hancur."
Degh!
Valerie mendongak dengan wajah bersimbah air mata, menatap Zeffan dengan pandangan hancur dan keputusasaan yang teramat sangat. Zeffan baru saja membalikkan fakta secara halus—membuat seolah-olah ponsel itu hancur dalam pertengkaran biasa, padahal Zeffan sendiri yang menyita dan memegang kendali atas ponsel tersebut.
"Ponsel hancur?!" seru Marlina makin meradang. "Astaga, Valerie! Jadi selama ini kamu menyembunyikan pria ini di belakang anak saya?! Kurang ajar sekali kamu!"
"Gak begitu, Tante! Tolong dengarkan dulu!" sela Aris berusaha membela, melangkah maju satu tapak. "Saya sama Valerie gak pernah ada hubungan terlarang! Saya cuma kasihan lihat dia ditekan di rumah ini!"
"Tutup mulutmu!" bentak Zeffan tajam, melayangkan tatapan membunuh yang membuat Aris mendadak membisu. "Kamu datang ke rumahku, berdiri di hadapan ibuku, dan berani menceramahiku soal istriku sendiri?"
Syafiya yang berdiri di sebelah Marlina hanya bisa menutup mulutnya, gemetar melihat kekacauan di depan matanya. Ia tidak pernah menyangka rahasia kelam Valerie akan terbongkar dengan cara seluar biasa ini di depan Mommy.
"Mas Zeffan... aku mohon, Mas..." isak Valerie merintih di lantai, memeluk Elvano yang mulai menangis karena ketakutan mendengar bentakan di sekelilingnya. "Usir dia, Mas... Aku gak pernah mau dia datang ke sini..."
"Kenapa harus diusir?" desis Zeffan dingin, menyunggingkan senyum kemenangan yang sangat gelap ke arah Valerie. "Biar dia lihat sendiri, bagaimana posisi wanita yang dibelanya ini sekarang. Biar dia tahu kalau kamu cuma seorang istri yang sudah membusukkan nama baik keluargamu sendiri."
lanjut kayaknya bakalan seru ini tetap 💪🫰