Kalau seorang suami yang dikenal sebagai laki- laki romatis terhadap istrinya, sayang terhadap anaknya dan patuh kepada kedua orang tuanya saja bisa membuat noda hitam di dalam perkawinannya, lalu laki- laki yang seperti apa yang bisa dipercaya untuk menjaga kesetiaan rumah tangga...? Lalu apakah hati seorang istri yang sudah retak akibat pengkhinantan suami bisa pulih kembali, hanya dengan kata ''maaf...?"...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Kau Meremehkanku...?
"Beb...itu tadi suamimu minta berkas kerja sama dengan perusahaan tuan Anggara, suruh dibawa ke ruang kerjanya, buat apaan sih...?'' tanya Alma yang buru- buru masuk ke ruang kerja Suzan.
Suzan menghela nafas. Iya, tadi sebelum berangkat kerja Suzan sempat berdebat dengan Bagas di kamar mereka. Bagas tetap ngotot ingin dia yang menemui Bintang untuk menggantikan Suzan dalam membahas kerja sama yang sedang dalam progres.
Suzan tentu saja tidak mengijinkan Bagas, karena dia tahu Bagas tidak paham mengenai kerja sama mereka karena Bagas memang tidak mengikutinya dari awal. Kalau pun Bagas mau menggantikan Suzan, mereka harus melakukan rapat dulu sebagai bekal Bagas agar mengerti soal inti sari kerja sama mereka.
Namun Bagas justru tersinggung dan marah pada Suzan. Dia menganggap Suzan menyepelekannya dan menganggap Bagas tidak tahu apa- apa soal kerja sama perusahaan seperti halnya tuan Hartanto yang tidak pernah memberikan kepercayaan padanya.
Saking tersinggungnya dengan Suzan, Bagas marah dan tidak mau berangkat kantor bareng. Dan dia juga tidak mau menemui Suzan lagi di kantor.
"Apa sih yang membuat suamimu ngotot ingin ambil alih proyek ini...? Masalahnya dia tidak mengikuti prosesnya dari awal. Sedangkan kerja sama kita sudah berjalan lebih dari lima puluh persen...?'' tanya alma yang tidak mengerti akar permasalahan.
Suzan kembali menghela nafas.
"Itu gara- gara kejadian kemarin. Dan ini juga gara- gara kamu..." sahut Suzan dengan ketus.
"Lho.. Kok gara- gara aku..." Alma bingung kenapa dia malah disalahkan oleh Suzan.
"Ya kamu kan kemarin yang ngasih tahu suamiku kalau aku lagi ada di cafe..." sahut Suzan.
"Lha trus...? Kan emang suamimu yang nanya kamu di mana. Ya aku kasih tahu lah, aku nggak berani bohong kalau soal itu..." jawab Alma.
Suzan mendengus.
"Memang salahnya di mana kalau aku kasih tahu suamimu kamu ada di cafe...?'' tanya Alma yang belum mengerti akar permasalahannya.
Suzan kembali menghela nafas. Lalu dia mulai menceritakan tentang kekesalan Bagas saat melihat Suzan bertemu dengan Bintang di cafe tersebut.
"Hah....? Jadi kamu ketemu sama Bintang...?" tanya Alma.
"Bukan ketemu, tapi nggak sengaja bertemu. Aku lagi minum kopi dan kebetulan dia dan asistennya juga minum di cafe itu, kebetulan meja kita berdekatan..." sahut Suzan dengan ketus.
"Iya...iya... Nggak sengaja bertemu... Trus gimana...?'' tanya Alma penasaran.
Suzan menghela nafas.
"Bintang mendekati meja aku, untuk menanyakan kabar. Dan bersamaan dengan itu mas Bagas datang, begitu dia tahu bahwa orang yang sedang bicara denganku adalah Bintang, dia kesal dan salah paham..." jawab Suzan.
"Oh ya ampun... Apa mereka berantem...?'' Alma semakin kepo.
Suzan berdecak.
"Ya pokoknya mas Bagas menunjukkan rasa tidak sukanya pada Bintang. Dan dia juga mengatakan sesuatu yang sebetulnya tidak perlu dia katakan. Aku jadi merasa tidak enak sama Bintang..." jawab Suzan.
Iya, Suzan merasa sikap Bagas terhadap Bintang sudah keterlaluan. Padahal sama sekali tidak terjadi apapun antara dia dan Bintang. Namun Bagas seolah sedang memergoki istrinya berselingkuh.
"Oh ya ampun..." ucap Alma setelah mendengar cerita Suzan.
"Aku jadi merasa tidak enak sama Bintang..." sahut Suzan.
"Tapi Bintang pasti paham kok beb. Lagian kan tidak terjadi apa- apa antara kamu sama dia..." jawab Alma.
