Hujan deras mengguyur gang sempit malam itu. Napas Sesil terengah-engah, memburu bersama ketakutan yang makin membelenggu dada.
Di tengah hawa dingin yang menusuk tulang, ia memeluk erat sebuah buku catatan bersampul hitam—satu-satunya bukti kejahatan mematikan yang berhasil ia temukan.
Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyilaukan memotong kegelapan dari arah belakang. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Sosok pria berpostur jangkung melangkah keluar.
Alden.
Dengan payung hitam di genggamannya, ia berjalan tenang menghampiri Sesil tanpa raut panik sedikit pun.
BRAAKK!
Dentang besi bersahut-sahutan mengudara saat tubuh Sesil terpental keras ke aspal basah. Rasa sakit menusuk seketika, disusul pandangan matanya yang perlahan mengabur dan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, bisikan dingin berselimut nada manis terdengar tepat di telinganya:
"Tidur yang nyenyak, Sesil. Pas bangun nanti, kamu bakal mencintai aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just Zii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: HALUSINASI BERDARAH
Malam makin melarut dalam cengkeraman badai perbukitan, namun kegelapan di dalam kamar tidur utama terasa jauh lebih pekat dan menakutkan.
Meskipun Sesil telah melepehkan sebagian besar cairan Formulasi-X ke dalam vas bunga, ia meremehkan daya serap mukosa mulutnya. Hanya dari kontak mikro beberapa tetes racun konsentrat yang sempat mengendap di balik lidahnya, senyawa neurotoksik itu telah berhasil menembus pembuluh darah kapiler dan meretas sistem syaraf pusatnya.
Dampak buruknya datang menghantam tanpa peringatan.
Di tengah remang-remang cahaya perapian, pandangan Sesil mendadak terbelah. Dinding marmer hitam di hadapannya mulai bergelombang, meliuk-liuk bagaikan tentakel makhluk purba yang merayap turun dari langit-langit.
Udara di dalam kamar terasa mendidih, dipenuhi oleh bau tembaga pekat dan amis darah yang menyengat indra penciumannya.
Sesil mencengkeram sprei beludru dengan jemarinya yang gemetar hebat. Dadanya naik turun dalam ritme napas yang patah-patah dan panik.
"Tidak... tidak..." bisik Sesil, suara ketakutannya tercekik di tenggorokan.
Di sudut kamar yang gelap, bayangan-bayangan hitam mulai memadat. Sesil melihat figur ibunya berdiri di sana—wajahnya pucat pasi, matanya berdarah, menatap Sesil dengan tatapan kekecewaan yang mendalam.
Di samping ibunya, jasad ayahnya yang terbaring kaku di dalam peti mati mendadak membuka mata, mengulurkan tangan berdarah ke arah Sesil seraya berbisik parau:
"Mengapa kamu memeluk pembunuh kami, Sesil? Mengapa kamu tidur dengan iblis itu?"
"Bukan! Aku tidak mencintainya! Aku membencinya!" jerit Sesil dalam batinnya, memukulkan kepalanya perlahan ke papan ranjang untuk mengusir bayangan tersebut.
Namun, Formulasi-X tidak hanya memicu halusinasi visual; senyawa itu menghancurkan pemisah antara memori nyata, trauma masa lalu, dan kepatuhan buatan yang ditanamkan Alden selama enam bulan terakhir.
Saat Sesil memejamkan mata, memori nyata tentang kecelakaan mobilnya, benturan truk, dan wajah Rian di lorong servis bertabrakan secara ganas dengan ingatan buatan tentang kehangatan Alden, janji-janji manis sang sosiopat, serta rasa aman palsu di rumah perbukitan ini.
Pikirannya seperti cermin retak yang membiaskan ribuan pecahan kenyataan yang saling bertolak belakang.
Mana yang nyata? Apakah ia seorang jurnalis yang sedang berjuang, ataukah ia hanya wanita gila yang berhalusinasi tentang sebuah konspirasi?
Pintu kamar mandi terbuka. Suara gesekan langkah kaki membuat Sesil tersentak.
Alden melangkah keluar dengan jubah mandi hitam, mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Di mata Sesil yang terdistorsi oleh racun, wujud Alden berubah-ubah secara mengerikan:
'sebentar terlihat sebagai pria tampan dengan senyuman penuh kasih sayang, lalu dalam kedipan mata bertransformasi menjadi monster mengerikan berdaging busuk dengan jari-jari berupa pisau bedah yang berlumuran darah.'
"Sesil?" panggil Alden. Suaranya terdengar bergemuruh ganda di telinga Sesil, bergema dari jarak yang teramat jauh sekaligus berbisik tepat di gendang telinganya.
"Mengapa kamu belum tidur, Sayang? Tubuhmu gemetaran..."
Alden mendekati ranjang dan mendudukkan dirinya di samping Sesil.
Saat tangan Alden menyentuh bahunya, Sesil merasakan sensasi terbakar yang amat sangat hebat, seolah-olah besi panas ditempelkan ke kulitnya.
"don't touch me!" jerit Sesil histeris, menyentakkan bahunya mundur hingga punggungnya menabrak dinding ranjang.
Mata Alden memicing tajam. Rasa curiga yang mendalam seketika berkilat di dalam manik matanya. "Sesil? Ada apa denganmu? Mengapa kamu menatapku seperti itu?"
Di dalam pandangan Sesil yang kacau, wajah Alden mendadak dipenuhi oleh lelehan darah merah segar yang mengalir dari matanya.
