NovelToon NovelToon
Lily

Lily

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:583
Nilai: 5
Nama Author: Lili Pinarsih

Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Setelah sarapan selesai, Lily membawa piring-piring kotor ke dapur. Satoshi sempat menawarkan bantuan, tetapi perempuan itu menolaknya dengan sopan. Ia tidak ingin berbicara terlalu banyak pada satoshi, terlebih setelah ancaman yang mereka terima membuat pikirannya sulit tenang.

Menjelang siang, Lily beberapa kali melirik jam dinding.

Pukul dua belas kurang lima menit.

Pelayan yang pergi ke pasar sejak pagi seharusnya sudah kembali. Perjalanan menuju pasar memang memakan waktu, tetapi biasanya perempuan tua itu tidak pernah pergi terlalu lama. Terlebih lagi, ia berjanji akan kembali sebelum tengah hari untuk menyiapkan makan siang.

Lily mengambil ponselnya dan menghubungi nomor pelayan tersebut.

Tidak ada jawaban.

Ia mencoba sekali lagi. Panggilan itu terus berdering hingga akhirnya terputus dengan sendirinya.

Lily mengerutkan kening. Ia kemudian menghubungi sopir yang mengantar pelayan itu ke pasar.

Nomor tersebut tidak dapat dihubungi.

Perasaan tidak nyaman mulai menjalar di dadanya.

Ada sesuatu yang tidak beres.

Lily berjalan mondar-mandir di ruang keluarga, mencoba mencari alasan yang masuk akal. Mungkin ponsel pelayan itu kehabisan daya. Mungkin kendaraan mereka mengalami masalah. Namun, setelah mengingat pesan misterius dan foto yang dikirimkan seseorang pagi tadi, ia tidak mampu mengabaikan kecurigaannya.

Ia harus meminta bantuan Satoshi.

Meskipun hubungan mereka jauh dari kata baik, Satoshi memiliki pengalaman dan sumber daya yang tidak dimilikinya. Untuk kali ini, Lily harus mengesampingkan kebenciannya demi keselamatan semua orang di kediaman tersebut.

Ia menaiki tangga dengan langkah cepat, lalu berhenti di depan kamar.

Pintu kamar terbuka sedikit, tetapi Satoshi tidak terlihat. Dari balik pintu kamar mandi terdengar suara air mengalir.

Lily mengetuk pintu kamar mandi.

“Tuan Satoshi?”

Suara air berhenti beberapa saat kemudian.

“Ada apa, Li?”

“Saya ingin meminta bantuan Anda.”

Satoshi terdiam sejenak. Ia tidak menyangka Lily akan datang mencarinya dengan nada yang tidak sedingin biasanya.

“Bantuan apa?”

“Pelayan yang pergi ke pasar belum kembali. Saya sudah meneleponnya berkali-kali, tetapi tidak diangkat. Sopir yang mengantarnya juga tidak bisa dihubungi.”

“Sejak kapan?”

“Seharusnya dia sudah pulang sebelum tengah hari.”

Satoshi segera mengambil handuk dan menyeka rambutnya setelah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian yang layak. Ia melihat Lily berdiri di dekat pintu, menggenggam ponselnya dengan wajah gelisah.

“Kau sudah memberi tahu kepala penjaga?”

“Belum. Saya ingin memastikan terlebih dahulu sebelum membuat semua orang panik.”

Satoshi mengangguk. Ia meraih kunci mobil dari meja.

“Aku akan mencari mereka.”

Lily mengembuskan napas lega. Namun, ketika Satoshi hendak melewatinya, pria itu tiba-tiba berhenti.

“Ada satu syarat.”

Lily menatapnya curiga.

“Syarat apa?”

Satoshi memiringkan kepala, berusaha menyembunyikan senyum kecilnya.

“Cium aku.”

Lily tertegun.

“Sekarang bukan waktunya bercanda.”

“Aku tidak bercanda. Kau datang meminta bantuanku, jadi setidaknya berikan sesuatu sebagai imbalan.”

Tatapan Lily berubah dingin. Ia hampir berbalik pergi, tetapi kecemasan terhadap pelayan dan sopir tersebut membuatnya mengurungkan niat.

“Baik. Tetapi hanya sekali. Setelah itu, Anda harus segera mencari mereka.”

Satoshi tidak menjawab. Ia hanya menunggu.

Lily mendekat dengan enggan, lalu mengecup singkat pipi pria itu. Sebelum Satoshi sempat mengatakan apa pun, Lily sudah mundur kembali.

“Sekarang, pergilah.”

Satoshi menyentuh pipinya. Meskipun ciuman itu hanya berlangsung sesaat dan jelas tidak diberikan karena kasih sayang, ia tidak dapat menyangkal bahwa dirinya merasa senang.

Namun, senyum itu segera memudar ketika melihat wajah Lily yang tetap diliputi kecemasan.

“Aku akan segera kembali,” janjinya.

Satoshi mengambil kunci mobil dan bergegas menuju garasi.

