Reynand, CEO dingin yang anti-cinta, terpaksa menikahi asisten pribadinya, Aira, demi meredam skandal kantor.
Bagi Reynand, pernikahan ini hanyalah kontrak sementara. Namun, keteguhan hati Aira perlahan meruntuhkan pertahanan sang CEO.
Saat intrik dan masa lalu mengancam, sanggupkah Reynand mengakui perasaannya sebelum kehilangan wanita yang telah menjerat hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29: Dibalik Tirai Gaun Pengantin
Kabar mengenai tanggal resmi pernikahan Reynand Aristha dan Aira Anindita dengan cepat menjadi perbincangan paling hangat di seluruh penjuru negeri. Media cetak maupun televisi berlomba-lomba meliput setiap detail persiapan pernikahan yang digadang-gadang akan menjadi Wedding of the Century tersebut.
Pagi itu, sebuah butik gaun pengantin haute couture terkemuka di kawasan Kebayoran Baru telah ditutup khusus untuk keperluan pribadi keluarga Aristha.
Nyonya Rosalinda duduk anggun di sofa beludru ruang VIP, memegang cangkir teh porselen dengan senyum keibuan yang tak pernah pudar dari wajahnya. Di sampingnya, Reynand berdiri tegap mengenakan kemeja kasual yang digulung hingga siku. Pria itu terus memperhatikan tirai penyekat berbahan sutra emas yang belum juga terbuka.
"Sabar sedikit, Reynand," goda Nyonya Rosalinda seraya terkekeh pelan melihat putranya yang tampak tidak tenang. "Aira sedang dibantu fitting tahap akhir oleh perancang gaunnya. Seorang calon pengantin pria memang harus belajar sabar menunggu calon istrinya."
Reynand hanya tersenyum tipis, melirik jam tangan mewahnya. "Ibu tahu aku tidak suka menunggu, Bu. Tapi untuk Aira... aku rela menunggu seberapa lama pun."
Klek.
Tirai sutra emas itu perlahan tersingkap.
Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Reynand terpaku, sepasang matanya menajam, lalu melembut penuh pendar kekaguman yang tak sanggup ia sembunyikan.
Aira melangkah keluar dari atas podium fitting. Ia mengenakan gaun pengantin putih bersih bertabur kristal swarovski mikro yang berkilau lembut diterpa pendar lampu chandelier. Gaun berpotongan A-line dengan ekor menjuntai indah itu membingkai sempurna lekuk tubuhnya yang anggun. Rambut hitamnya disanggul rapi menyingkap leher jenjang dan bahunya, dipadukan dengan veil renda halus yang menjuntai menutupi sebagian wajah bahagianya.
"Reynand... bagaimana?" tanya Aira pelan dengan rona merah di pipinya, merasa sedikit malu akibat tatapan lekat dan intens dari sang calon suami.
Reynand melangkah mendekat tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun. Ia mengulurkan tangannya, meraih jemari Aira yang terbalut sarung tangan renda putih, lalu mendaratkan ciuman lembut di sana.
"Kamu luar biasa cantik, Aira," bisik Reynand dengan suara baritonnya yang dalam dan penuh rasa haru. "Sungguh, aku sampai kehilangan kata-kata."
Nyonya Rosalinda mengusap sudut matanya yang basah oleh air mata bahagia. "Kamu sungguh memukau, Aira sayang. Mendiang ayah Reynand pasti sangat bahagia melihatmu menjadi menantu keluarga kita."
Aira menyunggingkan senyum tulus, meremas lembut jemari Reynand. Di tengah kebahagiaan yang meluap itu, Aira merasa seluruh perjuangan dan kepahitan masa lalunya kini terbayarkan secara sempurna.
Namun, di luar ketenangan dan keindahan butik tersebut, tim pengawal rahasia Aristha Group yang dipimpin oleh Sekretaris Utama Arya sedang bekerja ekstra keras di balik layar.
Di dalam van komando keamanan yang terparkir beberapa ratus meter dari lokasi butik, Arya menatap jajaran layar monitor yang menampilkan rekaman kamera pengawas lalu lintas sekitarnya.
"Tuan Arya," panggil salah satu teknisi keamanan siber. "Sinyal frekuensi terenkripsi yang kita lacak semalam kembali aktif. Ada tiga kendaraan asing yang berputar-putar di radius lima ratus meter dari lokasi Nona Aira."
Arya menyipitkan matanya tajam, mengepalkan tangannya. "Identifikasi pemilik plat nomor kendaraan itu segera. Jangan biarkan satu pun dari mereka mendekati area butik!"
"Baik, Pak. Tapi... ada indikasi kuat bahwa kelompok ini bukan bagian dari jaringan Vancorp atau Clarissa Vance. Pola operasinya jauh lebih rapi dan terorganisir secara lokal."
Arya mengatupkan bibirnya rapat-rahat. Sisa-sisa pengikut Devan Aristha dan oknum faksi lama perusahaan yang dendam rupanya mulai bergerak dari bayang-bayang. Mereka sengaja memanfaatkan momen lengah persiapan pernikahan untuk melancarkan aksi sabotase terakhir.
Arya segera menekan tombol panggil cepat ke ponsel pribadi Reynand.
Di dalam butik, ponsel Reynand bergetar di dalam saku celananya. Pria itu meminta izin sejenak pada Aira dan ibunya untuk menerima telepon di sudut ruangan.
"Bicara, Arya," ucap Reynand singkat dengan nada dingin yang mendadak kembali menyelimuti suaranya.
"Tuan CEO," bisik Arya dari seberang telepon. "Ada pergerakan tim pengintai asing di sekitar area butik tempat Nona Aira berada. Kami sedang mengisolasi area, tapi kami menyarankan untuk memperketat rute kepulangan."
Mata Reynand mengeras seketika. Aura protektif dan berbahaya terpancar kuat dari wajah tampannya.
"Pastikan mereka tidak ada yang lolos hidup-hidup jika berani menyentuh sehelai rambut pun milik Aira," pangkas Reynand dingin sebelum mematikan teleponnya.
Reynand membalikkan badannya, menatap Aira yang sedang tertawa lembut bersama Nyonya Rosalinda di depan cermin. Senyuman hangat di bibirnya kembali terkembang, namun di balik tatapan matanya, Reynand telah bersumpah untuk menghancurkan siapa pun yang berani mengusik kebahagiaan calon istrinya tersebut.