NovelToon NovelToon
PENGANTINKU DIREBUT DIHARI PERNIKAHANKU

PENGANTINKU DIREBUT DIHARI PERNIKAHANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Evolusi dan Mutasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
​Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
​Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: CLARISSA KEGUGURAN DI TOILET

Pukul 07.30 pagi. Vantec Tower lantai 88. Area toilet OB.

Aroma karbol murah nyengat pekat. Lantai kamar mandi umum karyawan masih basah sisa pelan.

Clarissa sembunyi di bilik kloset paling ujung dengan pintu terkunci rapat. Seragam OB abu-abu kebesaran masih nempel di tubuh, tapi kini terasa sesak nekan area perutnya.

Sudah dua hari berturut-turut, perutnya kram hebat. Mual setiap pagi. Dan tamunya sudah telat tiga minggu.

Dengan tangan gemetar, ia ambil test pack murahan lima belas ribu yang dibeli pakai uang hasil ngepel lantai kemarin.

Satu garis... dua garis...

Dua garis merah tipis.

Positif.

Clarissa hamil.

Air matanya tumpah seketika. Bukan air mata bahagia, tapi air mata ketakutan.

"Anak... anak siapa ini?" bisiknya histeris di dalam bilik toilet pesuruh yang sempit itu.

Sebulan terakhir, cuma Rian satu-satunya pria yang sentuh dia. Rian yang kini sudah jadi driver ojek miskin, Rian yang bahkan susah buat beliin dia sebungkus nasi.

Ia dekap perut ratanya dengan jari yang kulitnya mengeras karena ngepel.

"Anak ku... ini anak Rian..."

Di waktu yang sama, di penthouse lantai 99, Alesha lagi sarapan pagi bareng Vion, didampingi dua dokter kandungan pribadi yang pastikan kesehatan janinnya. Usia kehamilan Alesha empat minggu. Sehat, kuat, bahkan detak jantung mungilnya sudah kedengaran jelas lewat USG.

Jauh di bawah sana, di toilet pesuruh, janin di rahim Clarissa bahkan tidak ada tenaga medis yang dampingi.

Tiba-tiba, pintu toilet umum diketuk keras dari luar.

"CLARISSA! NGAPAIN LAMA-LAMA DI TOILET! LANTAI 88 BELUM KAU PEL! NYONYA VION AKAN RAPAT JAM DELAPAN! KALAU LANTAI MASIH KOTOR, KAU AKU PECAT DAN LAPOR KE POLISI!"

Teriakan kepala pengawas pesuruh.

Clarissa panik hebat. Ia buru-buru buang test pack itu ke tong sampah, siram kloset, lalu keluar dengan muka pucat pasi.

"Maaf, Bu... saya sakit perut..."

"Sakit perut jadi alasan! Cepat bersihkan lantai CEO! Nyonya Vion sudah naik ke atas!"

Clarissa seret ember pel yang beratnya hampir sepuluh kilo menuju lantai 88. Kram perutnya kembali nyerang, jauh lebih sakit dari sebelumnya.

Tiap anak tangga yang harus ia naiki jalan kaki karena lift khusus pesuruh rusak terasa seperti mikul beban ratusan kilo.

Di lantai 88, Alesha sudah duduk di kursi CEO di sisi Vion. Rapat direksi akan dimulai.

Alesha lihat Clarissa seret ember pel dengan muka sepucat kertas dan penuh keringat dingin.

Ia kernyitkan alis. "Clarissa, kamu sakit?"

Clarissa geleng cepat, takut setengah mati dipecat. "Tidak, Nyonya... saya baik-baik aja... saya sanggup kerja..."

Ia mulai dorong alat pel di atas marmer di depan meja rapat dengan gerakan lambat karena sakit makin menjadi.

Srek... srek... srek...

Tiap dorongan bikin perut bawahnya seperti ditusuk pisau.

Direksi yang ikut rapat menatap Clarissa dengan iba. Tapi tidak ada yang berani bersuara di depan Vion.

Lima belas menit berlalu, pelipis Clarissa banjir keringat dingin. Bukan cuma capek fisik, tapi kram perut yang dahsyat.

Tanpa diduga...

Rasa sakit tajam menghantam perut bawahnya telak.

Clarissa lepas tangkai pel dari genggamannya. Prang! Ember pel terguling, air kotor mengalir banjir di lantai marmer putih bersih yang baru ia bersihkan.

"Aargh!" rintih Clarissa tertahan, ia dekap perut erat-erat lalu jatuh bersimpuh di atas lantai basah air kotor.

Semua direksi refleks berdiri dengan kaget.

Alesha bangkit cepat dari kursi.

"Clarissa! Kamu kenapa?!"

Clarissa tidak mampu jawab. Ia cuma cengkeram perut mati-matian, wajah putih seperti kertas, peluh dingin bercucuran deras.

Darah.