---

Mesin mobil mewah berwarna hitam itu menyala. Satoshi keluar dari gerbang kediaman setelah memberikan instruksi kepada penjaga agar meningkatkan kewaspadaan.

Ia menyusuri jalan yang mengarah ke pasar, memperhatikan setiap kendaraan yang terparkir di pinggir jalan. Beberapa menit kemudian, ia melihat sebuah mobil yang sangat dikenalnya berhenti di tepi jalan sempit.

Mobil yang digunakan untuk mengantar pelayan.

Satoshi langsung menginjak rem.

Kendaraan itu tampak tidak mengalami kerusakan berarti. Tidak ada pecahan kaca atau tanda tabrakan. Namun, pintunya tertutup rapat dan tidak seorang pun terlihat bergerak di dalamnya.

Satoshi turun, lalu mendekati mobil tersebut dengan hati-hati.

Ia mengetuk kaca jendela pengemudi.

Tidak ada jawaban.

Dengan jantung berdebar, ia mencoba membuka pintunya. Pintu itu tidak terkunci.

Satoshi membeku ketika melihat sopir terkulai di kursinya. Di sebelahnya, pelayan tua yang selama ini menjaga kediaman juga duduk tidak bergerak. Keduanya telah tewas.

Wajah Satoshi mengeras. Ia memeriksa keadaan mereka sekilas, tetapi tidak menemukan tanda bahwa masih ada yang bisa diselamatkan.

Ia segera mundur dan mengeluarkan ponsel untuk menghubungi pihak keamanan.

Namun, sebelum sempat menekan nomor, ia melihat sesuatu di bawah kursi penumpang: sebuah perangkat kecil dengan lampu merah yang berkedip.

Naluri Satoshi langsung memperingatkannya.

Ia menjauh dari mobil dan memeriksa sekeliling. Jalan itu terlalu sepi, seolah sengaja dipilih agar tidak ada saksi. Tidak ada barang belanjaan yang tercecer, tidak ada tanda perlawanan yang jelas, dan tidak ada alasan bagi kendaraan tersebut untuk berhenti di tempat terpencil itu.

Semuanya terasa direncanakan.

“Mereka sengaja membawaku ke sini,” gumamnya.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan dari nomor tak dikenal muncul di layar.

Terima kasih sudah meninggalkan kediaman. Sekarang, kau terlambat.

Wajah Satoshi seketika berubah.

Ia langsung berlari menuju mobilnya, menyalakan mesin, lalu memutar kendaraan dengan kasar. Kali ini, ia tidak lagi memikirkan pelayan dan sopir saja.

Lily berada sendirian di kediaman bersama lima belas penjaga.

Jika pesan itu benar, mereka sedang menghadapi serangan.

“Bertahanlah, Lily,” gumamnya sambil menginjak pedal gas. “Aku akan kembali.”

---

Di kediaman persembunyian, Lily baru saja meletakkan ponselnya ketika suara tembakan memecah kesunyian.

Ia tersentak hingga ponsel di tangannya hampir terjatuh.

Tembakan kedua terdengar disusul teriakan dari luar gerbang. Alarm keamanan berbunyi nyaring, membuat suasana yang sebelumnya tenang berubah menjadi kekacauan.

Lily berlari menuju jendela.

Dari balik tirai, ia melihat tiga mobil hitam berhenti di sekitar halaman luar. Puluhan pria bertopeng turun dengan senjata di tangan. Jumlah mereka jauh lebih banyak daripada penjaga yang bertugas.

Tembakan kembali terdengar.

Salah seorang penjaga berlari menuju sisi bangunan, tetapi sebelum sempat mencapai pintu, ia roboh setelah terdengar letusan keras. Penjaga lain berusaha membalas serangan dari balik tembok, namun para penyerang bergerak terkoordinasi dan terus mendesak masuk.

Lily menutup mulutnya untuk menahan jeritan.

Lima belas penjaga tidak mungkin mampu menahan tiga puluh penyerang bersenjata dalam waktu lama, terlebih jika salah satu dari mereka telah membocorkan informasi tentang kediaman itu.

Ponselnya bergetar. Nama Mahito muncul di layar.

Lily segera mengangkat panggilan tersebut.

“Kakek!”

“Lily, apa yang terjadi? Aku menerima laporan bahwa sistem keamanan kediaman terputus!”

“Mereka menyerang tempat ini! Ada banyak orang bersenjata di luar!”

Suara Mahito berubah tegang.

“Dengarkan Kakek. Jangan mendekati pintu depan. Pergilah ke terowongan rahasia yang pernah Kakek tunjukkan kepadamu. Jangan keluar sebelum orang kepercayaan Kakek menjemputmu.”

“Baik, Kek!”

Panggilan terputus ketika suara tembakan kembali terdengar, kali ini jauh lebih dekat.

Lily tidak membuang waktu. Ia berlari menuju lorong belakang, melewati ruang penyimpanan hingga tiba di sebuah panel kayu yang tersembunyi di balik lemari. Dengan tangan gemetar, ia menekan bagian tertentu yang pernah diajarkan Mahito kepadanya.

Panel itu terbuka, memperlihatkan tangga sempit menuju terowongan bawah tanah.

