Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.
Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.
Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.
Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.
Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.
Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”
Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Wajah Bianca berubah pucat seperti mayat.
Keluarga Morales. Nama keluarga itu bukan sesuatu yang asing baginya. Keluarga tersebut merupakan keluarga besar dari pihak Valentina, ibu Lorenzo. Dan Samuel Morales adalah sepupu jauh dari keluarga pihak ibunya.
Bianca menatap Alina dengan napas tertahan. "Bagaimana kamu bisa tahu?"
Alina tersenyum tipis. "Aku punya mertua yang cukup cerewet kalau sudah membahas keluarga."
Bianca semakin gelisah.
Alina menyandarkan punggungnya ke bangku. "Sepertinya kamu juga tidak akan bisa menikah dengan Samuel."
Mata Bianca langsung membesar. Dia tidak mau kehilangan Samuel setelah di putuskan oleh Lorenzo
"Kecuali Samuel berani mengambil risiko," lanjut Alina menatap Bianca dengan serius.
"Risiko apa?"
Alina memiringkan kepalanya. "Dicoret dari daftar keluarga Morales."
Wajah Bianca yang sudah pucat, semakin tak berwarna, sepertinya semua darah di sekitar wajahnya, menghilang.
"Ti-dak mung-kin!" Suara Bianca terdengar lebih tinggi daripada sebelumnya.
Alina justru tersenyum semakin lebar. "Kenapa tidak mungkin?" Dia mengambil minumannya dan meneguk sedikit sebelum melanjutkan.
"Kalau dia menikah dengan wanita yang sudah masuk daftar hitam dan ditolak oleh keluarga Morales, menurutmu orang tuanya akan diam saja?"
Bianca mengepalkan tangan di atas pangkuannya. Bianca menatap kosong.
Alina mengangkat bahu. "Terserah kalau kamu tidak percaya. Aku hanya memberi tahu apa yang pernah diucapkan oleh mertuaku. Katanya, kalau kamu sudah masuk daftar hitam keluarga mereka, jangan berharap bisa diterima kembali."
Alina tersenyum kecil. "Jadi, kalau Samuel memang ingin bersama kamu, dia harus pikirkan baik-baik."
Bianca terdiam. Untuk beberapa saat, tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. Bianca menundukkan wajah. Jari-jarinya mencengkeram kain pakaiannya sampai berkerut. Dia tahu persis kenapa dua keluarga konglomerat itu menolak dirinya menjadi bagian dari keluarga mereka.
Sementara dari kejauhan, Lorenzo memperhatikan perubahan wajah Bianca. Alvaro ikut memperhatikan.
"Sepertinya Alina mengatakan sesuatu yang membuat Bianca pucat," gumam Alvaro.
Lorenzo menahan senyum. "Dia memang begitu."
Alvaro menoleh. "Kamu malah bangga?"
Lorenzo tersenyum tipis. "Itu istriku."
Alvaro langsung tertawa pelan. "Kamu benar-benar jatuh cinta sama Alina."
Lorenzo hendak membantah. Namun, ketika melihat Alina yang masih duduk tenang di hadapan Bianca, kata-kata itu tertahan di ujung lidahnya.
***
Jauh sebelum hubungan Bianca Moretti dan Samuel Morales terbongkar di hadapan Lorenzo, semuanya bermula dari kehidupan Bianca yang berubah drastis.
Dulu, nama keluarga Moretti masih sering muncul dalam berbagai acara bisnis dan sosial kalangan atas. Mereka memiliki perusahaan besar, rumah mewah, mobil mahal, dan gaya hidup yang membuat Bianca terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan.
Namun, kekayaan itu tidak bertahan selamanya. Kesalahan bisnis yang beruntun, utang yang menumpuk, serta keputusan investasi yang gagal membuat kerajaan bisnis keluarga Moretti runtuh perlahan. Bahkan beberapa teman yang dahulu selalu mengelilingi Bianca mendadak menghilang. Bianca tidak siap menerima kenyataan itu. Dia masih ingin hidup seperti dulu. Dan yang paling penting, dia tidak mau merasa miskin.
Masalahnya, penghasilan yang dimiliki Bianca tidak cukup untuk membiayai semua keinginannya. Maka wanita itu mulai mencari jalan lain. Dia mendekati pria-pria kaya. Awalnya hanya untuk mendapatkan hadiah dan biaya hidup yang terbiasa mewah.
Satu pria membelikannya tas. Pria lain membayar makan malam mahal. Ada yang membawanya berlibur. Ada pula yang memberinya perhiasan.
Bianca tidak merasa bersalah. Baginya, selama para pria itu rela mengeluarkan uang, tidak ada yang perlu dipermasalahkan.
Sebenarnya Bianca bisa mendapatkan itu semua dari Lorenzo. Pria itu cukup royal kepadanya. Bianca tidak pernah kekurangan ketika bersamanya.