Dan bersamaan dengan itu pintu ruang kerja terbuka dari luar. Dan masuklah Bagas ke ruangan tersebut dengan memasang wajah kesal.
"Apa yang kamu lakukan...! Bukankah saya tadi sudah memintamu untuk mengantarkan berkas ke ruangan saya...!" tiba- tiba Alma kena semprot Bagas.
"Ma...maaf pak Bagas, saya tadi..." Alma bangun dari duduknya.
"Mas..." panggil Suzan bangun dari duduknya.
"Kamu nggak usah menyalahkan Alma. Kamu mau ambil berkas ini kan..." ucap Suzan sambil memegang berkas di tangannya.
Bagas menoleh ke arah Suzan, dan tentu saja wajahnya masih belum menampakkan keramahan.
"Cepat berikan padaku..." Bagas mengulurkan tangannya.
"Tunggu mas... Kamu boleh ambil alih proyek itu, tapi kita pergi bersama ya, kita kerjakan proyek itu bareng- bareng..." sahut Suzan.
Iya, Suzan memutuskan akan menginjinkan Bagas menangani proyek dengan perusahaan milik tuan Anggara. Namun Suzan menginginkan dirinya tetap dilibatkan agar tidak ada kendala ke depan. Karena biar bagaimana pun juga Suzan yang lebih menguasai materi daripada Bagas yang tidak tahunapa- apa karena tidak pernah ikut bergabung sejak awal.
"Kan tadi pagi saya sudah bilang, kamu tidak usah ikut, aku bisa mengatasinya sendiri. Lebih baik kamu kerjakan pekerjaan yang lain. Aku yakin kamu masih banyak kerjaan yang lain kan..." jawab Bagas tetap teguh dengan pendiriannya kalau dia bisa melakukannya sendiri.
"Gimana cara kamu mengatasinya, sedangkan kamu saja tidak memegang proyek itu dari awal..." Suzan mulai kesal karena Bagas keras kepala.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan...?" tanya Suzan menatap kesal wajah Bagas.
Bagas tersenyum sinis melihat sikap Suzan yang menurutnya terlalu meremehkannya.
"Jadi kamu pikir, hanya kamu yang bisa melakukan segala hal tentang perusahaan...? Hanya kamu yang hebat begitu , sehingga kamu begitu enteng merendahkanku...? Sombong sekali kamu...!'' Bagas begitu tersinggung dengan ucapan Suzan.
"Mas... Bukan begitu maksud aku... Oke...oke... Kalau kamu nggak mau aku ikut, oke nggak papa.... Tapi seenggaknya kamu ajak Alma, dia bisa membantumu nanti di sana..." sahut Suzan yang sudah tidak tahu harus bicara apa lagi dengan Bagas.
Bagas menatap tajam ke arah Suzan.
"Aku bilang aku tidak perlu kamu untuk ikut, apalagi asisten kamu..." ucap Bagas melirik sekilas ke arah Alma.
Dan Alma yang sejak tadi hanya menjadi pendengar atas perdebatan suami istri tersebut hanya bisa diam dengan perasaan khawatir dan juga takut.
"Sekarang kamu boleh meremehkanku sesuka hatimu Suzan. Tapi lihatlah nanti, kau akan tahu, kalau aku juga bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa kamu lakukan..." sambung Bagas sambil mengambil dengan kasar berkas yang ada di tangan Suzan.
Kemudian Bagas membawanya ke luar ruang kerja Suzan.
"Mas...mas tunggu... Dengar dulu penjelasan aku, aku nggak bermaksud meremehkanmu, aku hanya...'' ucap Suzan sambil mengejar Bagas keluar dari ruang kerja menuju lift.
"Cukup Suzan...! Apa kamu tidak mengerti apa yang aku katakan tadi...!" sahut Bagas geram.
"Minggir...!'' Bentak Bagas.
Suzan langsung diam dan berhenti mengikuti Bagas. Iya, Suzan merasa sedih dibentak oleh Bagas apa lagi di sana ada beberapa pegawainya yang kebetulan lewat di depan lift. Tentu saja Suzan merasa malu. Dan tanpa merasa bersalah sedikitpun Bagas masuk ke dalam lift dan turun ke lantai bawah.
Suzan menghela nafas begitu melihat pintu lift tertutup.
"Beb..." Alma memegang pundak Suzan. Dan Suzan hanya diam tak tahu harus berbuat apa.
"Ayo beb, kita masuk ..." ucap Alma mengajak Suzan masuk ke ruang kerja.
Iya, tentu saja Alma ikut merasakan kesedihan yang sahabatnya rasakan.
"Beb... yang sabar ya..." ucap Alma begitu mereka sudah ada di dalam ruang kerja Suzan.
Suzan menghela nafas.
"Alma... Aku nggak bermaksud meremehkan suamiku... Tapi aku hanya...
