Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!
Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebangkitan Ranah Pengumpulan Qi
Halaman Luar Sekte Pedang Awan — Pagi Hari
Kabut dingin pegunungan masih menyelimuti puncak-puncak tebing ketika sesosok pemuda merangkak keluar dari celah batu terlarang.
Langkahnya goyah.
Jubah luarnya compang-camping, kulitnya dipenuhi bekas luka bakar baru, dan wajah buruknya tampak kian pucat. Namun, di balik fisik yang terlihat ringkih itu, tersembunyi aura transformasi yang amat luar biasa.
Lu Mingseng masih hidup.
Ia menunduk, menatap kedua telapak tangannya sendiri lalu mengepalkannya perlahan.
Otot-ototnya terasa jauh lebih padat. Tulangnya seolah ditempa ulang oleh api kuno, dan setiap tarikan napasnya kini memancarkan gelombang kehangatan batin yang stabil.
Namun, ketika ia mencoba menarik partikel energi spiritual alam di sekelilingnya, hasilnya tetap nihil. Energi itu hanya berputar sejenak di permukaan kulitnya lalu menguap begitu saja.
'Jangan terburu-buru,' suara tua Kaisar Keabadian bergema di dalam kesadarannya. 'Tubuhmu baru saja mengalami perombakan besar. Jika kau memaksakan penyerapan energi spiritual kasar sebelum wadah fisikmu beradaptasi penuh, pembuluh darahmu bisa meledak.'
Mingseng mengangguk kecil dalam batin. "Aku mengerti, Guru."
Namun, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, sebuah suara serak dan dingin mendadak mengejutkan pikirannya.
'Bagus. Kalau begitu, tegakkan punggungmu dan berdirilah dengan benar!'
Mingseng tersentak. Suara itu jelas bukan milik Kaisar Keabadian. Itu adalah suara sang Penjaga Balai Penempaan Darah!
Padahal, lelaki tua mengerikan itu tertinggal jauh di dalam ruang bawah tanah reruntuhan. Bagaimana bisa suaranya menembus kesadarannya sejauh ini?
Seolah paham akan kebingungannya, sang penjaga mendengus dingin di dalam benak Mingseng. 'Lempengan hitam yang kuberikan padamu bukan sekadar batu biasa. Selama kau membawanya, aku bisa menyalurkan petunjuk jarak jauh. Tapi jangan berharap aku akan memanjakanmu setiap saat.'
Mingseng mengusap keringat dingin di dahinya. "Beberapa hari lalu aku bahkan tidak punya guru. Sekarang, aku punya dua orang yang hobi menyiksaku."
'Kalau ingin bertahan hidup, berhentilah mengeluh,' balas sang penjaga tanpa ampun.
Di dalam jiwa Mingseng, Kaisar Keabadian justru terkekeh pelan. Untuk pertama kalinya, Mingseng mendengar sang Kaisar tertawa lepas.
Namun tawa itu mendadak meredup. 'Jangan terlalu cepat puas, Mingseng. Jalan di hadapanmu jauh lebih berbahaya dari yang kau bayangkan.'
Mingseng mengangkat kepalanya, menatap lurus menembus kabut tebal. "Aku sudah tidak punya jalan untuk mundur."
Bayangan masa lalunya berkelebat—rumah Keluarga Lu yang kejam, ayah kandungnya yang membuangnya bagai sampah, hinaan para pelayan, ibunya yang wafat tanpa obat, hingga ejekan pedas Fang Rui.
Sorot mata Lu Mingseng perlahan mengeras bagai baja. "Aku tidak akan pernah sudi kembali menjadi orang yang bisa diinjak-injak."
Pertemuan Kembali dengan Rekan Sekte
Ketika Mingseng melangkah ke pos pemeriksaan luar, suasana mendadak gempar seketika.
"Dia..."
"Lu Mingseng benar-benar masih hidup?!"
"Mustahil! Bukankah dia tersedot ke dalam pintu reruntuhan itu?!"
