NovelToon NovelToon
Penemu Rahasia Orang Mati

Penemu Rahasia Orang Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Terjadi lagi

Proses pembersihan berjalan lancar selama lima belas menit pertama. Arya dan Teguh bekerja dalam kesenyapan yang saling dipahami, sebuah tarian rutin yang sudah ribuan kali mereka lakukan.

Mereka membasuh luka-luka lecet pada tubuh Rendy, membersihkan sisa-sisa sisa debu jalanan yang menempel pada kulit kaku almarhum.

Namun, ketika mereka sampai pada tahap memposisikan kepala almarhum agar lebih lurus guna mempermudah proses pengeringan dan penutupan kain, sarung tangan yang dikenakan Arya tiba-tiba robek kecil di bagian ibu jari akibat tersangkut pinggiran tajam dari kancing jaket korban yang belum dilepas sepenuhnya.

Arya tidak menyadarinya. Tanpa alas karet yang melindunginya, ibu jari tangan kanan Arya yang basah menyentuh langsung kulit di belakang telinga kanan Rendy, area leher yang masih menyimpan sisa-sisa kehangatan yang memudar.

BZZZZZT!

Sengatan itu datang lagi! Kali ini rasanya jauh lebih dahsyat, seperti aliran listrik ribuan volt yang ditembakkan tepat ke dalam saraf pusatnya!

"ARGH!"

Arya berteriak kecil. Tubuhnya kejang seketika, dadanya seperti terhantam beban berat tak terlihat. Otot-otot badannya menegang kaku, dan kedua matanya terbelalak lebar menatap kosong ke udara hampa.

PRANG!

Baskom stainless steel berisi air sabun yang dipegang Arya terlepas dari genggamannya dan jatuh menghantam lantai keramik, hingga menimbulkan suara dentangan nyaring yang menggema liar di seluruh ruangan. Air bercampur sabun memercik ke mana-mana, dan membasahi sepatu boot mereka.

Arya mundur dengan sempoyongan, napasnya tersengal-sengal seolah ia baru saja tenggelam di laut dalam. Tangannya meremas pinggiran meja instrumen untuk menahan tubuhnya agar tidak roboh.

Teguh tersentak kaget. Ia hampir saja menjatuhkan kain kasa yang dipegangnya. Dengan mata melotot heran dan panik, Teguh menatap baskom yang berserakan di lantai, lalu beralih menatap Arya yang berdiri gemetar dengan wajah pucat pasi seperti mayat itu sendiri.

"Arya! Kamu kenapa?!" teriak Teguh penuh keheranan dan rasa khawatir. "Kamu kesetrum?! Ada kabel bocor?!"

Teguh dengan cepat memeriksa sekeliling meja dan lantai, untuk mencari sumber bahaya listrik, namun tidak ada kabel apa pun di dekat sana.

Sementara Arya masih bertumpu pada meja, sambil memegangi dadanya yang naik turun secara liar. Pandangannya perlahan kembali fokus dari kegelapan yang sempat menyelimutinya. Suara Teguh terdengar berdengung di telinganya sebelum akhirnya menjadi jernih kembali.

"Arya! Jawab! Kamu kenapa?" ulang Teguh, kini memegang bahu Arya dengan cemas.

Arya menelan ludahnya yang terasa pahit dan kering. Ia sadar ia harus segera menguasai dirinya. Penglihatan misterius itu... datang lagi! Tapi ia tidak boleh membiarkan Teguh tau. Teguh akan menganggapnya gila atau mengira ia mengalami gangguan jiwa berat karena kurang tidur.

Sambil menahan gemetar di lututnya, Arya mengusap dahi yang dibasahi keringat dingin. Ia memaksa dirinya menarik napas dalam-dalam, dan mencoba menenangkan detak jantungnya yang bergemuruh.

"Gak... Gak apa-apa, Mas," suara Arya terdengar serak dan bergetar. "Aku... aku oke."

Teguh menatapnya dengan pandangan yang sama sekali tidak percaya. "Oke gimana? Muka kamu putih kayak kertas! Kamu tadi teriak terus jatuhin baskom. Kalau kamu sakit atau pusing, mending keluar sekarang, duduk di ruang istirahat!"

