Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.
Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.
Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.
Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.
Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?
Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Ara Jadi Kepala Desa
Lima tahun kemudian.
Langgur tahun 2029 sudah tidak bisa dibilang desa kecil lagi. Dari laut, Langgur terlihat seperti kota kecil yang terang. Dua belas rumah batu bata putih yang dibangun lima tahun lalu sekarang sudah jadi 30 rumah batu bata, karena banyak warga Langgur yang merantau ke Tual dulu sekarang balik lagi karena Langgur sudah aman dan ada listrik dari genset besar.
Gedung SD Langgur yang dulu 3 kelas sekarang sudah jadi 6 kelas, ada SMP kecil 2 kelas yang baru dibangun tahun lalu pakai uang bantuan dari pemerintah provinsi Maluku karena Langgur dapat penghargaan desa paling rukun se-Maluku Tenggara.
Pohon Revan Baru yang ditanam Dion enam tahun lalu dari biji terakhir Pohon Revan, sekarang tingginya sudah 8 meter, besar, rimbun, batangnya sebesar drum, daunnya lebat sekali, buah mangganya setiap musim berbuah 100 buah lebih, manis semua, jadi sumber penghasilan Langgur, dijual ke Tual dengan nama Mangga Revan Langgur.
Di bawah Pohon Revan Baru itu, Tugu Revan batu hitam 2 meter itu masih berdiri tegak, tidak ada lumut, masih mengkilap, karena setiap hari dibersihkan Dion. Di tugu itu sekarang ada tambahan ukiran kecil di bawahnya, tulisan baru, "Terima kasih sudah jaga kami - Warga Langgur 2024-2029".
Dion sekarang sudah 27 tahun. Dia bukan lagi penjaga pohon saja. Dia sekarang jadi kepala pembangunan desa, yang ngurus bangun jalan semen dari pantai ke balai desa. Dia sudah menikah dua tahun lalu dengan Siti, gadis dari Tual yang datang jadi guru SMP Langgur. Mereka sudah punya anak bayi perempuan umur 6 bulan, namanya diberi nama Revani, dari nama Revan, untuk ingat pahlawan Langgur.
Ara sekarang sudah 24 tahun. Rambutnya sudah panjang, tidak dikuncir dua lagi, tapi diikat satu di belakang. Dia masih pakai kalung batu R dan A yang utuh yang dikembalikan Revan di mimpi terakhir enam tahun lalu, kalung itu tidak pernah lepas dari lehernya.
Dan hari ini adalah hari paling penting untuk Ara dan Langgur.
Di balai desa baru yang gedungnya dari batu bata juga, ada pemilihan kepala desa baru. Pak RT Unus yang sudah tua, umur 65 tahun, sudah tidak kuat lagi jadi kepala desa, dia mau pensiun dan mau serahkan jabatan kepala desa ke generasi muda.
Ada dua calon, calon pertama adalah Jali, yang sudah 30 tahun, calon kedua adalah Ara, yang 24 tahun.
Warga Langgur berkumpul semua di balai desa baru untuk voting, ada 100 orang lebih.
Pak RT Unus berdiri di depan dengan kotak suara kayu.
"Warga Langgur, hari ini kita pilih kepala desa baru. Calon pertama Jali, calon kedua Ara. Silakan tulis nama di kertas dan masukkan ke kotak."
Pemilihan berlangsung satu jam. Semua warga menulis dengan jujur.
Setelah dihitung, hasilnya mengejutkan tapi tidak mengejutkan.
Jali dapat 20 suara. Ara dapat 80 suara! Menang telak!
Pak RT Unus mengumumkan dengan suara keras dan bangga.
"HASIL PEMILIHAN KEPALA DESA LANGGUR 2029! PEMENANGNYA ADALAH ARA! DENGAN 80 SUARA! ARA JADI KEPALA DESA BARU LANGGUR! KEPALA DESA PEREMPUAN PERTAMA DI SEJARAH LANGGUR!"
