SINOPSIS
.
.
.
.
.
Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.
Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.
Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.
Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.
Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.
Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?
Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: HARI-HARI YANG TIDAK BERNAMA
Ruyin menggenggam kunci itu sampai logamnya terasa hangat di telapak tangan.
Ia tidak menoleh ke belakang. Menoleh adalah hal pertama yang dilakukan orang yang bersalah. Dengan gerakan sewajarnya, ia menimbun kembali tanah di antara dua akar itu dan menepuknya rata dengan punggung tangan. Ia menyapu sisa tanah dari ujung jari ke rok luarnya, berdiri, lalu berjalan ke bangku batu seolah sedang menikmati pagi.
Kunci dan kertas minyak itu ia selipkan ke dalam lipatan ikat pinggang. Baru ketika lorong barat sudah di belakangnya, ia membiarkan napasnya turun.
———
Di kamar, ia menutup pintu, lalu jendela. Ia mengambil kotak kecil dari dalam bungkusan dan mengangkat surat-surat si tabib tua. Dengan tusuk konde, ia mencongkel pelan lapisan kain di bagian dalam tutup kotak. Jahitannya longgar, dan di baliknya ada ruang tipis yang cukup untuk selembar kertas lipat.
Kunci itu ia balut dengan sapu tangan dan ia letakkan di sana. Catatan kecilnya ia sisipkan di antara dua surat si tabib, di halaman yang isinya hanya tentang takaran ramuan. Orang yang membuka kotak ini akan membaca soal ramuan dan berhenti.
Ia tidak memberi tahu siapa pun. Tidak Bibi Qin, tidak Yucheng, bahkan tidak dirinya sendiri sampai ia tahu apa yang ia sembunyikan.
'Jangan beri tahu Kakak.'
Ruyin duduk di lantai bersandar pada kaki ranjang dan memejamkan mata.
———
Ia mulai dari yang paling jelas: pohon osmanthus.
Bau bunganya datang lebih dulu, manis dan menyesakkan. Lalu cahaya sore yang menembus dedaunan. Lalu dirinya yang kecil duduk di cabang rendah dengan kaki berayun, dan di bawah sana Yucheng menengadah dengan wajah cemas, tangannya terbuka seolah siap menangkap.
Itu benar. Itu sungguh ada.
Ia melangkah lebih jauh. Ibunya berdiri di bawah lorong, mengenakan pakaian hijau pucat, menggulung lengan bajunya untuk memegang mangkuk obat. Ruyin ingat uap yang naik dari mangkuk itu. Ia ingat Ibu menyuruhnya minum sampai habis dan bahwa rasanya pahit sekali.
Obat apa? Ia baru tujuh tahun dan, kata mereka, belum sakit.
Ia mengesampingkan pertanyaan itu dan menggali ke tempat lain, ke luka di telapak tangannya.
Sapu tangan putih. Ia kembali melihatnya, dan kali ini lebih jelas. Kain itu berbau dingin, seperti embun di atas besi. Jari-jari yang membalut tangannya panjang dan sangat tenang, tidak gemetar sedikit pun melihat darah yang menetes. Ada suara di atas kepalanya, rendah dan datar:
"Jangan menangis. Kalau kau menangis, mereka akan tahu."
Ruyin membuka mata.
Napasnya pendek. Ia menatap telapak tangan kirinya, pada garis putih tipis itu. Dahan pohon tidak meninggalkan luka yang lurus seperti ditarik dengan penggaris. Dahan meninggalkan goresan bergerigi dan dangkal.
Ini bersih. Ini dibuat oleh sesuatu yang tajam.
Siapa yang dimaksud dengan "mereka"? Dan siapa pemilik suara itu? Ia mencoba menangkap wajahnya, tetapi di tempat wajah itu seharusnya ada, hanya ada cahaya putih yang menyilaukan, seperti ketika orang menatap langsung ke arah jendela.
———
Ia mencoba mengingat malam sebelum keberangkatan.
Ada lentera. Ada bunyi hujan di atap, atau mungkin bunyi sesuatu yang lain. Ada Yucheng berlutut di hadapannya dengan lengan baju basah, mulutnya bergerak mengucapkan sesuatu yang tidak sampai ke telinganya. Ada tangan seseorang menutup matanya, hangat dan berbau cendana. Itu pasti ibunya.
Lalu gelap.
Setelah itu ia sudah berada di dalam kereta, dengan bau obat dan genggaman seorang pelayan tua di pergelangannya.
Ruyin membuka mata lagi dan menatap langit-langit. Ada sesuatu yang ganjil dengan urutan itu, dan butuh waktu sebelum ia menemukan apa. Ia menghitung mundur. Umur tujuh: pohon osmanthus. Umur sebelas: kereta. Dan di antaranya?
