NovelToon NovelToon
Karina Dan Sistem Kehidupan

Karina Dan Sistem Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Transmigrasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: kirana_euforia

Karina, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, kehilangan nyawanya setelah menyelamatkan seluruh penumpang bus yang terjun ke jurang. Namun, kematiannya bukan akhir. Sebuah sistem misterius memberinya kesempatan hidup kembali dengan satu syarat: mengumpulkan 100.000 Poin Kehidupan dengan menyelamatkan para antagonis pria dari takdir tragis mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kirana_euforia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dunia Pertama — 17

Pengumuman itu datang lima hari kemudian dan disampaikan langsung oleh kepala sekolah dalam apel pagi yang mendadak diadakan.

"Bapak ibu guru dan anak-anak sekalian." Ucap Kepala Sekolah dengan suaranya bergema melalui pengeras suara lapangan.

"Dengan bangga kami umumka perwakilan sekolah kita untuk Beasiswa Prestasi tahun ini dinyatakan lolos oleh tim penilai Dinas Pendidikan."

"Selamat untuk ananda Bram, dari kelas XI IPA 2!"

Sorak-sorai riuh langsung memenuhi lapangan, disusul tepuk tangan meriah dari seluruh siswa dan guru.

Karina yang berdiri di barisan kelasnya merasakan air mata bahagia yang tidak bisa ia tahan.

Menyaksikan Bram berjalan maju ke depan dengan langkah yang masih terlihat tidak percaya yang disambut pelukan hangat dari Bu Retno dan tepukan bangga dari Kepala Sekolah.

Bram berdiri di depan lapangan, menatap seluruh teman-teman dan guruu gurunya yang bertepuk tangan untuknya.

pemandangan yang dugu mustahil ia bayangkan bisa terjadi pada dirinya sendiri.

Matanya mencari sosok Karina di antara kerumunan. Begitu pandangan mereka bertemu, senyum keduanya mengembang bersamaan, penuh dengan kebahagiaan yang begitu murni.

...----------------...

Kabar bahagia ternyata tidak berhenti di situ saja. Sepulang sekolah saat Bram kembali ke rumah untuk memberi tau neneknya.

Ia mendapati sesuatu yang tidak kalah mengejutkan, Herman ayahnya sudah berada di sana, duduk di ruang tamu sederhana itu bersama neneknya sambil membawa sekeranjang buah buahan sebagai oleh-oleh.

"Bapak?" Bram terkejut melihat kehadiran ayahnya yang tidak diduga.

"Nenek kamu telpon Bapak tadi, cerita soal beasiswa." Jelas Herman sambi berdiri dengan canggung, matanya penuh dengan kebanggaan yang jarang sekali ia tunjukkan. "Bapak nggak nyangka anak Bapak bisa sehebat ini."

Bram terdiam, menatap ayahnya dengan perasaan campur aduk. Dalam hatinya masih ada sisa kekecewaan dan luka lama yang belum sepenuhnya pulih, tapi juga ada secercah kehangatan yang mulai tumbuh melihat perubahan nyata pada diri Herman.

"Bapak bawa ini." Lanjut Herman sambil mengeluarkan sebuah amplop dari sakunya dan menyerahkannya dengan tangan yang sedikit gemetar. "Enggak banyak, tapi ini dari gaji pertama Bapak di bengkel. Buat bantu-bantu kebutuhan kamu sama Nenek."

Bram menatap amplop itu lama, sebelum akhirnya menerimanya dengan tangan yang juga ikut gemetar. "Makasih Pak."

"Bapak tau, Bapak nggak akan pernah bisa gantiin waktu yang udah Bapak sia siain. Tapi Bapak janji, mulai sekarang Bapak akan coba jadi bapak yang lebih baik."

"Bram nggak akan lupain semua yang udah terjadi Pak." Ucapnya jujur. "Tapi Bram juga nggak akan tutup pintu bat bapak selama mau berubah. Pelan pelan aja."

Herman mengangguk dengan matanya yang berkaca kaca. "Itu udah lebih dari cukup buat Bapak."

...----------------...

Malam harinya Bram mengundang Karina untuk merayakan kabar bahagia itu bersama.

