Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Teh Manis di Ruang Tamu
...#...
...Bima tidak langsung turun dari mobil. Ia menatap pintu rumah putih itu lama, sampai lampu teras menyala sendiri dengan bunyi klik kecil, dan cahayanya jatuh ke tangga marmer yang dingin....
..."Turun," kata perempuan itu....
..."Saya nggak diundang."...
..."Kamu dipanggil. Itu lebih buruk."...
...Rico membuka pintu belakang sebelum Bima sempat menjawab. Angin dari halaman langsung masuk, membawa bau tanah basah dan melati yang entah tumbuh di mana. Bima turun dengan lengan kiri dipeluk ke dada, dan kakinya menginjak kerikil yang berbunyi di bawah sol sepatunya....
...Di depan pintu, seorang perempuan paruh baya berseragam hitam berdiri tegak. Rambutnya disanggul rapi, dan ia tidak tersenyum. Ia menunduk sedikit ke arah perempuan itu, cukup singkat, lalu menatap Bima dari atas sampai bawah. Tatapannya tidak lama, tapi cukup untuk membuat Bima merasa seperti barang yang sedang dihitung....
..."Ibu Carla di ruang tamu," katanya....
..."Aku tahu," jawab perempuan itu....
...Bima berhenti di ambang pintu. Lantainya marmer putih, begitu mengilap sampai ia bisa melihat bayangan sepatunya yang kotor oleh tanah gudang. Ia buru-buru melangkah lebih pelan, seolah lantai itu bisa retak kalau diinjak terlalu keras....
...Di dinding ada lukisan besar, laut dengan kapal kecil yang hampir tenggelam. Di sebelahnya, sebuah jam dinding berdetak, dan suaranya terdengar jelas di ruang yang sunyi itu....
... ...
...Ruang tamunya luas, dengan dua sofa beludru hijau tua yang saling berhadapan. Jendela besarnya menghadap ke taman, dan tirainya ditarik setengah. Di atas meja kopi ada teko perak dan dua cangkir porselen. Salah satu cangkirnya sudah terisi, uapnya masih tipis....
...Perempuan tua itu duduk di sofa sebelah kanan. Ia memakai blus krem dan rok panjang berwarna abu-abu tua. Rambutnya putih seluruhnya, disanggul rendah, dan di jari manis tangan kirinya ada cincin perak tipis yang bagian bawahnya sudah kusam. Ia tidak berdiri ketika mereka masuk. Ia hanya mengangkat wajah, dan matanya langsung tertuju pada Bima....
...Lama....
...Bima merasa tidak nyaman, dan ia menyadari bahwa ia sedang menunggu sesuatu terjadi, tapi tidak tahu apa....
..."Duduk," kata perempuan tua itu....
...Suaranya tipis dan tenang, tidak keras sama sekali. Bima melirik perempuan di sebelahnya. Perempuan itu sudah duduk di sofa kiri, menyilangkan kaki, dan tidak menatap siapa pun....
..."Saya berdiri saja," kata Bima....
..."Kamu duduk. Lengan kirimu masih berdarah."...
...Bima menunduk. Ada noda merah kecokelatan merembes lewat perban di bagian siku, menempel di lengan baju. Ia tidak sadar sejak kapan....
...Ia duduk di pinggir sofa, di ujung yang paling dekat pintu....
..."Teh?" tanya perempuan tua itu....
..."Nggak."...
..."Kamu belum minum apa-apa sejak pagi, Bima. Aku bisa lihat dari bibirmu."...
..."Saya nggak haus."...
..."Kamu sedang berbohong, dan itu bukan hal yang buruk. Tapi kamu tidak perlu berbohong di rumahku."...
...Perempuan tua itu menuang teh ke cangkir kedua dengan gerakan yang pelan dan hampir tanpa suara. Ia menaruh gula dua sendok, mengaduknya sekali, lalu mendorong cangkir itu ke arah Bima di atas meja. Cangkirnya bergeser sedikit di atas taplak, dan berhenti tepat di depan lutut Bima....
...Bima menatap cangkir itu. Teh manis. Aromanya hangat dan sedikit terlalu kuat....
..."Itu teh kesukaan ayahmu," kata perempuan tua itu. "Dia selalu minta dua sendok. Aku bilang itu terlalu manis, dan dia bilang rasa manis itu cara orang mengingat sesuatu yang pahit."...
...Bima tidak mengambil cangkir itu. Tapi jarinya bergerak sedikit ke arah pegangannya, lalu berhenti....
..."Bapak saya nggak pernah ke rumah ini," katanya....
