Naila, gadis malang yang baru berusia 16 tahun, harus mengalami nasib buruk. Ketika Naila masih terpuruk setelah kematian Ibunya, ia bekerja di kediaman seorang Pengusaha sukses (Keanu Armani Putra). Bukannya mendapatkan ketenangan, Naila malah semakin terpuruk karena nasibnya menjadi lebih tragis dari sebelumnya.
Dimana ia diperkosa dan menjadi istri siri yang tidak pernah dianggap oleh sang suami. Belum lagi keputusan Keanu yang akan menikahi Kekasihnya, Melisa.
Kehadiran Melisa didalam rumah tangganya, membuat kehidupan Naila semakin berat. Belum lagi ia harus mengetahui bahwa dirinya tengah hamil di usianya yang masih sangat muda.
Bagaimana perjuangan Naila melewati masa sulitnya? Penasaran??? Yukk, ikuti cerita mereka 😘😘😘
Bukan ranah Bocil ya, jadi yang masih bocil, jangan di intipin ya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Tante Mira
Kediaman Tante Mira
Setelah selesai membantu Bi Arti di dapur, Naila kembali melanjutkan pekerjaannya, ikut membersihkan rumah itu bersama pelayan lainnya. Ketika Naila tengah asik mengerjakan tugasnya, Adnan memperhatikannya dari lantai atas sambil tersenyum.
Lelaki itu terus memperhatikan Naila untuk beberapa saat, sebelum ia mulai menapaki anak tangga turun dari lantai atas menuju lantai dasar, dimana Naila masih asik dengan alat bersih-bersihnya.
Sambil terus menyunggingkan senyuman, Adnan menghampiri Naila tanpa sepengetahuan gadis itu.
"Semangat kerjanya ya, Naila!" seru Adnan seraya menepuk pundak Naila pelan.
"Eh, Tuan?" Naila kaget bukan kepalang, ia benar-benar tidak menyadari keberadaan lelaki itu yang ternyata sudah berdiri dibelakangnya.
Adnan melangkah melewati tubuh Naila dan kini berdiri tepat di depannya. Naila menghentikan pekerjaannya kemudian memperhatikan penampilan Adnan. Lelaki itu terlihat berbeda dari biasanya. Jika Adnan biasanya mengenakan kemeja serta celana yang bersifat lebih formal, tetapi kali ini lelaki itu mengenakan pakaian santai.
"Apa Tuan tidak bekerja hari ini?" tanya Naila sambil terus memperhatikan Adnan yang menatapnya sambil tersenyum manis.
"Hari ini aku ingin menjemput Tante Mira di bandara, Tanteku sudah kembali dari luar kota. Aku yakin sekali, Tante Mira pasti akan senang bertemu denganmu." sahut Adnan.
Naila menarik nafas dalam kemudian mengembuskan nya secara perlahan. Adnan memperhatikannya dan hal itu membuatnya terkekeh pelan.
"Naila kok gugup ya, Tuan Adnan. Naila pesismis Nyonya Mira bisa menerima kehadiran Naila di rumahnya," sahut Naila cemas.
Adnan kembali terkekeh mendengar penuturan Naila. Lelaki itu menepuk pundak Naila pelan kemudian berucap. "Yakinlah, Naila. Tante Mira selalu welcome kepada para pelayan baru dirumah ini selama mereka jujur dan bersikap baik. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanyakan hal itu kepada Bi Arti."
Naila kembali terdiam dengan wajah bimbang. Ia benar-benar tidak yakin Nyonya Mira bisa menerimanya jika nantinya wanita itu tahu bahwa saat ini ia tengah mengandung. Dan Ia bahkan tidak pernah menceritakan tentang kehamilannya kepada siapapun ditempat itu.
"Semoga saja, Tuan Adnan." sahut Naila.
"Owh ayolah, Naila. Yakin saja!" seru Adnan sambil terkekeh karena melihat reaksi Naila yang terlihat cemas.
"Ya sudah, aku tinggal dulu ya. Aku ingin sarapan. Apa kamu mau menemaniku sarapan pagi ini?" ajak Adnan seraya mengulurkan tangannya kepada Naila.
Naila terkekeh pelan mendengar ajakan Adnan, "Tidak usah, Tuan. Terimakasih," sahut Naila
"Okelah kalau begitu," ucap Adnan seraya menarik kembali tangannya.
Adnan melangkahkan kembali kakinya menuju ruang makan dan meninggalkan Naila dengan pekerjaannya. Setelah selesai dengan sarapan paginya, Adnan segera melesat dengan mobilnya menuju Bandara untuk menjemput Tante Mira.
"Hai, Adnan ku sayang! Bagaimana kabar mu? Tante kangen banget loh sama kamu!" seru Tante Mira seraya memeluk tubuh Adnan yang sudah berdiri di hadapannya.
Adnan terkekeh pelan seraya membalas pelukan Tantenya. Begitulah Tante Mira, ia begitu menyayangi Adnan bahkan sudah seperti anak kandungnya sendiri.