"Iya beb, aku ngerti, aku paham kok. Apa yang ada di pikiranmu itu sama seperti apa yang aku pikirkan..." sahut Alma.
"Suamimu yang salah paham beb. Padahal kan kamu hanya mengingatkan dia, dan mencari solusi yang terbaik. Tapi suamimu tidka terima dan malah paham ..." sambungnya lagi.
"Kamu jangan khawatir beb, siapa tahu di jalan, suamimu mempelajari berkas kerja sama kita, setidaknya kan dia paham tentang progres kerja sama kita sudah sampai mana dan dia paham soal rencana kita ke depannya juga..." lanjut Alma menaruh sedikit kepercayaan pada Bagas.
Lagi- lagi Suzan hanya menghela nafas. Iya, Suzan bukan hanya sekali dua kali menangani proyek besar antara prusahaan Hartanto Group dengan perusahaan lain. Dan setiap proyek yang akan dihadapi butuh persiapan dan perencanaan yang maksimal. Setiap langkah pun harus dipelajari dengan baik dan teliti.
Sedangkan Bagas tidak tahu menahu soal rencana awal ataupun rencana ke depan. Namun tiba- tiba dia dengan seenaknya mengambil alih proyek tersebut tanpa memperlajari apapun terlebih dulu. Dan hal itu dia lakukan hanya karena faktor cemburu sebab rekan kerja Suzan tidak lain adalah mantan kekasihnya.
Tentu saja hal itu menimbulkan kekhawatiran buat Suzan. Suzan khawatir jika sang suami akan bertidak diluar kendali ataupun melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dia lakukan yang akibatnya akan menjadi masalah nantinya.
"Beb... Kalau kamu khawatir, apa nggak sebaiknya kamu kasih tahu papa mertuamu...?" ujar Alma.
Suzan menatap Alma beberapa saat. Lalu dia menggelengkan kepalanya.
"Nggak Alma... aku nggak mau ganggu papa, dia sendiri kan juga lagi sibuk ngurus kerjaan di luar kota..." sahut Suzan yang tidak ingin mengganggu papa mertuanya.
Iya, karena selama ini papa mertuanya paling tidak suka jika Suzan ragu dan tidak bisa mengambil keputusan sendiri.
"Lalu rencana kamu apa...?'' tanya Alma.
"Aku akan tunggu hasil keputusan pertemuan mas Bagas dengan Bintang dulu, semoga saja ada kabar baik. Ya mungkin aku memang harus memberikan kesempatan pada mas Bagas untuk menangani proyek besar..." jawab Suzan.
Iya, selama ini memang Bagas hanya dikhususkan oleh tuan Hartanto untuk menangani klien dengan proyek kecil hingga menengah. Sedangkan untuk proyek besar yang bernilai milyaran rupiah akan diserahkan kepada Suzan dan oleh tuan Hartanto sendiri.
Jadi setelah dipikir- pikir tidak ada salahnya kalau Suzan memberikan kesempatan pada sang suami untuk menangani proyek yang lebih besar.
Sambil menunggu hasil rapat Bagas dengan Bintang, Suzan lalu memilih untuk mengerjakan pekerjaan yang lain. Dia pun kembali sibuk dengan laptopnya.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Sementara itu Bagas sudah sampai di perusahaan Cahaya Gemilang milik tuan Anggara. Bagas yang datang seorang diri langsung menuju lantai delapan di mana rapat akan di laksanakan.
Dan di dalam ruang rapat, Bintang sudah stand by menunggu kedatangan Suzan. Begitu pintu ruang rapat dibuka dari luar, Bintang yang sejak tadi sibuk dengan laptopnya langsung menoleh ke arah pintu sambil memasang senyum yang tentu saja akan dia tujukan pada Suzan. Namun dalam hitungan detik senyum itu langsung pudar begitu yang dia lihat di ambang pintu bukanlah orang yang sedang dia tunggu, melainkan Bagas yang datang.
Arman yang berdiri di samping Bagas karena dia yang memang ditugaskan untuk menjemput Suzan nampak memberikan kode pada Bintang bahwa dia juga bingung . Iya, Arman bingung karena yang datang bukan lah Suzan melainkan Bagas.
Bintang bangun dari duduknya.
"Pak Bagas..." ucap Bintang yang pikirannya dipenuhi banyak pertanyaan.
"Kenapa...? Anda kaget melihat saya...?" tanya Bagas dengan senyum sinisnya.
"Anda pasti sedang menunggu istri saya kan...? Dan ternyata istri saya tidak datang,melainkan saya yang datang, suaminya. Bagaimana...? Apa anda kecewa karena orang yang sedang anda tunggu- tunggu tidak datang...?'' tanya Bagas lagi - lagi menampilkan senyuman sinisnya kepada Bintang.
Bersambung....