Olivia seorang penyanyi, karirnya semakin bersinar setelah mendapat warisan bros dari sang nenek yang dulunya juga seorang sinden terkenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindia Andin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pulang
pagi itu Olivia memasang alarm pada ponselnya, hari itu malam jumat kliwon, dia harus pulang ke rumah orang tuanya. perjalanan 3 jam harus dia tempuh
"mau kemana via?" sapa bety yang bersiap utk berangkat kerja
"mau pulang bet" Olivia mengunci pintu kamarnya
"libur?"
"ndak"
"hebat kamu vi. pulang tengah malam tapi masih mau mudik"
"harus bet. aslinya ya cuwapekkk"
"yuk vi... " bety meninggalkan Olivia di depan pagar kos menunggu ojek taksi online pesanannya
"pak mampir ke pasar dulu ya"
"iya mbk"
Olivia harus membeli sendiri bunga 7 rupa lengkap dengan kemenyannya
Setelah melewati pasar tradisional, Olivia membeli apa yang dia butuhkan
"mau nyekar mbk?" tanya driver taksi itu, melihat Olivia membawa bunga masuk kedalam mobil
"iya Pak. nyekar orang tua" kilah Olivia, tujuan Olivia selain ritual, dia juga bermaksud untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya
Olivia menggunakan kesempatan beristirahat selama dalam perjalanannya ke lumajang. perjalanan 3 jam lumayan membuat badannya bugar lagi
"pak, turunkan saya di makam depan ya" ucap Olivia melihat tujuannya sdh dekat
Setelah membayar taksi onlinenya, Olivia menyusuri makam di tepi jalan itu, menyusuri setiap nisan mencari peristirahatan terakhir orang tuanya
"bapak.. ibuk... aku datang" Olivia menaburkan bunga di atas gundukan tanah kedua orang tuanya itu, air mata Olivia mengalir turun melewati kacamata hitam yang dia kenakan
"kenapa kalian pergi dengan cara seperti ini buk.. pak... " Olivia masih belum bisa melupakan kejadian beberapa bulan yang lalu
Setelah mengirim doa untuk kedua orang tuanya, Olivia beranjak dari duduknya. Olivia merasa kedatangannya di amati oleh sepasang mata, Olivia merasakan mencari dimana yang mengamati dia tapi tak mendapatkannya.
Olivia merasakan kakinya berat untuk melangkah dari pemakaman itu, ada yang ingin menahan dia di sana. dengan perasaan takut Olivia mempercepat langkahnya. semakin menjauh dari pemakaman, semakin ringan langkahnya
Olivia menyusuri kampung halamannya menuju rumah yang dulu menjadi tempat ternyaman untuknya.
Olivia berdiri mematung di depan pagar rumahnya, rumah yang kini tidak terawat, rumput dihalaman kini tinggi, dulu halaman itu hampir setiap hari di bersihkan oleh ibunya, kini terlihat tak terawat, rumput liar muncul di sela-sela tanah yang terbuka. Olivia masih bisa membayangkan ketika dia dan pak oki bermain gitar sambil melihat bu santi menyirami tanaman, tawa yang kini hanya menjadi kenangan.
"Olivia" lamunan Olivia di buyarkan dengan tepukan di bahunya
"bu Fatimah" sapa Olivia, mengusap air matanya yang tak sengaja terjatuh
"baru datang?"
"iya bu"
"kok ndak masuk? takut?"
"ndak bu... ini mau masuk" Olivia membuka gembok pintu pagar itu "mari bu" Olivia berpamitan masuk kedalam halaman rumahnya
"perlu ibu temani vi?"
"ndak bu Fatimah. terimakasih"
"kalau perlu apa-apa ibu ada di rumah"
"iya bu Fatimah terimakasih"
Bu Fatimah kembali ke rumahnya, sejak kedatangan Olivia, bu Fatimah melihat Olivia yang berdiri mematung di depan pintu pagar
Tanggannya terasa berat untuk membuka kunci pintu rumahnya. Tiba-tiba muncul rasa takut ingin masuk kedalam rumahnya. Olivia memberanikan diri untuk membuka kunci rumahnya, dan pelan membuka pintu itu sambil menutup mata. hanya membuka pintu rumah dan duduk di teras rumahnya
"mas tejo kok belum datang sih" ujar Olivia gusar, mengambil ponsel dalam tasnya
Tiba-tiba angin keluar dari dalam rumah Olivia, membuat bulu kuduk Olivia berdiri. Olivia memberanikan diri untuk melihat kedalam rumah, kosong, pengap yang keluar dari dalam rumah itu. Olivia memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya masuk kedalam rumahnya, membuka jendela di ruang tamunya. melihat ruang tamu yang sofanya hilang satu unit, hilang karena di bakar oleh warga kampung. setelah kejadian yang merenggut nyawa bu santi, warga kampung sepakat untuk membakar sofa ruang tamu itu. ingatan Olivia masih jelas melihat ibunya berlumuran darah di sana. Olivia memejamkan matanya mengambil nafas besar, lalu menoleh kedalam kamarnya, kamar yang di buat pak oki untuk mengakhiri hidupnya. dari dalam rumah Olivia yang tercium hawa pengap, lembab. Olivia memberanikan diri untuk melangkah kedalam kamar miliknya, melihat dimana jasad bapaknya tergantung disana. membuka jendela kamar itu.