Namun, ada satu hal yang membuat Bianca yang dalam masa gejolak nafsu muda, tidak puas. Lorenzo tidak pernah mau melewati batas yang sudah dia tentukan sendiri. Setiap kali Bianca mencoba hubungan lebih jauh, Lorenzo selalu menghentikannya.
"Bukannya kita saling mencintai?" tanya Bianca suatu malam ketika mereka sedang makan malam berdua.
Lorenzo meletakkan gelasnya perlahan. "Ya, aku mencintaimu."
"Kalau begitu kenapa kamu selalu menolakku?"
Lorenzo menatapnya cukup lama. "Aku ingin menjaga kehormatanmu dan kehormatanku sendiri."
Bianca mengernyit. "Kehormatanku?"
Lorenzo menarik napas. "Aku ingin hubungan ini memiliki batas yang jelas. Kalau suatu hari kita menikah, semuanya akan berbeda."
Bianca bersandar ke kursinya. Dia tersenyum, tetapi senyum itu tidak mencapai matanya. "Romantis sekali."
Lorenzo tidak menyadari nada sinis di balik ucapan itu. Dia justru menggenggam tangan Bianca. "Aku serius."
Bianca membalas genggamannya. Namun, dalam hati dia menggerutu. Menurutnya Lorenzo orang yang serius sekali sampai membosankan.
Bianca menginginkan pria yang bisa memberinya kesenangan, bukan hanya hadiah. Dia ingin merasa diinginkan. Dia ingin mendapatkan apa yang dia mau tanpa harus menunggu pernikahan.
Sementara Lorenzo tetap pada pendiriannya. Tidak peduli seberapa cantik Bianca di hadapannya, tidak peduli seberapa besar godaan yang diberikan wanita itu, Lorenzo selalu menarik diri.
"Aku tidak mau," katanya setiap kali Bianca mencoba melewati batas.
Dan semakin sering ditolak, semakin besar rasa kesal Bianca. Sampai akhirnya, Bianca mulai mencari pria lain.
Samuel Morales muncul beberapa bulan yang lalu. Pertemuan pertama mereka terjadi di sebuah acara makan malam kalangan bisnis. Bianca mengenakan gaun yang membuat banyak kepala menoleh ketika dia masuk.
Samuel juga berada di sana. Pria itu sedang berbicara dengan beberapa kenalannya ketika pandangannya berhenti pada Bianca. Dia tidak langsung mengalihkan pandangan.
Bianca menyadarinya. Wanita itu justru tersenyum kecil.
Beberapa menit kemudian, Samuel menghampirinya. "Sepertinya kita pernah bertemu."
Bianca mengangkat gelasnya dan tersenyum manis. "Sepertinya."
"Samuel Morales." Samuel mengangkat gelasnya juga.
"Bianca Moretti."
"Kamu mantannya Lorenzo, kan?" Samuel baru ingat dengan kekasih sepupunya, dahulu.
Bianca tersenyum manis. Dia tidak berkata apa-apa karena menyadari kalau Samuel masih berkerabat dekat dengan Lorenzo.
"Senang bertemu denganmu," ucap Samuel.
"Begitu juga dengan aku."
Percakapan sederhana itu seharusnya berakhir setelah beberapa menit. Namun, ternyata tidak. Samuel terus mencari kesempatan untuk berbicara dengan Bianca.
Bianca juga tidak keberatan. Dia tahu Samuel berasal dari keluarga kaya. Dan yang membuatnya semakin menarik, Samuel jauh lebih mudah diajak bersenang-senang dibandingkan Lorenzo. Tidak ada nasihat tentang kehormatan. Tidak ada batas yang membuat Bianca harus menunggu.
Samuel juga royal. Ketika Bianca mengatakan menyukai sesuatu, Samuel tidak banyak bertanya akan membelikannya.
Hubungan mereka kemudian semakin dekat. Hanya dalam beberapa bulan, Samuel sudah mulai terbiasa menghabiskan waktu bersamanya. Menghabiskan malam dengan berbicara hingga larut. Dan ketika hubungan mereka semakin jauh, Samuel baru tahu kalau Bianca masih menjalin hubungan dengan Lorenzo. Namun, dirinya sudah tidak bisa melepaskan Bianca.
***
Di taman kota, Bianca menundukkan wajah setelah Alina menjelaskan tentang sikap keluarga Morales. "Tidak mungkin ...," bisiknya.
Alina menyilangkan tangan. "Kamu bisa percaya atau tidak."
Bianca mengangkat wajah. "Tapi Samuel mencintaiku."
Alina menatapnya beberapa detik. Dia kemudian tersenyum tipis.
"Kalau begitu, biarkan dia membuktikannya. Apakah Samuel berani kehilangan keluarganya demi kamu?"
Pertanyaan itu membuat wajah Bianca kembali pucat.
aduh Gustiiiii,,,adegan nya 21+ mulu niih mentang2 Lorenzo ama Alina udh bestiean /Facepalm/
bikin hareudang mulu ka Santiii...😂