..."Dia pernah datang dua kali. Dan satu kali dia duduk di tempat kamu sekarang."...
..."Kapan?"...
..."Waktu kamu masih kecil. Mungkin umur lima atau enam tahun. Kamu waktu itu sakit demam, dan ibumu tidak bisa menitipkanmu pada siapa-siapa, jadi dia membawamu ke pelabuhan. Kamu tidur di kursi ini." Perempuan tua itu tersenyum tipis, nyaris tidak kelihatan. "Kamu mengompol di sofaku."...
...Bima merasakan telinganya memanas. Ia menoleh ke perempuan di sebelahnya, yang tetap menatap lantai....
..."Saya nggak ingat," katanya....
..."Kamu tidak mungkin ingat. Kamu cuma anak kecil. Tapi aku ingat."...
..."Terus kenapa Ibu saya nggak pernah bilang?"...
..."Karena ibumu tidak pernah diizinkan masuk ke rumah ini," kata perempuan tua itu pelan. "Dia hanya ikut sampai pagar. Ayahmu yang membawamu masuk sendirian."...
... ...
...Ruangan itu sunyi lagi. Jam dinding berdetak, dan di luar, angin menggerakkan dahan pohon sampai bayangannya bergeser di lantai marmer....
...Perempuan tua itu meletakkan cangkirnya sendiri ke meja. Gerakannya begitu rapi, hampir kaku, seperti seseorang yang pernah dilatih untuk tidak pernah menumpahkan apa pun....
..."Kamu tahu kenapa aku memanggilmu ke sini?" tanyanya....
..."Nggak."...
..."Bohong lagi."...
...Bima menghela napas, dan lukanya ikut berdenyut. "Saya mau tahu kenapa nama bapak saya ada di kapal. Kenapa tanda tangan saya ada di surat kuasa yang tanggalnya sama dengan telepon ke ibu saya. Dan kenapa ada orang yang ngikutin saya dari pasar."...
..."Itu pertanyaan yang bagus. Tapi tidak ada yang akan menjawab semuanya malam ini."...
..."Terus untuk apa saya di sini?"...
...Perempuan tua itu menatap Bima untuk waktu yang lama. Lalu ia menoleh ke arah perempuan di sofa kiri, dan untuk pertama kalinya sejak Bima masuk, ada sesuatu yang berubah di wajahnya. Tidak marah. Lebih seperti rasa sayang yang sudah terlalu lama disimpan dan tidak tahu harus diletakkan di mana....
..."Untuk melihat siapa yang masih berani duduk di rumah ini," katanya....
..."Nenek," kata perempuan di sebelah Bima, akhirnya bersuara. Suaranya datar, tapi ada tekanan halus di dalamnya. "Jangan mulai."...
..."Aku tidak mulai apa-apa, Alessia."...
...Bima menoleh cepat. Nama itu lagi. Kali ini diucapkan dengan lembut oleh orang yang tidak diragukan lagi adalah keluarganya....
...Perempuan itu menutup matanya sebentar, lalu membukanya. "Tolong, Nek."...
...Carla menarik napas panjang. Ia meraih cincin perak di jari kirinya, memutarnya pelan sekali, lalu melepaskannya tangan. Di meja, di sebelah teko perak, ia meletakkan cincin itu tanpa suara....
..."Cincin ini bukan milik keluarga Vieri," katanya. "Dulu cincin ini milik laki-laki yang pernah mengajari suamiku berhitung. Dia tidak pernah diakui di keluarga kami. Tapi dia yang menyelamatkan kapal pertama kali pada tahun ketika semua orang menganggap pelabuhan ini akan tenggelam."...
...Bima menatap cincin itu. Perak kusam, bagian dalamnya terukir huruf kecil yang sudah nyaris tidak terbaca....
...*A.*...
..."Itu nama siapa?" tanya Bima pelan....
...Carla tidak menjawab langsung. Ia menoleh ke arah jendela yang tirainya setengah tertutup, ke taman yang gelap, ke bayangan pohon-pohon tua....
..."Nama orang yang seharusnya ada di kertas itu, bukan kamu," katanya. "Tapi dia sudah tidak bisa lagi menulis namanya sendiri."...
...Di ruang tamu yang luas itu, teh di cangkir Bima sudah mulai dingin....
...Dan dari kejauhan, dari arah lantai dua, terdengar suara pintu kamar dibuka pelan, lalu langkah kaki turun di tangga, satu per satu, lambat dan ringan, seperti seseorang yang sudah lama tidak berjalan di rumah ini....