NovelToon NovelToon
Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Petualangan
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Narishea

Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.

Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.

Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.

Itulah kesalahan fatal mereka.

Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.

Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.

Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.

Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?

Berhasilkah mereka keluar??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 27 : Tiga Mata Terakhir

Mata Bhayavedin di retakan Pohon Induk udah kebuka lagi setengah.

Kelopak kayu jidatnya bunyi krek...krek... getar. Tangan akarnya yang nutupin mata tadi turun pelan. Dia masih silau, tapi dia denger.

Dia denger suara lumpur yang Bima lempar.

Dia denger napas Maira yang berat narik Arga.

Senter Elina udah mati total. Batre abis. Digoyang-goyang juga gak nyala. Elina buang senternya pelan ke tanah biar gak bunyi.

Tuk..

Sekarang satu hutan gelap lagi. Cuma cahaya samar dari lendir mata-mata pohon yang belum ketutup lumpur.

Tinggal 3 mata lagi.

Tiga mata paling gede. Yang ada di batang Pohon Induk sendiri. Di atas, di kiri, di kanan retakan tempat Bhayavedin keluar.

Tiga mata itu belum ketutup lumpur. Dan pupilnya udah buka 3/4, ngarah ke Maira yang lagi narik Arga di semak.

Kalau 3 mata itu kebuka full, Bhayavedin bakal liat persis di mana Maira sama Arga.

Bima di tengah, tangannya penuh lumpur hitam. Elina sama Gilang di sampingnya, tangan mereka juga hitam semua.

Bima kasih isyarat pakai tangan, "Gue kiri, Elina kanan, Gilang atas."

Gilang ngangguk, tapi kakinya gemetaran parah habis hampir diambil tadi. Dia masih trauma tangan akar di depan mukanya.

Mereka gerak.

Jinjit. Pelan banget. Tanah hitamnya empuk, kalau keinjek terlalu kenceng bunyi kecipak.

Bima ke mata kiri Pohon Induk. Jaraknya 2 meter. Dia angkat tangan lumpur, mau nempelin.

Di saat yang sama, Maira di semak...

Arga tinggal rambutnya doang yang keliatan.

Tanah hitam udah nelan dia sampai jidat. Akar yang ngelilit lehernya udah masuk ke mulutnya yang masih dia bekap. Tangan Arga yang nahan akar udah lemes.

Maira narik sendirian pakai selendang leher Bima yang dililitin ke tangan Arga. Selendangnya udah mau putus, seratnya bunyi -kretek kretek-

Maira gak kuat. Dia nangis tanpa suara, air mata netes ke tanah hitam. Dia liat rambut Arga yang basah lumpur, hampir hilang.

Dia bisik, suaranya hampir gak ada, bibirnya nempel ke tanah: "Arga... jangan merem... jangan merem..."

Di sisi lain.

Bima udah di depan mata kiri.

Mata itu gede banget, sepiring. Urat merahnya gerak-gerak, pupilnya hitam legam ngeliat Maira. Lendirnya netes ke tangan Bima.

Bima tempelin lumpur.

PLOP..

Pelan. Dia usap, nutupin seluruh bola mata pakai lumpur hitam tebal.

Mata itu langsung merem paksa.

KREK!

Kelopak kayunya nutup kenceng, kejepit lumpur. Dari sela kelopak keluar cairan putih kayak nangis.

Satu ketutup.

Elina di mata kanan. Dia lebih berani. Dia lompat kecil, tempelin lumpur pakai dua tangan, kayak nutup mata orang.

PLOP..

Mata kanan ketutup. Merem.

Tinggal satu. Yang di atas.

Yang di atas itu yang paling gede. Dua kali lipat mata lain. Posisi di atas retakan Bhayavedin. Mata itu dari tadi ngeliat ke bawah, ngawasin semua.

Gilang yang dapet tugas mata atas. Dia harus manjat akar Pohon Induk setinggi 1 meter.

Tangannya licin lumpur, kakinya licin. Dia manjat pelan, akar-akar gantung yang basah itu dingin pas kena tangan.

Srek...

Akar gantungnya bunyi. Pelan.

Mata di atas itu langsung ngelirik ke Gilang. Pupilnya gerak cepet.

Gilang beku di tengah manjat. Satu tangan megang akar, satu tangan megang lumpur.

Mata di atas itu mau buka full.

Di bawah, Bhayavedin di dalam retakan juga dongak. Mata putih di jidatnya ngarah ke Gilang juga. Dia denger akar bunyi.

Waktu habis.

Maira di semak teriak tanpa suara, mulutnya kebuka tapi gak ada suara keluar. Rambut Arga udah hilang. Tanah hitam rata. Cuma sisa selendang leher Bima yang masih ketarik ke dalam tanah.

Arga hilang.

Gilang liat itu dari atas. Temannya hilang depan mata.

Entah darimana tenaganya, Gilang lompat, tangan lumpurnya langsung...

PLOKKK!!

Ngeplak mata gede di atas itu kenceng. Gak pelan lagi. Panik.

Lumpur hitam belepotan nutupin seluruh mata.

Mata itu merem kenceng banget, saking kencengnya kulit kayu Pohon Induk retak lagi. Cairan putih muncrat kemana-mana, kena muka Gilang.

Gelap.

Semua mata ketutup lumpur. Hutan jadi buta lagi.

Bhayavedin di retakan, mata jidatnya yang putih masih kebuka, tapi dia bingung. Semua mata anak buahnya ketutup. Dia gak dapet info visual dari mata-mata pohon.

Dia cuma denger detak jantung mereka yang kenceng.

Bima langsung lari diam-diam ke semak tempat Arga hilang. Elina sama Gilang nyusul.

Maira masih megang selendang leher Bima yang ujungnya ketarik masuk tanah. Dia tarik terus, gak lepas.

Bima jongkok, tangannya nggali tanah hitam tempat Arga hilang. Tanahnya empuk tapi dalemnya akar semua.

Dia gali, gali, gali pakai tangan kosong. Kuku hitam semua.

Sampai jarinya nyentuh sesuatu.

Rambut.

Rambut Arga masih ada di dalam tanah, masih hangat.

Bima tarik.

Pelan... pelan...

Kepala Arga muncul lagi dari tanah hitam. Mukanya penuh lumpur, mulutnya masih dia bekap sendiri pakai tangan berlumpur, matanya merem nahan napas.

Dia masih hidup. Di bawah tanah.

Bima kasih isyarat ke Maira,"Tarik bareng, jangan bersuara."

Mereka tarik pelan-pelan, inci demi inci, sementara di belakang mereka, Bhayavedin pelan-pelan keluar lagi dari retakan, tangan akarnya ngeraba-raba tanah, nyari sumber detak jantung, buta, tapi dengernya makin tajem.

***

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!