Semua warga bersorak dan tepuk tangan keras! Anak-anak SD teriak, "BU GURU JADI KEPALA DESA! BU GURU JADI KEPALA DESA!"
Ara yang duduk di depan dengan baju kebaya putih sederhana, kaget dan menangis bahagia. Dia tidak menyangka warga pilih dia, perempuan 24 tahun, jadi kepala desa.
Jali yang kalah, malah yang pertama maju dan peluk Ara dan salami.
"Selamat, Bu Kades Ara! Kamu pantas! Kamu yang jaga Langgur dari peti emas sampai sekarang! Aku dukung kamu 100%!"
Dion yang gendong bayi Revani juga maju dan salami Ara.
"Selamat, Kak Ara! Sekarang Langgur dipimpin sama penjaga baru!"
Ara berdiri di depan semua warga dengan air mata bahagia dan pidato pertamanya sebagai kepala desa.
"Warga Langgur yang saya sayangi, terima kasih sudah pilih saya, perempuan 24 tahun, jadi kepala desa. Enam tahun lalu, Langgur hampir hilang karena peti emas Belanda. Enam tahun lalu, kita harus tebang Pohon Revan yang kita sayangi. Enam tahun lalu, kita kehilangan Revan, penjaga kita."
Ara menunjuk ke arah Pohon Revan Baru dan Tugu Revan yang terlihat dari jendela balai desa.
"Tapi hari ini, Langgur punya 30 rumah batu, punya SD 6 kelas dan SMP 2 kelas, punya Pohon Revan Baru yang berbuah 100 mangga, punya Tugu Revan yang tidak akan tumbang, dan punya bayi Revani yang akan jadi generasi baru Langgur."
Ara memegang kalung batu R dan A di lehernya.
"Revan pernah bilang ke saya di mimpi terakhir, 'Jaga Langgur ya, Ra.' Hari ini saya janji di depan Tugu Revan dan di depan kalian semua, saya akan jaga Langgur sebagai kepala desa, bukan sebagai guru lagi, tapi sebagai kepala desa perempuan pertama yang akan buat Langgur lebih terang lagi!"
Semua warga bersorak lagi lebih keras, "HIDUP BU KADES ARA! HIDUP LANGGUR!"
Malam itu, ada pesta besar di bawah Pohon Revan Baru. Genset besar dinyalakan terang, 30 rumah menyala semua, ada musik gitar dari Jali, ada papeda besar dari Mama Ino, ada ikan bakar 50 ekor.
Ara sebagai kepala desa baru duduk di batang Pohon Revan lama yang masih jadi bangku panjang itu, di samping Tugu Revan, memandang warga Langgur yang makan dan tertawa bersama.
Bayi Revani, anak Dion, digendong Ara, bayi itu memegang kalung batu R dan A di leher Ara dan tertawa cekikikan.
Dion yang melihat anaknya tertawa di gendongan Ara, berkata, "Lihat, Kak Ara, Revani suka sama kalung R dan A itu. Mungkin dia kenal Revan dari sana."
Ara mencium kening bayi Revani.
"Mungkin, Dion. Mungkin Revan ada di dalam tawa bayi ini."
Angin malam Langgur bertiup pelan, membawa wangi 100 buah mangga dari Pohon Revan Baru yang matang, wangi yang manis.
Di atas Tugu Revan, bintang paling terang yang muncul enam tahun lalu di mimpi terakhir Ara, masih ada, bersinar terang di langit malam Langgur, menjadi saksi bahwa Langgur sekarang dipimpin oleh Ara, anak kecil yang dulu menemukan jaket hitam di bawah pohon mangga, yang sekarang jadi kepala desa.
Langgur benar-benar sudah menjadi desa yang merdeka, yang dipimpin oleh orang yang paling sayang sama desa itu.
Dan di buku harian kepala desa baru Langgur, Ara menulis halaman pertama sebagai kepala desa,
"Hari pertama jadi Kades. Tugas pertama: siram Pohon Revan Baru. Karena kalau pohon itu hidup, Langgur hidup."