He Yong, yang sedang merawat lukanya di atas batu besar, langsung melonjak berdiri. Walau tubuhnya masih lebam, ia berlari menghampiri Mingseng dengan mata terbelalak tak percaya.
"Kau... kau selamat?!" He Yong menepuk bahu Mingseng, lalu meringis pelan melihat luka-luka di tubuh temannya. "Apa yang terjadi di dalam sana? Kupikir kau sudah mati tertimbun!"
Mingseng tersenyum tipis. "Aku juga mengira begitu."
Sebelum He Yong sempat bertanya lebih lanjut, Tetua Xu Jian tiba bersama rombongan pengawal sekte.
Mata Xu Jian menghunjam tajam ke arah Mingseng, mengamati perubahan fisik pemuda itu yang tampak jauh lebih kokoh, walau belum memancarkan pendar energi Pengumpulan Qi.
"Lu Mingseng," suara Xu Jian berat dan menuntut. "Laporkan apa yang terjadi di dalam reruntuhan Balai Penempaan Darah."
Mingseng menjawab dengan tenang. "Aku ditarik oleh tekanan pintu itu dan dipaksa melewati ujian bertahan hidup. Setelah berhasil melewatinya, aku mendapatkan batu hitam ini." Ia menunjukkan lempengan batu legam dari balik jubahnya.
Xu Jian hendak mengulurkan tangan untuk mengambilnya, namun hawa dingin yang menusuk mendadak menyengat telapak tangannya.
'Jangan biarkan mereka menyentuhnya!' peringat Kaisar Keabadian cepat.
Mingseng secara refleks menarik kembali lempengan itu.
Xu Jian menyipitkan mata penuh curiga. "Kau menyembunyikan sesuatu?"
"Aku hanya diberitahu bahwa teknik di dalamnya harus dipelajari secara bertahap," jawab Mingseng tanpa gentar.
Xu Jian menatapnya lama, lalu menghela napas. "Ikut aku. Tetua Agung Mo Canglan ingin menemuimu secara langsung."
Di Hadapan Tetua Agung
Berita kembalinya Mingseng dan pemanggilan pribadinya oleh Tetua Agung sontak menjadi buah bibir di kalangan murid luar. Di sudut halaman, wajah Fang Rui berubah pucat pasi.
Ia tidak menyangka Mingseng bisa kembali bernyawa. Terlebih lagi, He Yong selamat dan mengetahui seluruh perbuatan busuknya.
Di dalam Aula Tetua, Mo Canglan duduk anggun di singgasana batu. Tetua Han Qingshan dan para petinggi sekte berdiri di sisi kanan.
"Mendekatlah," titah Mo Canglan tenang.
Mingseng melangkah maju. Sepasang tangan Mo Canglan melayang lembut, melepaskan gelombang energi spiritual murni untuk memindai organ tubuh Mingseng.
Beberapa detik kemudian, dahi Mo Canglan berkerut dalam.
"Satu jalur meridian telah terbuka..." gumam Mo Canglan.
Han Qingshan terkesiap. "Jadi dia benar-benar menembus tahap Pembukaan Meridian?"
"Jangan terburu-buru menyimpulkan," Mo Canglan menggeleng perlahan. Saat ia mencoba memaksa aliran spiritualnya menelusuri lebih dalam, kesadarannya mendadak terhalang oleh kabut pekat yang tak bernama. Seolah-olah jalur di baliknya lenyap ke dalam dimensi lain.
"Aku hanya bisa memastikan satu meridian itu," Mo Canglan membuka mata, menatap Mingseng lekat-lekat. "Bagaimana kau melakukannya?"
"Aku mengikuti metode penempaan di dalam balai," jawab Mingseng setengah jujur.
Mo Canglan merenung sejenak sebelum mengambil keputusan. "Baiklah. Untuk sementara, kau dibebaskan dari tugas luar. Kau berhak mendapat akses ruang latihan dasar dan jatah pil pemulihan sesuai aturan murid luar."
