Song Qian adalah keturunan Dewa Leluhur Qing Tian yang lahir dari Menara Qian Kun setelah Tiga Alam diciptakan pada 70 ribu tahun yang lalu. Kelahirannya dianggap sebagai berkah bagi Tiga Alam. Song Qian berguru kepada Qian Gu untuk menguasai tiga elemen kekuatan semesta yang sudah ia miliki sejak lahir.
Namun, Qian Gu dan Song Qian tidak tahu apa saja rintangan yang akan menghampiri mereka di masa depan. Seiring berjalannya waktu, mereka berdua mulai jatuh cinta. Banyaknya rintangan membuat mereka harus berjuang bersama-sama untuk terus bersatu dan melindungi Tiga Alam bersama dengan Dewa Agung lainnya serta melindungi cinta di hati mereka.
Apakah Song Qian dan Qian Gu dapat mencapai tujuan mereka untuk melindungi Tiga Alam sekaligus cinta di hati mereka atau mereka harus mengorbankan segalanya untuk memberikan kedamaian bagi Tiga Alam? Ikuti terus kisahnya!
Dilarang menjiplak novel ini!!!
IG : @bellakristyc_
E-mail : bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelahiran Sang Pelindung Tiga Alam
Guncangan Menara Qian Kun dan Takdir Tiga Elemen Semesta
Pada awal penciptaan alam semesta tujuh puluh ribu tahun yang lalu, Dewa Leluhur Qing Tian membagi alam menjadi Tiga Alam utama: Alam Dewa, Dewa-Dewata (Alam Dewata), dan Alam Siluman.
Sebagai pimpinan tertinggi, Dewa Leluhur menyebarkan ilmu dan petunjuk kepada seluruh makhluk hidup di Tiga Alam agar mereka dapat melatih kekuatan spiritual. Di tatanan tertinggi, Alam Dewa berdiri kokoh sebagai puncak takdir yang paling dihormati. Di sanalah Sang Mahadewa Semesta bersama Tiga Dewa Agung bertahta untuk memimpin, menjaga, dan mengarungi dinamika kehidupan Tiga Alam dengan penuh keadilan.
Namun, keindahan itu berbatasan langsung dengan kegelapan abadi. Di ujung utara semesta, terhampar Neraka Terdalam—sebuah penjara raksasa tempat terkungkungnya Dewa Iblis beserta seluruh suku Iblis. Wilayah terlarang ini berbatasan langsung dengan Alam Dewata dan Alam Siluman. Demi mencegah kehancuran, sebuah segel Pembatas Alam Semesta dipasang, mengasingkan kedua alam tersebut dari ancaman bahaya Iblis.
Suku Dewata mendiami wilayah barat daya yang dipenuhi goa-goa spiritual dan pegunungan tinggi tempat dibentuknya sekte-sekte tempat berlatih. Sementara itu, suku Siluman menetap di wilayah tenggara yang membentang luas; sebagian besar dari mereka adalah makhluk gaib berdarah murni yang hidup berkelompok menaati hukum alam.
Selama puluhan ribu tahun, tatanan Tiga Alam berlangsung tenteram. Meski sang waktu terus bergulir memutarkan siang dan malam, langit Tiga Alam selalu menaungkan warna biru yang jernih—bahkan di kala malam menyapa.
Namun, hari ini, takdir semesta mendadak bergeser.
Tanpa peringatan, seluruh langit jernih di Tiga Alam pekat tertutup kegelapan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sinar surya lenyap tergelap awan mendung seram yang bergulung-gulung. Di perbatasan wilayah Pembatas Tiga Alam, Kilat dan Petir Langit raksasa meliuk-liuk liar, menghantam puncak Menara Qian Kun tanpa henti.
Sejak puluhan ribu tahun lalu, Menara Qian Kun tak pernah tersambar petir sedahsyat ini. Sebab, menara purba tersebut hanya akan bereaksi dan bergetar jika ada Mahadewa Semesta atau Dewa Agung baru yang lahir membawa takdir bagi Tiga Alam.
Tiga Dewa Agung berdiri kaku di ambang batas wilayah, menatap gemuruh di puncak menara dengan sorot mata penuh kecemasan.
