NovelToon NovelToon
Tuhan,Izinkan Aku Berdosa

Tuhan,Izinkan Aku Berdosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Teen / Penyelamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ulva k

Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.

Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.

"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."


Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.

Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.

Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?

Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 20

Jam 7.15 pagi.

Bapak sudah pulang dan masuk ke rumah . Pintu terbuka lebar. Pisau yang Bapak bawa ke kebun tadi ditaruh di atas meja kayu,

Aku masih berdiri di kebun jambu air. Sendirian.

Di bawah pohon jambu, ada dua pilihan yang menjadi pikiran ku .

Pilihan pertama ke arah jalan becek yang menuju ke pondok Al-Hidayah apakah aku harus kembali dan balas dendam untuk membuktikan kalau aku tidak salah dan menghancurkan orang munafik itu

Ataukah pilihan yang membuat aku kembali ke jalan yang lurus pergi merantau dengan melupakan semuanya dan memilih iklas atas perlakuan orang munafik itu.

kedua pilihan itu membuat ku bingung dan harus kupilih salah satu diantara nya.

Dua jalan.

Di saku daster itu, flashdisk merah asli masih ada. Sekarang sudah dingin. Tidak panas lagi kayak pas aku wudhu tadi jam 6.15. Mungkin karena aku sudah sholat.

Aku pegang flashdisk merah itu. Dinginnya kayak air sumur tadi.

Kalau aku pilih jalan pertama, Aku datang bawa flashdisk merah ini. Aku colok di laptop kantor pondok. Di depan Ustadz Mahmud dan Kyai Rahman. Aku sebar isinya detik itu juga. Video CCTV dan foto foto aib.

Semua santri Al-Hidayah akan lihat siapa orang munafik yang sok suci berkedok agama itu. Pondok itu pasti tutup hari itu juga.

Mimpi ku yang hancur terbalas. Dendam ku hilang. Tapi Bapak yang baru saja angguk lihat aku sholat dari jendela, akan malu lagi depan orang sekampung.

Kalau aku pilih jejak kedua, jalan ke terminal. Merantau pergi jauh dari kampung ini apakah hidupku akan benar benar berubah

Tapi kalau aku lupa, siapa yang akan ingat kalau di dinding kos pink pudar itu pernah ada 4 nama pakai lipstik merah? Siapa yang akan ingat kalau aku pernah diusir malam hujan di pondok Al-Hidayah waktu awal kehancuran hidup ku, cuma gara-gara aku bilang aku difitnah? Kalau aku lupa, orang munafik itu akan tetap pakai peci putih bersih, dan akan ada Laila-Laila lain yang diusir dengan alasan yang tak pantas.

Aku duduk di bawah pohon jambu. Bersandar ke batang pohon kayak Bapak tadi.

Aku keluarin flashdisk merah dari saku daster. Aku lihat tutupnya masih rapet. Tidak ada lumpur lagi.

Aku ingat kata Mami Asih 7 hari lalu di bawah pohon jambu yang sama Jangan pernah kasih bukti asli di tempat rame. Biar yang lihat cuma yang berkepentingan.

Yang berkepentingan sekarang bukan orang sekampung. Bukan ibu-ibu tahlilan. Bukan santri Al-Hidayah.

Yang berkepentingan cuma satu: aku sendiri.

Aku mau balas dendam atau aku mau sembuh?

Jam 7.20 pagi. Bapak keluar lagi dari rumah papan. Bawa dua gelas kopi dan susu . Satu buat Bapak, satu buat aku.

Bapak duduk di samping ku di bawah pohon jambu.

"Laila, sudah pilih?" Bapak tanya, pelan. Tidak maksa.

Aku minum susu itu.

"Pak, kalau Laila merantau ke Jawa seminggu lagi, boleh Laila bawa mukena putih ibu yang sobek ujungnya itu?"

Bapak kaget. Bapak kira aku mau tanya tentang flashdisk.

"Boleh. Memangnya buat apa?"

"Buat sholat di perantauan, Pak. Biar tidak malu lagi sama Tuhan. Kalau Laila masih bawa flashdisk merah ini, tapi Laila juga bawa mukena ibu, berarti Laila tidak lupa, tapi juga tidak dendam. Laila ingat."

Bapak angguk. Angguk yang paling panjang sejak ibu meninggal.

Di saku daster, flashdisk merah itu dingin. Sudah tidak panas lagi.

Ustadz Mahmud dan kyai Rahman di pondok Al-Hidayah masih di tunggu dengan rasa kecemasan aku datang bawa flashdisk itu. Dia pikir aku datang buat sebar.

Dendam ku masih ada. Bergetar di dalam flashdisk merah itu.

1
Garrel
semngat laila💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!