"Terima kasih, Tetua Agung."
Tiga Guru di Dalam Satu Jiwa
Malam harinya, Mingseng mengunci rapat pintu kamarnya. Ia mengeluarkan lempengan batu hitam dan meletakkannya di atas meja kayu.
"Bagaimana aku harus memulai metode ini?" tanya Mingseng dalam batin.
'Pertama, duduk bersila,' jawab sang penjaga balai dingin. 'Kedua, jangan menyerap energi secara serakah. Fokuslah menempa otot dan tulangmu.'
Namun, sebelum latihan dimulai, seberkas cahaya lembut berwarna putih keperakan mendadak memancar di sudut kamar. Cahaya itu membentuk siluet seorang wanita misterius berambut panjang yang pernah muncul dalam visinya.
Kaisar Keabadian dan sang penjaga seketika terdiam serentak di dalam kesadaran Mingseng—menandakan bahwa bahkan dua entitas kuno itu pun menghormati dan mewaspadai sosok wanita tersebut.
Wanita itu menatap wajah Mingseng lekat-lekat dengan sorot mata penuh duka yang mendalam.
"Jalur yang mereka lihat hanyalah bayangan di permukaan," suara wanita itu lembut namun menggetarkan jiwa. "Jangan mengejar setiap suara yang memanggilmu. Terkadang, musuh terbesar bukanlah yang berdiri di hadapanmu, melainkan jawaban yang terlalu ingin kaupercayai."
Sebelum Mingseng sempat bertanya, siluet itu memudar dan lenyap ditelan kegelapan.
Kebangkitan Ranah Pengumpulan Qi!
Tanpa membuang waktu, Mingseng mulai bersila.
Di bawah bimbingan ganda dari Kaisar Keabadian yang mengatur pernapasan dan sang penjaga yang menekan ketahanan fisik, Mingseng melatih tubuhnya dalam siksaan rasa sakit yang luar biasa.
Seratus kali mengepalkan tangan... Seratus kali menahan beban energi!
Ia jatuh bangun dan merintih, hingga akhirnya ia memejamkan mata dan memusatkan seluruh perhatian pada ritme denyut di dalam dadanya.
Denyut...
Dua kali...
Tiba-tiba, sebuah getaran dahsyat merambat dari pusar energinya ke seluruh tubuh!
BOOM!
Sebuah gelombang kejut meledak dari pori-pori kulit Mingseng, memadamkan lilin di meja kamarnya. Lempengan batu hitam itu bergetar hebat.
Di dalam tubuhnya, partikel energi spiritual alam yang selama ini menolak masuk, kini tersedot deras, mengalir lancar melewati meridian pertamanya yang terbuka lebar!
Mingseng membuka mata. Napasnya terengah-engah, namun kedua bola matanya memancarkan pendar kilau yang tajam.
'Berhasil!' seru Kaisar Keabadian penuh takjub. 'Kau berhasil menembus batasan fana... Selamat, Mingseng! Kau resmi melangkah ke Ranah Pengumpulan Qi Tahap Awal!'
Sang penjaga balai turut mendengus puas. 'Pintu pertamamu telah terbuka.'
Namun di saat yang bersamaan, jauh di dalam ruang terlarang Sekte Pedang Awan, sebuah lonceng perunggu tua yang telah membisu selama ratusan tahun tiba-tiba berdentang nyaring:
DONG...!
Tetua Agung Mo Canglan yang sedang bermeditasi seketika melompat kencang, membuka mata dan menatap ngeri ke arah ruang terlarang.
Dan di dalam kamar Mingseng, lempengan batu hitam itu memancarkan garis cahaya merah terakhir, menyisakan bisikan tanpa wujud dari kedalaman tak bertepi:
"Pengumpulan Qi tahap awal... akhirnya tercapai."
"Namun, siapa yang bilang bahwa itu adalah satu-satunya pintu yang terbuka di dalam tubuhmu?"
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