"Aneh sekali... Hampir sepuluh ribu tahun berlalu sejak kelahiran Qian Gu, Menara Qian Kun tak pernah tersambar petir lagi. Menara ini tidak akan bereaksi sedahsyat ini kecuali jika ada seorang Mahadewa Semesta atau Dewa Agung baru yang lahir bagi Tiga Alam," ucap Zhi Jie, suara beratnya tertutup oleh gelegar petir.
Zhi Jie adalah sosok pemimpin yang paling disegani di seluruh Tiga Alam berkat hikmat, kearifan, dan kebijaksanaannya dalam mengelola ribuan urusan istana.
"Ini artinya Tiga Alam akan kembali dianugerahi Dewa Agung baru yang akan memimpin di masa depan! Bukankah ini kabar yang sangat baik?" sahut Tian Zi seraya tersenyum lebar mencoba mencairkan ketegangan. Tian Zi dikenal sebagai Dewa Agung yang paling santai, ceria, dan gemar bersenda gurau.
"Namun, seorang Dewa Agung hanya bisa lahir jika ada sisa-sisa esensi kekuatan dari Dewa Leluhur Qing Tian. Dewa Leluhur sudah lama tiada dan kembali menjadi debu semesta... bagaimana mungkin masih ada kehidupan Dewa Agung yang lahir dari Menara Qian Kun?" potong Bai Yuan dengan dahi berkerut tajam. Ia berpikir keras, mencoba mencerna keanehan takdir ini.
Bai Yuan merupakan Dewa Agung tertampan sekaligus terkuat di antara mereka bertiga. Sosoknya selalu tampak tenang dan berwibawa, namun ia adalah sosok yang paling tegas, disiplin, dan pantang menyerah di Alam Dewa.
Belum sempat mereka menyelesaikan perdebatan, Zhi Jie menyadari hal yang mengerikan. Firasatnya tepat; guncangan Petir Langit itu bukan sekadar reaksi alami, melainkan Cobaan Petir Langit purba yang hendak meremukkan daratan!
**CRASHHHH!**
Petir raksasa meledak dan menjalar ke seluruh penjuru Tiga Alam, membuat para dewa, suku dewata, dan suku siluman terperanjat panik.
Di tengah kekacauan itu, sesosok gaun putih melesat cepat menembus awan hitam. Seorang wanita berparas jelita terbang menahan gempuran Cobaan Petir Langit dengan benteng sihirnya agar hantaman tersebut tidak menghancurkan daratan Tiga Alam.
Melihat hal itu, Bai Yuan tak tinggal diam. Dengan gerakan kilat, ia mencabut pedang emasnya dan melesat ke angkasa menyusul sang wanita.
"Hati-hati, Bai Yuan!" seru Zhi Jie keras.
Zhi Jie dan Tian Zi bergegas merentangkan tangan, memancarkan energi spiritual emas untuk memasang benteng pelindung raksasa mengelilingi Alam Dewa. Badai petir membentur benteng mereka berkali-kali hingga memancarkan kilatan cahaya menyilaukan, sebelum akhirnya perlahan-lahan mereda dan menyisakan kesunyian yang mencekam.
Setelah gumpalan asap petir menipis, Bai Yuan bergegas turun mendekati Altar Dewa. Di sana, Zhi Jie sudah berdiri seraya menggendong seorang bayi mungil dengan kedua tangannya.
Bayi itu tidak menangis sedikit pun. Matanya yang bulat bening menatap berkilau pada cincin emas yang melingkar di jari Zhi Jie. Tertarik oleh kilauan itu\, sang bayi tertawa mungil—dan secara mengejutkan\, tangan kanannya memancarkan kobaran **Api** yang hangat\, sementara tangan kirinya menyemburkan aliran **Air** yang murni!
"Bayi ini... bisa mengendalikan kekuatan Api dan Air secara bersamaan?!" pekik Bai Yuan terperanjat. Belum pernah ada satu pun dewa atau dewa agung dalam sejarah Tiga Alam yang sanggup menguasai dua elemen yang saling bertolak belakang ini sejak lahir!
Belum usai rasa terkejut mereka\, mata sang bayi tak sengaja melirik gagang pedang emas milik Bai Yuan. Dalam sekejap mata\, bayi itu mengepalkan kedua tangan kecilnya\, memancarkan racikan percikan **Petir** mendesis yang menyambar dan merebut pedang emas Bai Yuan!