"Adnan baik-baik saja, Tante. Adnan juga sangat merindukan Tante," sahut Adnan.
Adnan meraih koper yang dipegang oleh Tante Mira kemudian meletakkannya kedalam bagasi mobil. Sedangkan Tante Mira segera masuk kedalam mobilnya dan menunggu Adnan selesai meletakkan koper tersebut.
Setelah selesai memasukkan barang-barang bawaan Tante Mira kedalam bagasi, Adnan segera menyusul wanita yang sudah berusia kepala empat tersebut dan melajukan mobilnya menuju kediaman mereka.
"Bagaimana dengan gadis yang menjadi ART baru kita, Adnan? Apa dia sesuai dengan kriteria ku?" tanya Tante Mira seraya menatap wajah Adnan yang begitu fokus dengan setir mobilnya.
Adnan tersenyum tipis. "Pokoknya Tante tidak akan menyesal, Adnan berani jamin." sahut Adnan.
Tante Mira ikut tersenyum saat melihat reaksi Adnan ketika membicarakan gadis itu. Sepertinya keponakannya itu menyukai ART baru mereka. Apalagi wajah Adnan terlihat merona saat membahas tentang gadis tersebut.
"Siapa namanya, Adnan? tante lupa ..." tanya Tante Mira lagi.
"Naila, Tante. Dia anaknya sangat baik dan juga cekatan. Jadi, biarkan dia bekerja bersama kita, ya?" ucap Adnan.
"Ya, kita lihat saja nanti!" sahut Tante Mira.
"Owh ayolah, Tante ... Adnan mohon!" bujuk Adnan
Tante Mira tergelak mendengar permohonan keponakannya tersebut. Dan hal itu membuatnya semakin yakin bahwa Adnan memiliki perasaan lebih kepada gadis itu. "Baiklah, baiklah ..." sahut Tante Mira seraya menepuk pundak Adnan.
Setelah beberapa saat, merekapun tiba. Saat itu seluruh pelayan yang bekerja dirumah Tante Mira sudah menyambut kedatangannya, termasuk Naila.
Tante Mira tersenyum hangat kepada seluruh pelayannya. Kemudian ia melangkah memasuki rumahnya bersama para pelayan yang mengikutinya dari belakang. Para pelayan membawakan barang bawaan Tante Mira masuk kedalam rumahnya. Dan Naila pun kebagian membawakan koper Tante Mira.
Naila berjalan jauh dibelakang para pelayan lainnya dan disusul oleh Adnan yang baru saja selesai memarkirkan mobilnya. Adnan tersenyum sambil mengikuti langkah Naila tanpa sepengetahuan gadis itu.
"T-tuan?" Naila sangat terkejut ketika Adnan meraih koper Tante Mira dari tangannya.
Adnan terkekeh sambil menyeret koper tersebut. "Biar aku saja. Lagipula koper ini berat," ucap Adnan
"J-jangan Tuan, biarkan saya saja yang membawanya. Saya takut nanti Nyonya Mira marah," sahut Naila dengan wajah cemas.
"Tidak akan, percayalah padaku." Adnan menepis tangan Naila yang berusaha mengambil kembali koper itu dari tangannya sambil tersenyum.
Naila tidak punya pilihan selain membiarkan Adnan membawa koper itu hingga memasuki rumah majikannya. Setibanya diruang tengah, Tante Mira menghentikan langkahnya dan duduk di sofa yang ada diruangan itu untuk melepaskan Penat. Sedangkan para Pelayan yang membawakan barang-barangnya terus melangkah menuju kamarnya di lantai atas.
"Hei Adnan," sapa Tante Mira ketika melihat keponakannya tersebut melewatinya bersama seorang gadis manis yang berjalan sambil menundukkan kepalanya.
"Oh iya, Adnan sampai lupa. Kenalkan ini Naila, gadis yang Adnan ceritakan kepada Tante barusan," ucap Adnan.
Tante Mira tersenyum kepada Naila dan Adnan secara bergantian. Ia terus memperlihatkan kedua insan yang tengah berdiri di hadapannya dengan ekspresi berbeda. Jika Adnan nampak senang, berbeda halnya dengan Naila yang terlihat begitu cemas. Ia takut Nyonya Mira tidak bisa menerima kehadirannya dirumah mereka.
Tante Mira bangkit dari posisi duduknya dan menghampiri Naila yang masih menundukkan kepalanya. Tante Mira meraih wajah Naila dan kini mereka saling bertatap mata.
Tiba-tiba saja ekspresi wajah Tante Mira berubah. Wajahnya terlihat sedih, bahkan sekarang matanya berkaca-kaca ketika menatap kedua bola mata indah milik Naila yang berwarna coklat terang persis seperti almarhumah Ibunya.
"Warna matamu indah sekali, Naila. Entah kenapa aku teringat akan seseorang yang sudah lama menghilang dari kehidupan kami." ucap Tante Mira.
Naila hanya bisa membalas senyuman Tante Mira saat itu. Sedangkan Adnan menatap heran melihat reaksi Tantenya ketika bertemu Naila.
...***...