NovelToon NovelToon
Under The Autumn Canopy

Under The Autumn Canopy

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: air sungai

​Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
​Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ritme Kereta Pagi dan Bayang-Bayang senior

Pukul 05.00 pagi. Langit di atas kota Oxford masih berwarna nila pekat, dan embun beku melapisi kaca-kaca jendela flat sederhana Julian. Suara alarm ponsel yang berbunyi nyaring di atas meja kayu kecil memecah kesunyian.

Julian membuka matanya. Tidak ada lagi kasur king size dengan seprai sutra; ia hanya memiliki tempat tidur single yang nyaman, namun baginya, ini jauh lebih bernilai. Ia bangkit, melakukan peregangan singkat, lalu berjalan menuju dapur mini untuk menyeduh dua cangkir kopi hitam.

Lima belas menit kemudian, sebuah ketukan halus terdengar di pintu. Julian membukanya, dan di sana berdiri Aurora mengenakan trench coat cokelat, syal rajut tebal, dan wajah yang tampak segar meski jam masih menunjukkan waktu yang sangat dini.

"Siap untuk perjalanan panjang?" tanya Julian, menyodorkan salah satu cangkir kopi kepada Rory.

Rory tersenyum, menerima kopi itu dengan tangan yang sedikit menggigil kedinginan. "Tentu. Aku sudah merangkum data spektroskopi kita semalam. Kurasa kita bisa menyelesaikan kalibrasi dasar dalam tiga jam begitu sampai di Cambridge."

Perjalanan dari Oxford menuju Cambridge adalah rutinitas baru mereka. Menggunakan kereta api pagi adalah momen yang paling berharga. Di dalam gerbong yang setengah kosong, dengan pemandangan pedesaan Inggris yang berkabut di luar jendela, mereka biasanya duduk bersebelahan, berbagi catatan, atau sekadar menikmati keheningan yang nyaman.

Namun hari ini, ada yang berbeda.

Saat kereta bergerak meninggalkan stasiun, Julian menatap Rory yang sedang membaca jurnal kimia. Pria itu memperhatikan bagaimana helai rambut Rory bergerak tertiup angin dari celah jendela kereta. Julian tahu, keputusan untuk melepaskan semuanya telah membuat hidup Rory pun ikut terseret dalam kompleksitas masalahnya.

"Rory," panggil Julian pelan.

Rory mendongak, menurunkan jurnalnya. "Ya?"

"Terima kasih. Karena bersedia menempuh perjalanan dua jam ini setiap hari, dan... karena bersedia berbagi beban ini denganku."

Rory tersenyum tulus, menutup jurnalnya dan meletakkannya di pangkuan. "Ini bukan beban, Julian. Ini adalah investasi. Kita sedang membangun fondasi. Lagipula, bukankah perjalanan ini justru memberiku waktu lebih untuk berdiskusi dengan peneliti paling cerdas yang aku kenal?"

Julian tertawa pelan, suara baritonnya meredam suara gemuruh kereta. Ia meraih tangan Rory di antara celah kursi, menggenggamnya dengan mantap. "Kamu selalu tahu cara membuat semuanya terdengar masuk akal."

Namun, kehangatan itu tidak bertahan lama. Saat mereka tiba di Stasiun Cambridge, sebuah pemandangan tak terduga menyambut mereka.

Di peron yang ramai, berdiri seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas kelabu dengan potongan yang sangat rapi. Ia memegang payung hitam, berdiri dengan postur yang sangat kaku ciri khas staf senior keluarga Radcliffe. Namanya adalah Mr. Henderson, kepala staf urusan hukum keluarga Radcliffe.

Julian menghentikan langkahnya. Genggamannya pada tangan Rory mengerat, namun ia tidak menarik diri.

"Mr. Henderson," sapa Julian dingin.

Pria itu membungkuk sedikit dengan sikap formal yang kaku. "Tuan Muda Julian. Saya tidak menyangka Anda benar-benar akan terus menjalankan ini."

"Ada yang bisa Anda bantu, Henderson? Saya rasa saya sudah menyerahkan akses ke kediaman dan aset keluarga minggu lalu," kata Julian datar.

Mr. Henderson tidak membalas provokasi itu. Ia melirik Rory dengan tatapan sekilas yang menilai, sebelum kembali menatap Julian. "Tuan Arthur tidak ingin ada perdebatan publik. Beliau hanya ingin menyampaikan bahwa tawaran laboratorium di St. Jude’s masih terbuka. Jika Anda kembali minggu ini, tidak akan ada sanksi tambahan bagi rekan Anda, Miss Vance."

Mata hazel Julian memicing tajam. Ancaman itu sangat halus namun mematikan. Sanksi bagi rekan Anda. Mereka tidak menyerang Julian secara langsung lagi mereka mulai membidik Rory.

Sebelum Julian sempat membentak pria itu, Rory melangkah maju. Suaranya tenang, namun memiliki wibawa yang mampu menghentikan kebisingan stasiun di sekitarnya.

"Mr. Henderson," ucap Rory. "Tolong sampaikan pada Tuan Arthur Radcliffe, bahwa masa depan penelitian saya tidak ditentukan oleh izin penggunaan laboratorium di satu gedung kampus. Jika keluarga Radcliffe ingin menguji ketahanan kami, mereka bisa menunggu hasil riset kami dipublikasikan di jurnal internasional nanti."