"Bahkan ia menyambar pedang emas milikmu dengan elemen Petir?!" puji Tian Zi terbelalak tak percaya. Bai Yuan dengan cepat menarik kembali pedangnya seraya menatap bayi itu dengan pandangan takjub bercampur tak percaya.
"Lahirnya bayi ini adalah berkah agung bagi Alam Dewa. Hampir sepuluh ribu tahun berlalu, dan Altar Dewa akhirnya melahirkan kembali seorang pelindung," sahut Zhi Jie tersenyum hangat menatap sang bayi.
"Kita harus segera memberinya nama," ujar Bai Yuan.
"Nama apa yang pantas untuk anak seistimewa ini?" tanya Zhi Jie.
"Anak ini sangat spesial! Bagaimana kalau kita namai Tian Qian? *Tian* dari kata langit\, dan *Qian* berarti kemakmuran!" usul Tian Zi bersemangat.
Zhi Jie mendengus pelan. "Tian Zi, kau hanya ingin menyelipkan namamu sendiri ke dalam namanya. Nama Tian Qian tidak cocok untuknya."
"Lalu menurutmu nama apa yang lebih elok, hmm?" balas Tian Zi tidak puas.
"Bai Qian terdengar sangat bagus," potong Bai Yuan menanggapi.
"Tidak, menurutku nama Zhi Qian jauh lebih berwibawa," tegas Zhi Jie tak mau kalah.
Di saat ketiga Dewa Agung sibuk berdebat mempertahankan ego masing-masing\, wanita bergaun putih yang tadi bertaruh nyawa menahan Petir Langit melangkah mendekat dengan anggun. Dialah **Qian Gu**\, Sang Mahadewa Semesta.
"Ada apa dengan Altar Dewa? Kenapa Cobaan Petir Langit menyambar Tiga Alam sebanyak 128 kali, dan Altar Dewa tersambar hingga 28 kali?" tanya Qian Gu dengan nada suara dingin namun penasaran.
"Qian Gu, syukurlah kau selamat! Sejak kelahiranmu sepuluh ribu tahun lalu, Altar Dewa tidak pernah bereaksi. Tapi bayi ini lahir membawa keajaiban! Ia sanggup menggunakan elemen Api dan Air secara bersamaan, bahkan bisa memanggil Petir untuk merebut pedang emas milik Bai Yuan!" terang Tian Zi antusias.
Qian Gu menatap bayi mungil di dekapan Zhi Jie dengan tatapan dalam. "Jadi, Tian Zi... maksudmu saat bayi ini tumbuh dewasa nanti, ia akan memimpin Tiga Alam bersama kita?"
"Benar! Namun, kekuatan tiga elemen dalam tubuhnya sangat dahsyat dan berbahaya jika sampai disalahgunakan. Ia membutuhkan sosok guru yang tepat untuk membimbing jiwa dan kekuatannya agar dapat melindungi Tiga Alam," jawab Tian Zi, tersirat harapan besar dalam hatinya agar dirinya yang ditunjuk.
Qian Gu memalingkan pandangannya dan menatap Zhi Jie. "Zhi Jie, kau adalah Dewa Agung yang paling bijaksana dan berpandangan luas. Kaulah sosok yang paling cocok menjadi gurunya."
Zhi Jie mendesah pelan seraya menghela napas panjang. "Qian Gu, kau tahu sendiri betapa rumitnya mengurus ribuan dokumen Tiga Alam setiap hari. Waktuku habis di meja istana, bagaimana mungkin aku bisa fokus memberikan bimbingan khusus untuk mendidik seorang murid?"
Mengapa Qian Gu begitu enggan mengangkat murid baru? Dan rahasia gelap apakah yang disembunyikan oleh Menara Qian Kun tentang takdir kelahiran sang bayi tiga elemen yang dapat mengancam keselamatan Tiga Alam di masa depan?
Bersambung.........
Halo semuanya, terima kasih sudah mampir ke novel ini. Kalau kalian suka dengan ceritanya, boleh kasih like, vote, tips, dan tambahkan novel ini ke favorit ya. Kalau ingin memberikan kritik dan saran, silakan tulis di kolom komentar ya. Ikuti terus kisah Song Qian sampai selesai.