"Gue nggak nyangka semua ini beneran kejadian." Kata Bram sambil menatap langit malam yang dipenuhi bintang.

"Beasiswa, Bapak yang mulai berubah, trus temen temen, rasanya kayak mimpi."

"Ini bukan mimpi Bram." Karina tersenyum dan menggenggam tangannya erat. "Ini semua nyata dan kamu pantes dapetin semuanya."

"Gue nggak akan pernah bisa sampai di titik ini tanpa lo." Bram menatapnya dengan mata penuh syukur.

"Lo yang pertama kali percaya sama gue disaat nggak ada satu pun orang yang mau percaya."

Karina merasakan dadanya sesak mendengar kata kata itu, yang menandakan hari perpisahan mereka yang semakin dekat.

"Bram." Katanya pelan.

"Aku bangga banget sama kamu. Bangga banget ngeliat kamu jadi sekuat dan sebahagia ini."

Bram menatapnya lama, seolah bisa merasakan sesuatu yang tidak terucap di balik kata-kata Karina.

"Ini waktunya, kan?" Tanyanya dengan suara pelan tapi penuh pengertian. "Waktu lo buat pergi?"

Karina menutup matanya sejenak, menahan air mata yang mulai menggenang. "Aku... aku belum tau pastinya kapan. Tapi nggak akan lama lagi."

Bram mengangguk pelan, menggenggam tangannya lebih erat, seolah ingin menyimpan sensasi itu selama mungkin sebelum semuanya benar-benar berakhir.

"Gue udah siap, Al."

...----------------...

Setelah Karina kembali ke kamar kosnya dengan berat hati, layar tembus pandang muncul dengan pembaruan yang telah lama ia nantikan sekaligus takuti.

[Pembaruan status FINAL.]

[Poin Kehidupan: 18.750 / 100.000.]

[MISI DUNIA PERTAMA: SELESAI.]

[Subjek: Bram Setiawan telah mencapai definisi akhir bahagia secara utuh.]

[Pemulihan hubungan keluarga, jaringan dukungan sosial yang tulus dan berkelanjutan, kepercayaan diri dan harga diri yang solid, tujuan hidup yang jelas, serta kapasitas untuk mencintai dan menerima cinta tanpa syarat.]

[Poin akhir yang diberikan mencerminkan kedalaman dan keberlanjutan kebahagiaan yang telah dicapai jauh melampaui estimasi awal.]

[Pengguna akan ditarik dari dunia ini dalam waktu 24 jam. Disarankan menggunakan waktu yang tersisa untuk menyelesaikan proses perpisahan sesuai dengan komitmen yang telah dibuat.]

Karina menatap layar hologram itu dengan perasaan yang campur aduk antara bangga, lega dan kesedihan yang mendalam hingga terasa seperti menusuk langsung ke jantungnya.

“Dua puluh empat jam.” Gumamnya dengan air mata yang akhirnya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi. “Cuma tinggal dua puluh empat jam lagi sama Bram.”

Ia menatap gelang manik-manik kayu yang masih melingkar di pergelangan tangannya.

Kenangan dari malam pengakuan Bram yang begitu tulus.

Menyadari bahwa waktu yang tersisa, sesingkat apa pun itu, harus ia gunakan untuk memberikan perpisahan yang layak.

Perpisahan yang tidak akan meninggalkan luka baru, melainkan penutup yang pantas bagi kisah cinta singkat tapi begitu berarti yang telah mereka bangun bersama.

1
Diana Lely
kirana apa karina thor
kirana_euforia: karina, kalo kirana namaku
total 1 replies
Priska Heriska
bagus semangat!
reaaannaaa
sistem sampah,buat apa ada sistem
buang aja,karina mati lagi aja
Alnilam Mintaka
Bagus!!!
kirana_euforia: tengkyu(⁠≧⁠▽⁠≦⁠)
total 1 replies
Alnilam Mintaka
Semangat Thor!!! 💪
Alnilam Mintaka
jujur janggal . lvl author tinggi tapi karya cuma satu??
Alnilam Mintaka: okey .. good luck thor
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!