Lily baru hendak menuruni anak tangga pertama ketika terdengar suara langkah kaki dari belakang.

Ia menoleh.

Seorang pria bertopeng berdiri beberapa meter darinya.

Lily segera berbalik dan berlari, tetapi pria itu jauh lebih cepat. Tangan kekarnya menyambar lengan Lily, menariknya dengan kasar sebelum membekap mulutnya.

Lily meronta sekuat tenaga. Ia memukul lengan pria itu dan berusaha menggigit tangannya, tetapi cengkeraman tersebut semakin kuat.

“Jangan bergerak,” bisik pria itu dingin di dekat telinganya. “Kami sudah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menemukanmu.”

Air mata mengalir di pipi Lily. Ia mencoba berteriak, tetapi suaranya tertahan oleh telapak tangan yang menutupi mulutnya.

Pria itu menyeretnya menjauh dari terowongan, sementara seorang penyerang lain muncul dari ujung lorong untuk membantu.

Sebelum Lily sempat melihat ke mana mereka membawanya, sebuah kain menutupi wajahnya. Pandangannya menggelap, dan perlawanannya perlahan melemah.

Beberapa saat kemudian, tubuhnya terkulai dalam genggaman para penculik.

---

Satoshi tiba di kediaman dengan kecepatan tinggi.

Gerbang utama telah rusak. Mobil-mobil terparkir berantakan, kaca jendela pecah berserakan di halaman, dan asap tipis mengepul dari salah satu sudut bangunan.

Ia menghentikan mobil, lalu berlari masuk tanpa memedulikan bahaya yang mungkin masih mengintai.

“Lily!”

Tidak ada jawaban.

Satoshi menemukan seorang penjaga tergeletak di dekat pintu masuk. Ia memeriksa denyut nadinya, tetapi tidak menemukan tanda kehidupan. Di ruang keluarga, beberapa perabot telah terbalik dan pecah. Jejak pertempuran terlihat di hampir setiap sudut.

Ia berlari menaiki tangga, memeriksa kamar demi kamar.

Kosong.

“Lily!”

Suaranya menggema di lorong.

Ia menuju dapur, ruang makan, kemudian kembali ke kamar tempat Lily seharusnya berada. Tidak ada siapa pun di sana. Hanya ponsel Lily yang tergeletak di lantai dekat pintu, layarnya retak.

Satoshi memungutnya dengan tangan gemetar.

Di dekat lorong belakang, ia menemukan panel rahasia yang terbuka. Ia bergegas mendekat, tetapi jalan menuju terowongan telah kosong. Tidak ada Lily, tidak ada penculik, hanya bekas langkah dan sebuah gelang tipis milik perempuan itu yang terjatuh di lantai.

Satoshi menggenggam gelang tersebut erat-erat.

Untuk pertama kalinya, ketakutan yang selama ini hanya ia rasakan sebagai kemungkinan berubah menjadi kenyataan yang menghantamnya tanpa ampun.

Lily telah dibawa pergi.

Ia segera menghubungi kepala keamanan, memerintahkan penutupan seluruh jalur keluar dari kawasan hutan dan meminta rekaman kamera diperiksa. Setelah itu, ia menelepon Mahito.

“Kakek, mereka menyerang kediaman,” katanya dengan napas memburu. “Para penjaga tewas. Pelayan dan sopir juga sudah dibunuh.”

Mahito terdiam di seberang telepon.

“Bagaimana dengan Lily?”

Satoshi menutup mata sesaat.

“Aku tidak menemukannya.”

Keheningan panjang menyusul.

Kemudian, suara Mahito terdengar berat, menahan amarah dan kecemasan.

“Temukan dia, Satoshi. Apa pun yang terjadi, temukan Lily sebelum mereka membawanya terlalu jauh.”

Satoshi menatap gelang di tangannya.

“Aku akan menemukannya,” jawabnya tegas.

Panggilan berakhir.

Di luar, sirene mulai terdengar dari kejauhan. Namun, bagi Satoshi, semua suara itu terasa tidak berarti. Ia hanya bisa memikirkan perempuan yang selama 3 tahun ia sakiti, perempuan yang akhirnya berusaha membebaskan diri darinya, dan kini menghilang karena musuh yang bahkan belum mereka kenali.

Di lantai dekat terowongan, ponsel Satoshi kembali bergetar.

Sebuah pesan baru masuk dari nomor yang sama.

Jika ingin melihat Yahiko Nariku hidup-hidup, datanglah sendirian. Jangan libatkan keluarga Katagiri.

Satoshi menatap layar itu dengan rahang mengeras.

Mereka bukan hanya mengetahui identitas asli Lily.

Mereka juga tahu bahwa ia telah datang ke Jepang.

Dan kini, permainan berbahaya itu baru saja dimulai.

1
⌓̈⃝𓆩ImAntifragile𓆪દᵕ̈૩
aku mampir, semangat upnya. tulisannya seruuu😍
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁
Lili Pinarsih: mkasih ya 🥰 aku jugaa udah mampir kok dicerita kamu😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!