Tangan Alden yang terulur tampak memegang sebuah pisau bedah yang siap menghujam dadanya. Namun di saat yang sama, residu Mandaroba di otaknya berbisik keras:
'Dialah penyelamatmu... berlari ke pelukannya... dialah satu-satunya yang mencintaimu...'
Dilema psikologis itu mencapai titik puncak kegilaan. Realita dan manipulasi melebur menjadi teka-teki berdarah yang memutarbalikkan akal sehatnya.
"Kamu... kamu membunuh Bapak!" teriak Sesil dengan suara parau, menunjuk wajah Alden dengan jari yang gemetar. Namun detik berikutnya, raut wajahnya berubah linglung, matanya berkaca-kaca penuh kebingungan, "Tidak... kamu... kamu memelukku semalam... kamu menyembuhkan memarku... Siapa kamu?! Siapa aku?!"
Sesil mencengkeram kepalanya sendiri dengan kedua tangan, menjerit pelan seraya merintih dalam kesakitan kognitif yang tak terperi.
Racun itu sedang mencoba menghapus identitas aslinya untuk selamanya.
Alden berdiri tegak, menatap Sesil dengan dingin. Pria itu menyadari bahwa reaksi ini adalah dampak dari Formulasi-X yang sedang meretas syaraf frontal secara agresif—sebuah proses penghancuran benteng memori terakhir sebelum kondisi tabula rasa sempurna tercapai.
"Aku adalah suamimu, Sesil. Aku adalah duniamu," ujar Alden dengan nada intonasi hipnotis yang biasa digunakannya.
Pria itu maju satu langkah, mencengkeram kedua pergelangan tangan Sesil dengan kuat, menahan gerakan histeris wanita itu.
"Tenanglah. Orang-orang di luar sana telah meracuni pikiranmu dengan ilusi. Ingatlah suaraku... ingatlah pelukanku..."
"Lepaskan! Darah! Ada darah di tanganmu!" jerit Sesil, berjuang melepaskan diri.
Di dalam penglihatannya, kamar tidur itu kini telah terendam oleh genangan darah setinggi mata kaki.
Jasad-jasad korban uji coba Compound-9 merayap keluar dari bawah ranjang, memegang kaki Alden dan kakinya sendiri. Sensasi dingin dan amis darah terasa begitu nyata di kulit kakinya.
Sesil berada di ambang kekalahan total.
Jika ia menyerah pada gelombang halusinasi ini, jiwanya akan hancur dan ia akan benar-benar menjadi boneka gila seperti yang diinginkan Alden.
Di tengah badai kegilaan dan bisikan manipulatif Alden, ujung jemari Sesil yang terbebas secara tidak sengaja menyentuh permukaan keras di dalam celah gaun tidurnya.
Jilidan kulit kasar. Buku jurnal hitamnya.
Sensasi rabaan pada kulit buku tua yang kusam itu bagaikan sebongkah batu karang yang kokoh di tengah samudra halusinasi.
Sentuhan itu memicu kilatan memori murni: jemarinya sendiri yang menulis catatan investigasi di bawah lampu meja redaksi, bau kopi murah, rasa lelah yang jujur, dan senyuman bangga ayahnya saat ia berhasil menerbitkan berita pertamanya.
Aku adalah Sesil Wijaya, bisik sebuah suara kecil di sudut terdalam jiwanya yang paling murni. Aku bukan boneka Alden. Aku adalah seorang jurnalis.
Rasa sakit dari trauma masa lalu dan dendam atas penderitaan orang tuanya bertindak bagaikan penawar racun (antidote) yang membakar habis ilusi berdarah di dalam otaknya. Rasa benci yang amat sangat murni meledak, menembus kabut halusinasi Formulasi-X.
Perlahan-lahan, genangan darah di lantai memudar. Wujud iblis berdarah pada diri Alden kembali menyusut menjadi wujud seorang pria sosiopat biasa yang sedang mencengkeram tangannya dengan cemas.
Napas Sesil perlahan menyurut, meski dadanya masih berdegup kencang. Ia membiarkan matanya kembali terlihat redup dan kosong—memasang kembali topeng korban yang terbius.
"Alden...?" bisik Sesil, suaranya dibuat sangat lemah dan lunglai, seolah-olah serangan histeris tadi telah menguras seluruh tenaganya. "Maafkan aku... kepalaku... sangat sakit..."
Alden menghembuskan napas lega. Cengkeramannya pada tangan Sesil mengendur. Ia menganggap serangan histeris tadi hanyalah fase konvulsi memori sementara sebelum racun melumpuhkan fungsi resistensinya.
"Tidak apa-apa, Sayang," desis Alden, mengecup dahi Sesil yang basah oleh keringat dingin. "Efek obatnya sedang bekerja membersihkan pikiranmu. Istirahatlah. Besok pagi, semua kebingungan ini akan hilang selamanya."
Alden membaringkan tubuh Sesil yang terkulai lemas ke atas bantal, lalu menyelimutinya kembali.
Dalam kegelapan yang menyelimuti kamar, Sesil memejamkan matanya rapat-rapat. Tangan kanannya di dalam selimut mencengkeram erat jilidan jurnal hitam di balik gaunnya.
Ia telah berhasil melewati neraka halusinasi berdarah dan memenangkan pertempuran terdahsyat di dalam otaknya sendiri.
Manipulasi psikologis Alden telah gagal total pada benteng terakhir jiwanya. Kini, tidak ada lagi ilusi, tidak ada lagi kebingungan, dan tidak ada lagi rasa takut. Hari esok telah tiba, dan Sesil Wijaya siap melangkah ke panggung utama untuk menjatuhkan hukuman mati bagi sang manipulator.