Mr. Henderson tertegun. Ia tak menyangka gadis beasiswa ini akan berbicara seberani itu.

"Dan satu lagi," tambah Rory dengan senyum tipis yang tak mencapai matanya. "Jika ada upaya intimidasi lebih lanjut terhadap proses akademis kami, saya tidak akan ragu untuk melaporkannya sebagai pelanggaran kode etik riset nasional. Anda tahu betapa ketatnya aturan Helios Foundation dalam hal campur tangan pihak luar."

Henderson terdiam, wajahnya yang kaku sedikit menegang. Ia tahu Rory benar. Helios Foundation memiliki proteksi hukum yang sangat kuat terhadap para penelitinya.

"Baiklah," jawab Henderson singkat, memberikan anggukan hormat yang enggan. "Saya sudah menyampaikan pesan Tuan Arthur. Keputusan ada di tangan Anda."

Setelah pria itu pergi, bahu Julian sedikit merosot, ia menghela napas panjang. Ia menatap Rory dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara rasa kagum, bersalah, dan perlindungan yang posesif.

"Kamu tidak harus melakukan itu, Rory. Aku bisa menghadapinya sendiri," bisik Julian.

Rory menatap mata hazel itu dalam-dalam. "Kita adalah tim, Julian. Jika mereka menyerangmu, mereka menyerang kita. Jika mereka ingin bermain kotor, kita bermain dengan aturan yang benar dan lebih cerdas."

Julian tersenyum, sebuah senyuman yang kali ini lebih tulus dan penuh keyakinan. Ia merapikan syal di leher Rory dengan lembut.

"Kau benar. Mari kita tunjukkan pada mereka apa yang bisa dilakukan oleh dua orang yang tidak punya apa-apa, selain kecerdasan dan tekad," ujar Julian.

Mereka berdua berjalan menuju gerbang keluar stasiun, melangkah berdampingan menuju gedung laboratorium Cambridge. Di belakang mereka, bayang-bayang keluarga Radcliffe masih membayangi, namun di depan mereka, sebuah masa depan yang mereka ukir sendiri mulai menampakkan cahayanya.

Di dalam laboratorium Cambridge yang canggih, mereka bekerja dengan intensitas yang lebih tinggi dari biasanya. Setiap pipet yang mereka gunakan, setiap data yang mereka input, adalah tamparan bagi siapa pun yang meragukan mereka.

Malam itu, saat kereta terakhir membawa mereka kembali ke Oxford, Julian tertidur di kursi kereta dengan kepala bersandar di jendela. Rory memperhatikannya. Wajah pria itu tampak lebih damai dalam tidurnya bebas dari ekspektasi aristokrat yang mencekik.

Rory perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Julian. Ia tahu, perjalanan ini baru saja dimulai, dan mungkin akan ada lebih banyak Henderson di masa depan. Tapi selama Julian ada di sisinya, ia tidak akan pernah takut untuk menantang dunia.

...Pantun...

...💕 Pantun Romantis...

...Pergi ke taman memetik melati,...

...Melati harum di pagi hari....

...Kalau kamu selalu di hati,...

...Senyummu bikin susah pergi....

...Naik sepeda menuju kota,...

...Singgah sebentar membeli roti....

...Banyak orang di dunia ini,...

...Tapi kamu yang mencuri hati....

...😂 Pantun Lucu...

...Pergi ke pasar membeli pepaya,...

...Pulangnya mampir membeli bakso....

...Katanya mau belajar sampai kaya,...

...Baru lima menit sudah mengantuk duluan, bro! 😭😂...

...Naik motor ke rumah Rina,...

...Di jalan bertemu si Joko....

...Niat hati mau hidup sederhana,...

...Tapi lihat diskon langsung checkout toko. 😂...

...🫶 Pantun Buat Sahabat...

...Burung terbang di atas awan,...

...Hinggap sebentar di pohon jati....

...Teman sejati bukan sekadar kawan,...

...Tapi selalu ada saat susah dan sepi....

...Pergi ke pantai membawa bekal,...

...Bekalnya nasi dengan ikan....

...Kalau persahabatan tetap kekal,...

...Susah senang kita hadapi bersama. ❤️...

...📚 Pantun Anak Kuliahan...

...Pagi-pagi minum jamu,...

...Duduk santai di bawah jati....

...Tugas kuliah datang bertalu-talu,...

...Belum selesai, sudah ada lagi. 😭😂...

...Ke kampus membawa buku,...

...Buku tebal penuh tulisan....

...Katanya kuliah mengejar ilmu,...

...Ternyata mengejar deadline dan nilai ujian. 🤣...

1
stevany indri
maya sang cucu sj usianya sdh 50thn,,,, bgmn mgkn kejadian antara kakek Julian&nenek aurora terjd 50thn yg lalu... ada2 sj
stevany indri
aurora lahir thn 1969....kejadiannya thn 1968, bgmn mgkn terjd.... 😳
stevany indri
u maya... kakek&nenek tp u Julian junior mestinya uyut deh
Forta Wahyuni
maya tapi cucu, koq manggil ayah dan ibu n bingung thor. Julian cicit krn anak maya, hadeh suka2 thor lah. 🙏🙏🙏
Maya Elvin
siap kk👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!