Arya menggelengkan kepala dengan cepat, dan mencoba memungut kembali ketenangannya yang berserakan. "Enggak, Mas Teguh. Beneran, aku cuma... mendadak pusing hebat. Mata aku berkunang-kunang. Mungkin... mungkin serangan hipotensi mendadak karena kelelahan. Tapi aku beneran masih bisa lanjut."

Teguh menghela napas dengan gusar, dan menatap Arya dengan tatapan curiga bercampur kasihan. "Kamu ini keras kepala banget dari dulu. Yakin masih bisa? Jangan dipaksa kalau tidak kuat."

"Yakin, Mas. Maaf ya, aku malah bikin kaget dan bikin kotor lantai," ujar Arya pelan seraya membungkuk untuk mengambil baskom yang terjatuh. "Aku ganti sarung tangan dulu dan ambil air baru."

Meskipun Arya melanjutkan pekerjaannya secara fisik dan mengganti sarung tangan yang robek, membasuh lantai yang kotor, dan kembali memegang spons, pikirannya sama sekali tidak lagi berada di ruang pemulasaraan itu.

Sebab di dalam benaknya, kilasan ingatan terakhir almarhum Rendy yang baru saja terorok masuk ke dalam kesadarannya masih membekas dengan sangat tajam, dan berputar bagaikan rekaman video beresolusi tinggi yang menggetarkan jiwanya.

Dalam penglihatan magis itu...

Arya tidak melihat kecelakaan brutal yang mengerikan atau tabrakan bloody yang penuh ketakutan.

Sebaliknya, penglihatan itu membawa Arya ke sebuah kamar tidur yang hangat dan sederhana pada pukul 04.30 pagi tadi. Suasana kamar itu sangat hening dan damai. Cahaya lampu tidur berwarna kuning keemasan berpendar lembut di sudut ruangan.

Dalam sudut pandang mata Rendy, ia melihat istrinya, wanita muda yang kini menangis di luar sana sedang tertidur lelap di atas tempat tidur, dan terselimuti hingga sebatas dada. Wajah istrinya terlihat begitu polos dan tenang dalam tidurnya.

Rendy yang sudah mengenakan jaket motor duduk pelan di tepi ranjang. Ia bergerak sangat perlahan agar tidak membangunkan sang istri.

Dengan tangan yang penuh kasih sayang, Rendy mengusap lembut rambut istrinya yang terurai, lalu menunduk untuk mencium kening istrinya dengan sangat lama dan penuh kehangatan.

Kemudian, Rendy menurunkan tangannya ke atas perut istrinya yang masih rata, dan mengelus perut itu dengan kelembutan yang tak terhingga. Lalu, Rendy berbisik sangat pelan, sebuah bisikan yang hanya diperuntukkan bagi sang bayi dan Tuhan:

"Tunggu Ayah pulang ya, Sayang... Ayah pergi cari rezeki sebentar untuk kamu dan Ibu. Ayah sangat mencintai kalian berdua..."

Rendy lalu menyisipkan selembar kertas kecil yang dilipat rapi di bawah jam tangan istrinya yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur. Di atas kertas itu, lewat mata Rendy, Arya bisa membaca tulisan tangan yang rapi meski ditulis dengan terburu-buru:

“Untuk Istriku Tercinta, jangan lupa makan vitamin dari dokter pagi ini ya. Kalau capek, tidak usah masak, nanti sore Ayah belikan makanan kesukaanmu waktu pulang kerja. I love you, selalu.”

Setelah itu, Rendy berdiri, memandang istrinya sekali lagi dengan senyuman paling tulus dan penuh rasa syukur sebelum perlahan melangkah keluar kamar, dan menutup pintu tanpa suara.

Hanya beberapa puluh menit setelah momen indah dan penuh cinta itu, takdir tragis merenggut nyawanya di jalanan.

Bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
keren kaya baru ❤️
Aurora: iya kak, semoga bisa menghibur para pembaca 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!