Tetesan darah segar merah pekat merembes keluar dari balik seragam OB abu-abunya, nodai lantai marmer putih berkilau.

Seisi ruangan langsung membeku.

Alesha yang lagi hamil empat minggu, langsung paham situasi mengerikan di depannya.

Vion berseru lantang, "PANGGIL DOKTER SEKARANG! SIAPKAN AMBULANS!"

Clarissa terbaring lemas di atas lantai marmer yang tergenang air kotor, dekap perutnya yang kram hebat sambil nangis histeris.

"Anak ku... anak ku... jangan pergi... Ibu... maafin Ibu... Ibu harus kerja... Ibu harus ngepel lantai... jangan tinggalin Ibu..."

Isak itu pecah di tengah megahnya ruang CEO. Ratapan putri mantan presdir yang kini terpuruk jadi pesuruh, harus kehilangan darah dagingnya di atas lantai yang baru ia bersihkan.

Alesha yang lihat pemandangan pilu itu, sambil rasakan janin di dalam rahimnya sendiri, merasa hatinya teriris.

Ia jatuh berlutut di sisi Clarissa, ngabaikan gaun Chanel putihnya yang kena air kotor, lalu genggam jari Clarissa yang mulai dingin.

"Clarissa... bertahan... ambulans bentar lagi datang..."

Clarissa mandangi Alesha yang bersimpuh di sisinya dengan air mata. Wanita yang dulu gaun pengantinnya ia rebut paksa. Wanita yang kamar mandinya ia sikat tiga hari berturut-turut. Kini, wanita itu justru bersimpuh temani dia di atas lantai kotor.

"Alesha... maafin aku... aku... aku hamil... anak Rian... tapi... tapi aku harus kehilangan dia... karena dipaksa kerja..."

Alesha dekap kepala Clarissa ke pelukannya dengan lembut, sementara air matanya ikut tumpah.

"Jangan ngomong lagi... simpan tenaga mu..."

Ambulans tiba tidak lama kemudian. Tim medis buru-buru bawa Clarissa yang sudah lemas dengan muka sepucat mayat.

Di atas brankar, Clarissa masih dekap erat perutnya yang kini tidak lagi kram, tapi hampa.

Hampa.

Benih darah daging Rian yang bahkan belum sempat punya nama itu harus gugur di kamar mandi pesuruh dan di atas lantai ruang CEO.

Sampai di IGD RS Polri, rumah sakit yang sama tempat ayahnya dirawat karena strok, dokter sampaikan vonis dengan suara lembut ke Clarissa yang terbaring lemah dengan infus tertancap:

"Nona Clarissa, Anda keguguran. Usia kehamilan baru empat minggu. Pemicunya kelelahan ekstrem dan tekanan mental yang sangat berat. Janin Anda tidak bertahan. Kami turut berduka."

Clarissa tidak lagi nangis. Air matanya sudah kering sepenuhnya.

Ia cuma mandangi langit-langit IGD yang kusam dengan tatapan kosong, sementara satu tangan elus perutnya yang kini rata.

Di penthouse lantai 99, Alesha berdiri di balik dinding kaca raksasa, elus perutnya sendiri yang masih rata tapi di dalamnya ada janin yang tumbuh sehat dan kuat di bawah pengawasan dua dokter pribadi.

Air matanya netes pelan.

Vion dekap dia dari belakang.

"Jangan sedih, Ratuku. Kamu sudah tunjukkan kebaikan hati ke dia."

Alesha berbisik parau, "Aku hamil dan dilindungi seperti ratu. Dia juga hamil, tapi harus ngepel lantai sampai keguguran. Apa aku jadi sosok yang terlalu kejam, Vion?"

Vion kecup puncak kepala Alesha hangat.

"Tidak, Ratuku. Kamu tidak kejam. Kamu cuma tegakkan keadilan. Dia rebut gaun pengantinmu sambil ketawain air mata mu di altar. Kini, dia kehilangan buah hatinya di atas lantai yang ia pel sendiri. Itu hukum karma yang setimpal. Dan kamu... kamu sudah pilih maafkan dia dengan bersimpuh di sisinya tadi. Sikap mu jauh lebih dari cukup."

Di ruang IGD, Clarissa masih menatap hampa langit-langit dengan jari raba perutnya yang kosong.

Sementara itu, di kontrakan sempit Tanjung Priok, Rian dapat telepon dari rumah sakit.

"Tuan Rian, Nona Clarissa keguguran. Buah hati Anda tidak bisa diselamatkan."

Rian lepas helm usangnya ke tanah, lalu jatuh bersimpuh di depan got depan kontrakan, nangis histeris sendirian.

Hari itu, Rian harus kehilangan dua keturunan. Anak pertama di rahim Alesha yang terbukti bukan darah dagingnya. Dan anak kedua di rahim Clarissa yang gugur karena harus jadi pesuruh kantor.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!