Ia berusaha mengingat apa yang ia pelajari pada umur delapan. Festival apa yang ia lihat pada umur sembilan. Siapa gurunya pada umur sepuluh.
Tidak ada.
Bukan ingatan yang kabur. Ia bisa mengingat dengan jelas rumah di Selatan, aroma ramuan, wajah tabib tua, bahkan pola retakan di dinding kamarnya. Tetapi tahun-tahun sebelum itu, di rumah ini, seperti halaman gulungan yang digosok bersih. Tidak ada pelajaran. Tidak ada wajah. Tidak ada satu pun musim yang bisa ia sebut namanya.
Tiga tahun. Terlalu kosong untuk disebut lupa.
———
Pintu terbuka tanpa ketukan.
"Nona, Nyonya bertanya apakah..." Bibi Qin berhenti di ambang pintu. Matanya bergerak dari Ruyin yang duduk di lantai ke jendela yang tertutup. "Nona pucat sekali."
"Aku hanya lelah." Ruyin bangkit perlahan dan merapikan lipatan roknya. "Bibi, kemarilah. Aku ingin bertanya sesuatu."
Pelayan itu mendekat dua langkah dan berhenti.
"Waktu aku berangkat ke Selatan dulu," ujar Ruyin sambil menuangkan teh untuk dirinya sendiri, nadanya sengaja ringan, seperti orang yang mengobrol untuk menghilangkan bosan, "cuacanya cerah atau hujan?"
Itu pertanyaan sederhana. Ruyin tidak sedang mengawasi wajah Bibi Qin. Ia mengawasi tangannya.
"Hujan, Nona. Deras sekali sampai jembatan di..."
Bibi Qin berhenti. Ruyin mendengar napasnya tertahan, seperti ketika seseorang menyadari kakinya sudah melewati garis.
"...sampai jalan-jalan tergenang," lanjut pelayan itu. Suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya. "Tidak, maaf, Nona. Saya keliru. Cerah. Hari itu cerah. Saya sering mencampur satu perjalanan dengan perjalanan yang lain."
"Begitu."
"Ya, Nona."
Ruyin mengangkat cangkirnya, meniup perlahan, dan menyesap. Ia tidak bertanya jembatan apa. Ia hanya mengangguk, dan itu cukup untuk membuat Bibi Qin menunduk dalam-dalam dan meminta diri mengambil air hangat.
Ketika pintu menutup, Ruyin meletakkan cangkir dengan sangat hati-hati.
Di dalam ingatannya hanya ada satu jembatan, dan hujan yang turun malam itu bukan di Chang'an. Delapan tahun lalu hanya ada satu pelayan tua di dalam kereta bersamanya. Dan Bibi Qin, yang mengaku baru mengenalnya dalam perjalanan pulang, hampir menyebut jembatan itu sebelum lidahnya memotong kata.
Bibi Qin tahu. Entah apa, tapi ia tahu.
———
Ruyin menunggu sampai langkah kaki itu menjauh. Lalu ia berjalan ke rak kecil di dekat dinding, rak yang tidak sekali pun dipandang pelayan itu sejak kemarin.
Gulungan-gulungan di sana tersusun rapi: kitab pelajaran anak, buku sajak, beberapa lembar latihan melukis. Di barisan paling bawah, terselip sebuah buku tulis tipis berjilid benang, sampulnya kusam. Ruyin membukanya.
Tulisan anak-anak, huruf-hurufnya besar dan miring. Tulisan yang sama dengan catatan di bawah pohon.
Setiap halaman diberi tanggal di sudut kanan atas. Ruyin membalik cepat, dari awal tahun hingga ke halaman terakhir yang masih berisi. Ia berhenti.
Tanggal terakhir: hari kesembilan, bulan kesepuluh.
Ia membaca sekali lagi, perlahan, takut salah membaca.
Sepanjang hidupnya ia diberi tahu bahwa ia meninggalkan Chang'an di akhir musim dingin, ketika salju terakhir mencair dan kota baru mulai bergerak. Bahkan tabib tua di Selatan pernah menyebutnya sebagai "musim semi pertamamu di sini."
Tetapi buku ini mengatakan bahwa delapan bulan setelah salju itu mencair, Ruyin masih duduk di kamar ini, menulis latihan huruf dengan tangannya sendiri.
Ia membalik ke halaman berikutnya. Kosong. Hanya tersisa selembar tepi sobekan yang tipis di dekat jilidan, dan di atasnya, samar, bekas tinta dari tulisan yang tidak lagi ada.
Seseorang telah merobek halaman setelah tanggal itu.