Ingin sekali Olivia segera pergi dari rumahnya, ada rasa tak nyaman yang dia rasakan. kini rumah itu bukan menjadi rumah ternyaman tapi kini menjadi rumah angker. Olivia menyusuri setiap ruangan di rumahnya itu, mulai membersihkan rumahnya. Olivia memutar music melalui ponselnya, pelan-pelan membersihkan setiap sudut di rumah itu, dan melihat berbagai medali dan Piala yang pernah dia dapat bersama kedua orang tuanya
"vi... "
"astaghfirullah.... " sapu Olivia terlempar, terkejut tejo tiba-tiba memanggilnya
"waduh vi... " sapu itu mendarat ke muka tejo
"habis kamu ngagetin aku mas.. ya ampun. copot jantungku"
"wooo kamu itu... ngalamun ya?"
"mas tejo ini... ngasih salam dulu gitu.. lha tiba-tiba muncul" Olivia masih memegangi dadanya karena kaget
"aku dari tadi sudah manggil kamu vi... kamu ndak dengar"
"iya ta?"
"huuhhhh... sudah beli bunga sama kemanyannya?"
"sudah mas. itu di depan"
"brosnya?"
"ada di tas"
"tempatnya"
"ada mas... ayo sekarang"
"masih jam berapa ini vi"
"lha harusnya jam berapa mas? sekarang aja lho ayo"
"yo ndak bisa, nanti jam 8 malam"
"apa??? jam 8???"
"iya jam 8... kenapa?"
"kok malam to mas... kerja ku piye?"
"kamu ndak ijin libur?"
"ndak bisa libur mas tejo... aku baru masuk kerja 2 hari. wis di pecat aku iki" ucap Olivia gusar
"ora-ora... wis to tenang"
"kok bisa meyakinkan gitu kamu mas"
"ya bilang aja harus pulang kampung, ndak bisa di tunda"
"enak kamu bilang gitu mas..."
"wis ndak usah protes. bantu aku nyiapin semuanya" ucap tejo sambil mengambil beberapa barang dari motornya
7 botol air tejo keluarkan dari dalam kardus, dan berbagai alat untuk ritual yang akan dia lakukan malam itu
Kehadiran tejo membuat Olivia sedikit melupakan kejadian di rumah itu
"mas... lapar ndak? aku belum makan dari tadi pagi"
"lapar vi.. wis belio sana. ini kunci e" ucap tejo menyodorkan kunci motornya
Olivia meninggalkan tejo di rumahnya sendirian
"joooo.... "
suara pelan memanggil tejo
"tejooo..... " kini suara itu terdengar jelas
"opo celuk-celuk... muncul o age... tak culek matamu" ucap tejo berani dan sarkas.
Tejo menunggu suara itu muncul lagi, tapi tak di dengar. tejo kembali menyiapkan air 7 sumber itu kedalam wadah yang dari kuningan yang sudah dia siapkan. kini bulu kuduk tejo berdiri, tengkuknya terasa ada yang meniup
"oh... demit jancokkk... sik awan iki lho cok... "
"kok mesoh mas?" Olivia muncul di depan pintu
"lha ya vi... demit sekarang ini jan gak ngerti wayah... masak siang-siang muncul"
"muncul piye mas?" ucap Olivia bingung sambil menaruh bungkusan makanan di atas meja
"tengkuk ku di tiup vi... lak jancok a"
"sampean ndak takut mas?"
"wooo karo demit kok takut vi... kalau kamu takut sama demit dia ya semakin gede.. tambah besar vi"
"mosok mas"
"kandani kok"
"sudah selesai mas? ayo makan dulu"